THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
SANDIWARA



Gloria memantaskan diri dengan gaun pengantinnya. Gadis itu memakai gaun dengan rok kembang bertaburan Swarovski. Sangat berkesan dan mewah sekali. Ia kurang menyukai gaun pengantin itu.


"Coba yang satunya lagi!" ujar Gloria lalu mencopot gaun yang ia pakai.


Para karyawati butik lalu memberikan gaun satunya lagi. Sebuah gaun yang simpel dan sederhana. Gaun warna broken white berbahan satin dan sedikit ringan. Dengan belahan dada model V dan punggung terbuka. Ia mengangkat sedikit rambutnya. Gaun itu sangat cocok untuknya.


"Anda cantik sekali, Nona dengan gaun ini!" puji salah satu karyawan butik jujur.


Gloria mengangguk tanda setuju. Ia memang sangat cantik dan elegan mengenakan gaun pengantin ini. Gadis itu keluar. Vic ada di sana dan melihatnya. Ia tersenyum lebar. Lalu, pria itu menggandeng calon istrinya untuk melakukan sesi foto prewedding.


Semua keluarga telah hadir. Mereka berfoto bersama. Banyak paparazi mencuri foto mereka dari jendela.


Dengan cepat foto di mana Gloria berciuman dengan Vic dalam acara prewedding itu tersebar luas.


Semua memuji keserasian keduanya. Bahkan membandingkan kecantikan Gloria dengan dua wanita yang pernah dekat dengan Vic.


"Gloria jauh lebih cantik sebenarnya. Kecantikannya sangat alami, bukan dari make up!" ujar salah satu netizen.


Foto dalam portal berita kini ada di tangan Brigitta. Gadis itu nyaris membanting ponsel mahalnya ke lantai jika ia tak ingat akan pentingnya benda canggih tersebut.


"Kurang ajar!" teriaknya murka.


"Kenapa kau menikahi Gloria, bukan aku!"


Gadis itu kini ada di unit sebuah apartemen. Ia menyewa hunian dengan ukuran 300x500m² itu. Sebenarnya gadis itu memiliki sebuah hunian mewah. Tapi letaknya terlalu jauh dari lokasi syuting. Makanya ia memilih menyewa apartemen dekat lokasi syuting.


"Apa hubungan kita kemarin tak ada artinya. Kita sudah berciuman, aku bisa memuaskan mu!" racau gadis itu kesal.


Suara bel berbunyi. Ia sedikit malas membuka pintu. Ketika dibuka, sosok pria langsung menyambar bibir dan menciumnya rakus. Brigitta sampai shock walau akhirnya dia membalas ciuman itu lebih panas.


"Tuan Allen?" panggilnya ketika ciuman berhenti.


Napas keduanya menderu. Pria yang berprofesi sebagai sutradara itu kembali memasukkan lidahnya dalam mulut gadis itu. Ciuman panas pun terjadi. Pintu sudah ditutup rapat. Baju keduanya telah berserakan di lantai.


"Aku menginginkanmu," ujar Allen dengan napas menderu.


Kini keduanya pun bergumul di atas ranjang tanpa sehelai benang pun. Keduanya melampiaskan gairah dengan saling memburu kenikmatan. Allen benar-benar memuaskan dirinya dengan menikmati layanan gadis yang kini berada di atasnya.


Brigitta bergerak liar dan begitu seksi ketika mengejar kenikmatan di atas tubuh pria beruban itu.


Allen mengerang nikmat. Begitu juga sang gadis. Keduanya mempercepat gerakan hingga pada satu titik dua-duanya berteriak penuh kenikmatan lalu ambruk.


Dua manusia terengah-engah. Keduanya pun berciuman. Lalu perlahan tertidur dengan saling berpelukan.


Sementara di tempat lain. Usai memilih gaun pengantin yang cocok. Vic mengajak Gloria berkencan.


Pria itu membawa gadisnya berbelanja barang-barang mewah. Gloria yang sudah berubah, hanya memilih beberapa gaun dan perhiasan.


"Kau tak ingin lagi?" tanya pria itu ketika menawarkan satu tas cantik dengan branded ternama.


Gloria menggeleng. Gadis itu benar-benar tak lagi mencintai barang-barang mewah tersebut.


"Aku lapar," ujar Gloria.


Vic merangkul pinggang ramping sang gadis dan membawanya ke sebuah restauran Italia. Mereka makan malam bersama.


Setelah makan, Vic mengantar pulang gadis itu. Ciuman tercipta ketika sampai di halaman mansion Gloria.


