
Kedua pria sedang duduk berhadapan di sebuah ruangan privat. Mereka adalah Farhan, dan informannya. Informan itu berhasil memberikan kabar baik untuknya, yang dimana dirinya membawa informasi penting yang sangat di tunggu-tunggu olehnya.
"Kabar apa yang kamu bawa?" tanya Farhan, tanpa basa-basi.
"Kabar baik bos," ucap pria di depannya seraya melempar beberapa lembar foto padanya.
"Aku sudah menemukannya. Dia, tinggal di jalan xxx rumah ya terletak di antara rumah kumuh. Dia bekerja di salah satu perusahaan terkenal di kota ini El-Giedon Industri." Jelas pria informan itu.
"El-Gideon Industri?" ucap Farhan, yang tersenyum licik. "Bagus, kerja bagus kamu memberikan informasi yang begitu berharga, anak itu berada dekat denganku, El-Giedon Industri tempat itu tak asing bagiku, aku akan mudah mendapat, kannya." Lanjut Farhan.
"Ini bayaranmu sesuai yang aku janji, kan. Tapi aku ingin kamu melakukan satu perintahku lagi. Lenyapkan anak itu," ucap Farhan, yang mengepalkan tangannya seolah menyimpan dendam.
"Dan, satu lagi lenyapkan juga orang ini," ucap Farhan, yang melempar foto Jimmy, si pengacara yang selalu menjadi penghalangnya.
"Beres, asal aku minta dua kali lipat dari ini,"
"It's okey," ucap Farhan, yang tersenyum smirk.
Di waktu yang sama Jimmy, juga mendapat kabar bahwa Meisie, sudah di temukan dan bekerja di sebuah perusahaan di kotanya. Perusahaan yang ternyata milik keluarga Mahendra. Anak dari Rakka Mahendra, yaitu Elon Giedon Rakka Mahendra.
Jimmy, tersenyum dari kejauhan melihat kedetakan Elo, dan Meisie, yang memang Meisie, bekerja sebagai sekretarisnya. Dan Jimmy, tahu Elo, adalah cucu dari Alpha Mahendra yang akan di jodoh, kan dengan Meisie, cucu dari Edwin Antares. Tanpa diingin, kan keduanya sudah bertemu dan dekat walau pun hanya sebatas rekan kerja.
"Tuhan, sudah mempertemu, kan mereka," ucapnya seraya melihat Elo, dan Meisie, yang sedang berjalan menuju mobilnya.
"Sebentar lagi aku akan mewujudkan impian kalian, kedua cucu kalian akan segera menikah," batin Jimmy, yang kembali teringat mendiang Alpha dan Edwin kakek mereka.
Setelah memastikan keadaan Meisie, Jimmy, pun pergi meninggal, kan gedung El-Giedon.
****
Elo, dan Meisie, akan mengunjungi El-Gideon Mall, untuk melihat perkembangan pemasaran produk terbarunya. Di dalam mobil keduanya saling diam tidak ada percakapan apa pun walau pun duduk berdampingan.
Elo, mengalihkan pandangannya ke sisi kanannya untuk melihat pemandangan kota. Begitu pun sebaliknya Meisie, melakukan hal yang sama. Keduanya merasa canggung setelah kejadian kemarin yang membuat jantung keduanya berkinerja lebih cepat dari biasanya.
Di saat Elo, memfokus, kan matanya untuk melihat pemandangan di sepanjang jalan manik matanya tak sengaja menangkap sebuah mobil yang terlihat mengikutinya. Elo, terus menatap mobil itu di balik kaca spion di depannya.
"Arkan, lebih cepat lagi," perintah Elo, pada Arkan, untuk melajukan mobilnya.
"Baik Tuan," jawab Arkan, yang langsung menancap, kan gasnya melaju lebih cepat.
Elo, terus melihat mobil di belakangnya, yang ternyata terus mengikuti mobilnya, Elo, pun memerintah, kan Arkan, untuk berbelok arah, saat mobilnya berbelok mobil di belakangnya pun ikut berbelok.
"Ada yang mengikuti kita," ucapnya demikian, mendengar perkataan itu Arkan, pun langsung melajukan mobilnya lebih cepat lagi.
Kini kedua mobil itu saling berbalap di tengah jalanan yang padat, Meisie, yang merasa ketakutan terus mengumpat dalam hatinya karena takut jika sesuatu yang buruk terjadi padanya.
"Arkan, cari jalan yang sepi," perintah Elo. Arkan, pun langsung membelokan mobilnya ke sisi kiri yang mengambil jalan tikus, dan jalanan itu sangatlah sepi jika ramai jalanan itu hanya saat di lewati kendaraan yang ingin melewati macet saja.
"Apa, yang kalian lakukan kenapa ngebut seperti ini," umpat Meisie, yang mulai ketakutan.
"Sudah diam saja," tegur Elo, tiba-tiba mobil pun berhenti membuat tubuh Meisie, terdorong ke depan dan hampir terjatuh beruntung Elo, menahannya.
Arkan, tidak bisa mengendalikan mobilnya saat sebuah mobil berada di depannya. Arkan, dan Elo, pun langsung turun menghadapi seseorang yang keluar dari mobil itu. Namun saat Elo, ingin keluar Meisie, mencekal tangannya.
"Mau kemana? Tuan lebih baik kita pergi saja dari sini," ucap Meisie, yang memegang erat tangan Elo.
"Kamu diam saja disini," ucap Elo, yang langsung keluar dari mobilnya.
