The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Pernikahan



Di sebuah ballroom hotel, dekorasi mewah menghiasi setiap sudut ballroom. Setiap bunga yang cantik dan harum menghiasi ujung pintu hingga ruang tengah, di lengkapi dengan banyaknya lampu hias yang menggantung. Nuansa putih pun menjadi dekorasi pilihannya saat ini. 


Meja dan kursi saling berjajar, tempat parasmanan pun tertata dengan rapih. Para tamu mulai berdatangan, hingga memenuhi seisi ballroom, semua orang terlihat bahagia. Semua dekorasi bernuansa putih nan mewah sudah pasti pilihan Sarah, sebagai orang tua dari mempelai pria yang menyiapkan dekorasi indah untuk pernikahan sang putra. 


Tak hanya dekorasi hotel saja, dari mulai keperluan, kepentingan, pengantin wanita, seperti gaun indah, lokasi, undangan, dan lainnya semua ia siapkan. Elo, sang pengantin pria pun sudah terlihat rapi dengan tuxedo putihnya, membuatnya terlihat sangat tampan. Akan tetapi walau pun persiapan sudah di siapkan dari awal, selalu saja ada yang tertinggal. Seperti saat ini Sarah, yang tercengang saat di beritahu pemilik butik jika gaun sang pengantin wanita tertinggal dan belum sempat di kirimkan. 


Sarah, yang mendengar itu pun langsung syok, bagaimana bisa seorang pemilik butik bisa teledor seperti itu. Dengan segera Sarah, memerintahkan seseorang untuk mengantarkan gaun itu segera. 


Di sisi lain Mey, yang sudah cantik mengenakan gaun putihnya, dibuat panik karena brush ajaibnya hilang. Brush itu yang bisa membuat wajahnya semakin cantik dan menutupi luka codetnya. Namun, bagaimana jadinya jika brush itu hilang, apa yang akan Mey, lakukan.


"Dimana brushku!" 


Mey, langsung panik saat brush itu hilang. Mey, terus mencari dan mencari, ke setiap sudut kamar, bawah ranjang, laci, lemari, namun tidak ia temukan. Mey, pun mulai khawatir sedangkan waktu berjalan begitu cepat, acara pernikahannya pun sudah di mulai tapi bagaimana dengan wajahnya. 


"Mey, kenapa kau belum siap juga?" hardik Vika, saat memasuki kamar Mey, masih belum merias dirinya.


"Vika, brushku hilang?" 


"Apa? Kau sudah mencarinya dimana kau letakan semalam?" Vika, pun ikut mencari. 


"Semalam brushku ada disini. Vika, bagaimana ini bagaimana dengan wajahku? Tidak mungkin aku keluar dalam keadaan seperti ini. Wajah yang rusak akan memalukan Elo, nanti." 


"Vika, tolong aku!" 


Vika, dan Mey, pun masih sibuk mencari, semua tempat mereka susuri, semua celah mereka lihat namun tidak juga menemukan brushnya. Di saat Mey, sedang panik tiba-tiba seorang pelayan mengetuk pintu kamarnya. 


"Non, Non Mey," seru pelayan itu. Mey, yang tahu keadaan wajahnya yang sekarang ragu saat ingin membuka, kan pintu kamarnya. Sebab pelayannya tidak ada yang tahu wajah Mey, yang sebenarnya. 


Melihat Mey, yang panik Vika, pun mengerti dan langsung membuka, kan pintu kamar itu. Namun, Vika, di buat bingung sebab, pelayan itu memberikan sebuah gaun pengantin untuk Mey. 


"Ada apa Bi?" 


"Ini tadi dari butik meminta maaf karena telat mengirimkan gaun pernikahan non Mey." 


'Gaun nikah! Perasaan Mey, tadi udah pakai gaun deh!' batin Vika, yang bingung sendiri. Namun tetap menerima gaun itu dan membawanya ke dalam.


