The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Jadi hantu



Penyelidikan pun mulai terungkap. Kini Arkan, dan Elo, sedang memperhatikan sebuah rekaman cctv pada laptopnya. Pada rekaman itu memperlihatkan sebuah mobil sedan berhenti tepat di depan sebuah gang yang menuju ke rumah Mey, saat itu. 


Tak lama kemudian turunlah dua pemuda dari dalam mobil itu berjalan menuju bagasi mobil dan terlihat mengambil masing-masing dua buah kompan berisi cairan bening. Setelahnya dua pemuda itu pergi memasuki gang sempit itu. Setelahnya mobil sedan itu pun kembali melaju. 


"Stop!" ucap Elo, saat melihat mobil itu akan pergi. Arkan, yang mendapat perintah pun langsung menjeda rekaman cctv itu. Dan sangat terlihat jelas warna mobil dan juga plat nomber. 


"Cari tahu pemilik mobil itu." perintah Elo. 


Walau sebenarnya Elo, merasa tidak asing dengan mobil sedan itu. Namun, Elo, tidak ingin berburuk sangka sehingga Elo, meminta Arkan, untuk mencari tahu siapa pemilik mobil itu. 


"Saya sudah menyuruh seseorang untuk melacaknya. Dia akan memberikan kabar secepat mungkin," ucap Arkan tegas.


"Putar rekaman selanjutnya," perintah Elo. Arkan, pun memutar rekaman cctv yang lain. Kali ini rekaman itu menunjukan sebuah rekaman yang mengarah ke rumah Mey. Di lihatnya dua pemuda itu menyiram semua cairan yang ada di dalam kompan-kompannya ke setiap sudut rumah. Setelah nya api pun menjalar, berkobar dan semakin besar namun pemuda itu sudah pergi. 


Rekaman itu mereka dapatkan di cctv sebuah gedung yang mengarah ke rumah tersebut. Semua rekaman itu sangat terlihat jelas bisa di jadikan untuk bukti. 


"Tuan, pemilik mobil itu sudah di temukan," ucap Arkan, setelah berbicara pada sambungan telepon. 


"Lalu siapa pemiliknya?" tanya Elo, dengan tatapan tajamnya. Arkan, yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung memberikan ponselnya, untuk memperlihatkan sebuah file yang di kirim seseorang tentang penyelidikan plat nomber itu. 


Elo, langsung meremas ponsel Arkan, yang langsung di ambil kembali oleh Arkan, karena takut ponselnya rusak. Kedua tangannya mengepal setelah mengetahui siapa pemilik mobil itu. 


"Apa kita hubungi polisi sekarang juga? Untuk menangkapnya karena bukti-bukti sudah jelas Tuan." Arkan, menyarankan namun Elo, menahannya agar tidak menghubungi polisi. 


"Ada apa Tuan!" 


"Jangan sekarang," 


"Lalu kapan? Mereka tidak bisa di biarkan Tuan." 


"Sudahku bilang ikuti permainan ini. Aku ingin membalas mereka sebelum berakhir di penjara." 


Entah apa yang Elo, rencanakan. Arkan, pun tidak tahu, yang pasti Elo, tidak akan memaafkan orang yang sudah berani mengganggu keluarga yang ia cintai. 


****


Mey, menatap rumah yang selama ini ia tinggali. Namun, rumah itu sudah hangus terbakar dan hanya menyisakan puing-puing bangunan yang hitam dan mulai menjadi abu. 


Mey, merasa bersalah, jika bukan karenanya tidak mungkin rumah Nek, Tini akan terbakar seperti ini. Nek, Tini yang selama ini sudah menolongnya namun kini dirinya menjadi korban karenanya. 


'Maafkan aku nek, Mey, janji akan balas orang yang sudah menghancurkan rumah ini." batinnya. Mey, tahu betul perjuangan Tini, yang selalu melindunginya hingga harus berpindah tempat. Bahkan Tini, membeli rumah ini dari hasil tabungannya.


Setelah lama menatap rumah itu Mey, memasuki rumah itu, tapi dimana Vika? Jangan di tanya Vika, sudah berada dalam rumah itu. Vika, salah satu orang yang antusias ingin mencari bukti-bukti, dengan berharap bisa menangkap pelakunya. Namun sayangnya tidak ada barang bukti yang di temukan. 


Mey, berjalan ke arah kamarnya mencari sesuatu yang mungkin masih bisa di gunakan. Namun, tanpa di duga Mey, menemukan sebuah kotak kecil di bawah reruntuhan bangunan. Kotak itu masih utuh hanya saja terlihat gosong. 


