The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Kekasih



Pengunjung bioskop pun saling berhamburan keluar karena film yang di tonton sudah selesai. Vika, kebingungan mencari Mey, yang sedari tadi tidak terlihat Vika, pun menggerutu kesal.


"Dimana si Mey, malah ngilang gitu. Keluar pake gak bilang-bilang huh!" Vika, begitu kesal karena Mey, tak kunjung kembali membuatnya harus menunggu lama.


Tidak hanya Vika, yang sedang kesal karena menunggu. Di sisi lain Jilya, juga sedang mengumpat karena kesal mencari-cari Elo, yang tak kunjung datang. Jil, terus menekan ponsel miliknya untuk menghubungi kakak sepupunya. 


"Ih nyebelin, dimana sih tuh cowok," umpatnya seraya menghentakan kedua kakinya. "Kebiasaan deh, kalau pergi gak bilang-bilang." Jil, terus menggerutu seraya memonyong, kan bibirnya. 


Tak lama kemudian Elo, pun datang


"Why?" ucap Elo, yang berjalan ke arahnya sambil tersenyum. Jil, hanya memicing, kan matanya seraya mencebik, kan bibirnya. 


"Hei, kenapa dengan sepupuku ini," ledek Elo, yang merangkul Jilya. 


"Why, why, why. Kakak gak tahu apa aku nunggu lama, kemana aja sih!" pekik Jil, yang menepis, kan tangan Elo, yang merangkulnya.


"Sorry, tadi keluar sebentar. Abis di dalam bosan," ujar Elo


"Sebentar, tapi lama. Kebiasaan deh selalu ninggalin, gak bisa ya nemenin sebentar saja." 


"Iya maaf, sekarang, kan udah datang. Ya udah kita ke ElGideon mal mau gak? Kamu bebas belanja apa saja." Jil, memicing, kan matanya menatap Elo, dengan intens.


"Realy! Apa saja?" Jil, ingin memastikan  bahwa Elo, tidak main-main dalam ucapannya. Apalagi soal belanja itu adalah hobinya Jil, apalagi Jil, tahu bahwa semua barang di ElGideon mal itu barang brendit bukan kaleng-kaleng.


Hm, Elo, pun mengangguk membuat mood Jil, kembali lagi.


"Lets go." Dengan penuh semangat Jil, langsung merangkul tangan Elo, dan menariknya untuk segera pergi. Elo, hanya tersenyum seolah tahu apa keinginan sepupunya itu.


Di tempat lain, Vika, juga menggerutu kesal saat Mey, datang. 


"Vika, maaf ya! Tadi aku ke toilet bentar." 


"Ke toilet satu jam." Vika, mengerucutkan bibirnya. 


"Iya maaf, filmnya udah selesai?" tanya Mey, membuat Vika kesal. Karena film yang di tonton sudah selesai dari tadi.


"Dari tadi," ketus Vika. 


"Ih, ketus banget. Iya deh maaf udah bikin nunggu lama. Ya udah kita pulang yuk," ajak Mey, yang langsung menarik tangan Vika, lalu pergi. 


Saat keluar dari bioskop, mereka tak sengaja berpapasan dengan Elo, dan Jil. Mey, begitu gugup saat bertemu dengan Elo, berbeda dengan Elo, yang terlihat santai dan mengembang, kan senyumannya. 


Tanpa di sadari Vika, memperhatikan keduanya, membuat Vika, curiga.


"Jangan-jangan tadi kamu ketemu Tuan bos ya!" tuduh Vika, membuat Mey, terkesiap dan mengelak.


"Tidak, kita baru saja bertemu." 


"Bener nih! Gak bohong!" Vika, memicing, kan matanya menatap Mey, penuh tanda tanya. 


"Udah, ah kita pulang." Mey, menarik tangan Vika, dari pada Vika, banyak tanya lebih baik Mey, membawa Vika, pergi.


****


Elo, terus mengembang, kan senyumnya satu tangannya ia fokus, kan untuk mengendalikan bundaran stirnya. Satu tangannya lagi ia tumpukan di bawah dagunya. Jil, terus memperhatikan kakak, sepupunya itu yang masih mengembang, kan senyumnya. 


