THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
PERNIKAHAN DIANA



Hari yang ditunggu tiba. Diana begitu cantik dengan gaunnya. Luien dan Gloria menjadi pengiring pengantin gadis itu. Tadinya, Diana tak begitu enak meminta Luien yang notabene adalah seorang putri raja menjadi pengiringnya. Tapi, sahabatnya itu lah yang sudah datang dua hari sebelum hari pernikahan dirinya.


"Thanks dear ... aku yakin mereka akan sangat iri ketika melihat Tuan Putri menjadi pengiring pengantinku," ujar gadis itu penuh haru.


Adam Cloum dan Veronica Lambert juga begitu bangga, pernikahan putrinya dihadiri orang-orang penting. Bahkan Deon dan Wina akan hadir ketika upacara pemberkatan.


Pemeriksaan dan penjagaan berlapis dilakukan. Kehadiran raja dan ratu membuat banyak orang ingin hadir hanya untuk sekedar melihat dan bertemu langsung dengan raja yang baru saja dilantik beberapa bulan lalu.


Adrian sangat gagah dan tampan. Alex dan Vic menjadi pria pengiring. Vic yang memegang cincin kawin mereka berdua.


Tania, bahagia sekali melihat putranya akan menjadi seorang suami sebentar lagi. Kini, mempelai wanita sudah ada di depan gereja. Adam mengaitkan lengan putrinya dan menggenggam jemarinya yang gemetar.


"Jangan tegang, sayang," ujar Adam menenangkan putrinya.


Pria tua itu juga nampak gagah dengan setelan jasnya. Ketika sampai di depan Adrian. Adam menyerahkan putrinya pada pria itu.


"Aku serahkan putriku, untuk kau cintai dan kau jaga," ujar Adam.


"Akan kujaga dan kucintai hingga napasku berhenti," sahut Adrian tegas.


Diana kini sudah berhadapan dengan Adrian. Mereka bersumpah di depan nama Tuhan atas pengukuhan cinta mereka. Semua hening dan khusyuk ketika pastur mulai memberikan kebaktiannya. Kedua mempelai dipinta mengucap sumpah mereka.


"Kalian sah menjadi suami istri silahkan cium istrimu!" ujar pendeta setelah keduanya usai mengikrarkan sumpah.


Adrian membuka layer yang menutup wajah istrinya. Pria itu langsung mengecup bibir gadis itu. Hingga terdengar riuh tepuk tangan.


Acara dilanjutkan di sebuah gedung mewah. Banyak orang-orang penting datang di acara itu. Deon adalah magnet bagi semua orang. Adrian tak pernah lepas memeluk pinggang istrinya. Pria itu sudah tak sabar mengajak sang istri untuk ke kamar pengantin mereka.


"Sayang ....," pinta pria itu berbisik.


"Ih, banyak tamu sayang," elak Diana dengan wajah memerah luar biasa.


"Ayolah ... ada ayah dari Luien di sini. Mereka tak memperhatikan kita," paksa Adrian.


Adrian benar-benar tak tahan. Setengah menyeret istrinya. Pria itu melarikan pengantin langsung ke kamar mereka.


"Hei, kalian mau ke mana!" sentak Gloria kesal.


"Ah ... tolong kau urus semuanya sekarang. Aku mau unboxing istriku!" jawab Adrian asal.


Pria itu malah menggendong sang istri ala pengantin. Para tamu dan lainnya hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah keduanya. Luien juga kesal dengan sahabatnya itu.


"Apa tak bisa menunggu malam?” tanyanya kesal.


"Entah ... mungkin Adrian sudah tak tahan," jawab Gloria sambil mengendikkan bahunya.


Pesta tetap berlangsung walau tanpa pengantin. Adam dan Maxwell yang melayani para tamu undangan.


Sampai kamar. Adrian langsung mengunci pintu. Ia benar-benar penasaran rasa perawan yang selama ini kakaknya bicarakan.


"Jadi Luien masih suci ketika kau memasukinya pertama kali?" tanya Adrian tak percaya waktu itu.


"Ya, istriku masih perawan ketika aku menikmatinya. Aku yang pertama kali memasukinya," jawab Alex penuh kebanggan.


"Adrian!" panggil Diana.


Pria bermata amber itu menatap manik pekat di bawahnya. Adrian melepas tiara dan aksesoris rambut istrinya. Perlahan kait di belakang baju pengantin terbuka. Pria itu membuka gaun indah itu hingga pemandangan indah tersaji di depannya. Diana sampai harus menutupinya.


