
"Mey,"
"Ya!"
Tanpa sadar Elo, memanggil nama teman kecilnya. Anehnya Meisie, pun menyahut ucapannya dengan kata 'Ya'. Kini keduanya saling menatap dalam diam. Hingga akhirnya Elo, pun tersadar dari lamunannya lalu pergi turun dari kincir itu.
Meisie, merasa aneh dengan tingkah bosnya. "Ada apa dengan Tuan bos! Dia memanggilku tapi malah pergi," ucapnya demikian.
****
Meisie, sudah sampai di depan rumahnya. Walau merasa aneh dengan tingkah bosnya saat ini. Tidak biasanya Elo, mengantar, kannya sampai depan rumahnya.
"Mengapa tiba-tiba Tuan bos mengantarku pulang ya!" ucap Meisie, yang bermonolog seraya berjalan ke arah kamarnya.
Di tengah ruangan Meisie, melihat Tini, yang masih duduk di kursi goyangnya seraya memejam, kan matanya. Meisie, pun menghampirinya dan duduk di sebuah kursi di depannya.
"Nenek," Seru Meisie, yang membuat Tini, langsung membuka matanya. "Nenek, belum tidur?" tanya Meisie, yang memeluk Tini.
"Belum ngantuk. Kapan kamu pulang?" tanya Nek, Tini, seraya merubah posisi duduknya.
"Baru saja Nek,"
"Sudah makan?"
"Sudah. Oh iya Nek, tadi pagi itu apa firasat nenek, menyuruh Mey, untuk berhati-hati? Soalnya tadi pagi ada orang yang menyerang Mey, dengan Tuan bos," ucap Meisie, yang membuat Tini jadi khawatir.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Tini, yang begitu khawatir.
"Mey, baik-baik saja kok, Nek, beruntung Tuan bos dan pak Arkan, bisa melawan mereka. Tapi aneh kenapa tiba-tiba ada yang menyerang kami,"
"Mey, nenek harap kamu akan terus berhati-hati, banyak orang jahat di luaran sana. Jangan pergi tanpa pamit dan jangan pergi sendirian, jangan pulang terlalu malam ya!" ucap Tini, yang begitu khawatir.
"Iya, Nek!" jawab Meisie, seraya menyentuh lembut tangan Tini.
"Nek, sudah malam kita tidur ya!" ajak Meisie, yang di angguki Tini, lalu menuntun Tini, ke dalam kamarnya.
Di tempat lain, Elo, sedang membaca berkas-berkas yang di titip, kan Jimmy, padanya. Yang isinya semua tentang aset perusahaan Antares grup. Elo, lebih tidak mengerti apa maksud semua ini, kenapa Jimmy, menitip, kan aset perusahaan itu yang setahu Elo, perusahaan itu yang di kelola oleh Farhan.
"Apa, maksud semua ini! Kenapa pak Jimmy, meminta aku untuk mengaman, kan data-data ini?" tanya Elo, pada hatinya. Tiba-tiba keingin tahuannya tentang Antares grup membuat Elo, terus mencari informasi dari asal-usulnya Antares grup berdiri.
Elo, menemukan artikel penting tentang Antares grup. Yang awal mula di diri, kan oleh seorang pengusaha bernama Edwin Antares, seorang pria yang memulai bisnisnya di usia muda.
Tak hanya itu dalam artikel di jelaskan, Edwin, memiliki satu istri dan dua putra yang bernama Farhan Antares dan Farel Antares. Yang masing-masing memiliki bakat di bidang bisnisnya.
Dalam artikel itu di jelaskan Antares grup bekerjasama dengan perusahaan ternama yaitu Mahendra grup. "Mahendra grup! Apa itu perusahaan papa?" ucapnya yang bertanya.
Elo, membaca kembali artikel itu, yang tak sengaja menemukan sebuah foto yang memperlihatkan Edwin Antares, yang bersanding dengan Alpha Mahendra, kakeknya sendiri.
Rakka, pun menceritakan tentang persahabatan antara papanya dulu, persahabatan yang begitu erat hingga muncullah niat untuk menjodohkan kedua cucu mereka, namun yang mereka bingung, kan siapakah cucu dari Edwin Antares yang akan di jodoh, kan itu.
Entah, kah itu anak Farel atau Farhan
"Memangnya om Farel, dimana? Kenapa selalu om Farhan, yang kekeh dalam perjodohan ini?" tanya Elo, pada Rakka.
"Farel, sudah meninggal, begitu pun dengan anak dan istrinya. Jadi hanya Sharon, lah cucu dari Antares, grup satu-satunya," jelas Rakka.
