
Awalnya Sharon, begitu bahagia karena memiliki brush ajaib itu. Wajahnya akan semakin cantik karena brush itu hingga Sharon, mengadakan sebuah pesta bersama teman-temannya dengan niat ingin memamer, kan wajah cantiknya.
Namun, di luar dugaan wajahnya tidak seindah yang dia bayang, kan. Brush itu mengubah wajahnya menjadi tua, kulit keriput, bibir doer, alis tebal dan panjang hingga bentuk hidung yang tak menentu, seperti hidung jambu entah itu seperti hidung elang.
Lebih tepatnya nenek sihir, panggilan itulah yang pantas untuknya saat ini. Kekesalan Sharon, tak hanya di situ karena brush itu Sharon, tidak bisa pergi
ke pesta itu. Dan, Sharon, sangat kesal kepada Vika, menganggap Vika, memberikan brush yang salah.
"Uuuhh, gimana ini! Kenapa wajahku gak berubah-berubah malah mengerikan seperti ini," umpatnya.
Sharon, terus mengipas-ngipas, kan tangannya pada area wajahnya yang kini terasa sangat panas hingga kulitnya memerah seperti kepiting rebus.
Aaaa … panas, panas
Sharon, berlari ke kamar mandi, yang langsung membasuh mukanya dengan air tanpa henti. Namun itu tidak membuat hawa panas yang terasa pada wajahnya berkurang, hingga Sharon, berlari ke arah belakang rumahnya untuk menceburkan diri kedalam kolam renang.
Lama berendam akhirnya Sharon, pun beranjak dari dalam air. Seperti awalnya kelemahan face brush itu adalah air dan api, jika terkena air kekuatan sihir itu pun musnah dan hilang. Namun, keadaan tubuhnya sudah menggigil karena kedinginan.
"Sial, dasar face brush sialan!" Sharon, pun kembali menuju kamarnya.
"Awas saja aku akan balas perbuatan kalian." Sharon menatap tajam bayangan wajahnya pada cermin.
****
Meisie, sudah kembali ke rumahnya bersama Vika, yang kini telah kembali menjadi teman baiknya. Vika, berniat akan mengambil kembali face brush itu dari Sharon, di waktu bersamaan Vika, mendapat pesan dari Sharon, yang mengajaknya bertemu.
Vika, pun penasaran untuk apa Sharon, memintanya untuk menemuinya. Namun, Vika, menjadi, kan kesempatan ini untuk mengambil kembali face brush itu.
"Mey, Shera, memintaku untuk menemuinya. Semoga ini kesempatan ku untuk mengambil face brush itu."
"Aku ikut, biar aku menemanimu Vik." Meisie, tidak ingin Vika, pergi sendiri untuk mengambil face brushnya. Namun, saat ingin pergi tiba-tiba dirinya mendapat sebuah pesan dari nomor yang tidak dia kenal. Namun, Mey, menjadi bahagia mendapat pesan itu.
Sebuah pesan, yang mengaku sebagai teman kecilnya yang mengajaknya bertemu di taman tempat bermainnya dulu. Meisie, pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, dengan segera Meisie, mengambil sebuah topeng yang ada di lacinya lalu pergi.
"Vika, maaf aku tidak bisa menemanimu aku harus pergi ke suatu tempat," ucapnya. "Aku duluan Vika." Meisie, pun berlari pergi meninggal, kan Vika, tanpa memakai masker untuk menutupi lukanya.
Meisie, membiar, kan lukanya terlihat agar teman kecilnya mudah mengenalinya.
****
Elo, baru saja sampai di sebuah taman, Elo, turun dari dalam mobilnya netranya menatap sekeliling taman seraya berjalan memasuki area taman.
Sekilas bayangan masa kecil pun terlintas. Terlihat dua anak kecil sedag bermain dan bercanda juga berlarian di taman itu. Tawa mereka begitu renyah seolah tidak ada beban dalam hidupnya.
Elo, kecil yang selalu bisa membuat Mey, tersenyum. Selalu memberikan apapun yang Mey, butuhkan.
Elo, berjalan lebih dalam lagi lalu berhenti di depan sebuah batu besar yang sering di jadikannya tempat bermain dengan Mey, dulu. Bayangan pun kembali terlintas Mey, kecil yang duduk menulis sebuah gambar di atas buku gambarnya. Memang, Mey, sangat ahli dalam menggambar atau pun melukis. Membuat ia kembali teringat pada Meisie.
"Elo!" Elo, terdiam saat mendengar namanya di sebut. Seorang wanita yang membawa sebuah topeng di tangannya, wanita itu masih diam di belakangnya.
