
Siska, dan Bara, sudah melihat hasil konferensi pers yang di adakan Gladis. Kini Bara dan Siska tidak bisa menampakan dirinya pada publik. Apa lagi saat Gladis, sudah memperlihatkan wajah Siska, pada seluruh dunia.
"Untuk saat ini kamu tidak boleh pergi ke luar selain denganku. Tutup pintu dan kunci jangan membuka pintu, dan terima tamu siapa pun itu diam di dalam rumah sampai keadaan sudah aman. Aku tidak bisa menjamin jika para reporter akan datang. Kamu mengerti, kan apa kataku?"
Siska, mengangguk mengerti walau sebenarnya dalam hatinya sangat takut.
"Aku pergi dulu." Bara pun pergi setelah mengecup lembut kening Siska.
Siska merasa takut dan gelisah apa lagi saat Bara, pergi meninggalkannya.
"Aku harus tenang aku tidak boleh panik." Siska, yang terus bermonolog hingga jalan mundar-mandir tanpa henti.
Bara, sampai di lobby apartemennya dan benar seperti dugaannya. Jika akan ada banyak reporter yang datang menemui nya. Namun, Bara tetap terlihat tenang dan santai.
Dengan langkah tegak Bara melewati lobby itu hingga seorang reporter melihatnya dan langsung mengerumuninya. Sehingga langkahnya terhambat karena reporter itu.
"Pak Bara, bagaimana tanggapan anda perihal perselingkuhan itu?"
"Apa benar anda selingkuh?"
"Apa benar anda sudah menikahi wanita itu jadi dia istri kedua anda?
Berbagai pertanyaan di lontarkan membuat Bara, muak. Dan malas untuk menjawab pertanyaannya.
"Saya hanya ingin bilang dan jelaskan pada kalian. Jika disini tidak ada perselingkuhan atau pengkhianatan. Ya, saya menikah lagi itu memang benar tapi karena desakan dan permintaan dari istri SAH saya. Dia yang meminta dan menyuruhku untuk menikah lagi."
Penjelasan Bara, membuat para reporter tercengang. Sebab pernyataan Gladis dan pernyataannya benar-benar berbeda. Mereka bingung siapa yang harus di percaya.Namun, Gladis sangat kesal dengan pernyataan Bara itu.
"Semua karena aku karena ucapanku dulu. Pokoknya aku harus memberikan wanita itu pelajaran beraninya dia mendekati suamiku." Gladis, pun pergi untuk menemui Siska.
Di sisi lain Bara, yang diikuti reporter pun berhenti memasuki kantor urusan agama. Kedatangan Bara, ketempat itu menjadi heboh para reporter itu. Apa yang akan bara lakukan di tempat itu. Berbagai pandangan negatif dan positif pun keluar.
Sesuai perjanjiannya Bara, mendaftarkan pernikahannya pada kantor agama, agar pernikahan Siska, dengannya terakui negara dan agama. Dan tidak akan ada isu pengkhianatan lagi.
"Haikal, saya belum bisa ke perusahaan. Saya percayakan semuanya padamu," ucap Bara, pada sambungan telepon.
Di karena,kan kondisi perselingkuhannya masih heboh, sementara waktu Bara, tidak ingin mendatangi perusahaan selama masih belum aman.
Bara, berniat untuk kembali ke apartemen karena gelisah meninggalkan Siska, sendirian. Setelah urusannya di kantor agama selesai Bara, pun pergi kembali ke apartemennya.
*
*
Tok, tok, tok,
Suara ketukan pintu begitu keras mengejutkan Siska. Siska, yang berada di dalam apartemen pun merasa takut jika yang datang adalah para reporter atau orang yang marah padanya.
Namun Siska, mencoba tenang walau tubuhnya dalam keadaan gemetar.
"Aku harus tenang," ucap Siska, seraya menarik nafasnya kasar.