"Om Farel, adalah teman Mama. Kami berteman sejak kecil dan sampai menikah pun kami tetap berteman. Saat itu kakekmu ingin persahabatan dengan sahabatnya tetap erat sampai mati, dari situlah munculnya ide untuk saling menjodoh, kan anak mereka namun sayangnya Mama dan om Farel, sudah menikah dan berkeluarga, jadi … mereka memutus, kan untuk menjodoh, kan cucu mereka yaitu kamu dan anaknya om Farel." Jelas Sarah, ibunya.
"Kalau begitu kita bisa batal, kan perjodohan ini. Karena anak dari om Farel, sudah tiada," ucap Elo.
"Tetap saja cucu dari keluarga Antares, masih ada yaitu Sharon, anaknya Farhan. Mama tidak akan memaksamu, semua keputusan ada padamu," ucap Sarah, seraya memberikan secangkir teh pada Rakka.
"Anak dari Farel, masih hidup," ucap seorang pria yang membuat mereka menoleh ke arah sumber suara. Semua orang terkejut melihat kedatangan Jimmy, yang tiba-tiba.
"Jimmy!" ucap Rakka, yang masih terkesiap. Jimmy, pun melangkah masuk lalu duduk di antara mereka.
"Anak dari Farel, masih hidup dan sekarang berada dekat denganmu," ucap Jimmy, yang melirik Elo.
"Dulu, mereka meninggal karena sebuah kebakaran yang di sengaja, membuat semua penghuni rumah tidak selamat, tapi ada yang tidak di ketahui bahwa ada seorang anak yang selamat dari kejadian itu." Jelas Jimmy.
"Maksudmu kebakaran itu di sengaja? Apa ada orang yang berniat jahat pada mereka?" tanya Rakka, penasaran.
"Farhan, dan Farel, memang saudara namun hubungan keduanya tidak sebaik yang kalian kira. Pak Edwin, lebih menyayangi Farel, di bandingkan Farhan, hingga Edwin, mewariskan semua harta dan aset yang di milikinya hanya untuk Farel. Namun bukan tanpa alasan Edwin, melakukan itu, semua di lakukan demi kebaikan keluarganya dan perusahaannya. Farhan, memiliki sifat yang serakah dan dengki hingga ingin menguasai seluruh harta ayahnya. Sedangkan Farel, memiliki sifat baik, dermawan dan pintar, yang tak pernah memikir, kan harta namun dia selalu bekerja keras dan berusaha." Jelas Jimmy.
"Namun, semua itu membuat hubungan kedua saudara jadi renggang. Dan Farhan, berani membunuh ayahnya sendiri." Semua orang terkejut mendengar ucapan Jimmy, terutama Sarah dan Rakka. Setega itukah seorang anak hingga membunuh ayah kandungnya sendiri.
"Apa Farhan, melakukan itu? Kalau begitu kenapa tidak kamu tuntut dia, hukum dia, kenapa terus di biarkan hidup bebas di luaran sana!" ucap Sarah, yang merasa tidak ada yang menghukum Farhan.
"Saya pernah melakukannya namun Farhan, kembali di bebas, kan karena tidak cukup bukti. Dan saya yakin, kebakaran yang menimpa Farel, adalah ulahnya sendiri," ucap Jimmy.
"Lalu dimana anaknya sekarang?" tanya Sarah.
"Ada di dekat kita, namun saya tidak bisa mengatakan kepada kalian karena demi keselamatan anak itu. Nyawa anak itu sedang terancam sekarang." Jelas Jimmy, membuat semua diam.
Rakka, jadi berpikir kembali untuk menjodohkan Elo, dengan Sharon, ketika sudah tahu kejahatan Farhan, yang sebenarnya bisa saja Farhan, menginginkan pernikahan ini hanya untuk memenuhi. keserakahannya terhadap ke pemilikan hartanya.
Setelah lama bercengkrama, Jimmy, pun pulang dengan di antar Elo, ke depan teras. "Kamu, sekarang tahu, kan kenapa saya memintamu untuk menjaga semua dokumen itu, karena saya tidak ingin semua aset keluarga Antares, jatuh kepada orang yang salah," ucap Jimmy, seraya melangkah, kan kakinya. Elo, yang berjalan di sampingnya hanya diam mencoba memahami ucapan demi ucapannya.
"Apa hubungannya denganku? Dan apa hubungannya dengan sekretarisku?" tanya Elo, yang menatap Jimmy.
Jimmy hanya tersenyum sambil menepuk bahunya lalu berkata "Kamu akan mengerti nanti, saya sudah menjelaskannya pada kalian tentang anak itu saya yakin, kamu memahami semua ucapanku, Dan berjanjilah padaku untuk menjaga wanita itu, lindungilah dia."
Elo, hanya diam seraya menatap kepergian Jimmy.