
Farhan, membuka meeting dia menyambut para tamunya dengan bahagia. Awalnya Farhan, memperlihatkan wajah sedihnya mengenai adiknya Farel, yang meninggal dan terpaksa dirinya yang mengambil alih perusahaan karena putrinya sebagai hak waris pun sudah meninggal.
Sebagian tamu yang percaya akan kisah yang di ceritakan Farhan, pun ikut terhanyut dan bersedih. Farhan, pun mengatakan jika dirinya sangat tua sudah saatnya untuk mengundurkan diri, dengan begitu Farhan, mengatakan jika dirinya akan memperkenalkan direktur baru perusahaan yaitu putrinya.
"Saya, sudah cukup tua, butuh istirahat panjang dan tidak bisa lagi mengurus perusahaan dengan baik itu sebabnya saya mengumpulkan kalian semua ingin memberitahukan, direktur utama perusahaan yang baru," ucap Farhan.
Sharon, yang duduk di samping Farhan, pun berdiri membuat semua orang saling berbisik dan berpikir jika Sharon, adalah calon direktur yang baru.
"Perkenalkan putri saya Sharon Antares, pemimpin perusahaan kalian yang baru. Dia adalah putri tunggal saya, pewaris tunggal Antares grup."
Sharon, memgembangkan senyumannya semua orang yang ada di ruang meeting pun bersorak memberikan tepuk tangan untuknya. Namun, tidak di bawah sana yang sekarang menjadi riuh dan tegang.
Beberapa mobil kepolisian dan petugas polisi berlarian masuk kedalam perusahaan dengan senjata yang di pegangnya membuat para karyawan takut melihatnya. Sebagian polisi lainnya berjaga di setiap pintu utama.
Tak sedikit dari mereka pun bertanya 'ada apa?' tapi tidak ada yang menjawab sama sekali pertanyaan itu.
Setelah kedatangan polisi kini mereka di kejutkan, dengan kedatangan seorang pria yang tak asing bagi mereka. Pria itu adalah Elo, yang turun dari mobilnya dengan parasnya yang tampan, cool, rupawan membuat mereka takjub melihatnya.
Elo, melangkah masuk di temani Arkan, sang asisten yang tak kalah tampan. Membuat kaum hawa terkagum-kagum.
Di saat kabar bahagia sedang di rasakan Sharon, dan Farhan, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, semua mata tertuju ke arah pintu yang dimana seorang pria tampan muncul membuat semuanya tercengang.
Selama perusahaan Antares berdiri, mereka tidak pernah melihat sang pengusaha terkenal Elon Giedon Rakka Mahendra, menginjak perusahaan itu. Berharap untuk bekerjasama pun sangat sulit dan butuh pengorbanan.
Tapi kini Elo, datang dengan sendirinya.
"Tuan Elo," ucap salah seorang investor yang berdiri menyambutnya.
"Saya dengar ada pemimpin baru di sini. Saya ingin tahu siapa pemimpin itu?" ucap Elo, yang menatap tajam ke arah Farhan, dan Sharon.
"Tentu aku siapa lagi?" skak Sharon. Elo, hanya tersenyum sinis. Lalu berjalan memutari para klien yang duduk di kursi kehormatannya.
"Kalian percaya? Yakin dengan pilihan kalian?"
"Apa maksudmu Elo!" Sharon, merasa Elo, akan mempengaruhi para kliennya.
"Seorang pembunuh yang akan menjadi direktur!" Seketika suasana jadi riuh, para klien saling berbisik setelah mendengar perkataan Elo.
"Jaga ucapanmu Elo. Aku tahu kamu iri dengan keberhasilanku, kan? Kamu menyesal karena telah membatalkan perjodohan kita."
"Menyesal! Justru aku bersyukur karena Tuhan, membuka pintu hatiku agar tidak memilihmu."
"Arkan, perlihatkan pada mereka semua." Arkan yang mendapat perintah pun langsung membuka laptopnya beberapa menit kemudian muncullah sebuah gambar pada dinding saat Arkan, melakukan presenter view.
Dalam gambar itu muncul sebuah vidio, yang dimana rekaman cctv, saat mobil Sharon, berhenti tepat di sebuah gang dan menurunkan dua orang pemuda yang mengambil dua kompan sedang di dalam bagasi.
Arkan, pun men-Zoom vidio itu, lebih dekat hingga terlihat jelas plat nombor mobil itu, dalam satu klik muncullah sebuah foto seorang wanita yang sangat mirip dengan Sharon, beserta biodata lengkapnya.
"Pemilik mobil ini, terekam saat terjadinya kebakaran beberapa bulan yang lalu yang menewaskan, dua orang wanita di dalamnya," jelas Arkan, lalu memutar vidio itu lebih lama, hingga terlihat jelas kedua pemuda tadi berada di depan sebuah rumah, menyiramkan cairan dalam kompan itu lalu melemparnya sebuah korek gas hingga terjadilah kebakaran.
"Kamu menuduhku? Apa aku terlihat di sana? Tidak, kan. Itu hanya mobil dan bukan hanya aku yang memiliki mobil itu," bantah Sharon.
"Kalian bisa cek mobil dan plat nomornya di bawah sana." Para klien pun saling berbisik.
"Stop! Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi kalian bisa pergi." Sharon, begitu kesal dan juga ketakutan jika kejahatannya terbongkar.