"Siapa kalian berani menghadang jalanku," tegur Elo, yang menatap tajam kedua pria di depannya. Bukannya menjawab kedua pria itu langsung menghadangnya.
Perkelahian pun tidak bisa di hindari, Arkan, dan Elo, bergulat dengan kedua pria itu. Di dalam mobil Meisie, hanya bisa menjerit dan berteriak melihat bosnya yang sedang berkelahi di depannya.
"Bagaimana ini? Apa aku harus telepon polisi!" tanya Meisie, dalam hatinya.
"Kenapa tiba-tiba ada yang menyerang, apa ini firasat dari nenek tadi, yang menyuruhku untuk hati-hati!" Meisie, yang terus bermonolog tiba-tiba melihat seseorang yang akan menusuk bosnya dari belakang. Dengan segera Meisie, berlari keluar untuk menghampiri bosnya.
"Tuan," teriak Meisie, yang langsung memeluk Elo, untuk melindungi tusukan benda tajam itu. Merasa ada yang memeluknya Elo, pun langsung membalikan tubuhnya, dengan sigap tangannya menangkis pisau tersebut yang akan menusuk punggung Meisie.
Pisau itu pun terlempar jauh. Kedua pria misterius itu pun langsung pergi meninggalkan tempat itu. Elo, terdiam merasa, kan tubuhnya yang hangat karena pelukan sekretarisnya.
Meisie, membenam, kan kepalanya pada dada bidang milik Elo, pelukannya masih erat enggan untuk melepasnya, Elo, masih terdiam membiarkan Meisie, memeluknya hingga akhirnya pelukan pun terlepas.
"Tuan kau baik-baik saja?" tanya Meisie, panik namun tidak melihat raut wajah bosnya yang sedang menahan amarah.
"Bodoh!" tegas Elo, membuat Meisie, terkesiap.
"Kau ingin mati hah! Sudahku bilang kau diam di dalam mobil," ujar Elo, sedikit membentak.
"Aku hanya mengkhawatirkan mu Tuan," ucap Meisie, dengan suara rendah.
"Sudahlah Tuan, dia sudah baik ingin melindungimu, sekarang kita kembali ke mobil," ujar Arkan. Kini mereka pun kembali masuk ke dalam mobilnya.
Elo, memutuskan untuk kembali ke perusahaannya tanpa melanjutkan perjalanannya. Kejadian tadi membuat mood-nya hilang dan ingin segera sampai di kantornya untuk merileks, kan pikirannya.
Elo, merasakan semua yang terjadi ada hubungannya dengan Marchel. Namun, ternyata orang itu adalah suruhan Farhan, yang ingin melenyapkan Meisie.
Sesampainya di perusahaan Elo, langsung berjalan masuk menuju ruangannya. Sesampainya di dalam ruangan Elo, di kejutkan dengan seorang tamu yang menunggunya.
"Pak Jimmy," ucap Elo, yang melihat Jimmy, si pengacara itu. Jimmy, yang di panggil langsung berdiri seraya tersenyum ke arahnya.
Jimmy, dan Elo, memang sudah saling mengenal dan bertemu namun Elo, selalu menatapnya tidak senang karena Elo, tahu Jimmy, selalu membicarakan perihal wasiat kakeknya yaitu tentang perjodohanya.
"Pak Jimmy, ada apa anda kemari? Jika ingin membicarakan masalah perjodohan lagi aku sudah pernah katakan bahwa aku menolaknya," ucap Elo, yang duduk di depannya. Jimmy, hanya mengulum senyum.
"Aku tidak akan memaksa lagi tentang perjodohan itu, karena aku yakin kamu sendiri yang akan meminta langsung untuk menikahi wanita itu," ucap Jimmy, membuat Elo, terheran-heran.
"Sampai kapan pun aku tidak akan menikahi wanita itu," ucap Elo, dengan nada sinisnya karena yang Elo, tahu wanita yang di jodoh, kannya adalah Sharon. Jimmy, hanya mengulum senyum.
"Sudah jangan basa-basi apa tujuanmu datang kemari" sambung Elo, yang langsung bertanya pada intinya.
"Aku ingin, menitipkan ini, tolong jaga baik-baik dokumen ini, aku yakin jika kamu menyimpannya dokumen ini akan aman." Elo, mengerut, kan keningnya seraya menatap sebuah amplop di depannya.
"Apa hubungannya denganku? Memangnya apa isi dokumen ini?"
"Aku akan memberitahumu nanti, setelah kamu siap untuk menikah dengan cucu dari keluarga Antares,"
"Sudahku bilang aku tidak akan menikah dengannya," ketus Elo, yang sudah sangat kesal.
"Jika wanita yang akan menikah denganmu adalah dia apa kau masih menolaknya?" ucap Jimmy, seraya menatap ke arah Meisie, yang duduk di meja kerjanya. Elo, mengikuti tatapan Jimmy, yang merasa heran karena tatapannya saat ini tertuju pada sekretarisnya
"Apa maksud ucapanmu?" tanya Elo, dengan bingung.
"Tolong jaga dia, banyak yang ingin mencelakainya, lindungilah wanita itu," ucap Jimmy, yang semakin membuat Elo, kebingungan. Setelah mengatakan semua itu Jimmy, pun melangkah pergi dari ruangannya. Elo, masih setia bertengger seraya menatap kepergian Jimmy, dan beralih menatap sekretrisnya Meisie, yang duduk di meja kerjanya. Tiba-tiba Meisie, melihat ke arahnya membuat mata mereka saling bertemu pandang.