The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Mulai mengaguminya



Di ruangannya Farhan, sedang asyik mendengar, kan musik opera kesukaannya, yang di temani dengan sebotol wine di depannya.


Wajahnya begitu berseri, menikmati alunan musik yang ia dengar, kan. Kedua tangannya ia jungjung, kan ke atas di gerak, kannya tangan itu yang ia putarkan, dan goyang, kan mengikuti alunan musiknya.


Di saat semua orang sedang berduka, mengantarkan Jimmy, ke tempat peristirahatannya terakhir, Farhan, sendiri begitu enjoy menikmati musik kesukaannya.


"Papa," teriak Sharon, yang memanggilnya.


"Apa papa sudah tahu, pengacara itu sudah mati?" tanya Sharon, yang begitu terkejut karena baru mengetahui kematian Jimmy.


"Papa!" Sharon, kembali berteriak karena kesal, Farhan, tidak menyahut seruaanya.


"Duduklah, sayang duduk!" titah Farhan, yang masih menikmati musik operanya.


Sharon, menatap Farhan, penuh curiga karena Farhan, sama sekali tidak merasa terkejut sama sekali saat Sharon, mengatakan kematian Jimmy. Farhan, terlihat santai saja sambil meneguk segelas wine di tangannya.


"Papa tidak melayad? Kenapa papa tidak terkejut sama sekali?"


"Untuk apa Papa terkejut! Sharon, untuk mengucap, kan bela sungkawa tidak perlu jauh-jauh cukup disini saja yang sedang papa lakukan ini adalah sebagai ucapan bela sungkawa kita."


"Apa Papa di balik semua ini?"


Bukannya menjawab Farhan, kembali memejamkan matanya seraya menikmati musiknya.


"Jika kau ingin selamat maka musnah, kanlah musuh-musuhmu. Papa, hanya melakukan apa yang seharusnya Papa, lakukan," ucap Farhan, demikian. Lalu kembali bersenandung ria.


****


Pemakaman


Elo, beserta keluarganya turut hadir di pemakaman Jimmy. Begitu pun dengan Meisie, dan Nek, Tini. Kematian Jimmy, membuat Meisie, kehilangan seorang paman, juga membuatnya menyesal.


Di hari pertama pertemuannya, Jimmy, mengungkap, kan semuanya dia begitu mencemas, kan hidupnya. Jimmy, mengatakan semua masa lalu kedua orangtuanya bahkan, memberitahu, kan tentang kesengajaan yang menimpa kebakaran di masa lalunya.


"Maaf, kan aku paman. Yang belum sempat berterima kasih pada paman," ucapnya seraya mengusap bulir-bulir air matanya. Tini, yang berada di sampingnya hanya mengelus pundaknya dengan lembut.


"Ayo, Mey, kita pulang!" ajak Tini, yang merangkul Mey, dengan lembut karena luka tembak di lengannya belum sembuh total.


Elo, dan keluarganya pun pergi meninggalkan pemakaman. Namun, Elo, pergi mengajak Mey, untuk ke perusahaannya. Mey, pun pamit pada neneknya.


"Nek, Mey, pergi bekerja dulu nenek tidak apa-apa, kan pulang sendiri?"


"Jangan cemas, kan nenek. Pergilah, bosmu sudah menunggu. Tapi, nenek pesan untuk berhati-hati ya Nak!"


"Iya Nek, nenek juga hati-hati. Jaga diri nenek, jika ada apa-apa hubungi Mey,"


"Iya Nak!" Mey, pun berpisah di pemakaman bersama neneknya. Namun, Elo, tidak membiar, kan nek Tini, pulang sendirian Arkan, siap mengantar, kannya pulang sesuai perintah dari Elo, bosnya.


Sedang, kan Elo, bersama Meisie, menuju perusahaannya.


"Bagaimana, lukamu? Apa masih sakit?" tanya Elo, yang tetap fokus mengemudi.


"Sudah, mendingan. Tapi, aku masih merasa kaget karena inilah pertama kalinya aku mendapat tembakan. Aku pikir tanganku akan putus ternyata tidak, begitukah para pejuang militer yang kena tembak setiap hari, tapi mereka begitu kuat."


"Jangan sama, kan dengan para militer. Kamu hanya terkena tembakan yang meleset, bukan sedang berperang."


"Tapi, tetap saja sakit," ucap Meisie, seraya mendelik ke arah Elo. Lalu, menatapnya dalam diam.


"Ternyata Tuan bos, tampan juga ya!" batin Meisie, yang terus menatap Elo, di sampingnya.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Elo, seakan tahu apa yang Meisie, lakukan. Mendapat pertanyaan seperti itu Meisie, langsung memaling, kan wajahnya seraya menetralkan detak jantungnya.


"Aku tanya apa yang kamu lihat!" Elo, kembali mengulang ucapannya. Namun Meisie, hanya menggeleng sebagai jawabannya.


