
Sarapan pagi ini begitu berbeda karena di temani sang kekasih. Elo, mengusap lembut bibir Mey, yang berantakan karena makanannya. Mey, hanya terdiam saat mendapat sentuhan lembut darinya.
Ehem …
Deheman seseorang mengejutkan keduanya. Jilya, yang melihatnya sedari tadi merasa panas di buatnya. Mey, merasa gugup ketika melihat Jilya, orang yang tak dia kenal tetapi Elo, dia terlihat begitu santai.
"Hei, adik kecil, kau mengejutkanku saja." Di panggil seperti itu bibir Jilya, langsung mengerucut.
"Aku bukan adik kecilmu lagi," gerutu Jilya, kesal.
"Ternyata kakakku ini punya simpanan wanita."
"JIL," bentak Elo, karena merasa ucapan Jilya, itu sedikit keterlaluan. Ya, bagaimana tidak dia menyebut Mey, sebagai 'SIMPANAN' mungkin itu akan menyakiti hati Mey.
"Elo, aku pergi ke kamar nenek dulu ya!" Mey, merasa tersinggung dengan ucapan Jil, dari pada hatinya semakin sakit lebih baik Mey, pergi undur diri. Mey, pun pergi membawa sarapan untuk nek Tini.
Elo, menatap Jil, kesal. Sedangkan Jil merasa tidak bersalah dengan ucapannya itu. Jil, berjalan menghampiri Elo, di meja makan dan langsung duduk di dekatnya.
"Apa yang tadi itu kekasihmu? Aku mendengar kau akan segera menikah, tapi kenapa bisa kalian tinggal bersama bahkan kalian belum menikah."
"JILYa" Elo, begitu kesal dengan sikap Jil, tapi Jil, tidak menghiraukannya.
"Ini tidak adil, aku saja tidak pernah tinggal bersamamu apalagi menginap kau selalu saja melarangku. Tapi, kau tiba-tiba mengajak seorang wanita dan langsung tinggal bersama dengannya. Kalian tidak melakukan hal bodoh, kan!"
Tatapan Jil, menelisik. Elo, semakin geram di buatnya. Elo tahu apa maksud dari ucapan sepupunya itu. Jil, menganggap bahwa Mey, dan Elo, sudah melakukan hal yang tidak sewajarnya. Jil, mengangap Elo, dan Mey, tidur bersama padahal kamar mereka pun terpisah.
"Sebaiknya kau pulang, dari pada kau menuduhku yang tidak-tidak." Elo mencoba untuk menahan amarahnya.
"Apa dia hamil? Kau sudah menghamilinya"
"JIL" Sedari tadi dia menahan amarah. Namun, tetap saja amarahnya tidak bisa di kendalikan. Elo, membentak Jil, hingga menggebrak meja di depannya membuat Jil, sedikit terkejut.
"Kau bukan kakakku yang dulu." Jil, langsung bangun dari duduknya lalu pergi dengan amarah. Elo, meraup wajahnya dengan kasar. Ucapannya sedikit kasar dan untuk pertama kalinya Elo, membentak Jil, sepupunya.
Mungkin jika Jil, bisa menjaga sikap dan berbicara baik itu tidak akan terjadi. Bagaimana pun ucapan Jil sangat keterlaluan, dengan tidak sengaja Jil, sudah mengangap Elo, lelaki yang kurang ajar.
Di balik dinding Mey, mendengar semua percakapan mereka. Hatinya mungkin sedikit sakit karena di anggap rendah oleh orang lain. Seburuk itukah seorang wanita tinggal di rumah laki-laki. Jilya, memang tidak salah mungkin orang lain juga akan berpikir seperti itu jika melihat seorang wanita dan lelaki tinggal satu rumah.
Tetapi tidak bisakah untuk berpikir positif? Karena tidak semua wanita yang tinggal bersama dengan laki-laki akan melakukan hal itu. Seorang wanita juga masih bisa menjaga diri, dan seorang lelaki juga masih bisa menjaga kehormatan seorang wanita.
"Nenek," panggil Mey, saat memasuki kamar Tini. Hanya Tini, lah yang selalu membuatnya tersenyum.
"Bagaimana keadaan nenek? Mey, bawakan nenek sarapan," ucap Mey, yang menaruh nampan di atas nakas samping ranjang tidurnya lalu Mey, pun duduk di sampingnya.
"Mey, ada apa? Kamu terlihat sedih apa ada masalah?" Tini, selalu tahu jika Mey, sedang dalam keadaan sedih.
"Tidak ada masalah, Mey, baik-baik saja hanya mencemaskan nenek."
"Jangan cemaskan nenek, nenek sudah sehat." Setelah kebakaran itu membuat Tini, trauma dan kesehatannya semakin menurun.
"Sekarang sarapan dulu ya nek!" Mey, pun menyuapi Tini, sedikit demi sedikit hingga nasi gorengnya habis.
"Nek! Mey, pikir lebih baik kita pergi dari sini, Mey, tidak enak saja jika harus merepotkan tuan bos setiap hari."
"Jadi ini yang membuat kamu sedih?" Mey, hanya menghela nafas, saat Tini, mengatakan itu. Sebenarnya Mey, sangat nyaman tinggal bersama Elo, namun saat setelah mendengar ucapan Jilya, entah kenapa hatinya terasa sakit .
