THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
MENGHABISI



Luein diantar oleh Alex pulang setelah makan siang di restauran lain. Sebuah ciuman menjadi perpisahan mereka.


"Aku mencintaimu," ujar Alex jujur.


"Aku juga mencintaimu," sahut gadis itu membalas.


Alex masih enggan melepas pelukannya. Pria itu masih ingin menikmati momen kebersamaan mereka berdua.


"Tidak bisakah kita menikah besok, atau hari ini? Ken saja bisa menikah saat itu juga," rajuk pria itu.


Luien terkekeh.


"Itu karena dia beruntung, sayang. Yang mulia ratu sedang baik moodnya," jawabnya.


Alex cemberut, hal itu membuat Luien makin terkikik geli. Masalahnya, wajah dingin dan datar pria itu berubah menjadi seksi dan imut ketika cemberut.


"Jangan memasang wajah seperti itu, sayang. Nanti ada yang lihat, mereka tak akan menghormatimu," sahut Luien mengingatkan.


Alex merubah ekspresi wajahnya seperti semula.


"Hanya satu bulan lagi, sayang. Bersabarlah," ujar Luien menenangkan.


"Baik, masuk lah sayang," ujar Alex.


Luien pun melangkah kakinya masuk rumah.


"Kau tak mau mampir?" tawar gadis itu.


Alex menggeleng. Pria itu menjaga diri. Di kastil Princestone tidak ada siapa pun kecuali pada maid. Akan menggoda sekali, jika pria itu berduaan di kastil sebesar itu. Tak ada yang melarangnya membawa Luien ke salah satu kamar di sana. Pria itu sangat menghormati kekasihnya.


"Aku langsung pulang sayang. kecuali kau memaksa," jawabnya menggoda.


Luien terkekeh geli. Gadis itu sangat berterima kasih atas kesabaran kekasihnya selama ini.


"Pulang lah!' pintanya kemudian.


Alex menghela kecewa. Luien terbahak melihatnya. Pria itu pun masuk mobilnya dan keluar dari kastil tersebut.


Luein masuk kastil. Semua maid berjejer membungkuk hormat. Mereka, sangat mengenali tuan putrinya.


"Yang Mulia Tuan Putri, apakah hamba perlu menyiapkan makan malam?" tanya kepala pelayan masih dengan kepala tertunduk.


"Sebentar, aku tanya Daddy, apa dia pulang atau tidak," sahut gadis itu.


Luein menekan sebuah nama. Ia melihat semua pelayan berdiri dan menunggu perintah.


"Sudah, bubar saja, tidak apa-apa. Kerjakan pekerjaan kalian yang lain saja," ujar Luien meminta semua maid untuk tak terlalu formal.


"Maaf, Yang Mulia, tapi semuanya harus diam di tempat sebelum tau apa tugas selanjutnya," jawab kepala pelayan.


"Siapa namamu?" tanya Luien datar.


"Saya Kepala Pelayan Magdalena Voul," jawab wanita itu. "Yang Mulia, boleh memanggil saya dengan Megie."


"Oke Magie. Tahukah kau dengan efesiensi waktu?" tanya Luien datar.


"Tau, Yang Mulia!" jawab Magie menunduk.


"Biar mereka mengerjakan yang lain. Jika semua selesai, mereka boleh beristirahat dengan cepat Apa kau paham?" Magie membungkuk hormat.


"Pergi lah dan kerjakan yang pekerjaan lainnya. Jika selesai, kalian boleh beristirahat," titah Luien lembut.


"Terima kasih atas kebaikan Yang Mulia Tuan Putri!' sahut mereka kompak.


Sambungan telepon terhubung. Luien menanyakan apa ayahnya pulang atau masih menginap di istana Hugbertson.


"Daddy tak pulang hingga pengangkatan beliau menjadi raja. Jadi tak perlu masak makan malam," sahut Luien.


"Apa, Tuan Putri akan makan malam di rumah?" tanya Magie.


"Santai saja, soal itu," sahut Luien yang langsung pergi dari hadapan kepala pelayan.


"Ck ... terlalu menyusahkan!" keluh gadis berusia tiga puluh enam tahun itu.


