
"Mey," Elo, terkejut saat melihat tubuh Mey, yang tergeletak di bawah lantai. Wajahnya terlihat begitu khawatir dan cemas.
"Mey," Elo, langsung berlari menghampiri Mey, yang tergeletak di bawah lantai. Ekspresi wajahnya terlihat begitu khawatir. Arkan, yang baru sampai pun ikut terkejut melihat keadaan di dalam. Perlahan Arkan, pun menghampiri mereka.
"Untuglah kalian selamat." Arkan, bernafas lega
"Nenek tidak apa-apa? Apa ada yang luka?" tanya Arkan, pada Nek Tini. Nek, Tini hanya menggeleng, tangannya masih bergetar merasakan ketakutan.
"Mey, Mey." Elo, terus mencoba membangunkan Mey, rasa paniknya membuat akal sehatnya hilang.
"Tuan, Tuan bos. Gak perlu berteriak begitu Mey, hanya pingsan Nek, Tini juga tidak apa-apa." Arkan, geleng-geleng melihat tingkah bosnya.
"Diam kau Arkan, memangnya kau bisa memastikan Mey, ku masih hidup," bentak Elo. Arkan, tidak menjawab dia langsung berjongkok, meraih tangan Mey, untuk memeriksa nadinya yang ternyata masih berdenyut.
"Rasakan ini, masih berdenyut, kan itu tandanya masih hidup." Arkan, menarik tangan Elo, untuk menyentuh urat nadi Mey, yang masih berdenyut.
"Tuan-tuan, sebegitu panik,kah dirimu sehingga akal sehatmu hilang. Apa anda begitu ketakutan akan kehilangan Mey," cibir Arkan, yang tersenyum ringan.
"Diam kau Arkan." Elo, membentak. Rasanya sangat malu saat di rendahkan asistennya. Arkan, hanya tertawa renyah.
Meong, meong,
Tiba-tiba Miekey, muncul. Dia meraung-raung seraya menggerakan satu tangannya seperti melambai, seolah mengajak Elo, dan Arkan, untuk ikut dengannya.
"Aduh, Miekey, ada apa? Jangan-jangan api muncul lagi Tuan, ayo kita segera keluar."
Pletak
Aww, Arkan, mengusap-ngusap keningnya yang baru saja di jitak Elo. "Tuan, kenapa menjitak keningku," elak Arkan.
"Sekarang giliranmu yang kehilangan akal," cibir Elo.
"Apa!"
"Sudah sana ikuti Miekey, pergi. Tidak ada yang bahaya dia ingin menunjukan sesuatu."
"Benarkah!" Arkan, pikir ada bahaya lagi karena melihat Miekey, meraung seperti tadi.
"Miekey, kau ingin menunjukan sesuatu padaku? Apa itu penting?" tanya Elo, pada kucingnya. Miekey, hanya menjawab dengan anggukan di barengi dengan ekornya yang bergerak. Lalu melangkah pergi, Arkan pun mengikutinya.
"Hei, kucing awas kau ya kalau membohongiku," ucap Arkan, mengancam namun di balas dengan raungan oleh Miekey.
"Apa dia ngerti yang ku ucapkan ya!" gumam Arkan, lirih.
Akhirnya, langkah Miekey, pun terhenti di antara puing-puing bangunan dari sisa kebakaran. Arkan, merasa heran untuk apa Miekey, membawanya kemari.
"Miekey, apa yang ingin kau tunjuk, kan tidak ada apa pun." Di saat Elo, menanyakan hal itu, Miekey, langsung melompat kesebuah gundukan bangunan yang rapuh, lalu berdiri di atas sebuah benda yang terbuat dari plastik, menyerupai sebuah kompan yang berukuran cukup besar.
Karena penerangan yang cukup gelap, dan keadaan yang sudah malam membuat suasana menjadi gelap. Arkan, pun mengambil ponselnya di dalam saku celananya, lalu menghidupkan lampu senter, hingga terpancarlah cahaya yang menyilaukan, yang menerangi sekitarnya.
Tanpa menunggu lama, senter itu Arkan, arah, kan ke arah Miekey, berada. Saat senter itu tersorot terlihat lah Miekey, yang berdiri di atas sebuah kompan yang sudah sedikit gosong karena percikan api. Arkan, pun langsung melihat kompan itu lebih dekat, dengan berjongkok, Arkan, mencoba menghirup bau dari kompan tersebut, yang menimbulkan bau tak sedap.
"Bensin," ucap Arkan, seraya menutup hidungnya.
Meong, Miekey, kembali meraung seolah mengingatkan bahwa kebakaran ini terjadi karena kesengajaan.
"Benar, Miekey ini kompan berisi bensin, itu berarti ada seseorang yang sengaja membakar rumah ini."
Meong, hanya itu yang bisa Miekey, ucapkan.
"Kau sangat pintar Miekey," ucap Arkan, yang mengelus lembut kepala Miekey.