"Mey, tidak nyaman saja Nek, kalau kita terus menumpang disini."
"Mey, kamu lupa! Jika semua orang sudah menganggap dirimu mati begitu juga dengan nenek. Kita akan pergi kemana? Hanya disini tempat persembunyian kita." Tini, menyentuh tangan Mey, lembut. Tangan yang sudah keriput itu terus mengusap tangannya dengan lembut, mencoba memberikan pengertian kepada Mey.
'Benar juga, sekarang aku tidak bisa keluar rumah semauku' batin Mey.
"Mey," panggil Tini, mengejutkan lamunannya. "Kamu baik-baik saja?" lanjut Tini.
"Apa yang nenek katakan itu benar, kita tidak bisa pergi kemana pun."
"Hanya sementara. Setelah kebenaran terungkap kamu bisa terbang bebas kembali. Kemana pun kamu akan pergi tidak ada yang menyakitimu, sabarlah semua ini demi keselamatanmu." Mey, hanya bisa menghela nafas.
"Iya Nek. kalau begitu Mey, keluar dulu ya nek, nenek istirahat." Mey, beranjak dari duduknya, lalu mencium kening Tini, sebelum kakinya melangkah. Mey, begitu menyayangi Tini, karena Tini sudah merawatnya dari kecil.
Mey, berjalan ke arah kamarnya setelah meletakan piring di dapur. Sebelum menuju kamarnya Mey, melihat Elo, yang sibuk berbicara dengan sambungan teleponnya. Benda pipih itu ia apit oleh telinga dan bahunya, sedangkan tangannya sibuk menutup kancing kemejanya.
Bahkan saat akan memakai tuxedonya Elo, terlihat sangat kesulitan. Melihat Elo, kesulitan seperti itu membuat Mey, melangkah masuk untuk membantunya. Elo, sedikit terkejut saat ada seseorang yang memakai, kan tuxedonya dari belakang. Namun, tatapan Elo, beralih ke arah cermin di depannya dirnya terpaku dan terpesona saat melihat Mey, yang membantunya memakai tuxedonya. Hingga Elo, melupakan seseorang di balik teleponnya.
"Kau jawab saja teleponmu, biar aku yang memakaikan dasimu," ucap Mey, datar. Tangannya langsung mengikat, melilit, memasangkan dasinya serapi mungkin. Ini hal yang mudah baginya, karena dulu Mey, pernah belajar dari ayahnya.
Elo, hanya mengulum senyum saat mendapatkan perhatian lembut dari Mey.
"Sudah selesai, kamu bisa pergi sekarang," ucap Mey, yang baru saja selesai memakaikan dasinya.
"Terima kasih," ucap Elo, lembut dengan kedua mata yang terus menatap Mey.
"Sudah tugasku sebagai sekretarismu, jika di kantor aku tidak bisa, kenapa di rumah aku tidak bisa."
"Ada apa? Kau terlihat sedih?"
"Aku hanya ingin terbang bebas. Tapi sayangnya aku harus tetap berada dalam sangkar." Perkataan Mey, seolah mengungkap, kan kesepiannya, bahwa dia ingin pergi bebas di luar sana.
"Pergilah, Arkan, pasti sudah menunggumu," ucap Mey, yang langsung melangkah pergi namun langkahnya tertahan saat Elo, menarik tangannya, membuat tubuhnya terjatuh kedalam pelukan Elo.
Cup,
Satu kecupan mendarat di keningnya, membuat Mey, terpaku dibuatnya. Terkadang sentuhan Elo, menghangatkan tubuh dan hatinya. Akan tetapi, ada yang harus di beri jarak antara keduanya walau pun mereka tidak melampaui batas tetap saja orang lain akan salah paham jika melihatnya.
"Elo, jangan seperti ini. Sepertinya kita harus menjaga jarak, jangan terlalu dekat. Aku takut, ada orang lain yang melihat ini." Mey, langsung menjauh dari Elo. Ucapan Jil, masih terngiang di telinganya.
"Kenapa? Kita tidak melakukan apa pun,"
"Tetap saja orang akan salah paham. Apalagi kita tinggal serumah, atau sebaiknya aku pergi saja, aku tidak ingin orang lain salah paham."
"Apa kamu mendengar ucapan Jil?" Elo, sepertinya sudah mengerti apa maksud ucapan Mey, sepertinya Mey, tersinggung dengan yang Jilya, katakan.
"Jangan dengarkan dia. Aku pernah bilang padamu tidak pernah peduli apa kata orang."
"Aku, pergi dulu. Jangan pernah pergi tanpa izin dariku, baik-baiklah disini, aku akan segera kembali."
Cup, Elo, mengecup kening Mey, kembali
"I love you," Elo, kembali mengatakan cintanya, membuat hati Mey, kembali luluh tersentuh akan kata-kata indah itu.
"I love you to," ucap Mey. Namun sayangnya Elo, tidak mendengarnya karena dia sudah pergi.
...----------------...
I love you to 😘😘
Kata cinta ini othor berikan untuk kalian semua para readerku. Makasih banget untuk like, vote, favorit dan komentarnya yang belum jangan lupa ya klik like, vote, dan favorit ya! 👌☺
See u
Dini_Ra