
Elo, duduk santai seraya memejamkan matanya tiba-tiba Miekey, datang meraung-raung padanya. Miekey, terus menjilati wajahnya, hingga menarik-narik bajunya membuat Elo, terbangun karena merasa terganggu.
Meong, meong
"Miekey, hey ada apa denganmu?" Mendapat pertanyaan dari Elo, Miekey, langsung berlari seraya mengaung seolah-olah meminta Elo, untuk segera pergi.
"Tidak Miekey, ini sudah malam kau tidak boleh bermain." Elo, berpikir Miekey, mengajaknya untuk bermain padahal Miekey, sedang merasakan sebuah firasat bahwa terjadi bahaya kepada Meisie.
Miekey, terus berlari keluar tanpa menghiraukan ucapan Elo, dan langsung naik ke dalam mobilnya. Di saat Elo, mengejar kucingnya dirinya mendapat telepon dari Arkan, yang langsung ia angkat.
Elo, sangat terkejut di saat Arkan, memberitahukan bahwa pabriknya mengalami kebakaran hebat. Dengan segera Elo, pun langsung berlari memasuki mobilnya dan pergi menuju perusahaannya.
Di dalam mobil Miekey, terus mengaung kucing itu merasakan bahaya akan datang entah karena ikatan batinnya begitu kuat dengan Meisie, dan selalu merasakan hal buruk yang akan terjadi padanya.
Sesampainya di depan perusahaannya Elo, melihat kerumunan orang banyak juga para karyawannya yang panik dan tak sedikit dari mereka yang menangis.
Matanya menatap nanar perusahaan di depannya yang selama ini ia bangun. Dalam sekejap perusahaan itu hangus terbakar. Tidak bisa di bayangkan seberapa kerugian yang akan di alaminya.
Arkan, melihat bosnya datang yang berjalan lemas seolah tak ada tenaga karena melihat perusahaannya hancur. Miekey, si kucing pintar pun menatap sendu majikannya yang terus memeluknya.
Meong, hanya itu yang bisa Miekey, ucapkan. Tiba-tiba terdengar suara teriakan Vika, yang memanggil-manggil nama Mey, Vika, panik karena Mey, masih berada di dalam.
Miekey, yang tahu akan hal buruk terjadi dirinya langsung turun dari pangkuan Elo, dan berlari memasuki perusahaannya. Elo, yang panik langsung berlari mengikuti Miekey.
"Miekey," teriak Elo, yang tak bisa melihat Miekey, karena kabut asap yang begitu tebal dan menyesakan nafasnya.
Tiba-tiba dirinya melihat seseorang yang tergeletak di lantai, Elo, langsung berlari menghampirinya dan saat melihat siapa orang itu dirinya sangat terkejut karena dia menemukan Mey, dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Meisie," teriaknya yang langsung menggendong tubuh sekretarisnya. Namun, ada sesuatu yang membuatnya terkejut wajah Mey, yang berubah yang memperlihatkan codet luka di wajah kirinya membuat Elo, terdiam sejenak dan mengingat kembali teman masa kecilnya.
Kekuatan face brush itu akan hilang jika terkena hawa panas dari api, dan wajah Mey, akan kembali seperti semula. Sedangkan face brush itu sudah hilang dan berada di tangan Sharon.
Elo, berjalan seraya menggendong tubuh Mey, melewati baranya api dan puing-puing bangunan yang hampir roboh. Beruntung di luar sana petugas damkar sudah tiba dan mulai mengarahkan pipa air untuk memadamkan apinya sehingga perusahaannya tidak habis terbakar masih ada yang bisa di selamatkan, hanya saja api itu sudah melahap habis bagian produksi terutama produk yang sedang di prosesnya saat ini.
Arkan, dan Vika, tersenyum senang saat melihat Elo, dan Mey, selamat. Namun, Vika, terkejut melihat luka codetnya yang kembali sedangkan Arkan, tidak begitu terkejut karena berpikir itu luka bakar karena kebakaran ini.
"Tuan anda baik-baik saja?" tanya Arkan, khawatir Elo, hanya menjawabnya dengan anggukan.
Elo, membawa Meisie, kedalam mobilnya Vika, langsung menyusulnya menangisi Meisie yang belum sadarkan diri. Sedangkan Elo, dia mencari kucingnya yang tidak terlihat.
"Miekey, Miekey,"
Meong, Elo, kembali tersenyum di saat Miekey, muncul dari balik asap tebal dan langsung melompat ke dalam pangkuannya. Elo, dan Miekey, pun kembali ke dalam mobilnya untuk membawa Meisie, ke rumah sakit.
"Arkan, tolong kamu urus mereka aku harus pergi untuk membawa sekretarisku ke rumah sakit."
"Baik, Tuan."
"Dan cari tahu apa penyebab kebakaran ini."
"Baik." Elo, pun pergi membawa Mey, kerumah sakit.
****
Seorang pria yang membuka masker dan topinya tersenyum melihat kebakaran itu, dia adalah Marchel, yang memang menginginkan kehancuran sahabatnya itu.
Di sisi lain Farhan, terheran-heran sebelum dia melancarkan aksinya ternyata sudah terlebih dulu mendapat kabar bahwa PT El-Giedon terbakar. Padahal dirinya berencana untuk mencari aset-aset dokumen milik Antares grup yang Jimmy, sembunyikan di perusahaan El-Gideon kini rencananya gagal karena kebakaran itu.
