The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Hari baru



Pergulatan terus berlangsung hingga membuat rusuh satu sel. Perkelahian pun terhenti saat petugas lapas mererai perkelahian itu. Keadaan empat napi begitu kacau, terutama Sharon, yang di serang tiga napi itu. 


"Kamu," ucap seorang petugas mencengkram tangan Sharon. 


"Baru sehari disini sudah membuat rusuh, ikut saya." Petugas polisi itu pun membawa Sharon, dari sel itu, dia memisahkan Sharon, ke sel yang berbeda. Memisahkannya dengan para napi lain. 


"Saya hukum kamu disini, awas kalau kamu buat ulah lagi." Petugas polisi itu pun mengunci gemboknya, lalu pergi. 


Sharon, hanya seorang diri di sel bawah tanah yang sepi. Yang hanya di temani jeruji besi yang sudah bau. Dan hanya beralas tikar. Namun Sharon, tetap tidak menyadari kesalahannya.


Sial! Sial! Sial! 


Sharon terus mengumpat. "Seharusnya hari ini aku sudah menduduki kursi kebesaranku tapi yang ku dapatkan hanyalah ruangan yang di kelilingi jeruji besi ini." 


"Seharusnya aku membunuhmu lebih dulu Mey," ucap Sharon, dengan tatapan penuh kebencian. 


****


Hari ini Mey, memulai hari barunya sebagai direktur utama. Tempat tinggalnya pun sudah berbeda. Mey, kembali ke rumah utama yang di tempati Farhan, saat itu dan sekarang menjadi miliknya. 


Dunia sudah berubah, dirinya kini bukanlah Mey, yang dulu yang selalu di hina, di ejek, dan tinggal di rumah yang kumuh. Sekarang dirinya seorang pengusaha, seorang CEO Antares grup perusahaan yang cukup berkembang. 


Namun keberhasilan, kekayaan, itu membuatnya terasa hampa karena tidak ada keluarga yang berada di sampingnya. 


"Mama, Papa, selamat datang di rumah baru kita." ucap Mey, yang menatap foto orangtuanya pada dinding. 


"Nenek, Mey, harap nenek tenang disana. Mey, akan selalu mendoakan kalian semua." ucap Mey, yang mengelus lembut foto Tini. 


"Nona, sarapan sudah siap." ucap seorang wanita yang berseragam pelayan. 


"Iya, terima kasih ya bi." 


"Sama-sama Non. Saya permisi." pelaysn itu pun pergi. Sebelum pergi Mey, mengambil tas dan barang yang di perlukan untuk bekerja. Lalu pergi meninggalkan kamarnya. 


"Non, mobil sudah siap," ucap seorang pria yang menjabat sebagai supir. Mereka semua pelayan Farhan, yang sekarang menjadi pelayannya. Setelah Mey, menjadi majikan mereka, mereka terlihat lebih senang dan legowo.


"Tunggu sebentar pak, lima menit lagi saya keluar," ucap Mey, yang meneguk air minumnya. Pak supir pun kembali keluar, setelah beberapa menit Mey, pun menyusul. 


Kini Mey, diantar supir pribadi dan mobil mewah. Namun, itu semua tidak membuat Mey, sombong dia tetap Mey, yang rendah hati. Mey, turun dari dalam mobilnya memasuki perusahaannya, tak sedikit dari mereka pun memberi hormat dengan membungkuk, kan badannya. 


Mey, memasuki ruangannya yang dulu menjadi ruangan Farhan. Namun, Mey, merubah semuanya dia tidak ingin memakai barang yang pernah pamannya gunakan. 


Waktu cepat berlalu, setelah memberi persentase, melihat-lihat perusahaannya, dan berkenalan dengan para karyawannya, Mey, pun memutuskan untuk pulang. 


Saat ini Mey, sedang berada di depan Elgiedon Industri, dirinya menunggu di depan lobby, menantikan sahabat baiknya Vika. Tak lama kemudian Vika, pun muncul.


"Mey," teriak Vika, pada Mey, yang melambaikan tangannya. Vika, pun berlari lalu memeluknya. 


"Mey, aku kangen. Bagaimana kabarmu? Aku senang semua masalahmu sudah selesai." 


"Kabarku baik, sangat baik," jawab Mey


"Hai, ibu direktur penampilanmu sekarang sudah berubah ya!"  cibir Vika


"Jangan bilang begitu. Aku kesini merindukanmu," 


"Apa ada perayaan? Kau mencariku? hm ... sekarang, kan kau sudah menjadi ibu direktur. Apa tidak ada perayaan apa pun, makan-makan misalnya."  


"Perayaan apaan? Mm … aku tahu, ayo kita pergi kamu butuh traktiran, kan!" 


