The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Kelemahan Brush



Perdebatan sepasang suami isrtri belum juga mereda. Bahkan, sampai di rumah pun keduanya masih bertengkar. 


"Bara,," panggil Gladis dengan nada tinggi. 


Bara, yang tak ingin berdebat pun mengacuhkannya. Namun, Siska terus mendesaknya. Sehingga Bara, tersulut emosi hingga membanting semua barang-barang yang ada di dalam kamarnya. 


"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu semarah ini padaku?" 


"Ya, aku marah. Kenapa? Kau akan pergi silahkan, aku tidak akan peduli." 


"Kau sangat berbeda. Dulu kau tak seperti ini, apa karena wanita itu!" 


"Jangan libatkan orang lain dalam masalah kita. Kamu sendiri yang memulai." 


"Aku! Apa salahku?" 


"Kau masih bertanya apa salahmu?" 


"Ya tuhan, Bara. Kamu masih memikirkan hal semalam. Aku pergi bersama temanku bukan laki-laki lain." 


"Terserah. Percuma saja aku bicara denganmu kamu tak pernah menyadari kesalahanmu. Semua yang kau lakukan selalu benar." 


"Loh, emang apa salahnya? Bara, kamu tahu aku seorang publik figur, aku pulang malam karena sibuk shooting, pergi hangout, kadang lembur seharusnya kamu mengerti." 


"Yang kamu pikirkan hanyalah tentang karier mu. Sampai kapan kamu seperti itu Gladis." 


"Bara, aku heran kenapa sekarang kamu mempermasalah, kan nya. Kamu tahu dari dulu aku sibuk dengan karierku, tapi kamu tidak pernah mempernasalah, kan nya." 


"Terserah, aku tidak peduli lagi." Bara, pergi begitu saja meninggalkan Gladis. 


"Bara!" teriak Gladis, yang kesal karena di acuhkan Bara. 


Seorang wanita paruh baya hanya tertegun. Menatap sedih pada sepasang suami istri yang terus saja bertengkar. Gladis, yang keras kepala tak pernah mau mengalah juga tak mau menyadari kesalahannya. 


Bara, yang begitu mencintai istrinya sehingga terlalu sabar dan memanjakan istrinya hingga Gladis, menjadi istri pembangkang. 


Setelah cukup lama berdiam diri Gladis, pun pergi meninggalkan rumah. 


*


*


*


Dengan penuh emosi dan amarah Bara, melajukan mobilnya ke sembarang arah. Tak tentu arah tujuan. Hingga akhirnya Bara, memilih danau sebagai tempat yang di tuju. 


Bara, menghentikan mobilnya di tepian danau, suasana sejuk, dingin, dan sunyi membuat pikirannya sedikit lebih tenang. Bara, bersandar pada kursi mobilnya matanya ia pejamkan, dengan kaca mobil yang sengaja di turunkan agar bisa merasakan hembusan angin yang menerpa. 


Untuk pertama kalinya Bara, bertengkar hebat dengan Gladis. Entah karena semalam yang tak bisa melepaskan hasratnya dengan Gladis, sehingga dirinya terbawa emosi. 


Drt … drt … 


Tiba-tiba getaran ponsel membunyarkan lamunannya. Dengan malas Bara, merogoh ponsel di dalam sakunya seakan tahu jika istrinyalah yang menghubunginya.


Namun, saat melihat nomor yang tertera pada layar ponsel, Bara, sedikit heran karena nomor itu tidak terdaftar pada sim cardnya. Nomor yang tidak dia kenal mengirimnya sebuah pesan.


"Siapa ini?" tanya Bara, pada hatinya lalu jari tangannya pun bergerak untuk membaca pesan itu.


08×××


Mas, ini aku Siska. Maaf, jika aku mengganggu. Aku mendapat nomormu dari Mami. Begini, apa aku boleh pergi?


Satu pesan dari Siska, membuat Bara, tersenyum. Entah, kenapa mengenai Siska, hati Bara, selalu tenang dan damai. 


Perkataannya mampu menyejuk,kan hatinya. Bara, pun membalas pesan itu. 


Bara: 


Mau pergi kemana? 


Siska: 


Aku ingin menemui temanku, jika di izinkan.


Bara: 


Teman? Kau punya teman di kota ini? 


Siska: 


Iya, teman yang pernah menolongku. Antares grup, aku akan pergi kesana dia memberikan kartu namanya.


Bara: 


Kau tunggu saja aku akan menjemputmu


Siska:


Bara: 


Ya, aku mengizinkan kau pergi


Siska: 


Terima kasih. 


