The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Tertangkap



Arkan, di bantu oleh polisi untuk mencari pelayan itu. Elo, sudah melihat rekaman cctvnya, dan melihat sangat jelas wajah dan rupa pelayan itu. Emosi, Elo semakin memuncak dan meminta Arkan, untuk menemukan pelayan itu secepatnya. 


Di sisi lain seorang wanita yang memakai seragam pelayan berlarian menyusuri kota, hingga bersembunyi dan masuk ke gang-gang sempit. Pelayan itu memasuki sebuah pasar yang ramai pengunjung lalu mencari sebuah toilet untuk bersembunyi di dalam sana. 


Sesampainya di dalam toilet pelayan itu pun menutup pintunya rapat-rapat. Ia duduk di atas kloset lalu mengambil ponselnya di dalam tasnya. Pelayan itu pun menghubungi bosnya untuk memberitahukan keadaannya yang sekarang. 


Berulang kali pelayan itu menghubungi bosnya namun tidak ada jawaban. Pelayan itu begitu kesal di saat dirinya kesulitan tidak ada orang yang membantunya.  


Niatnya yang ingin meminta bayaran lebih untuk pergi jauh dari tempat ini kenyataannya nihil. Dia tidak mendapatkan apapun. 


"Ah, sial!" umpat pelayan itu yang kesal karena teleponnya tidak tersambung. 


Pelayan itu pun memasukan kembali ponselnya lalu pergi keluar dari toilet. Saat akan keluar dari cafe itu, si pelayan melihat beberapa petugas polisi yang sedang berjaga atau mungkin berpatroli di area sana. Tetepi pelayan itu ketakutan merasa jika polisi itu sedan mencarinya. 


Pelayan itu pun pergi dari tempat itu. Dia menutupi wajahnya dengan sehelai kain yang dia bawa. Namun, saat langkah semakin jauh tiba-tiba seorang pria menghadang jalannya pria itu bertubuh tegak, berparas tampan, dan seseorang yang dia kenali. 


"Mau pergi kemana kau?" 


Pelayan itu ketakutan saat melihat Arkan, ada di hadapannya. Dengan sigap dia berlari namun tangannya sudah terlanjur Arkan, cekal hingga tidak bisa lagi pergi kemanapun.


"Lepas Tuan, lepas." Pelayan itu mencoba meronta namun cekalan Arkan, terlalu kuat hingga akhirnya pelayan itu pasrah saat Arkan, membawanya. 


"Tuan saya mohon lepaskan saya, saya hanya menjalankan tugas tuan saya hanya di suruh. Saya mohon lepaskan saya." 


Pelayan itu terus memohon tetapi Arkan, tidak akan melepaskannya. Arkan, langsung membawanya ke hadapan para polisi. Dilemparnya pelayan itu pada petugas polisi, petugas polusi pun mengunci tangannya dengan borgol lalu mendorong masuk pelayan itu ke dalam mobil.


Setelah mobil polisi melaju Arkan, pun masuk ke dalam mobilnya untuk mengikuti mereka. 


"Halo, Tuan semua sudah beres pelayan itu sudah di temukan dan sudah saya serahkan ke pada polisi."


Arkan, memberitahukan kepada Elo, jika pelayannya sudah di temukan. 


"Bagus, kita bertemu di kantor polisi," ucap Elo, di ujung sana.


"Baik Tuan, sekarang saya segera menuju kesana," ucap Arkan, sebelum menutup teleponnya. 


**** 


Di sisi lain Sharon, sedang meeting bersama kliennya dan beberapa karyawannya hingga tidak mendengar saat ponselnya berdering. 


Setelah meeting selesai barulah Sharon, melihat beberapa panggilan yang tidak terjawab dari pelayan itu. Sharon, pun merasa heran ada apa pelayan itu menghubunginya lagi. 


"Ada apa lagi dia, bukankah aku sudah mentransfer uang bayarannya." Sharon, tidak tahu jika orang suruhannya sudah tertangkap polisi. 


Saat Sharon, ingin menghubungi balik tiba-tiba Farhan, memanggilnya dan memintanya untuk segera ke ruangannya. Sharon, yang tadinya akan memnhubungi orang suruhannya tidak jadi, kareba langsung melangkah pergi menuju ke ruangan papanya hingga lupa pada niatnya. 


Sesampainya di ruangan Farhan, Sharon, pun duduk di hadapan Farhan. Sharon, pun bertanya ada apa dan mengapa papanya memanggilnya. 


"Ada apa pa?" 


"Papa ingin memberitahumu jika besok kita akan mengalihkan atas nama perusahaan ini menjadi milik kita. Dan papa akan memperkenalkan kamu sebagai CEO baru di perusahaan ini." 


Sharon, tersenyum senang setelah mendengar ungkapan dari Farhan, bahwa dirinya yang akan menjadi CEO perusahaaan Antares grup. Saking bahagianya Sharon, melupakan satu hal yang penting yaitu Mey. Sharon, lupa jika Mey, masih hidup. 


"Benarkah Pa? Aku yang akan menjadi CEO?" 