"Lihat dulu siapa yang datang." Siska pun berjalan, mendekati pintu. Saat di lihat dari lubang yang terdapat pada pintu Siska, pun terhenyak karena Gladis, yang datang.
Siska, merasa takut pasti Gladis, akan memakinya lagi marah-marah padanya dan menghinanya. Siska, tetap mengingat perkataan Bara, untuk tidak membukakan pintu siapa pun itu.
Tidak peduli Gladis, yang berteriak dan terus mengetuk pintu. Siska, tetap diam dan berlalu masuk ke dalam kamarnya hingga akhirnya teriakan Gladis, pun terhenti.
"Apa dia sudah pergi?" Siska, bermonolog.
Namun, hentian suaranya bukan karena Gladis, sudah pergi dari tempat itu. melainkan karena Bara, yang datang mencengkram kuat tangannya.
"Belum puas kamu mempermalukan dirimu. Sekarang kamu seperti orang gila yang berteriak-teriak, apa akalmu sudah hilang!"
"Ya, akalku hilang karena dirimu!" Bentak Gladis.
"Aku tidak akan biarkan wanita itu merebut dirimu dariku. Karena dia kamu mengacuhkanku Bara!" teriak Gladis, membuat Bara, tersenyum kecut.
Bara, melepaskan cengkramannya kasar lalu menatapnya tajam.
"Kenapa dulu kamu tidak berpikir. Seharusnya sebelum kamu meminta aku menikah lagi kamu sudah tahu dan berpikir hal ini akan terjadi."
"Kamu meminta aku menduakanmu bukan diriku. Kamu tidak takut kehilangan cintaku tapi sekarang kamu malah menyalahkan orang lain karena aku mengacuhkanmu. Kamu bilang pada semua orang akulah yang salah, aku yang selingkuh, aku yang mendua. Apa kamu sadar, semua yang aku lakukan sekarang adalah demi memenuhi permintaanmu."
"Sekarang aku menyadarinya, aku tahu aku salah, aku mohon maafkan aku, aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Kita perbaiki semuanya dari awal, aku mohon." Mohon Gladis.
"Jika kamu ingin memperbaikinya dari awal, kembali lagi rahimmu yang telah kau angkat."
Deg!! Ucapan Bara, membuat Gladis bungkam. Karena tidak mungkin jika rahim yang sudah di angkat bisa di kembalikan.
"Kenapa diam! Apa kamu tidak bisa melakukannya? Sudah terlambat Gladis, penyesalanmu tak ada artinya. Lebih baik kamu terima saja jika kamu sudah di madu. "
"Dan ingat jangan pernah datang lagi ke sini. Apalagi jika itu hanya membuat kekacauan dan mengganggu ketenangan. Lebih baik kamu pergi." Dengan, tegas Bara, meminta Gladis, pergi dari apartemennya.
Setelah mengusir istrinya itu Bara, pun melangkah masuk ke dalam apartemennya. Gladis, terduduk lemah karena penyesalan yang tiada artinya.
"Kamu sudah pulang?" tanya Siska saat melihat Bara, memasuki apartemennya.
"Keadaan di luar masih belum aman. Aku hanya pergi untuk ini." Bara, menunjukan sebuah surat yang menyatakan jika pernikahannya dengan Siska, sudah di akui negara.
"Tidak ada lagi yang harus di sembunyikan. Kamu bukan istri siriku lagi tapi istri SAH ku."
Bibir Siska, mengembangkan senyumnya. Dengan wajah berbinar dan bahagia Siska, pun memeluk Bara. Ini lah yang dia harapkan menjadi menyerahkan tubuhnya untuk seorang lelaki yang menjadi patner hidup selamanya.
"Terima kasih, terima kasih Mas!" ucap Siska, yang memeluk Bara. Begitu pun dengan Bara, yang memeluk dan mengecupnya lembut.
*
*
Gladis yang frustasi, hanya bisa melampiaskan amarahnya pada minum-minuman keras yang memabukan. Berjoget di bawah kelap-kelipnya lampu berwarna-warni, berteriak, bersorak, dan meracau.
