THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
MENYAMAR 2



"Jadi orang yang seperti apa yang pantas datang ke restauran ini, Silvia?"


Sebuah suara mengagetkan pelayan sang pemilik nama. Ia menoleh, lalu menunduk hormat.


"Maaf kelalaian saya, Tuan. Pengemis ini lepas dari kontrol saya. Entah apa pekerjaan para sekuriti, hingga pengemis ini bisa lolos masuk ke sini!" sahutnya masih merendahkan Luien.


Alex kembali ke lobby, tadi ia ke ruang di mana para kolega berada. Melihat Luein yang juga belum masuk. Ia pun meminta para kolega menunggu sebentar.


Alex mendengar betapa kekasihnya itu dihina sedemikian rupa. Ia begitu geram. Hanya karena penampilan Luien yang begitu sederhana. Kemeja dan celana yang dikenakan Luien juga bagus walau bukan dari branded ternama. Pakaiannya belum dikategorikan orang miskin.


"Maafkan kelakuan pelayan saya, Nona. Anda sudah memesan?" Ken mengabaikan perkataan Silvia.


"Atas nama ...."


"Tuan, untuk apa anda menyambutnya. Palingan dia hanya meminta sumbangan. Anda jangan terlalu baik dengan orang miskin, mereka suka tak tahu diuntung jika dikasih hati!" sahut Silvia melarang Ken berlaku ramah pada Luien.


Luien dan Alex melongo. Alex adalah pria yang terlahir dengan sendok emas di mulutnya saja, tak berani menghina orang sedemikian rupa. Itu berkat didikan kedua orang tuanya.


Plak! Ken menampar keras Silvia, hingga gadis itu terpelanting di lantai.


"Tu ... tuan ...," cicitnya lirih, lalu terisak.


"Berani-beraninya kau mengaturku, Silvia?" gerak Ken, wajahnya sudah memerah.


"Pedro!" teriaknya.


Salah seorang manager datang tergopoh-gopoh. Ia dari tadi sibuk menjilat para tamu kaya raya.


"Bawa perempuan tak tau diri itu. Kalian berdua dipecat!" bentak Ken.


"Salah saya apa, Tuan?" tanya Pedro tak terima.


"Salahmu menerima pegawai kurang aja seperti wanita ini!" bentaknya lagi.


"Keluar kalian berdua sekarang. Sebelum kuhabisi kalian!" ancam pria itu.


Pedro membawa Silvia pergi dari lobby, banyak pelanggan tak ambil pusing dengan apa yang terjadi, tapi tak sedikit banyak yang ingin tahu apa yang terjadi.


"Pelayan sekarang sudah tak memiliki akhlak. Makanan belum selesai mereka sudah berjejer meminta tips dan seakan mengusir kami," keluh salah satu pengunjung yang makan.


Ken sangat malu mendengarnya. Luien menatap bawahan ayahnya itu.


"Perbaiki lagi sistemnya, Ken. Lalu pecat semua yang tak bekerja secara maksimal," bisik Luien.


Ken menunduk hormat. Ini sudah ke sekian kalinya nona mudanya dihina oleh karyawannya sendiri.


"Sayang," panggil Alex.


Luien hanya tersenyum menanggapinya. Ia pun masuk ke ruangan VVIP di mana pada kolega menunggu mereka.


Ken pun mulai merubah sistem yang ada. Membuka kotak keluhan bagi para tamu. Dalam sekejap kotak itu penuh dengan protes dan keluhan soal perihal pelayanan. Bahkan makanan yang kurang enak.


Alex segera memeriksa dapur. Melihat bahan-bahan makanan yang tersedia. Ternyata semua bahan bukan kualitas primer yang sudah ditentukan. Pria itu marah besar.


"Siapa yang mengganti semua bahan-bahan makanan di restauran ini!" bentak Ken.


Semua menunduk takut. Karena masih memasak pesanan dan bahan tak bisa diganti. Ken memutuskan untuk menutup sementara restauran ini setelah semua tamu pulang.


"Kalian semua dipecat!" tekan pria itu.


Semua tertunduk. Kembali mengerjakan pekerjaan mereka yang belum selesai. Walau dipecat, tugas mereka harus diselesaikan terlebih dahulu.


Ken menghentikan penerimaan tamu. Lambat laun, restauran itu pun kosong. Luein dan Alex serta beberapa kolega pun keluar. Ken mengucap terima kasih dan permohonan maaf atas semua keburukan pelayanan.


"Sebenarnya, kami tak terlalu memusingkan masalah itu. Mungkin karena kami terlalu fokus dengan kerjasama dan hasil rapat. Kami memberi tips karena memang itu sudah menjadi rutinitas kami sebagai pelanggan," ujar salah satu kolega.


Ken membungkuk hormat. Luein mengusap lengan pria kepercayaannya ayahnya itu.