"Iya. Sekarang tidak akan ada lagi yang menghalagi kita. Farel dan keturunan-Nya sudah tiada, pengacara itu pun sudah tidak ada sekarang hanya kita yang mengendalikan semuanya," jelas Farhan. 


"Akhirnya apa yang aku harapkan terjadi. Antares grup kini menjadi milikku." batin Sharon.


Sharon, terlalu menyanjung dirinya dia tidak tahu jika di luar sana ancaman bisa saja menghancurkan hidupnya. Pelayan orang suruhannya kini sedang di introgasi oleh pihak berwajib. 


Di ruangan gelap yang berukuran persegi empat yang hanya ada dua buah kursi untuk dirinya duduki dan satu kursi lagi untuk pria berseragam yang sedang menatapnya tajam. 


Elo, meminta kepada pihak polisi untuk menunggunya di luar. Petugas polisi pun mengizinkan Elo, untuk berbicara dengan pelayan itu. Setelah petugas polisi itu keluar muncullah seorang wanita di pintu itu. 


Wanita itu terlihat hancur, matanya begitu sembab seperti sudah menangis. Wanita itu menatap nanar pada pelayan itu. Pelayan itu pun terlihat tegang dan gugup saat menata wanita itu. 


Wanita itu adalah Mey, orang yang paling terpukul atas kematian Tini. Saat Mey, mendengar jika neneknya meninggal karena meminum racun Mey, pun meminta Elo, untuk menemukannya dengan orang yang sudah meracuni neneknya. 


Dengan terpaksa Elo, mengajak Mey, ke kantor polisi untuk menemui pelayan itu. 


Mey, duduk di hadapan pelayan itu, Elo dan Arkan, pun keluar dari ruangan itu memberikan mereka waktu untuk bicara. Petugas polisi pun tidak lupa untuk menaruh sebuah penyadap di bawah meja sana untuk merekam pembicaraan mereka. 


"Apa benar kamu yang meracuni nenek?" Pelayan itu hanya menunduk saat Mey, mengutarakan pertanyaannya. 


"Untuk apa kamu melakukan itu?" Mey, kembali bertanya. 


"Apa yang sudah nenekku lakukan sehingga kamu membunuhnya?" 


"Maaf, aku khilaf," jawab pelayan itu. Mey, tersenyum getir saat mendengar alasan yang tak masuk akal. 


"Khilaf! Kamu bilang khilaf! Sehingga kamu meracuni nenek, itu yang kamu bilang khilaf." Suara Mey, sedikit meninggi. Dia kesal karena pelayan itu benar-benar tidak mengakui kesalahannya. 


"Katakan padaku siapa yang menyuruhmu?" Pelayan itu tetap diam dia tidak berani mengatakan apa pun. 


"Baiklah, aku bisa memaafkanmu karena khilafmu itu. Tetapi kamu harus menerima hukuman yang setimpal yaitu hukuman mati." 


"Aku ingin memberimu dua pilihan kau ingin di bakar atau di racuni? Pilihlah mana yang kamu inginkan." 


"Tidak nona, saya mohon jangan bunuh saya. Saya masih ingin hidup nona." Pelayan itu begitu ketakutan hingga memohon agar Mey, tidak menghukumnya. 


"Apa kamu berpikir seperti itu saat akan meracuni nenekku?" Mey, yang di kenal sebagai gadis lembut, pendiam, dan ramah kini berubah menjadi kejam dan menyeramkan. Bahkan Mey, mencengkram kuat tengkuk leher pelayan itu. 


"Kasihani saya nona, jika saya mati siapa yang menjaga anak-anak saya, siapa yang menafkahi mereka nona." 


"Kau meminta kasihaniku? Apa kau tidak mengasihani nenekku?" 


"Nona, saya hanya menjalankan tugas saya hanya di perintah nona." Pelayan itu langsung bersimpuh, dan memeluk kaki Mey, untuk meminta ampunan. 


Mey, yang mendengar jika pelayan itu hanya menjalankan tugas dari seseorang membuatnya diam. Mey, pun kembali mencengkram tengkuk leher pelayan itu, menatapnya dengan tajam. Lalu menanyakan siapa yang telah memberikannya tugas. 


"Kamu bilang menjalankan tugas dan perintah?" pelayan itu pun mengangguk. 


"Katakan siapa yang telah memerintahmu katakan!" 


"Dia bosku." 


"Siapa nama bosmu itu?" 


"Saya tidak tahu namanya nona." 


"Jangan main-main denganku. Aku bisa saja meracunimu saat ini juga. Sekarang katakan siapa?" bentak Mey. 


"Saya benar tidak tahu, tapi … yang saya tahu dia pemilik Antares grup," jawab Pelayan itu. 


...----------------...


Maaf ya hari ini hanya satu bab, 🙏 othornya butuh istirahat dulu karena badan belum fit. 🙏


Terima kasih yang selalu mendukung dan setia menunggu upnya, jangan lupa like setelah membaca ya 🤗 jangan lupa kik favorit untuk yang baru mampir untuk yang belum klik jangan lupa klik favoritnya ok 🙏.


Sarangeo ❤