
Saat tertidur Siska, merasakan ada sesrorang yang menindih tubuhnya. Kulitnya mulai meremang, bibirnya mulai terasa basah. Dan di bawah sana terasa sebuah benda yang mengganjal membuat kepemilikannya berdenyut.
Ini seperti mimpi namun bukan mimpi.
Siska pun membuka matanya perlahan, dia terkejut saat melihat seorang pria di atas tubuhnya.
"Bara"
Pria itu adalah Bara suaminya. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Bara ada disana di dalam kamarnya. Bukankah Bara pergi ke rumahnya.
"Mas Bara, kenapa ada disini?"
Bukannya menjawab Bara, langsung mendaratkan bibirnya, mencium bibir ranum itu dengan rakus. Tanpa memberikan Siska ruang untuk bernafas. Siska mendorong jauh tubuh Bara, aroma alkoholnya yang menyengat membuatnya mual.
"Kamu mabuk?"
Beberapa jam sebelumnya
Sepulang dari apartemen Bara, langsung pulang ke rumahnya dengan harap akan bertemu istri tercintanya. Rasa gairahnya sudah tidak bisa di tahan lagi ingin segera menyalurkan hasratnya.
Namun saat sampai di rumah Bara tidak melihat sang istri begitupun di dalam kamarnya. Bara pun membuang nafasnya kasar menahan rasa kesal pada dirinya.
Bukan untuk pertama kalinya istrinya pulang malam dia benar-benar tidak tahu batasan kesukaannya yang selalu keluyuran. Bara merogoh ponselnya mencoba menghubungi istrinya namun tidak ada jawaban.
Bara pun mengirimkan pesan.
Dimana kamu?
Angkat teleponku
Dua pesan whatsapp Bara, kirimkan namun tidak ada balasan dari istrinya. Saat Bara melihat akun medsosnya dia melihat di storie instagram milik istrinya yang sedang asik berpesta dengan teman-temannya. Itulah sebabnya kenapa istrinya tidak ingin memiliki anak karena dirinya masih ingin bebas seperti wanita lajang pada umumnya.
Maaf sayang aku sedang menghadiri pesta temanku yang berulang tahun bukankah aku sudah bilang padamu kemarin.
Satu balasan dari istrinya.
Pulang sekarang!
Ketik Bara pada sebuah pesan yang di kirimkannya.
Sebentar lagi.
Bara membanting ponselnya dengan keras tidak peduli hancur atau tidak. Dengan rasa kesal dan amarah Bara, melangkah pergi melajukan mobilnya meninggalkan rumahnya.
Bara melajukan mobilnya dengan cepat. tujuannya saat ini adalah sebuah bar discotik. Bara menghabiskan beberapa botol minuman hingga membuatnya mabuk.
Beberapa wanita disana menggodanya, namun Bara, abaikan. Wanita itu terus menggoda bergelayut manja membuat kepalanya berdenyut apalagi pedang pusakanya yang sudah tak tahan ingin di asah.
Bara pun kesal karena tidak bisa menyalurkan hasratnya ia pun pergi meninggalkan bar itu menuju apartemennya.
Siska, yang baru selesai membersihkan diri tak lupa memakai brush ajaibnya. Untuk berjaga takut ada orang yang melihat wajahnya.
Siska, pun merebahkan tubuhnya rasa lelahnya membuat dia mengantuk yang langsung terlelap tidur saat sudah mendaratkan tubuhnya di kasur yang empuk.
Tak berselang lama Bara, pun datang. Rasa denyut di kepalanya semakin terasa. Begitu pun dengan pedang pusakanya yang ingin segera di asah. Tanpa menunggu lama Bara langsung menindih tubuh Siska, yang sudag menggodanya.
"Mas Bara, hentikan!"
Siska, terus berontak karena saat ini Bara, sedang berada dalam pengaruh alkohol. Bara, yang sudah kesal dan marah pada istrinya melampiaskan amarah itu pada Siska.
Siska, mulai terisak saat Bara, menggaulinya. Bukan dia tidak ingin melayani suami sirinya itu tetapi keadaan Bara, yang di bawah pengaruh alkohol membuat Siska, sedih karena Bara, menggaulinya bukan karena cinta melainkan karena nafsu.
Bara, membuka seluruh pakaiannya begitu pun dengan pakaian Siska, kini keduanya bagaikan seorang bayi baru lahir tanpa sehelai benang pun.
Siska, semakin menjerit saat Bara, mulai memasukan pedang pusakanya yang membuat dinding kehormatannya tergores hingga robek, menyisakan rasa sakit yang amat dalam. Namun, hatinya lebih sakit dan tersiksa saat ini.