"Aku masuk dulu," ujar gadis itu menghentikan ciuman dengan napas menderu.


Vic mengangguk. Lalu turun dan membukakan pintu untuk sang gadis.


"Sampaikan salam ku untuk Daddy dan Mommy," ujar pria itu.


Keduanya kembali berciuman singkat. Vic bergegas pergi. Gloria pun masuk ke mansionnya dengan beberapa paper bag.


Vic tengah berada dalam perjalanan pulang. Ia meraba bibirnya yang sedikit bengkak. Sungguh, Gloria memang sangat mahir berciuman.


"Tidak mungkin dia masih perawan kan?" gumamnya lagi tak percaya.


Vic tak mempermasalahkan persolan perawan atau tidaknya seorang gadis. Ini jaman modern, hubungan intim ketika menjalin hubungan bahkan melakukannya atas dasar suka sama suka adalah biasa. Vic menggeleng pelan. Diana dan Luien masih perawan, begitu cerita dua saudaranya.


"Luien dan Diana gadis miskin waktu itu. Tapi, Luien pernah pacaran dengan Leo dan ia masih bisa mempersembahkan kesucian pada Alex," Vic bermonolog sendiri.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia menatap layarnya. Brigitta menelepon pria itu. Pria itu mengangkatnya.


"Halo!"


"Vic ... tolong aku!" teriak gadis itu di seberang telepon.


"Kau ada di mana?" teriak Vic khawatir.


"Aku ada di unit apartemen ku!" teriak Brigitta seperti ketakutan.


"Baik, sabar ya!" teriak Vic.


Sambungan telepon terputus, Brigitta tersenyum lebar. Allen baru saja keluar dari unitnya tadi sore. Entah kenapa, Brigitta ingin menelepon Vic.


"Aku hanya iseng, apa iya dia melupakan ku?" tanyanya dalam hati.


Siapa sangka perbuatan isengnya membuahkan hasil. Vic akan mengunjunginya cepat ketika tadi ia berdrama.


"Kau bodoh sekali sayang," kekehnya.


Gadis itu pun mengacak semua unitnya. Menyiapkan kamera tersembunyi. Tadi ia mendapat ide mendadak untuk menjebak Vic. Dengan begitu, pria itu akan menikahinya.


"Kita akan bersenang-senang dan ... wala foto vulgar kita akan menyebar jika kau tak mau menikahiku," gumamnya lagi lalu tertawa lirih.


"Kau benar-benar brilian Brigitta!" pujinya pada diri sendiri.


Gadis itu menatap dirinya di cermin. Ia harus memikirkan hal yang sedih agar mendukung aktingnya. Wajah mulus tanpa cela. Ia pun mengacak rambutnya hingga kusut, lalu dengan tangannya sendiri ia mulai menampar pipinya keras-keras.


Plak!


"Aarrghh!" teriaknya kesakitan


Gadis itu menangis, ia kembali menatap dirinya di cermin. Merasa kurang meyakinkan gadis itu menampar dirinya sekali lagi lebih kuat, hingga tubuhnya terpelanting.


Brug!


"Aarrghh!" teriaknya lagi kesakitan.


Lalu ia mencengkram tangannya kuat-kuat hingga memerah. Seperti psikopat, gadis itu membenturkan tubuhnya ke dinding lalu ke lemari. Ia seperti kesetanan menyakiti dirinya sendiri.


Gadis itu menatap jam di dinding, sudah lima menit ia menyiksa dirinya. Sudah lebih sepuluh menit pula ia telah menghubungi Vic, pria idamannya.


"Mestinya dia sudah datang!" runtuknya kesal.


Brigitta mencoba menelepon sekali lagi. Tapi, sepertinya tak diangkat. Lalu kembali menelepon tapi justru ponselnya mati kehabisan daya.


"Sial!" runtuknya kesal.


Ia pun menjerit sekuat-kuatnya. Lalu ia duduk terpekur di lantai yang dingin. Rambut kusut dengan tubuh memar dan pipi membengkak. Gadis itu benar-benar menangis, sepertinya usahanya akan gagal. Tapi, tiba-tiba ia mendengar suara hendak mendobrak pintu unit. Brigitta tersenyum lebar. Ia memulai aktingnya menangis ketakutan.


Pintu pun terbuka paksa. Ia menjerit dan menangis. Gadis itu mengenakan lingerie warna kunyit busuk. Tanpa melihat siapa yang datang, karena ia yakin jika Vic yang datang menolongnya. Ia pun berhambur kepelukan pria itu.


"Vic ... tolong aku ... aku diperkosa!"


bersambung.


wah ...


next?