"Kenapa? Kok, senyum-senyum," ucap Jil  penuh curiga. Namun Elo, tidak menyadari dengan ucapan Jil, sepertinya Elo, sedang membayang, kan sesuatu.


Flashback on


"Lalu bagaimana dong! kan sudah terlanjur, apa aku harus tanggung jawab." Elo, semakin menggoda Mey, membuat pipi Mey, bersemu merah. Namun tidak dengan Elo, yang menganggapnya dengan candaan.


 "Tanggung jawab!" lirih Mey, seraya berpikir "Percuma saja, bibirku yang masih suci ini tidak akan kembali lagi. Karena sudah kamu sentuh." Mey, mendelik seraya mencebikan bibirnya, Elo, semakin tersenyum di buatnya. Baginya Mey, yang dulu tidak semanja ini, dan Elo, jadi ingat saat dirinya pernah membuat kesal Mey, kecil dan ekspresi ngambeknya masih sama. 


"Itu sebabnya aku akan bertanggung jawab." Mey, memicing, kan matanya menatap Elo, dengan penuh tanda tanya. "Aku, akan mengembalikan ciuman itu," sambung Elo, yang menatap Mey, penuh arti.


"Apa!" gumam Mey, yang tidak mengerti dengan ucapan Elo. Bagaimana bisa ciuman di kembalikan, memangnya meminjam barang yang bisa di kembalikan kapan saja. 


Tanpa menunggu jawaban dari Mey, Elo, langsung menarik tengkuk lehernya dan kembali mendarat, kan bibirnya. Mata Mey, kembali membulat sempurna tanpa berkedip sama sekali ketika benda kenyal itu mendarat pada bibir ranumnya, menciptakan sensasi dingin yang luar biasa.


Hingga menjalar ke seluruh tubuhnya yang terasa menyengat seperti ada tarikan daya listrik, yang mampu menyetrum tubuhnya. Begitu pun dengan hati dan detak jantungnya saat ini, detakan jantung terpompa lebih cepat, begitu pun dengan hatinya yang berdebar-debar. 


"Jadilah teman hidupku untuk selamanya." Mey, masih diam terpaku jujur serangan itu membuatnya terkejut, namun ada kebahagiaan di dalam hatinya. "Ciuman ini hanya milikku satu-satunya," sambung Elo, yang melepas tautan bibirnya.


"Kenapa begitu," ucap Mey, lolos begitu saja seperti gadis polos. Yang tak mengerti dengan pribahasa cinta.


"Karena mulai hari ini kamu adalah kekasihku," 


"Apa!" Mey, begitu terkejut hingga mendorong tubuh Elo. 


"Kenapa? Apa kau tidak ingin menjadi kekasihku?"


"Bukan begitu tapi …," ucap Mey, tertahan.


"Bukankah kamu sudah memiliki kekasih Elo, mana mungkin aku jadi kekasihmu." Elo, mengerutkan keningnya, menatap Mey, heran.


"Kekasih!" Elo, tidak mengerti dengan ucapan Mey. Sedangkan dirinya tidak punya kekasih sama sekali, bahkan baru kali ini dia meminta seorang wanita untuk menjadi kekasihnya. 


Elo, terkenal dingin dan kaku. Jangan, kan mengatakan cinta apalagi meminta seorang wanita untuk menjadi kekasihnya. Banyak sekali wanita yang selalu mencari perhatiannya, mengejarnya, mendekatinya dan menggodanya. Secantik apapun wanita itu Elo, tidak pernah tertarik hatinya seolah tidak merasakan, getaran-getaran cinta. 


Karena wanita yang ada di hatinya hanyalah Mey, teman kecilnya. Dan baru kali ini dirinya meminta pada seorang wanita untuk menjadi kekasihnya. 


"Aku pikir kamu lelaki setia." Mey, tidak menyangka Elo, bisa mengatakan itu padanya untuk menjadi kekasihnya. Padahal Elo, sudah memiliki kekasih. Karena Mey, menganggap Jilya, adalah kekasih bosnya itu, yang sempat mematah, kan hatinya.


"Kenapa kamu bisa bicara seperti itu? Apa aku pernah berkencan dengan wanita?" bantah Elo.