Arkan, dan Miekey, pun kembali ke dalam rumah. Beruntung saat itu keadaan sudah sepi tidak ada yang melihat. Arkan, pun mengamankan kompan itu tanpa di sentuh sedikit pun. Arkan, tahu jika pada kompan itu terdapat sidik jari seseorang dan itu bisa di jadikan bukti kepolisian dan memudahkan pihak polisi untuk menemukan tersangkanya.
"Apa ada seseuatu?" tanya Elo, saat Arkan, dan Miekey, kembali.
"Lebih baik kita pergi dari tempat ini segera. Untuk masalah Miekey, akan saya jelaskan nanti," jawab Arkan.
'Sedih benar nasibku. Beginilah nasib jomblo tak ada gadis malah di suruh gendong nenek-nenek' batin Arkan. Yang langsung membawa Nek Tini, keluar dari rumah itu.
****
Sesampainya di rumah, Elo, langsung menidurkan Mey, di atas ranjang miliknya. Wajah Mey, terlihat kusam karena debu api, begitu pun dengan luka di wajahnya yang kembali terlihat.Namun, bagi Elo, itu sudah hal biasa. Elo, terus menata wajah Mey, seraya mengelusnya dengan lembut.
'Aku tidak mengerti kenapa banyak sekali orang yang ingin mencelakaimu' batin Elo.
'Kamu tenang saja Mey, ada aku disini, aku yang akan melindungimu' sambung Elo, pada batinnya.
"Jangan di pandang terus Tuan!" Sontak Elo, terkejut saat Arkan, tiba-tiba masuk kedalam kamarnya.
"Apa kau tidak mengetuk pintu dulu, beraninya masuk ke kamarku," pekik Elo.
"Sudah tiga kali aku mengetuk, tapi tidak ada jawaban. Memangnya kenapa jika aku masuk? Apa Tuan akan melakukan sesuatu pada sekretarismu? Jangan Tuan, walaupun kau cinta jangan melakukannya kalian belum halal jangan menodai wanita seperti itu."
Bugh,
Karena, emosi Elo, langsung melempar sebuah bantal ke arah Arkan. Yang langsung mengenai wajahnya. Arkan, begitu terkejut dengan perlakuan bosnya itu. Bagaimana Elo, tidak akan marah ucapan Arkan, benar-benar keterlaluan.
"Kamu pikir aku akan melakukan apa! Dasar, sana pergi kau membuatku marah saja," hardik Elo.
"Ya maaf Tuan. Tapi, ucapanku benar, kan Tuan, kenapa anda tidak menikahinya saja biar bebas untuk menyentuhnya."
"Arkan!" Sepertinya amarah Elo, semakin memuncak. Ucapan Arkan, benar-benar membuatnya kesal. Arkan, yang mendapat serangan itu langsung berlari keluar.
"Tuan, bos aku tunggu di luar ya!" teriak Arkan, yang sudah melenggang pergi. Setelah Arkan, pergi Elo, menutupi tubuh Mey, dengan selimut lalu menyuruh seorang pelayan untuk membersihkan Mey, dan menggantikannya pakaian.
Beruntung saat itu Elo, membeli pakaian untuk Mey, begitu banyak jadi saat Mey, di bawa ke rumahnya lagi Elo, tidak lagi kebingungan mencari pakaian wanita seperti hari itu.
****
Saat ini Elo, dan Arkan, berada di ruang kerjanya untuk membahas tentang sesuatu yang Miekey, tunjukan. Arkan, menceritakan tentang penemuan kompan itu. Bahkan, kompannya sudah ada di hadapan Elo, saat ini.
Awalnya Elo, merasa heran untuk apa Arkan, menunjukan kompan itu. Namun, saat Arkan, menjelaskan semuanya Elo, pun mengerti.
"Jadi … ada yang membakar rumah itu!"
"Iya Tuan. Seperti dugaan kita saat ini nyawa Mey, terancam mereka pasti melakukan berbagai cara untuk membuat Mey, meninggal. Karena itulah satu-satunya cara agar mereka memiliki Antares grup seutuhnya," jelas Arkan.
"Apa ini perbuatan Farhan!" tanya Elo.
"Kemungkinan besar iya," jawab Arkan.
"Semua orang menganggap penghuni rumah meninggal karena kebakaran itu. Ini kesempatan kita Arkan,"
"Kesempatan apa?" Arkan, tidak mengerti apa yang di maksud dengan ucapan Elo.
"Kita ikuti permainan ini,"
"Maksudnya!"
"Semua orang menganggap Mey, meninggal begitu pun yang di harapkan Farhan. Mulai besok kau umumkan di berbagai media tentang kebakaran itu juga tentang dua orang yang tewas."
"Jadi, Tuan ingin memberikan kabar bohong!"
"Lebih tepatnya memanipulasi"
...****...
Wow, Elo, rencanamu bagus sekali.
Halo, readers jangan lupa untuk like, vote, favorit dan komentar nya ya sayang 😘