"Elo!" Wanita, itu kembali menanggil.
"Elo, apa itu kau?" tanya wanita itu yang tak lain adalah Meisie. Elo, masih membelakanginya hingga akhirnya Elo, pun memperlihat, kan sebuah topeng di tangannya.
Sebuah topeng yang begitu sama percis dengan topeng yang Meisie, miliki. Tiba-tiba satu pelukan mendarat di perutnya. Meisie, langsung memeluknya dari belakang.
"Elo, aku merindukanmu," ucap Meisie.
"Aku, Mey, Mey, teman kecilmu dulu."
"Apa buktinya jika kamu benar temanku?"
"Topeng ini, kita memiliki topeng yang sama."
"Topeng bisa saja sama. Aku ingin bukti lain."
"Kamu meragukanku? Aku Mey, temanmu yang cacat dan si buruk rupa. Kamu pasti ingat, kan codet luka di wajah kiriku? Lihatlah aku masih Mey, seperti dulu." Meisie, melepaskan pelukannya.
Perlahan Elo, pun membalikan tubuhnya. Mey, langsung membulat, kan kedua bola matanya saat tahu siapa pria di depannya.
Kini, keduanya sama-sama diam. keduanya saling menatap dalam.
Flashback on
Keyakinan Elo, pada Meisie, yang menjadi teman kecilnya menjadi kuat dan bertambah yakin. Saat penjelasan Vika, di rumah sakit tentang Mey.
Begitu pun dengan perkataan Mey, yang sebelumnya saat dimana mereka sedang berkunjung ke pasar malam.
"Tuan, kau tahu tidak kenapa aku membeli semua ini? Aku teringat teman masa kecilku, dulu kami sering bermain ke tempat seperti ini, dia membelikanku sebuah topeng, dan kita memakainya bersama. Setelah itu dia juga membelikanku gulali ini, kita memakannya bersama di dalam kincir angin itu."
Perkataan itu masih terngiang di telinganya. Hingga Elo, pun memutuskan untuk mencari tahu apa itu Mey, temannya atau bukan. Jika, dia Mey, teman kecilnya maka Meisie, akan mempunyai topeng yang sama percis dengannya.
Meisie, akan mengenalinya dengan topeng itu. Elo, pun melangsungksn rencananya dengan di awali sebuah pesan yang dikirimnya pada Meisie, dengan nomor yang berbeda.
Massage
Mey, ini aku teman kecilmu. Jika, kau masih ingat taman tempat kita bermain dulu, berarti kau masih mengingatku. Datanglah ke taman itu sekarang juga aku akan menunggumu. Kita bertemu dan jangan lupa bawalah topeng yang ku berikan padamu dulu.
Sebuah pesan singkat, yang dikirimnya namun mengandung makna. Dan akhirnya Elo, pun bertemu dengsn teman kecilnya.
Flasbsck on
"Tuan bos!" ucap Mey, yang masih bingung kenapa ada bosnya disini.
"Maaf, aku tidak bermaksud memelukmu aku …." ucap Mey, tertahan saat Elo, menyanggahnya.
"Mey!" Meisie, menatap Elo, dalam. Elo, pun memperlihat, kan semua barang miliknya yang menjadi kenangannya saat itu. Dari topeng, gambar, foto dan kenangan yang lainnya masih Elo simpan.
Meisie, diam terpaku melihat semua barang itu, barang yang selalu ia ingat. Meisie, tak menyangka jika teman kecilnya selama ini orang yang dekat dengannya. Tuan bos nya, yang selama ini selalu melindunginya.
'Apa ini benar tuhan! Apa dia Elo, ku!' batin Mey.
Pertemuan pertama saat Elo, membelanya di depan banyak orang. Selalu menjadi penolong dan pelindung baginya. Seekor kucing yang mendekatkan mereka hingga saat ini. 'Kenapa? Kenapa tidak kau beritahukan aku tuhan, jika dia adalah teman kecilku. Orang yang selama ini dekat denganku,' batin Mey.
"Mey!"
"Elo!"
Mey, pun langsung memeluk Elo, dengan hangat rasa rindunya selama ini terbayar sudah. Elo, yang tidak pernah berubah yang selalu menjadi malaikat pelindungnya.
Elo, pun membalas pelukan hangat itu. Kini, keduanya saling berpelukan untuk melepaskan kerinduan. Di taman ini pertama kali mereka bertemu, di taman ini mereka berpisah di taman ini pula keduanya kembali di pertemukan.