"Makasih Bi," 


"Sama-sama Non, Bibi permisi." Vika, pun kembali masuk ke dalam kamar seraya membawa gaun itu. 


"Mey," panggil Vika. "Katanya ini gaun pernikahanmu baru datang," ujar Vika, seraya meletakan gaunnya di atas tempat tidur. 


"Gaun pernikahan! Tapi ini aku sudah memakainya." 


"Lalu ini gaun siapa dong? Masa iya salah kirim." 


Vika, dan Mey, sama-sama merasa aneh, kalau gaunnya baru datang lalu gaun yang di pakainya punya siapa. Malam sebelumnya setelah mimpi itu Mey, terbangun dan melihat sebuah gaun di samping tidurnya. Mey, berpikir itu adalah gaun pernikahannya yang di kirim ibu mertuanya. 


Tetapi, tanpa Mey, sadari ada sesuatu yang salah. Mey, kembali mengingat mimpinya, yang dimana ada seorang wanita yang cantik layaknya bidadari, memakai gaun putih layaknya ibu peri. Lalu menghilang begitu saja, berubah menjadi cahaya putih yang masuk ke dalam sebuah brush, brush ajaib yang ia miliki, dalam seketika brush itu pun menghilang dan berubah menjadi sebuah gaun indah. 


"Wanita itu!" Mey, teringat jika gaun yang ia kenakan itu adalah gaun yang di pakai wanita dalam mimpinya. 


"Lalu brushku? Apa jangan-jangan!" 


Mey, kembali teringat mimpinya saat brush itu hilang, dan berubah menjadi gaun yang di pakainya saat ini. Dan Mey, kembali teringat dengan perkataan wanita di dalam mimpinya itu. 


"Kau akan menjadi gadis cantik, di hari bahagiamu nanti, dan kau akan hidup bahagia, lelaki itulah yang akan menyembuhkan luka di wajahmu. Cinta yang tulus, membuat luka itu hilang. Sudah cukup hanya sampai disini, aku membantumu, karena setelah ini kamu tidak akan membutuhkanku lagi.Semoga kamu bahagia Mey."


'Apakah mimpi itu sebuah firasat? Apa wanita itu adalah pemilik brush yang selama ini aku pakai?' batin Mey.


"Mey!" Suara Vika, mengejutkan lamunannya. 


"Kenapa kau melamun? Apa kau tidak akan pergi? Sebentar lagi akad nikahmu." 


Mey, langsung melirik arah jarum jam di kamarnya. Matanya terbelalak melihat waktu yang sudah saatnya pengucapan kata-kata sakral untuk mengikat ikatan sucinya. Mey, yang panik pun langsung merias wajahnya di bantu oleh Vika, sahabatnya. Karena malu akan luka di wajahnya Mey, tidak mengizinkan pihak WO untuk merias dirinya. 


Dengan gerak cepat dalam waktu singkat Vika, pun berhasil memoles wajah sahabatnya itu menjadi lebih cantik, walau pun luka codetnya tidak bisa tertutupi dengan sempurna. Rambut pun Mey, biarkan tergerai tetapi beruntung Vika, bisa merias rambutnya sedikit, agar terlihat lebih anggun. Setelah selesai mereka pun segera pergi tetapi, Mey, teringat kembali lukanya. 


Mey, pun mencari sesuatu yang bisa menutupi wajahnya yaitu topeng, Mey, pun menggunakan topeng yang selalu ia pakai. 


Di sisi lain semua tamu undangan dan keluarga juga mempelai pengantin, terlihat cemas terutama Elo, yang sudah gelisah menunggu kedatangan Mey. Bahkan Elo, sudah memerintahkan Arkan, untuk menunggu di lobby, tetapi Mey, tidak kunjung datang. 