Bara, tersenyum setelah menerima pesan dari Siska. Siska, sangat berbeda dengan Gladis. Semenjak hidup bersama Gladis, tidak pernah sedikit pun Gladis, berucap atau mengirim pesan hanya untuk meminta izin darinya.


Tetapi Siska, baru dua hari menjadi istrinya dia begitu menghargai Bara, sebagai suaminya walau itu hanya suami siri baginya. 


*


*


*


Siska, sudah sampai di sebuah gedung yang bertuliskan nama Antares Grup. Selama perjalanan Siska, hanya mengandalkan kartu nama yang di berikan Mey. 


Siska, melangkah lebih dalam memasuki gedung itu, dengan harap akan bertemu dengan Mey. 


Brukk, 


"Maaf, maaf," ucap seorang wanita yang baru saja menabrak tubuhnya, hingga tas yang di pakainya pun terjatuh membuat semua isi dalam tas berhamburan.


"Mey!" seru Siska, saat melihat wanita yang menabraknya ternyata adalah Mey, wanita yang dia cari.


Tetapi Mey, dia hanya diam dan menatap bingung. Sebab Mey, tidak mengenali wajah Siska, saat ini. 


"Kamu siapa? Apa kita saling kenal?" 


"Aku Siska, wanita yang anda berikan roti." 


Mey, pun sekejap diam seraya mengingat siapa wanita yang pernah ia tolong saat itu. Dalam sekejap Mey, pun teringat wanita berkerudung dengan wajah yang penuh bintik merah. Namun, Mey tercengang karena menatap wajah Siska, yang berbeda. 


"Siska! Kamu." 


"Iya mba ini aku, aku akan jelaskan nanti." 


Mey, pun membawa Siska, kesebuah cafe dekat kantornya. Mereka berbicara banyak hal termasuk tentang perubahan Siska, tentang wajahnya juga tubuhnya. 


Siska, memberitahukan tentang brush ajaib itu juga memperlihatkannya pada Mey. Mey, merasa itu brush yang sama yang pernah ia gunakan. 


Mey, pun bertanya tentang kekuatan brush itu, Siska pun menjawab bahwa brush itu bisa bertahan selama 12 jam. Dan itu sangat sama dengan brushnya yang dahulu. 


"Apa kamu tahu kelemahannya apa?" tanya Mey, Siska, pun menggeleng. 


"Begini, semua keajaiban pasti ada kelebihan dan kekurangan. Begitu pun dengan brush ini di balik kekuatannya pasti ada kelemahannya." 


"Siska, aku akan bercerita tentang rahasia hidupku, dulu aku bukanlah Mey, yang sekarang wajahku dulu sangatlah buruk. Saat kecil aku pernah mengalami sebuah tragedi. Saat itu rumahku terbakar kedua orang tuaku meninggal dan wajahku rusak parah."


"Selama hidupku aku hanya mendapatkan hinaan dan ejekan, hingga pada satu hari aku menemukan sebuah keajaiban. Aku menemukan sebuah brush ajaib yang saat aku pakai wajahku yang cacat dan buruk rupa berubah jadi cantik. Sepertimu." 


"Namun kekuatan brush itu hanya dalam waktu 12 jam. Sama percis dengan apa yang kamu punya."


"Dan kamu tahu tak hanya itu, kekuatan brush itu akan hilang saat tersiram air begitu pun api. Itulah kelemahannya Air dan Api." 


"Brush yang kamu punya saat ini adalah brush yang sempat aku miliki." 


"Jadi … Mba Mey, dulu." Mey, hanya mengangguk seraya tersenyum. 


"Lalu wajah Mba Mey, sekarang? Apa bisa cantik walau tanpa brush ini?" 


"Cinta yang tulus, yang membuat wajahku seperti ini." 


"Jangan lupakan kelemahan brush ini yaitu air dan api." Siska, mengangguk mengerti. wajah dan tubuhnya tidak boleh tersiram atau pun terkena panas api jika tidak ingin wajahnya berubah di waktu yang tidak tepat. 


Beruntung Siska, bertemu dengan Mey, saat ini sehingga Siska, tahu apa kelemahan brushnya itu. Dan Siska, berharap ada seseorang yang mencintainya dengan tulus. 


...----------------...


Jangan lupa like dan komentarnya biar othor tambah semangat upnya.


Yang belum mampir ke karya othor yang baru jangan lupa mampir ya 🙏👌


Novel Baru Author


Judul: Because Of Pizza


Jangan lupa mampir di tunggu lo kehadirannya.