Pangeran Milian menikah dengan bangsawan kaya raya dari negeri seberang. Hingga pria itu menetap di sana dan telah dikaruniai tiga anak lucu. Merana lah Magie. Kisah Cinderella tak terjadi di kehidupannya.


Bekerja saat usia tujuh belas tahun. Menempuh pendidikan pelayan kerajaan. Didikan keras dan disiplin sudah terpatri di benaknya. Makanya, semua pekerjaan harus sesuai jadwal. Sudah tiga hari Luien ada di sana. Dan gadis itu merubah semua sistem.


"Semoga dia tak mengacak dapur lagi," ujarnya kesal.


Magie memilih pergi dan mengawasi para maid yang bekerja. Luien membersihkan diri. Memakai piyama kesukaannya, bergambar kartun Disney, Goofie.


Gadis itu terlalu lelah tadi di luar. Belum lagi, ia memukuli seorang gadis yang menghina ibunya. Netranya kembali nyalang mengingat itu.


"Aku pastikan kalian kan merangkak meminta ampun," tekannya bersumpah.


Tak lama,.ia pun tertidur. Sedang di tempat lain. Dua sosok sedang bersitegang. Sepasang manusia saling berteriak.


"Ayo lah, bukankah kau butuh uang cepat?" rayu pria itu.


Wanita itu berpikir lagi. Hobby berjudi membuatnya kehabisan uang. Ia menatap satu tumpuk uang.


"Biarkan aku masuk, secara bebas ke dalam. Lalu, kita juga bisa ...."


Pria itu tak melanjutkan ucapannya. Ia hanya membelai dagu gadis yang kini mendongak padanya. Perlahan wajah pria itu menunduk dan mencium bibir gadis itu.


Perlahan ciumannya sangat lembut, lambat laun makin panas dan saling menuntut. Bahkan, tangan pria itu bergerilya menggerayangi tubuh sintal sang gadis, lalu meremas setiap gundukan kenyal.


Satu ******* lolos dari mulut gadis itu. Sang pria makin dalam menciumnya. Hingga, ketika benar-benar nyaris kehabisan oksigen. Pria itu melepas pagutan bibirnya. Napas keduanya saling memburu.


"Cyra," panggil pria bercodet dengan nada serak.


Cyra pun menarik, tangan sang pria mengikutinya dari pintu gerbang belakang. Tak ada orang, karena memang letak pintu itu sangat tersembunyi. Melewati banyak pohon untuk sampai kamar Cyra. Setelah yakin aman. Cyra membawa masuk lelaki bercodet itu ke paviliun khusus untuk pelayan. Pintu tertutup rapat, tak lama. Terdengar erangan kenikmatan keluar dari mulut ke duanya.


Luien terbangun, hari sudah petang. Ia sedikit merenggangkan ototnya. Lalu, turun dan langsung membersihkan diri.


"Sudah mulai masuk musim dingin," ujar Luien.


Gadis itu memilih, baju lengan panjang berbentuk sweeter dan celana panjang. Karena lapar ia pun ke dapur dan meminta pelayan membuatkannya pasta.


"Aku kangen Armira," gumamnya ketika menginginkan makanan pasta.


"Yang mulia!' sahut salah satu maid.


"Bisa buatkan aku pasta?" pinta Luien memohon.


"Baik, Yang Mulia!" sahut maid itu.


Hany butuh waktu sepuluh menit, pasta sudah jadi. Luien langsung memakannya.


"Enak," pujinya.


"Terima kasih, yang mulia!" sahut Maid lalu membungkuk hormat.


Usai menghabiskan pasta. Gadis itu memilih ke teras belakang. Di sana banyak.tanaman indah dan kebun bunga.


"Yang mulia!" sapa salah satu tukang kebun.


"Hi, siapa namamu. Aku kok tidak melihatmu dari kemarin?" tanya Luien .


"Saya ... saya baru datang dari kampung yang mulia!" jawab pria itu gugup.


"Oh, seperti itu" sahut Luien lalu mengangguk.


Pria itu kembali menyiam tanaman. Luien duduk di teras. beberapa maid datang membawa cemilan.


"Yang Mulia, ini cemilan hari ini," Luein mengangguk dan mengucap terima kasih.


Gadis itu memakan kudapanya. Sepasang mata menatapnya intens.


"Kau akan hancur sebentar lagi," tekan pria itu dalam hati..


bersambungn.


next?