"Tidak ada Tuan, aku hanya melihat pemandangan di sepanjang jalan saja," elak Meisie. Elo, hanya menarik ujung bibirnya lalu menghentikan mobilnya tiba-tiba membuat Meisie, terkejut.


Jantung Meisie, semakin berdetak lebih cepat, hatinya berdebar tak menentu ketika Elo, perlahan memajukan tubuhnya mendekatinya hingga mengukung tubuhnya. Tatapannya membuat Meisie, semakin dag dig dug takaruan.


"Tuan, apa yang tuan lakukan?"


"Menurutmu!" Jantungnya semakin dag dig dug, bahkan matanya sudah terpejam, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, ternyata Elo, hanya membuka, kan pintu untuknya.


"Kenapa aku tidak menyadari bahwa sudah sampai di perusahaan! Aduh Mey, kamu bikin malu saja," umpatnya lirih. Setelahnya Meisie, pun turun dari mobil berjalan mengikuti bosnya yang sudah lebih dulu memasuki perusahaannya.


Elo, hanya tersenyum seraya melangkah menuju ruangannya. Tingkah laku Meisie, pagi ini membuatnya tertawa renyah, apalagi saat melihat tingkahnya yang gugup juga pipinya yang merah merona karena menahan malu.


Arkan, yang melihat tingkah bosnya pun merasa heran, Arkan, mengerutkan keningnya seraya menata langkah bosnya yang berjalan memasuki ruangannya seraya tersenyum.


"Apa yang terjadi!" gumamnya lirih. Tak, lama kemudian Meisie, pun datang dengan salah tingkah membuat Arkan, semakin curiga dan bertanya-tanya. Namun, Arkan, hanya tersenyum seolah tahu apa yang sudah terjadi.


"Apa perjalanannya begitu menyenang, kan?"


"Ya! Em … iya menyenang, kan," jawab Meisie, gugup membuat Arkan, semakin ingin tertawa namun ia tahan.


"Pak, Arkan, apa tadi nenek di antar sampai rumah?"


"Iya, saya antar sampai depan rumah."


"Terima kasih,"


"Sama-sama," ucap Arkan, seraya tersenyum.


****


Di tempat lain Farhan, sedang berbicara pada sambungan telepon, entah apa yang sedang di bicarakannya sepertinya dia sedang merencana, kan sesuatu.


"Jalan, kan rencananya malam ini juga," ucap Farhan, pada sambungan telepon.


"Siap Bos," ucap seseorang di ujung sana.


Sambungan telepon pun di tutup, Farhan, tersenyum menyeringai.


Perusahaan El-Gideon, saat ini sedang menerima banyak orderan. Semuanya di sibukan dengan kerjaannya masing-masing. Hari ini semua karyawan sedang mengejar target, untuk pengiriman ekspor nanti malam.


Meisie, yang bertugas sebagai sekretaris CEO, tidak pernah malu untuk terjun langsung kelapangan, membantu para karyawan dan staff lainnya demi kelancaran ekspor.


Begitu pun dengan Elo, yang terus memantau para pekerjanya agar produknya tetap berkualitas dan di terima buyer dengan puas. Diam-diam Elo, memperhatikan Meisie, dari jauh.


Dirinya terus tersenyum, melihat kegigihan Meisie, dalam bekerja rasa kagum pun mulai tumbuh namun enggan memujinya.


"Tuan," seru Arkan, yang sedari tadi melihat tingkah bosnya, yang senyum-senyum.


"Tuan,"


Hm, hanya itu yang Elo, ucap, kan. Tatapan matanya yang masih fokus menatap Meisie, dari ujung sana.


"Pandang terus …," cibir Arkan, namun menyinggung dirinya.


"Apa maksudmu? Salah! Jika aku memandang semua karyawanku?"


"Tidak Tuan, tapi … aku harus Tuan, hanya memandang satu orang," ucap Arkan, membuat sorot mata tajamnya keluar.


"Mana laporan hari ini," ucap Elo, seolah mengalih, kan pembicaraannya.


"Ini Tuan," ucap Arkan, yang memberikan berkas-berkas laporan hari ini.


"Tuan, aku hanya ingin memberikan saran. Jika Tuan, jatuh cinta jangan lama di pendam lebih baik katakan,"


"Siapa yang jatuh cinta?"


"Ya … mungkin saja Tuan,"


"Kamu memberiku saran, apa kamu pernah jatuh cinta?" Arkan, hanya diam memang kenyataannya dia belum pernah mengatakan cinta.


"Sebelum kamu melakukannya jangan pernah memberikan ku saran. Kamu saja belum pernah merasakan jatuh cinta, so-so, an memberikan ku saran." Elo, pun berlalu pergi meninggalkan Arkan, yang hanya diam merenung.


"Saya memang belum pernah jatuh cinta tapi saya tahu bagaimana orang sedang jatuh cinta," gumamnya lirih.


...----------------...


Elo, sudah mulai jatuh cinta kaya ya! ☺ ikuti terus kisah Melon-Nya. Jangan lupa untuk like, vote, favorit ya 🤗 komentarnya juga jangan lupa