The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Kedatangan Vera



"Gladis bagaimana apa yang akan anda lakukan? Apa jalan cerai yang akan anda pilih?" Pertanyaan wartawan kembali di lontarkan.


"Tidak akan aku biarkan orang ketiga menjadi penghalang dan perusak rumah tanggaku. Tanpa aku jelaskan kalian semua pasti mengerti dan tahu apa keputusanku." 


Ucapan Gladis, kembali membuat para fans geram, dan saling menghujat. Ada yang kesal pada Bara, ada juga yang kesal pada Siska.


Tanpa mereka ketahui siapa yang salah dan siapa yang benar, mereka selalu mihak jika menurut mereka benar. 


"Benar, jangan biarkan pelakor menang." 


"Lawan pelakor itu Gladis." 


"Jangan pernah kalah, dan terus pertahankan mas Bara."


"Serem ya, pelakor sekarang pada merajalela."


"Geram nih gue pengen tahu wajah tuh pelakor."


Komentar-komentar kejam di lontarkan para fans-Nya. Membuat Gladis, senang karena banyak yang berpihak padanya. 


Namun, tidak dengan seorang pria di ujung sana. Yang tersenyum menyeringai melihat konferensi pers yang di adakan Gladis, dalam siaran televisi. 


"Jadi dia seorang artis, cukup menarik." ucap Pria, itu yang tersenyum sinis. 


"Jadi, dia pikir aku adalah suaminya. Aku tidak akan melepaskanmu, wanitaku." 


Pria itu menghisap rokoknya mengeluarkan kebulan asap, lalu tersenyum licik. Pria yang saat itu bertemu Gladis, di sebuah Bar diskotik, yang membawa Gladis, hingga ke hotel dan melakukan one night stay bersamanya. 


****


Hujan mulai reda, Siska, masih berdiam diri di dalam gazebo. Setelah merasa aman dan langit kembali terang Siska, pun memutuskan untuk pergi dan meneruskan perjalanannya. 


Namun, tiba-tiba tangan seseorang menghentikan langkahnya. Tangan itu mencengkram kuat pergelangan tangannya hingga menimbulkan rasa sakit dan perih. 


Saat, dirinya menoleh, Siska, di kejutkan oleh seorang wanita yang tersenyum licik padanya. 


"Vera!" 


"Lepaskan Vera, apa yang kamu lakukan." 


Siska mencoba melepaskan cekalan tangan Vera, yang begitu kuat. 


"Kamu tidak bisa pergi Siska. Sekarang aku tahu, kamu memakai magic untuk menutupi bintik di wajahmu itu. Sekarang berikan magic itu." 


"Hentikan Vera! Hentikan, aku tidak melakukan apa pun." 


Vera, terus memaksa dan merebut tas yang di soren Siska. Untuk mencari sebuah brush yang Siska, gunakan. Sebelumnya Vera, melihat Siska, saat di taman dalam keadaan wajah Siska, yang buruk rupa. 


Saat itu Siska, berlari ke arah gazebo. Vera, yang penasaran akan rupa buruk Siska, yang kembali pun berlari mengikuti Siska, hingga gazebo. Dan mengintip semua gerak-gerik Siska, yang menyapukan brushnya hingga tubuh dan wajahnya kembali terlihat cantik dan indah. 


Disitu Vera, menyadari jika brush itu brush ajaib dan mengandung sihir di dalamnya. Karena Vera, masih mengingat kata mbah dukunnya yang mengatakan jika sihir itu hanya bisa hilang dengan kekuatan sihir lagi. 


Bugh,


Aww, 


Siska, mendorong kuat tubuh Vera hingga terjatuh ke bawah tanah. Lalu Siska, pun berlari pergi secepat mungkin. Pandangan Siska, terus tertuju pada Vera, yang masih mengejarnya. Sehingga dirinya tidak memperhatikan jalanan di depannyan.


Saat dirinya sampai di tengah jalan, tiba-tiba sebuah mobil melaju sangat ngebut ke arahnya. Dan hampir menabraknya jika mobil itu tidak menginjak rem-nya dengan cepat. 


Ckiiit


Dugh


Siska, menunduk seraya berlutut ketika mobil itu berhenti tepat di depannya. Tubuhnya gemetar kedua tangannya terus menutup telinganya. 


Tak berselang lama pemilik mobil itu pun turun dan melangkah ke arahnya  


"Nona, apa kau baik-baik saja?" ucap pemilik mobil itu, yang menyentuh pundak Siska hingga berbalik dan menatap ke arahnya. 


"Siska!"


"Mas Bara!" 


Ternyata pria yang hampir menabraknya adalah Bara. Siska tercengang begitu pun dengan Bara. Keduanya sama-sama diam. Hingga akhirnya Bara, tersadar dan langsung memeluknya. 