Dengan penuh gairah dan nafsu, Bara terus menghentakan tubuhnya, memaksa, kan pedangnya menerobos masuk walau pun terasa sempit dan sulit.
Bara, tidak memikirkan Siska, yang berada di bawahnya yang sudah lelah menangis dan menahan rasa sakit. Hingga saat Siska, pingsan pun Bara, tak menyadarinya.
Di titik terakhir, dirinya sudah merasa puas dan lelah, sampailah di saat terakhir pelepasan, cairan vanila pun ia semburkan dan siramkam ke dalam rahim Siska, di akhiri dengan jeritan kepuasan yang ia keluarkan.
Bara, pun merebahkan tubuhnya di samping Siska. Bara, menatap wajah Siska, yang sudah terpejam. Dirinya merasa aneh saat melihat bulir air mata yang membekas di wajah istri sirinya itu.
"Apa dia menangis?" tanya Bara, pada hatinya.
Bara, mengusap pedangnya membersihkan sisa cairan yang keluar dari pedangnya. Namun, Bara, terkejut saat melihat cairan merah di telapak tangannya.
"Darah!"
Bara, teringat saat pertama memasukan pedangnya. Yang sangat sulit dan terasa sempit, Hingga saat menerobos masuk suara Siska, terdengar sangat keras yang menjerit juga menangis, seperti menahan rasa sakit.
"Apa dia masih perawan!"
Rasa penasarannya terus menghantui. Bara, menyikap sedikit selimut yang menutupi tubuh Siska, di lihatnya noda merah di atas serpei putih itu. Karena, masih penasaran lagi Bara, mencoba menyentuh sedikit mahkota milik Siska. yang saat di lihat telapak tangannya penuh dengan darah.
Tubuh Bara, mendadak lemas dia terus menatap Siska, di sampingnya. Tidak mungkin seorang wanita malam masih menjaga kesuciaannya. Dan jika itu benar, Bara, akan sangat menyesal karena telah merusak masa depannya, kebahagiaannya karena menjadikannya istri siri untuk melahirkan anaknya.
"Tidak mungkin," ucapnya demikian.
****
Keesokan paginya Siska, terbangun merasakan sakit dan perih di bawah kepemilikannya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana dengan teman-temannya yang selalu melakukannya setiap malam bahkan dengan lelaki yang berbeda.
Siska, bangun perlahan lalu mengubah posisinya dengan duduk. Namun, Siska terkejut saat melihat tangan dan kakinya yang berubah menjadi bintik-bintik merah.
Dirinya langsung terperanjat, takut jika Bara, melihat wajah aslinya.
Tapi beruntung saat itu Bara, sudah pergi. Entah pergi kemana Siska, pun tidak tahu. Setidaknya Bara, tidak melihat wajahnya yang asli. Siska, turun dari ranjangnya dirinya kembali di kejutkan dengan melihat noda merah di atas sepreinya. Siska, pun langsung memungut seprei itu untuk di cucinya.
Siska, pun pergi menuju toilet.
****
Pagi ini Bara, kembali mendatangi madam J, membuat penasaran para wanita disana terutama Vera. Bara, pun di bawa masuk oleh Janet, ke dalam rumahnya.
"Ada apa? Apa maksud kedatanganmu?"
"Aku ingin menanyakan sesuatu hal yang penting ini berkaitan dengan Siska."
"Ada hal apa? Apa Siska, melakukan kesalahan?" Pertanyaan Janet, membuat Vera, tersenyum saat mengintip dan mendengar pembicaraan itu.
Vera, berpikir jika Bara, mengetahui wajah buruk Siska, dan akan menceraikannya. Tetapi, dugaan Vera, salah. Ternyata kedatangan Bara, ingin menanyakan perihal Siska, yang masih perawan. Vera, yang mendengar itu pun sangat terkejut.
"Tidak mungkin, Siska, masih perawan!" Vera bermonolog.
Pertanyaan itu pun Janet, jelaskan. Dan benar jika Siska, masih perawan. Janet memberitahukan jika Siska, lah satu-satunya wanita di club itu yang masih menjaga kesuciaannya.
Bukan tanpa alasan, Siska, melakukan itu. Janet, pun memberikan alasannya bahwa Siska, selalu menolak jika di ajak berhubungan intim dengan seorang pria karena Siska, mempunyai prinsip bahwa dirinya hanya akan menyerahkan semua miliknya pada orang yang akan menikahinya nanti. Dan tidak akan melakukan itu tanpa adanya ikatan suci yang sakral dan sah.
'Aku tidak ingin menjadi wanita pendosa'
Selalu itu yang Siska, ucapkan.