"Nanti ke mansion ya, ada hadiah untukmu. Sudah kutitipkan ke Matilda," bisik Luien lagi.


"Terima kasih, Nona," sahut Ken membungkuk hormat.


"Sayang, kenapa kau selalu menyembunyikan identitasmu?" tanya pria itu.


"Jika aku menunjukan diriku, maka aku tak bisa membongkar sistem buruk yang ada di restauran tadi kan?"


Pernyataan Luien barusan, dibenarkan oleh Alex. Sebenarnya, ia juga ingin berbuat sama. Sayangnya, Alex keburu dikenali banyak orang.


"Sayang, apa kau mau bekerjasama denganku?" tiba-tiba Alex memiliki ide.


"Tak masalah, asal bayarannya sesuai," sahut Luein santai.


"Astaga, kekasihku ternyata perhitungan, orangnya," ujar Alex tak percaya.


"Oh, ayo lah sayang? Bisnis is bisnis, bukankah harusnya begitu?" sahut Luien lagi.


"Iya, oke, jangan khawatir soal bayaran. Asal misi ini berhasil. Dan aku yakin, kau bisa menanganinya dengan baik," ujar Alex setuju soal bayaran.


"Oke, apa tugasku?" tanya Luien.


Alex pun menjelaskan permasalahannya terlebih dahulu. Kemudian ia memberi beberapa ide solusi. Luien sedikit tak setuju dengan solusi yang diutarakan kekasihnya itu.


"Bagaimana, jika kau bilang akan ada kepala cabang yang baru datang. Mereka tidak akan ada yang tahu jika aku adalah kepala cabang mereka," saran Luien.


Alex mengangguk setuju. Ia mencium bibir kekasihnya. Ia begitu bangga dengan kegeniusan Luien.


Gadis itu membalas tautan bibir prianya. Aksi saling belit lidah pun terjadi. Alex begitu dalam merogoh rongga mulut kekasihnya. Suara decapan terdengar. Supir menutup partisi penghubung antara bangku belakang dan depan, karena ciuman itu membuatnya panas dingin.


Tangan Alex mulai membelai punggung Luien dan menyusup ke dalam kemejanya. Gadis itu langsung menghentikan ciuman mereka. Alex masih memburu bibir sang gadis yang kini sudah mulai membengkak karena ulahnya.


"Sayang," tolak Luien.


"Oh, sayang ... aku sangat menginginkanmu," ujar Alex dengan napas menderu dan tatapan ditutupi gairah.


Alex kembali menyambar benda kenyal yang berwarna alami dan tanpa lipstik. Begitu manis dan membuatnya candu. Seakan ia ingin melahap habis bibir itu.


Secara perlahan, Alex merebahkan Luein. Tangannya sudah mulai melepas satu persatu kancing kemeja gadis itu. Luien berusaha menyadarkan dirinya. Tapi, apa yang ada di otak berbeda dengan apa yang kini mulai membakar tubuhnya. Gadis itu merespon semua sentuhan kekasihnya. Satu lenguhan manja lolos dari mulut gadis itu. Alex makin membara. Tangannya kini mengelus perut rata dan sedikit berotot milik gadisnya. Ciuman di bibir lepas.


Alex mengecup perlahan dagu, lalu turun ke leher gadis itu. Ketika hendak memberi kiss mark. Tiba-tiba partisi diketuk.


Tok ... tok ... tok ...!


"Tuan kita sudah sampai!"


Luien mendorong kuat tubuh besar yang menindihnya. Napas keduanya terengah-engah. Kening mereka bersatu.


"Sayang," pinta Alex memohon.


"Please ... don't!" pinta Luien.


Satu tetes air mata jatuh dari pelupuk gadis itu. Alex langsung merasa bersalah. Ia pun meminta maaf. Dengan sekuat tenaga, ia mengontrol hasrat yang sudah membuat ia berdiri tegak dan kencang, siap bertempur dan merobek segala sesuatu yang menghalang.


"Jangan menangis, sayang ... jangan menangis," pinta Alex begitu merasa bersalah.


"Aku ... aku hanya ingin menyerahkannya ketika kita sudah berada dalam ikatan yang sah," jelas Luien dengan suara parau.


Alex mengangguk. Ia sangat mengerti. Ketika semua gadis melempar tubuh mereka secara percuma di depan Alex, pria itu sama sekali tak bernapsu. Bahkan ketika ia masih memiliki hubungan dengan Alicia, pria itu sama sekali tak bernapsu, bahkan ciumannya tak senikmat berciuman dengan Luien.


"Kita, turun?" ajak Alex.


Luien sudah membenahi kemejanya. Gadis itu mengangguk dan memberikan kecupan di pipi sang pria.


"Terima kasih, telah mau menunggu," ujarnya tulus.


Alex tersenyum, walau dalam hati entah sampai kapan dia bisa tahan menahan hasratnya.


bersambung.


sabar bro ... ntar Luien luluh ketika waktunya tiba.


next?