THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
MENGAKU KALAH



‘Daddy … hiks … hiks!” Luien menangis tersedu dalam pelukan ayahnya.


Deon yang tak mengerti apa yang terjadi kebingungan. Namun ia tetap menenangkan putrinya. Sedang ludwina yang tadi juga ikut terbangun, kemudian turun karena mendengar suara menangis. Ketika melihat putrinya yang menangis, ia jadi ikutan menangis dan langsung menghambur ke arah dua orang yang sedang berpelukan itu.


“Sayang … ada apa.? Kenapa kau menangis seperti ini? Adakah yang menyakitimu?” cecar Wina.


“Mama … aku kalah balapan,” adu Luien.


“Apa?” tanya Wina lalu mengurai pelukannya.


“Aku kalah balapan …,” cicit Luien.


“Astaga Luien … kenapa kau masih balapan? Apa uang yang kami berikan tidak cukup?!” sentak Wina marah.


“Daddy …,” rengek Luien.


Deon terkekeh geli, sedang Wina marah dan kesal terhadap putrinya. Terlebih ia sering melihat betapa balapan itu sangat berbahaya. Banyak pembalap tewas dalam ajang itu, bahkan mereka memakai safety terbaik sekalipun, tak dapat menyelamatkannya.


“Apa yang kau pikirkan, Nak!” seru Wina putus asa.


“Kau tau ajang itu sangat berbahaya, bahkan yang resmi saja yang menjaga semua lintasan agar aman bagi pembalap masih ada yang menelan korban jiwa. Bagaimana dengan ajang balapan liar yang kau ikuti!” lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.


Luein tertunduk, ia memang salah. Terbiasa balapan untuk mendapat uang, terlebih ia yang memang selalu merasa tertantang untuk melakukan balapan itu. Gadis itu memang tak bisa melepaskan diri dari namanya balapan.


“Sudah .. jangan memarahinya seperti itu, lihatlah, dia baru saja mengalami kekalahan,” ujar Deon menengahi.


“Daddy …,” rengek Luien manja.


Wina sampai berdecak mendengar rengekan manja putrinya. Namun sejurus kemudian, ia memeluk lagi putrinya. Ia menciumi wajah Luien, lalu menakup pipi dan menatap netra abu-abu itu.


“Sayang, dengarkan Mama. Mama begini karena tak mau kehilangan lagi anakku. Setelah kebodohanku kemarin, aku tak mau dengan bodohnya kehilangan dirimu. Mama akan mati bunuh diri jika harus kehilanganmu lagi, sayang!” ujar Wina setengah mengancam.


“Mama!”


“Sayang!”


Sahut Deon dan Luien tak meyukai perkataan wanita itu. Namun, Wina bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ia tak sanggup lagi menanggung derita jika harus kehilangan seorang anak lagi.


“Putriku,” panggilnya dengan penuh kasih sayang.


Luien pu memeluk ibunya, menenggelamkan dirinya dalam pelukan sang ibu. Pelukan yang selama ini ia rindukan. Bahkan panggilan sayang itu juga sangat ia nantikan.


“Mama .. maafkan aku. Aku sudah terbiasa mencari uang seperti itu, karena hadiahnya untukku sendiri dan aku merasa tertantang setiap mendengar adanya even balapan itu,” jelas gadis itu memberi alasan.


“Tapi sekarang ada kami, yang akan memenuhi semuanya untukmu, sayang,” ujar Deon sedikit tak menyukai alasan gadis itu sekarang.


“Iya Dad, aku minta maaf untuk itu,” ujar Luien penuh penyesalan.


“Sekarang kau lihat sendiri. Kau kalah dan mengadu pada ayahmu. Memang jika kau kalah, apa yang ayahmu bisa lakukan?” sindir Wina kesal.


“Mama …,” rengek Luien.


Deon terkekeh mendengar suara manja putrinya. Melihat dua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya berpelukan. Ia pun berkhayal akan hadir satu putra lagi untuknya.


"Sekarang katakan pada Mama. Siapa yang mengalahkanmu?" tanya Wina sambil membelai rambut putrinya.


Lagi-lagi ia menghela napas panjang. Rambut Luien kadar seperti belum dikeramas atau disisir.


"Astaga ... rambut anak gadis kalah dengan sapu di rumah ini!" sindir Wina.


Luien makin merengek dan mengeratkan pelukannya. Wina mencubit sayang hidung mancung putrinya itu. Deon tersenyum lebar melihat betapa manjanya Luien.