Hingga dirinya tak sadar telah di bawa kembali oleh seorang laki-laki. Gladis, terus meracau, menciumi, laki-laki itu yang di anggapnya sebagai Bara.
Sedangkan laki-laki itu hanya tersenyum, memanfaatkan keadaan. Dalam keadaan mabuk dia membawa Gladis, ke hotel yang sama yang saat itu pernah di jadikan tempat satu malam bersamanya.
...----------------...
Hai, reader sambil nunggu othor up mampir dulu yuk ke karyanya kak Ramanda, ceritanya seru loh, nih aku kasih cuplikannya. 👇👇
...----------------...
Cuplikan di Bab: Punya Suami Tua.
"Dhita! Kamu bikin kaget saya saja! Mau ngapain kamu turun disini hah? Sekolah kamukan masih lumayan jauh dari sini!" tegur Adnan terlihat kesal karena mendengar teriakkan Kirana.
"Maaf Pak sudah bikin Pak Guru kaget, tapi saya ingin turun disini saja Pak, karena saya nggak mau teman-teman melihat saya turun dari mobilnya Pak Guru."
Adnan mengerenyitkan dahinya, setelah mendengar perkataan Kirana. "Kenapa emangnya kalau mereka tahu hm? Apakah kamu malu, turun dari mobilnya saya hm?"
"Bukan malu Pak, saya hanya males saja, menjawab pertanyaan mereka, kalau mereka tahu saya turun dari mobilnya Pak Guru," jelas Kirana, yang sebenarnya ia memang tak ingin teman-temannya tahu kalau sebenarnya ia telah menikah dengan idolanya mereka.
"Ya kamu tinggal jawab saja kok susah sih! Bilang sama mereka, kalau kamu diantar oleh suami kamu, bereskan?"
"Tidak, tidak, tidak! Pokoknya Saya tidak mau mereka tahu kalau saya istrinya Pak Guru titik!"
"Kenapa emangnya kalau kamu istrinya saya hm?"
"Malulah Pak, masa saya menikah sama orang yang sudah tua sih! Apa kata mereka nanti? Pasti mereka akan meledek saya, punya suami tua!" jawab Kirana dengan spontan. Tanpa memikirkan perasaan Adnan.
Adnan tersenyum miris mendengar perkataan Kirana, lalu ia mendekatkan wajahnya tepat didepan wajahnya Kirana seraya berkata.
"Apakah wajahku sudah terlihat tua dimatamu hm?"
Kirana amat kaget, saat melihat wajah tampan Adnan yang begitu dekat dengannya. Dan dengan spontan jantungnya berdetak begitu kencang. Membuat tubuhnya seketika membeku, bahkan nafasnya seakan ikut berhenti. Dan tatapan matanya terkunci pada wajah Adnan yang begitu dekat dengannya, yang hanya terpisah beberapa senti saja dari wajahnya.
"Kenapa Diam hm? Apakah Suami kamu ini sudah terlihat tua Kana?" tanya Adnan kembali. Dan seketika Kirana pun tersadar, wajahnya langsung memerah saat menyadari mereka begitu dekat. Dan dengan spontan ia mendorong wajahnya Adnan.
"Aaaah..! Pak Guru! Sanaaa!" pekik Kirana sambil menyorong wajah Adnan dengan lima jarinya. Lalu dengan cepat ia pun keluar dari mobilnya Adnan dan langsung berlari tunggang langgang, menuju ke sekolahnya yang masih lumayan jauh dari tempat mobil Adnan terparkir.
"Hahahaha.. lucu sekali sih, wajah Istri kecilku kalau sudah memerah begitu, bikin gemas saja, hahaha,"
Gimana seru, kan! Dari pada penasaran langsung aja ke lapaknya jangan lupa tinggalkan jejaknya ya 🤗🥰 👇👇