"Wah, kau hapal juga keinginanku ya. Eh, tapi traktiran di restoran mewah ya, sekali-sekali jangan di lesehan terus," 


"Iya-iya" 


"Mey, ku dengar kamu akan segera menikah ya?" Mey, pun mengangguk 


"Dia sudah melamarku." ucap Mey, yang memperlihatkan, jari tangannya yang terpasang cincin.


"Wah, cincin bagus sekali ini berlian, kan! Wah, Mey, kau sangat beruntung." 


"Aku, beruntung mendapat, kan kekasih seperti Elo. Dan aku tidak menyangka jika kami sudah di jodohkan, bahkan kami berteman sejak kecil." 


"Selamat ya Mey, aku ikut senang." ucap Vika. "Gimana si Sharon, dia sudah di penjarakan?" 


"Dia sudah berada di tempat yang seharusnya," jawab Mey singkat. Seperti tidak ingin membahas Sharon. 


Sedangkan yang di bicarakan, hanya memandang sebuah piring yang berisi nasi tahu, dan lauk. Hanya itu makanan siangnya. 


Prang, 


Sharon, menendang piring itu hingga makanan yang ada di dalamnya pun jatuh berserakan. Dia begitu kesal karena hidup di dalam penjara begitu tersiksa. 


"Aku ingin makanan yang lain." Teriak Sharon. 


"Hei, apa kalian tidak dengar! Berikan aku makanan yang lain aku tidak ingin memakan itu." Sharon, terus berteriak seraya memukul-mukul jeruji besi itu. 


"Hei, bisa diam tidak!" bentak seorang petugas. "Makan saja yang ada, Jangan berisik mengerti!" hardik seorang petugas. Lalu kembali pergi. 


"Arrghh … sial." 


Dengan terpaksa Sharon, pun memakan makanan yang sudah di buangnya. Seumur hidup tidak pernah memakan-makanan seperti itu. 


"Lihat saja nanti, jika aku keluar dari sini, aku akan membalasmu Mey," ucapnya penuh dendam. 


****  


Di ruangannya Elo, Arkan, dan pengacaranya begitu pun dengan Mey, sedang membicarakan tentang persidangan besok. Sidang pertama Sharon, dan Farhan, untuk menentukan berapa lama hukuman yang akan di terima oleh mereka. 


"Untuk Farhan, cukup sulit karena supir yang pernah menabrak mobil Jimmy, saat itu orang itu menghilang." ucap Si pengacara. 


"Apa tidak ada saksi?" tanya Mey, 


"Cukup sulit, kejadian itu saat malam hari dan berada di jalanan yang sepi, saya tidak yakin ada saksi yang melihat. Walaupun ada saksi terkuat adalah supir itu, hanya dia yang bisa memberikan kesaksian bahwa Farhan, lah dalang semuanya. Yang merencanakan pembunuhan itu." jelas pengacara  


Mey, Arkan, dan Elo, pun terlihat putus asa. 


"Lalu bagaimana dengan Sharon?" tanya Elo. 


"Untuk Sharon, tidak cukup sulit semua bukti ada di tangan kita. Rekaman cctv, dan saksi kita pegang. Pelayan itu bisa kita jadi, kan saksi sebagai tindakan pembunuhan karena meracuni nek Tini." 


"Tapi … untuk kebakaran itu, saya belum menemukan saksi, kita hanya punya rekaman cctv nya. Dan untuk kedua orang suruhannya saya belum menemukannya." jelas pengacara. 


"Saya ada seseorang yang bisa di tanya dan kemungkinan dia tahu," ucap Elo, yang langsung menghubungi seseorang lewat ponselnya. 


Orang itu adalah mata-mata Farhan, yang pernah ia tangkap karena membuntuti Mey. Semenjak itu orang itu berjanji akan membantu, juga memberikan informasi yang Elo, butuhkan. 


Cukup lama Elo, berbicara hingga akhirnya, sambungan pun tertutup. Elo, mematikan ponselnya lalu berjalan dan duduk di antara Arkan, pengacara dan Mey. 


"Saya sudah menghubunginya, dan dia memberitahu jika kedua orang itu ada di tempat xxx. Arkan, kau tahu, kan! Apa yang harus kau lakukan?" ucap Elo, yang melirik ke arah Arkan. Arkan, yang di lirik pun mengangguk seraya tersenyum, dia tahu apa yang harus di lakukan.


"Tapi bagaimana dengan paman? Apa paman akan di bebaskan?" tanya Mey, dengan tatapan nanar.


Mey, takut jika kurangnya bukti dan tak adanya saksi membuat Farhan, akan di kurangi masa hukuman atau di bebaskan.