"Aku kalah dari Boss ku," jawab Luien.


"Kau kalah dengan siapa? Adrian atau Alex?" tanya Deon lagi.


*Alex," jawab Luien sambil mengerucutkan bibirnya.


“Apa Rico masih tidur?” tanya Luien mengalihkan pertanyaan sang ayah.


“Mau apa kau? Mandi dulu. Baru kau pegang adikmu!” titah Wina galak, Luein sampai mengerucutkan bibirnya.


Deon menggelengkan kepala. Rico memang bukan darah daging mereka. Tetapi kehadirannya mampu mengobati sedikit luka Wina, sang istri. Luien memasuki kamarnya sendiri, begitu juga Deon dan Wina. Sepasang suami istri itu kembali merebahkan tubuh mereka di ranjang.


“Sayang,” panggil pria itu mesra.


Wina tersenyum. Wanita itu menatap netra yang kini berkabut gairah. Kini ranjang itu kembali bergoyang seirama dua tubuh yang kini menyatu dalam gelora gairah bercinta.


Kini, ketiganya sudah di ruang makan tengah menikmati sarapan. Rico sudah berada dalam gendongan Luien. Bayi itu sangat senang melihat kehadiran gadis itu.


"Mamamamam ...."


Bayi itu berceloteh dan menyemburkan ludahnya. Luien menciuminya gemas.


"Ma ... habis sarapan boleh tidur lagi nggak. Aku ngantuk banget," ujar Luien sambil menguap.


"Iya, sayang," ucap Wina.


Luien mencium kembali adiknya. Lalu beranjak ke kamarnya. Ia pun tidur hingga makan siang menjelang. Gadis itu bangun seperti singa, rambut yang acak-acakan. Wina sampai harus memandikan gadis itu. Luien dalam mood manja. Bahkan ia minta ayahnya menggendongnya di punggung.


"Lihatlah ... sang jagoan kita kalah dan ia jadi manja, karena kalah," sindir Wina.


"Daddy ...," rengek gadis itu.


Deon tertawa terbahak-bahak. Ia sangat menyukai momen ini. Pria itu mendudukkan putrinya di kursi makan.


"Sayang, kamu belum menjawab pertanyaan Mama tadi," sahut Wina mengingatkan.


Luein enggan menyebutkan taruhannya. Wina menatap anak gadisnya.


"Sayang?"


"Aku harus menikahinya pagi tadi," cicit Luien.


Deon pun tertawa. Ia menggeleng tak percaya. Anak gadisnya yang kecerdasannya luar biasa ini bisa selugu itu tentang pernikahan.


"Kau berhasil diperdayainya. Kau pikir menikah itu mudah?" tanya Deon.


Luien menatap ayahnya bingung. Deon pun menjelaskan tata cara menikah. Barulah ia paham. Ternyata trik itu digunakan Alex untuk membuatnya tertekan.


"Kalau begitu aku akan menantangnya lagi!" tekad Luein.


"Apa kau serius, sayang?" tanya Deon lagi. "Dan melupakan taruhan sebelumnya?"


Luien mengerucutkan bibirnya. Ia belum mau menikah cepat.


"Daddy sih setuju jika kau bersama Alex," sahut Deon menggoda putrinya.


"Daddy," rengek Luien lagi.


Wina jadi tersenyum dan membayangkan pernikahan putrinya ini akan menjadi sorotan dunia.


"Kau lupa jika di atas langit masih ada langit, sayang," ujar Deon mengingatkan putrinya.


Luien menunduk. Sehebat apapun dia, tentu ada yang lebih hebat lagi. Gadis itu pun mengaku kalah dari atasannya itu. Walau ia akan mencari cara untuk tidak segera menikah dengan Alex.


"Oh ya, kau tau Gloria sudah sadar dari komanya. Ia pun kini tengah menjalani rawat jalan. Ibunya akan mengurusnya di rumah. Dia belum bisa memberikan kesaksian apa pun. Pihak kampus juga tengah mengkaji kembali untuk memberi hukuman pada Jessy, Anneth dan Brenda," jelas Deon lagi.


Luien mengangguk. Hukum sudah berada di jalurnya. Ia tinggal menunggu kesaksian Gloria dan mengatakan siapa pria yang berada dalam mobil. Gadis itu yakin jika pria itu adalah pria yang sama ketika membawa Gloria di klub malam itu.


bersambung.