"Ikut aku pulang!" 


"Tidak," tegas Siska, menghentikan langkah Bara. 


"Aku sudah memgembalikan uang itu, itu artinya perjanjian kita batal. Dan aku minta cerai darimu." 


Tatapan Bara, berubah tajam saat mendengar perkataan Siska. Perlakuan Bara, dalam sekejap berubah jadi kasar. Bara, menarik tangan Siska, dan masuk ke dalam mobilnya. 


"Bara lepaskan," teriak Siska, yang mencoba berontak melepaskan genggaman Bara. 


"Sudah aku bilang aku membatalkan janji itu. Biarkan aku pergi, Bara mau bawa aku kemana!" 


Bara tidak mendengar kata Siska,dan terus mengabaikannya. Dengan penuh emosi dirinya memacukan mobilnya sangat cepat tidak peduli dengan teriakan Siska. Hingg sampailah di apartemen miliknya. 


Bara, menarik kasar tangannya. Menyeretnya ke dalam apartemen miliknya. Mendorong tubuh Siska, dengan keras hingga terbentur lantai. 


Siska meringis dan terisak. Perlakuan Bara menakutkannya. Bara, tidak peduli dengan suara tangisannya dia berjalan ke arah kamarnya lalu kembali dengan seberkas surat di tangannya. 


"Lihat ini surat perjanjian kita," ucap Bara, yang menunjuk surat perjanjian itu. 


Sreekk, 


Bara merobek kertas itu hingga membuat Siska, tercengang. 


"Ini, kan yang kamu mau pembatalan surat perjanjian kontrak kita. Sekarang sudah aku robek tidak ada lagi perjanjian antara kita..


"Tinggal satu permintaan lagi yaitu cerai," ungkap Siska, membuat amarah Bara, kembali. 


 


Tanpa menjawab pertanyaan Siska, Bara langsung menindih tubuhnya lalu mencium bibir itu dengan rakus, hingga tak memberikan ruang untuk Siska, bernafas. 


Eum … mmm …


Siska, terus mendorong kuat tubuh Bara Namun kekuatannya itu tidaklah berhasil, dorongannya tak mampu membuat Bara, menghentikan aksinya. 


Hingg suara tangisan terdengar membuat Bara, akhirnya melepaskan pagutan bibirnya. Yang membuat bibir Siska, terluka. 


Argh … 


Bara mengusap wajahnya kasar, mengutuki dirinya sendiri karena sikap kasarnya pada Siska. Akhirnya Bara, pun duduk diam di samping Siska. 


"Maaf, Maafkan aku."


Tangis Siska, semakin pecah hingga akhirnya tangisannya mereda. Bara memangku tubuhnya membawa Siska ke atas ranjang tidur nya. 


Siska, masih diam dan bergeming perlakuan Bara, membuatnya takut dan lelah. Siska tak peduli Bara, menyentuhnya atau menyiksanya karena saat ini dirinya tidak bisa memberikan perlawanan dan lelah. 


"Aku akan membersihkan tubuhmu."


Bara, mencoba tenang dan mulai membuk seluruh pakaian istrinya namun semua itu terhentikan karena Siska menahannya. 


"Biarkan aku melakukannya sendiri." Kata Siska, membuat tangan Bara, menjauh dari tubuhnya. 


"Jangan pernah katakan cerai lagi. Mulai besok aku akan mendaftarkan pernikahan kita. 


Siska, termangu. Menatap.Bara, intens. 


"Aku tidak menikahimu karena janji, tapi karena aku menyukaimu. Jadilah istriku seutuhnya dan jangan pergi." Perkataan Bara, membuatnya bahagia namun satu yang mengganggu pikirannya Gladis, bagaiman dengannya.


"Bagaimana dengan istrimu?" 


"Biarkan itu menjadi urusanku." Kata Bara. 


Kini keduanya saling menatap dalam diam. Perlahan Bara mendaratkan bibirnya menyesap, menghisap, lembut bibir Siska. Hingga keduanya terhanyut dalam cinta. 


Demgan gerakan lembut, kedua tangannya membuka lembut pakaian Siska, hingga terlepas membuat tubuhnya bertelanjang. 


Bara terus menelusuri wajahnya hingga jari tangannya bergerak di bawah sana, dengan geraka  lembut membuat Siska, mengerang mengeluarkan suara merdunya. 


Dalam sekejap Bara, mengukung tubuhnya dan terus memainkan jarinya di bawah sana. Hingga akhirnya pedak saktinya memasuki lubang surgawi. 


Setelah melewati berbagai macam drama akhirnya jalan damai dan sentuhan lembutlah yang mengkahiri perdebatan itu. Siska dan Bara pun terhayut ke dalam malam panjangnya.