Elo, begitu khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya itu. Sehingga Elo, memutuskan untuk mencarinya sendiri. Namun, saat akan berlari Elo, melihat seorang pengantin dengan topeng yang menutupi wajahnya berdiri di ambang pintu. Di temani Vika, yang berdiri di sampingnya. Para tamu pun merasa heran kenapa pengantin wanita memakai topeng, Namun, Elo, yang mengerti akan keadaan yang sedang terjadi, pun memberitahukan pada semua orang bahwa dirinya sengaja ingin memberikan kejutan dan meminta sang pengantin wanita untuk menutupi wajahnya sampai ijab kabul selesai. 


Dengan begitu para tamu pun tidak lagi mempertanyakannya. Mey, mulai melangkah memasuki ballroom, dengan langkah penuh gemetar, dan juga gugup. Namun, saat melihat Elo, berdiri di depannya, mengulurkan tangannya yang siap menyambutnya. Mey, pun terasa lega dan lebih tenang, senyumannya terpancar saat melihat senyum indah lelaki yang akan menjadi suaminya beberapa menit lagi. Tangan Mey, pun menggengam dan meraih tangan Elo, yang sedari tadi menunggunya. Mereka berdua berjalan, lalu duduk diantara para saksi juga penghulu. 


Satu tangan Elo, ulurkan dan jabatkan pada seorang pria yang akan menikahkan mereka. Dalam satu hentakan kata-kata sakral pun ia ucapkan, kata-kata suci yang akan mengikat cinta mereka berdua untuk selama-lamanya. Sorak-sorak suara riuh pun terdengar saat sepasang cincin melingkar di jari manis keduanya. Elo, pun langsung mengecup kening Mey, yang kini sudah menjadi istrinya. 


Kebahagiaan dan senyum merekah terpancar jelas, di raut wajah mereka. Terutama Mey, dan Elo, yang begitu mesra dengan berpelukan. Namun, tiba-tiba pertanyaan seorang tamu membuat senyum Mey, pudar saat tamu itu meminta untuk membuka topengnya. 


"Ayo dong buka topengnya, mau lihat dong wajah pengantin wanitanya." 


'Bagaimana ini' batin Mey, yang semakin gugup. 


Tiba-tiba dari arah samping, seorang tamu dengan lancang melepas topeng itu, Mey, yang terkejut langsung memalingkan wajahnya dalam waktu bersamaan Elo, langsung mengecup bibirnya, untuk mengalihkan perhatian semua orang. 


Wow … para tamu semakin riuh dan bersorak, tetapi tidak dengan Vika, yang merasa gugup takut jika mereka melihat wajah Mey, yang sebenarnya. 


"Waw, ternyata pengantin wanitanya sangat cantik, pantas saja wajahnya di tutupi mungkin pengantin pria takut jika akan ada yang terpesona pada istrinya," 


Perkataan seseorang membuat Mey, Vika, juga Elo, tertegun. Kenapa mereka bisa mengatakan hal itu. 'Kenapa mereka memujiku' itulah yang ada di dalam pikiran Mey. Elo, pun melepaskan ciumannya, dirinya terdiam tanpa kata saat melihat wajah Mey, yang mulus, bersih, dan cantik. Vika, pun langsung melangkah lebih dekat penasaran dengan wajah sahabatnya. Dan benar saja Vika, pun ternganga, matanya terbuka lebar ia tak percaya Mey, begitu cantik, dan lukanya pun hilang. 


Melihat tatapan semua orang padanya Mey, jadi salah tingkah dirinya pun penasaran dengan wajahnya saat ini. 


"Elo, kenapa kau menatapku seperti itu" 


"Karena kau sangat cantik," bisik Elo, yang langsung memeluk Mey, lalu kembali menautkan bibirnya. 


Hari itu pun berakhir bahagia. Cinta yang tulus menyembuhkan sebuah luka, Hati yang kosong mendatangkan sebuah cinta. 


Arkan, dan Vika, menjadi salah tingkah saat kedua tangan mereka secara bersamaan menangkap sebuket bunga yang di lempar sepasang pengantin. 


...----------------...


Mana hadiahnya buat Mey-Lon ❤❤


Kasih like sebanyak-banyaknya ya 🤗


Komentar nya juga jangan lupa oke