"Jangan kau tutupi ... aku ingin lihat," ujar pria itu dengan suara berat.


Wajah Diana malu luar biasa, walau perlahan ia menurunkan tangan yang menutupi area intimnya.


"Buka bajuku," pinta pria itu.


Dengan tangan gemetar, Diana membuka jas, lalu kemeja suaminya. Terpampang lah dada berotot dengan perut kotak-kotak. Tanpa sadar, Diana merabanya. Napas Adrian terdengar menderu, jantungnya pun berdetak cepat. Pria itu memeluk sang istri dan memagut bibir gadis itu.


Tak butuh waktu lama bagi pria itu merasakan kenikmatan perawan, yang seperti kakaknya bilang.


Sedang di tempat pesta. Gloria duduk di balkon dengan segelas anggur putih. Gadis itu menatap taman indah dengan berbagai bunga mekar.


"Hai," gadis itu menoleh.


Ketika hendak berdiri, Hugo menahannya.


"Duduk saja Glo," pinta pria itu.


"Apa kabarmu?" tanyanya kemudian.


"Aku baik," jawab Gloria.


"Bagaimana denganmu? Aku dengar bisnismu dengan Brandon sukses," lanjutnya.


"Puji Tuhan. Aku juga baik," ujar Hugo.


"Mana Brandon? Kau tak mungkin ke sini sendiri," tanya Gloria.


"Dia bersama kekasihnya. Aku jadi seperti orang ke tiga jika bersama mereka," jawab Hugo terkekeh.


Gloria mengangguk dan tersenyum. Lalu keduanya pun di selimuti keheningan. Dua insan itu tampak kikuk. Vic yang tengah melihat keduanya, langsung mendekati. Sungguh, pria itu cemburu jika Gloria didekati oleh pria manapun.


"Ehem ... sedang apa kalian?" tanya pria itu memecah keheningan.


Baik Hugo dan Gloria sedikit terkejut dengan kedatangan Victor. Hugo menunduk memberi hormat.


"Tuan Dambaldore!"


"Santai saja Hugo. Tak perlu formal begitu," sahut Vic menenangkan.


Hugo tersenyum kecut. Tak lama Luien dan Alex bergabung dengan keduanya. Ketegangan sedikit mencair. Mereka mengobrol tentang bisnis yang dijalankan oleh Hugo dan Brandon yang makin lama makin berkembang.


Brandon dan kekasihnya ikut bergabung. Mereka juga mengundang semuanya dalam acara pernikahan mereka.


"Hugo, kau belum punya kekasih?" tanya Alex ingin tahu.


"Kata siapa. Ibunya sudah menjodohkannya dengan sepupu jauhnya," sahut Brandon.


Gloria terdiam. Tubuhnya kaku seketika. Entah kenapa, hatinya ikut sakit seperti terasa dicubit.


"Apa benar begitu?" tanya Alex tak percaya.


Luien menatap Gloria yang seperti menahan tangisnya. Wanita itu mendekatinya dan mengusap punggung Gloria.


"Ibuku sedang sakit. Paman dan bibi menyuruh salah satu putrinya mengurusi ibuku. Ibu langsung ingin menikahkan gadis itu denganku," jelas Hugo.


"Dan kau setuju?" sela Gloria kesal.


"Ya, mau bagaimana lagi? Aku ingin ibuku ada yang merawat dan menemaninya," sahut Hugo juga sedikit kesal.


"Apa gadis itu tau kau hanya menikahinya karena bukan mencintainya?" tanya gadis itu lagi.


"Dia tak masalah. Menurutku cinta bisa datang karena terbiasa," jawab Hugo tenang.


Gloria tak lagi bertanya. Ia diam. Gadis itu memilih berdiri dan ingin pergi meninggalkan kumpulan itu. Luien menahannya.


"Jangan lemahkan dirimu, Glo. Kau tetap kuat walau dia tak menginginkanmu," bisiknya.


"Ehem ... mungkin sebaiknya, kami undur diri," sahut Brandon memecah ketegangan.


"Aku naik taksi saja, Brandon!" sahut Hugo.


Pria itu pamit terlebih dahulu sebelum Brandon pamit. Tampak Hugo begitu kesal dan marah. Brandon merasa tak enak, pria itu lah yang membocorkan perjodohan itu.


"Sepertinya aku salah bicara, sampai ia marah," ujarnya menyesal.


"Sudah tidak apa-apa," sahut Alex menenangkan.


Acara terus berlanjut. Pengantin baru tidak pernah turun lagi ke acara. Hingga pesta usai.


bersambung.


next?