Farhan, tidak bisa mendapatkan semua dokumen yang dia mau. Karena mungkin saja dokumen itu sudah terbakar.
"Sial!" umpatnya seraya melempar beberapa barang di depannya.
"Bagaimana keadaan perusahaan itu?" tanya Farhan, pada sambungan telepon.
"Semua habis terbakar," ucap seseorang di balik telepon.
"Tapi, ada kabar baik gadis itu berada di dalam saat kebakaran terjadi ada kemungkinan dia tidak selamat," ucap orang itu.
Informannya yang tak sengaja mendengar teriakan Vika, yang memanggil nama Mey, dan menangis saat Mey, belum kembali dan tertinggal di dalam gedung yang terbakar. Informan itu pun menyimpulkan bahwa Mey, pasti tidak selamat.
"Benarkah begitu?" tanya Farhan, yang sedikit terobati rasa kesalnya dengan kabar keponakannya yang sudah tiada.
"Ya, karena api itu sangat besar ada kemungkinan gadis itu tidak selamat."
"Bagus." Farhan tersenyum menyeringai.
****
Di tempat lain Sharon, marah besar saat tahu Marchel, membakar perusahaan Elo. Karena Elo, adalah orang yang dia cintai. Namun, Marchel, tidak menghiraukan ucapannya dan malah membanting Sharon, saat akan menamparnya.
"Aku sudah bilang padamu jangan pernah macam-macam pada kekasihku,"
"Kekasih! Shera … Shera … laki-laki itu tidak pernah menyukaimu."
"Tidak peduli. Pokoknya aku tidak suka jika kamu mengganggunya,"
"Tapi ini sudah terjadi. Aku hanya membakar perusahaannya bukan tubuhnya. Asal kamu tahu dalam kebakaran ini ada satu korban yang meninggal kamu pasti senang karena aku telah membunuh gadis cacat itu."
"Mey!" ucap Sharon.
"Ya, kamu senang, kan jika gadis itu pergi dari kehidupanmu? Kamu akan lebih leluasa mendekati pujaan hatimu."
"Benar, tapi aku tidak yakin kalau dia mati," ucap Sharon ragu. Marchel, hanya menaikan kedua bahunya.
"Sudahlah, lebih baik kita rayakan bersama kemenangan ini. Kamu sangat di untung, kan dalam hal ini karena kamu bisa meminta ayahmu untuk membangun perusahaan Elo, dengan satu syarat kamu akan menikah dengannya. Ayolah pikirkan ide ini."
"Benar, idemu sangat cemerlang." Sharon begitu bahagia di balik duka ini ada keuntungan yang akan dia dapatkan.
****
Elo, membawa Mey, ke rumah sakit milik keluarganya. Disana Mey, masih di tangani oleh dokter. Elo, terlihat sangat mencemas, kan sekretarisnya tapi ada satu yang membuat Elo, terus teringat yaitu luka di wajahnya.
Dokter, memberitahukan keadaan Mey, baik-baik saja hanya pernafasannya yang terganggu karena terlalu lama berada di dalam, dengan menghirup asap dari api yang membuat banyak kehilangan oksigen dan nafasnya menjadi sesak.
Namun, saat Elo, bertanya luka di wajahnya dokter hanya menjawab bahwa luka itu sudah lama, mungkin terjadi 10 tahun yang lalu. Bukan karena di sebab, kan oleh kebakaran yang baru saja terjadi.
"Luka itu di sebabkan karena kebakaran di masa lalunya, saat itu rumahnya terbakar dan wajahnya tertimpa sebuah lampu hingga meninggalkan bekas sampai saat ini," jelas Vika, yang memberitahukan asal usul luka codet di wajah Mey.
Elo, semakin yakin bahwa Meisie, adalah Mey, sahabatnya dulu. Karena saat itu Mey, kecil berkata padanya.
"Saat itu rumahku terbakar, api begitu besar aku pun sangat takut. Saat aku mencari mama dan papa tiba-tiba sebuah lampu jatuh menimpa wajahku, hingga wajahku menjadi seperti ini."
Elo, masih mengingat ucapan Mey, dulu sepuluh tahun lalu yang bercerita tentang hidupnya yang malang.
"Kenapa dia tidak mengobati lukanya, bisa saja melakukan operasi," tanya Elo, pada Vika, namun matanya tak berpaling dari Mey, yang tengah berbaring.
"Karena dulu Mey, tidak punya biaya dan orangtuanya juga sudah meninggal. Aku kasihan padanya karena selalu mendapat hinaan dan ejekan dari teman sekolahnya tapi ada satu teman dia baik dan selalu menjadi penolongnya. Hingga mereka menjadi teman dekat hanya saja mereka berpisah dan sampai saat ini Mey, belum bertemu dengan teman kecilnya itu," jelas Vika
"Mey, selalu mencarinya dia tidak ingin menyembuhkan lukanya, karena lukanya itu yang bisa membuat dia bertemu dengan teman kecilnya. Mey, sangat berharap bisa bertemu kembali dengan temannya karena luka itu yang bisa membuat temannya mengenalinya."
Elo, hanya terdiam saat Vika, menjelaskan tentang masa lalu Mey, yang kisahnya sangat sama dengan kisah persahabatannya dengan teman masa kecilnya.
"Mey, apa itu kau!" batinnya
...----------------...
Terima kasih sudah mampir di kisah Melon, jangan lupa like, vote, favorit dan komentarnya juga ya 🤗.
Untuk mengetahui update novel terbaru bisa follow IG dini_rtn