Dengan perlahan Mey, pun membuka kotak itu, yang memperlihatkan sebuah topeng, dan beberapa kertas dan sebuah foto. Ternyata, itu adalah kenangan masa kecilnya bersama Elo, yang masih di simpannya. 


Mey, mengambil sebuah topeng yang sama percis dengan yang dia temukan di laci kamar Elo. Mey, hanya tersenyum seraya menyandingkan kedua topeng itu. Ternyata, Elo, tidak pernah melupakannya. 


Lalu Mey, mengambil sebuah kertas putih yang terdapat sebuah lukisan. Mey, masih ingat saat itu dirinya tengah menggambar seorang tokoh dalam dongeng yaitu princes cinderela, yang saat itu dirinya sedang menggambar di tengah taman yang tak berselang lama Elo, pun datang memuji lukisannya. 


Mey, begitu senang saat lukisannya di puji, namun di balik lukisan itu ada sebuah harapan. Mey, berharap dirinya memiliki wajah cantik seperti cinderella setelah dewasa nanti. Dan yang ketiga Mey, mengambil sebuah foto masa kecilnya. Dalam foto itu terlihat seorang gadis kecil dengan anak lelaki yang tertutup topeng biru tersenyum bahagia dengan menunjukan barisan gigi putihnya. 


Saat di balik terdapat sebuah tulisan di balik foto itu. 'Aku dan pangeranku' ucap Mey, tertawa renyah saat membaca tulisan itu, yang dimana saat itu Mey, kecil menganggap Elo, sebagai pangerannya. 


"Mey," teriak Vika, suaranya begitu menggema. 


Orang itu melihat wajah Mey, di balik jendela yang sudah bolong. Entah, kenapa orang itu begitu ketakutan dan menganggapnya hantu, mungkin karena Mey, dianggap sudah meninggal. 


"Hantu! Mana mungkin siang-siang begini ada hantu," batin Mey, seraya memegang tengkuk lehernya. 


"Kok, aku jadi merinding ya! Takut ah, mending aku temui Vika, saja." Mey, jadi takut sendiri apalagi saa melihat bekas rumahnya yang terbakar, terlihat begitu angker. 


"Vika," teriak Mey, saat berhadapan dengan Vika. 


"Mey, kau dari mana saja aku cari-cari." 


"Aku dari kamarku," 


"Bawa apa itu aku ingin lihat." Vika, begitu antusias ingin melihat barang yang Mey, ambil. Namun, saat Vika, ingin mengambilnya Vika, menepis tangannya. 


"Tidak boleh, ini barangku." 


"Ih … pelit," Racau Vika.


"Vika, apa kau melihat hantu?" tanya Mey.


"Hantu!" Vika, mengerutkan keningnya. "Hantu apaan siang-siang gini ada hantu," timpal Vika. 


"Tadi ada orang yang melihatku dia berteriak hantu. Apa mungkin rumah ini ada hantunya, ih … serem kita pulang yuk!" ajak Mey, yang menarik tangan Vika. 


"Mey, apaan sih mana ada hantu di siang gini." Mey, memang penakut. 


"Tunggu dulu. Mungkin hantunya itu kamu?" ucap Vika, yang menelisik tubuh Mey, dari atas sampai bawah. 


"Apa! Kamu gila ya," 


"Mey, kau lupa ya! Bahwa semua orang sudah menganggapmu meninggal. Dan lihat sekarang kamu memakai pakaian putih, dan rambutmu lurus wajahmu juga sedikit terlihat pucat. Pasti orang itu menganggap mu hantu." 


"Itu sebabnya orang itu berteriak dan lari. Pasti dia ketakutan melihatmu." ledek Via.


"Ih … Vika," rengek Mey, yang tak terima di anggap hantu. Sedanhkan Vika hanya tertawa renyah.


Mey, menekuk wajahnya karena kesal pada Vika. Saat tiba di luar, Mey, melihat orang yang dia kenali. Mey, lupa dengan posisinya saat ini, hingga saat Mey, memanggil orang itu orang itu pun ketakutan dan berteriak hantu. 


"Ha-ha-hantu," Mey, hanya diam mematung menatap kepergian orang itu. 


"Mey, kau jadi hantu sekarang, hantu cantik, haha," Vika, tergelak tak tahan untuk menahan tawanya lagi. 


"Vika," ketus Mey, yang langsung mengerutkan bibirnya.


"Mey, aku ada ide," tatap Vika, penuh kelicikan. 


"Ide apa? Jangan aneh-aneh," ketus Mey. 


Vika pun membisikan sesuatu ke telinganya. 


****


Kira-kira apa ya! Idenya Vika.🤔


Likenya dulu dong sama Vote, dan komennya juga nanti othor kasih tahu hehe.