"Selain itu, pemimpin kalian ini telah melakukan percobaan pembunuhan dengan meracuninya," lanjut Arkan.
"Omong kosong apa ini?" bantah Sharon.
"Papa panggil security." Sharon, mencoba memanggil beberapa kali security perusahaannya namun tidak ada jawaban. Tanpa Sharon, ketahui semua security dan staff keamanan sedang di awasi polisi.
Arkan, pun memutar sebuah rekaman
Rekaman itu di putar beberapa detik, tetapi Sharon, masih membantah dan menyangkalnya hingga datanglah dua orang petugas polisi membawa masuk seorang wanita yang ternyata pelayan itu, yang menjadi orang suruhannya.
Mata Sharon, terbelalak saat melihat pelayan itu.
"Katakan apa dia bosmu? Orang yang menyuruhmu untuk meracuni nek Tini?" tegas seorang polisi membuat pelayan itu menunduk takut.
"I-i-iya pak dia orangnya. Di-dia bos saya."
'Sial, wanita ini sudah aku kasih uang tapi dia mengatakan semuanya' batin Sharon. Kedua petugas polisi pun menghampirinya mengunci tangannya dengan borgol.
"Lepaskan aku tidak salah," bantah Sharon, yang mencoba meronta.
"Hentikan," bentak Farhan. "Apa-apaan ini, omong kosong apa ini, kalian … kalian semua telah mencemarkan nama baik putriku, ini semua fitnah tidak ada hubungannya dengan putriku," bantah Farhan.
"Fitnah! Bukankah semua bukti sudah jelas jika putrimu bersalah."
"Elo, aku tahu kamu tidak menyukaiku sehingga kau melakukan ini padaku."
"Ya, aku memang tidak suka sama orang serakah sepertimu. Kau berani mengambil alih perusahaan yang jelas-jelas bukan milikmu."
"Ya ini bukan milikku, tapi sekarang ini menjadi milikku karena aku lah satu-satu hak waris dari antares grup," ucap Farhan, sangat yakin.
"Oh ya! Bukankah ahli waris masih ada? Putri pemilik antares grup yang sudah kamu anggap pergi."
"Silahkan, kamu buktikan jika ahli waris masih ada? Apa kau bisa membuktikannya?" tantang Farhan, suasana pun menjadi tegang, tak lama kemudian pintu pun terbuka lebar, semua orang melihat ke arah pintu, yang muncul seorang wanita cantik dengan gaun hitam dan heel, juga rambut yang terurai.
Sharon, dan Farhan, pun menatap tajam ke arah wanita itu, sebab penampilan Mey, yang berubah membuat mereka tidak mengenalinya.
Mey, pun berjalan mendekati Farhan, juga Sharon, tatapannya sungguh berbeda, senyuman sinis yang Mey, berikan pada Sharon, membuat Sharon, akhirnya mengenali dirinya.
"Apa kabar paman, sudah lama tidak bertemu, masih ingatkah pada ponakanmu ini?" lirih Mey, yang bertanya pada Farhan. Farhan, pun terlihat tegang dan gugup.
"Halo, Sharon. Apa kabar? Jangan tegang begitu aku bukan hantu, aku manusia nyata Mey, yang rumahnya kau bakar." Wajah Sharon, mendadak pucat.
Setelah cukup menyapa paman dan sepupunya, Mey, pun berdiri menghadap para klien yang ada yang kini sedang memperhatikannya.
"Perkenalkan, saya Meisie Callia, putri tunggal dari Farel Antares, pewaris tunggal yang selama ini di anggap sudah mati," ucapnya demikian. Membuat para klien berbisik.
"Kini saya sebagai putri dan pewaris tunggal ingin mengambil alih perusahaan ini, sebagai direktur utama untuk menggantikan papa saya."
Sharon, yang tak terima pun ingin menghajar Mey, namun tangannya tidak bisa bergerak karena borgol yang mengunci tangannya.
"Ini tidak adil, papa lakukan sesuatu." Sharon, meminta Farhan, untuk menghentikan semuanya tetapi Farhan, pun tidak bisa saat kedua polisi mendekat ke arahnya.
"Anda kami tangkap karena kasus pembunuhan terhadap Jimmy," ucap petugas polisi itu, yang langsung memborgol tangannya.
"Apa! Omong kosong apa ini, apa buktinya jika aku membunuh pengacara itu."
"Anda bisa jelas, kan nanti di kantor polisi." Farhan, pun pasrah saat polisi membawanya. Tindakan itu di lihat oleh semua orang yang ada disana. Tidak hanya namanya yang menjadi buruk namun, Farhan pun harus menahan malu di depan para rekan bisnisnya.
Tak hanya Farhan, polisi pun membawa Sharon, pergi dari sana. Namun, sebelum itu terjadi Mey, menghentikannya untuk memberikan sebuah kenangan untuknya.
"Tunggu!" ucap Mey, membuat langkah mereka terhenti.
Mey, pun berjalan mendekat ke arah Sharon, yang sedang di pegangi kedua polisi, semua orang yang ada di sana melihat ke arah Mey, yang mendekati Sharon, hingga sesuatu yang mengejutkan terjadi.
Satu tamparan mendarat mulus pada pipi Sharon, tak hanya menahan malu Sharon, pun harus kuat menahan sakit dari tamparan itu.
"Tamparan atas kematian nenekku," ucap Mey, demikian. Sharon, pun kembali di bawa oleh polisi.