"Yang di kantor itu siapa? Wanita yang memelukmu dengan mesra saat itu." Hati Mey, masih terbakar cemburu karena melihat Elo, di peluk Jilya, saat itu. Namun Mey, tidak mungkin mengatakannya bisa malau nanti kalau Elo, tahu dirinya cemburu. 


Hahaha … Elo, tergelak, membuat Mey, heran.


"Kenapa tertawa apa ada yang lucu?" Mey, heran kenapa Elo, tertawa.


"Jadi kamu pikir dia kekasihku?" 


"Lalu apa? Simpananmu?" Elo, semakin tergelak punggungnya terus bergetar karena gelak tawanya. 


"Mey, apa kau cemburu?" ucap Elo, dengan tatapan lembutnya. 


"Tidak," elak Mey. 


"Dia adalah Jilya, sepupuku dan sekarang aku disini sedang menemaninya jalan-jalan. Aku dan Jilya, memang sangat dekat. Jilya, memang selalu manja seperti itu merangkul bahkan memeluk," jelas Elo, yang masih sedikit tekekeh. Karena baginya pertanyaan Mey, memperlihst, kan kecemburuannya.


'Jadi dia sepupunya! Tapi kok, mesra banget ya!" batin Mey. 


"Jadi bagaimana apa kau mau menjadi kekasihku?" tanya Elo, yang membuat Mey, terkejut karena sedang melamun. 


"Aku anggap diammu ini adalah jawabannya," 


"Eh, tapi aku belum …," ucap Mey, tertahan karena sebuah benda kenyal yang mendarat di bibirnya. Elo, kembali menciumnya, begitu lembut dengan mata tertutup.


Awalnya Mey, hanya diam namun lama-lama dirinya terhayut hingga merasakan kelembutan pada bibirnya seraya memejam, kan matanya.


Flash back off.


"Kakak," teriak Jily, mengaget, kan Elo, hingga mengerem mobilnya mendadak. Jil, tidak tahu jika Elo, sedang melamun saat itu. 


"Jil, kau mengaget, kan ku saja." pekik Elo 


"Kakak, apaan sih. Memangnya apa yang sedang kakak pikir, kan?" pekik Jil. "Kakak, melamun ya! Ayo ngaku, kalau melamun di rumah jangan di mobil bahaya tahu," ketus Jil.


Jil, terus menggerutu karena baginya perbuatan Elo, bisa mencelakainya. Karena menyetir harus kosentrasi jangan tidur apalagi melamun, karena itu bisa membahayakan pengemudi.


"Iya, Jil. Maaf, sekarang kita jalan lagi." Elo, kembali melajukan mobilnya, kali ini dengan hati-hati dan fokus. 


"Awas jangan melamun lagi," gerutu Jil.


"Iya," jawab Elo. Mereka pun melanjutkan perjalanannya.


Di tempat lain Mey, dan Vika, baru saja menaiki taksi, sepanjang perjalanan Vika, terus saja bertanya tentang pertemuannya dengan Elo, bos besarnya. 


"Mey, wanita tadi siapa? Apa kekasihnya tuan bos?" 


"Bukan," bantah Mey, entah kenapa hatinya merasa sakit jika ada orang lain yang berkata seperti itu. 


"Lalu siapa? Mungkin mereka sedang berkencan, cantik ya ceweknya ke bule-bulean gitu." 


Vika, terus saja berbicara panjang lebar yang memuji kecantikan Jilya, padahal teman di sampingnya sudah sangat panas mendengar ocehannya. Rasanya Mey, ingin menampar bibirnya saat ini juga. 


"Berhenti," bentak Mey, membuat Vika, terdiam. 


"Biasa saja kali Mey, gak usah bentak gitu ngapain sih! Kamu cemburu ya!" 


"Tidak, aku hanya tidak ingin ada rumor yang tidak benar di perusahaan nanti, karena mulut lemesmu itu," pekik Mey, yang memicing, kan matanya. 


"Lalu siapa? Aku, kan jadi penasaran," 


"Namanya Jilya, dia sepupu tuan bos dari amerika. Dia, baru saja datang tadi pagi." 


"Kok, kamu tahu!" 


"Ya jelas karena aku, kan sekretarisnya." 


"Oh iya ya, hehe." Vika, cengengesan. Mey, akhirnya bisa bernafas lega. Hampir saja dirinya keceplosan.