The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Janet



Di saat kebahagiaan, sedang di rasakan Mey, berbeda dengan Sharon, yang duduk termenung di balik jeruji besi. 


Sharon, terus memikirkan siapa ibu kandungnya, dimanakah dia sekarang. Entah kenapa perkataan Mey, begitu mengusik pikirannya. Satu tahun sudah dia lewati mendekapnya di dalam penjara bukanlah hal yang menyenangkan. 


Sharon, begitu penasaran siapa orang tua kandungnya, Sharon, pun bertanya kepada Farhan, tentang kebenaran itu di saat dirinya dapat kesempatan untuk bertemu Farhan, di saat itu juga dirinya meminta penjelasan. 


Hatinya semakin sakit saat tahu kenyataan siapa ibunya sebenarnya. Yang ternyata seorang wanita malam, yang paling menyakitkan adalah siapa ayah kandungnya. Jika seorang wanita malam mungkin dirinya tidak bisa memastikan siapa ayahnya, karena tak sedikit laki-laki yang pasti tidur dengan ibunya. 


Seburuk itukah dirinya, yang harus lahir dari wanita kotor, apa salahnya sehingga dirinya harus di lahirkan seorang wanita malam yang tidak ada kepastian siapa ayah kandungnya. 


"Aku anak pelacur, aku anak seorang pelacur" 


Sharon, terus bergumam seolah tidak bisa menerima kenyataan. Dirinya pun teringat dengan perkataan Farhan, yang memberi tahukan nama ibunya, Janet hanya itu yang ia tahu.


*


*


Di sisi lain seorang wanita di sebuah club malam, tengah sibuk menghitung lembaran uang seraya menghisap sebatang rokok yang mengeluarkan asap dari mulutnya. Wanita itu adalah seorang madam di sebuah club malam. 


Para lelaki akan memberikan uang setelah bersenang-senang dengan wanita-wanita yang ada disana. Selain menjadi seorang madam dia juga seorang bandar narkoba bisnis haram itu ia jalani di saat usianya masih muda. 


"Madam, Madam J," panggil seorang wanita. 


"Apa?" jawab Madam.


"Siska, dia berbuat ulah lagi." 


Mendengar nama Siska, Madam J langsung berhenti bergerak, tangannya yang sedari sibuk menghitung lembaran uang pun ia hentikan, Sebatang rokok yang ia hisap pun di buangnya. Madam, berdiri melangkah keluar dari kamarnya, melewati beberapa kerumunan wanita yang sedang bercengkrama dengan para tamu lelakinya. 


Langkah Madam, pun terhenti di depan sebuah kamar, yang terdapat seorang wanita juga seorang pria yang sedang bersitegang. Wanita itulah yang bernama Siska. Salah satu wanita yang sering menolak saat seorang pria menginginkannya. Bahkan Siska seringkali membuat masalah dengan para tamunya. 


Madam, berjalan tegak dengan tatapan tajamnya, langkahnya tertuju pada Siska yang berdiri di depannya. 


Plak, 


Satu tamparan ia daratkan di sisi pipi kiri Siska, hingga wajahnya terlihat memerah. 


"Aku akan urus wanita ini, aku bisa gantikan wanita yang lain untukmu," ucap Madam, pada pria yang berdiri di samping Siska. 


Ck … pria itu berdecak


"Aku tidak ingin wanita mana pun, kembalikan uangku." 


Madam terlihat sangat marah dan menatap Siska tajam. Lalu membawa Siska keluar dari kamar itu, menariknya dengan paksa. 


"Dasar anak yang tidak tahu di untung!" Madam, membanting Siska hingga terjatuh. 


"Sudah baik aku merawatmu, tapi apa balasanmu. Tidak bisakah kamu melayani tamu-tamuku dengan baik hah!" 


"Sudahku bilang aku tidak ingin menjadi wanita penggoda," bantah Siska. 


Siska bertemu Madam J saat dirinya hidup di jalanan tidak memiliki keluarga atau pun tempat tinggal. Madam J yang melihat Siska, menjadi teringat pada putrinya, yang pernah ia tinggalkan. Karena kasihan Madam J pun membawa Siska, ke tempatnya. 


Awalnya Madam J tidak ada niat sedikit pun untuk menjadikan Siska sebagai wanita malam, Siska hanya bekerja untuk bantu-bantu saja. Namun karena banyak tamu lelaki yang tertarik padanya hingga menawarkan harga yang tinggi disitulah penderitaan Siska, di mulai. Madam mulai meminta Siska untuk melayani tamu-tamunya. 


Siska, hanya bisa menemani para tamunya sebatas mengobrol saja dia tidak ingin melakukan yang lebih dari itu. Untuk kesekian kalinya Siska, menolak ajakan pria yang ingin tidur dengannya. Dan kali ini Madam, sangat marah besar padanya. 


"Kenapa? Apa kau sangat jijik dengan pekerjaan ini? Kau di bayar sangat mahal mereka memberikan uang padamu dan kau malah membuang uang itu." Madam J mencengkram kuat rahangnya. 


"Maafkan aku tapi aku tidak bisa!" Siska, terisak. 


"Kau tidak berguna." Madam J melepaskan cengkramannya. Lalu meninggalkan Siska, begitu saja. Siska hanya bisa menangis meratapi nasibnya yang tinggal di dalam lembah hitam itu. 


Selain, di sayangi, cantik, Siska juga sangat di dambakan para lelaki yang datang. Vera, wanita yang tidak menyukai Siska, karena para tamu nya yang datang sekarang pergi meninggalkannya dan berburu mendapatkan Siska. 


Di malam ini, Vera melihat Siska, di marahi dan di tinggalkan Madam J, mulai mendekatinya dan berpura-pura baik padanya. Dari dalam hatinya Vera, sangat ingin menyingkirkan Siska, agar semua orang pergi menjauh dari Siska. 


Dalam kesempatan ini Vera, mengajak Siska, ke kamarnya Vera, menyediakan air hangat untuk Siska gunakan saat mandi. Siska, pun berterima kasih karena Vera, sudah reopt-repot menyiapkan air hangat untuknya. 


"Terima kasih Vera, aku jadi merepot, kanmu." 


"Tidak repot sama sekali. Aku tahu, kamu sedang banyak masalah hari ini apa lagi saat Madam memarahimu. Mandilah, bisr pikiranmu kembali rileks dan tenang." 


Siska, pun pergi ke kamar mandi merendam tubuhnya dalam betup, wangi aroma therapy membuat pikirannya lebih rileks dan tenang, selama 10 menit Siska pun berendam di sana setelah selesai Siska, pun membilas seluruh tubuh dan wajahnya. Lalu keluar dari kamar mandi.


"Bagaimana apa tubuhmu sudah lebih enak?" tanya Vera, saat Siska keluar dari kamar mandi.


"Iya, lebih seger" jawab Siska. "Vera, terima kasih ya, aku mau kembali ke kamarku," lanjut Siska. 


"Iya." 


Keesokan paginya, Siska bangun dari tidurnya, ia menjerit syok saat melihat rupanya pada pantulan cermin. Wajah Siska mendadak berubah, begitu pun tubuhnya, yang banyak tanda bintik-bintik merah, seperti seekor tokek wajahnya yang cantik berubah jadi buruk dalam semalam. 


"Kenapa dengan wajahku." 


Siska, pun tidak mengerti apa yang terjadi wajahnya berubah mengerikan. Jeritannya terdengar sangat keras hingga mengundang semua wanita yang ada di tempat itu. Mereka, yang melihatnya merasa jijik dan ngeri. 


Perubahan Siska, pun terdengar oleh Madam, saat melihatnya Madam, pun di buat kaget, tapi tidak dengan Vera, yang memancarkan senyumannya. 


"Kenapa denganmu Siska? Semalam kamu baik-baik saja, kenapa dengan wajahmu?" 


"Jangan di sentuh Madam," teriak Vera, yang menghentikan langkah Madam. 


"Itu penyakit menular, jangan di dekati," lanjut Vera, membuat kaget semua orang. 


"Ini tidak bisa di biarkan Madam, Siska tidak boleh tinggal disini lagi usir dia." 


"Iya benar, usir saja dia. Jangan sampai dia membawa sial." 


"Jika para tamu kita melihat ini mereka akan merasa jijik dan tidak akan datang kembali. Kita akan kehilangan uang kita." 


"Benar Madam, usir saja Madam." 


Vera, tersenyum mendengar perkataan teman-temannya. Inilah yang dia inginkan Siska, pergi selama-lamanya. Siska, yang menyadari keanehannya yang berubah dalam semalam Siska, pun menatap rajsm pada Vera, yang tersenyum sinis. 


'Aku tahu ini pasti ulahmu, Vera. Apa yang kau berikan air mandiku' batin Siska. 


Vera yang sangat membenci Siska, pun pergi ke sebuah desa, bertemu dengan seorang dukun yang sakti. Vera, pun mengutarakan niatnya. Dia ingin membuat Siska, malu dan di pandang jijik semua orang. 


Dukun itu pun memberikan sebuah botol yang sudah di isi dengan ramuan dan jampeannya. 


"Tuangkan ramuan itu pada air hangat yang akan di gunakan untuk mandi wanita itu. Dalam semalam kamu akan melihat perubahannya." 


"Apa Mbah yakin, ini mujarab? Aku tidak ingin ada obat yang menyembuhkannya." 


"Tidak akan ada obatnya, kecuali Mbah yang bisa menyembuhkannya. Dokter spesialis sekali pun tidak akan bisa menyembuhkannya." 


Vera, pun tersenyum dan memberikan ramuan itu ke dalam air hangat yang akan di gunakan Siska untuk mandi.


"Jika pun ada hanya ilmu sihirlah yang bisa menyembuhkan nya." lanjut Mbah dukun.


Siska pun di usir dari tempat itu. Madam, meminta anak buahnya untuk membuang Siska, sejauh mungkin.