The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Pasar Malam



Elo, duduk termenung di atas kursi kerjanya. Ucapan Jimmy, masih terngiang di telinganya. Amlop yang berisi beberapa berkas pun di tatapnya, rasa penasaran pun terus menghantuinya membuat Elo, ingin tahu apa isi dati dokumen-dokumen itu. 


Elo, juga terpikirkan perkataan Jimmy, tentang Meisie. Yang memintanya untuk selalu menjaga dan melindunginya, apa lagi banyak orang yang ingin mencelakainya itu yang membuat Elo, heran. 


Apa tujuan orang-orang yang ingin mencelakai Meisie, dan apakah setiap kejadian dan peristiwa kecelakaan yang menimpanya ada hubungannya? 


Elo, kembali teringat saat Meisie, hampir saja di lecehkan oleh Marchel, saat Meisie, tiba-tiba terserempet mobil membuat kakinya terluka, dan terakhir saat Meisie, hampir saja di perkosa oleh Marchel, di sebuah club malam, tapi … anehnya kenapa selalu dirinya yang di libatkan. 


Apa hubungannya dengan dirinya? 


"Siapa sebenarnya dia, kenapa banyak sekali orang yang ingin mencelakainya?" tanya Elo, yang bermonolog. 


Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar, membuatnya terkejut. 


"Tuan," seru Meisie, yang membuka pintu.


"Hm," jawab Elo, singkat. 


"Ini laporan hari ini, dari mulai loading, output, dan data-data ekspor hari ini sudah saya rangkum, mungkin hanya ada sedikit kendala dari beberapa barang yang rijek, yang harus di ganti tapi untuk ekspor hari ini saya sudah handel, dan ekpor hari ini lancar sudah siap berangkat." Jelas Meisie.


"Hm." Hanya itu yang Elo, katakan.


"Kalau begitu saya izin pamit untuk pulang Tuan," 


"Hm,' 


"Terima kasih. Selamat malam Tuan," ucap Meisie, yang berlalu pergi meninggal, kan ruangannya. 


Setelah merapihkan semua berkas-berkas yang berantakan, Meisie, langsung melangkah pergi meninggalkan meja kerjanya. Tapi sebelum pulang seperti biasa Meisie, selalu menggunakan face brushnya terlebih dulu. 


Meisie, pergi ke toilet untuk mencuci wajahnya membuat sihir itu hilang dan wajahnya kembali seperti semula. Codet di wajahnya kembali terlihat karena itulah kelemahan dari face brush itu. 


Jika tersiram air, sihir dari face brush itu akan hilang, dan kedua jika terkena api sihir itu pun akan hilang, itulah kelemahan sihir itu karena sihir tidak ada yang abadi. 


Setelah wajahnya kering Meisie, mengoles kembali wajahnya dengan face brush ajaib itu sehingga wajahnya kembali menjadi cantik. Tanpa Meisie, ketahui ada seseorang yang mengintipnya di balik pintu toilet. 


"Jadi, karena face brush itu wajahnya menjadi cantik," gumam seorang wanita yang mengintipnya tadi. Wanita itu adalah Vika, sahabatnya setelah mengetahui semua itu ia pun pergi. 


Vika, berjalan sedikit berlari langkahnya menuju sebuah tempat parkir yang dimana ada sebuah mobil menunggunya. Vika, pun masuk ke dalam mobil tersebut. 


"Apa yang kamu dapatkan?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah Sharon. Wanita yang memanfaat, kan Vika.


Vika, memberitahukan apa yang telah dia lihat, termasuk tentang keajaiban face brush itu. "Jadi benar, dia memakai sihir," ucap Sharon, yang tersenyum sinis.


"Aku ingin kamu mengambil face brush itu," titah Sharon, kepada Vika. 


"Ba-baik, aku akan mencobanya tapi … tolong janji, jangan apa-apa, kan keluargaku," ucap Vika, dengan nada bergetar. 


Bukan karena terpaksa Vika, melakukan semua ini. Mungkin, Vika, bisa di bilang pengkhianat karena mengkhianati sahabatnya namun, Vika, terpaksa melakukannya karena ancaman dari Sharon. 


Seperti saat ini, Sharon, menjadikan kedua adiknya sebagai ancaman, dalam vidio rekaman ponselnya Sharon, memerintahkan orang suruhannya untuk membawa kedua adiknya pergi. 


Dalam vidio itu terlihat kedua adiknya sedang asik makan di sebuah restoran, jika Vika, tak memenuhi keinginannya maka kedua adiknya ini yang akan menjadi taruhannya. 


"Adikmu aman, selama kamu menurut padaku," ucap Sharon, yang tersenyum tipis. 


"Jangan lupa dengan tugas yang ku berikan. Ambil face brush itu darinya."


"I-iya," ucap Vika, gugup.


"Sekarang kau boleh keluar dari mobilku," titah Sharon, Vika, pun keluar dari dalam mobilnya. Setelahnya Sharon, pun pergi dengan melajukan mobilnya meninggal, kan Vika, yang masih bertengger.


"Mey, maaf, kan aku," ucap Vika, yang merasa bersalah pada sahabatnya. 


**** 


Meisie, berjalan gontai keluar dari perusahaan tempatnya bekerja. Meisie, terus melangkah sambil bersenandung ria. Pekerjaan yang menumpuk tidak membuatnya lelah. 


Seperti biasa Meisie, selalu berjalan menuju sebuah halte bus, walau jabatannya sudah tinggi Meisie, tidak pernah berubah selalu menaiki bus untuk alat transportasinya. 


Tanpa Meisie, sadari ada sebuah motor yang terus memantaunya, hingga saat motor itu menancap, kan gasnya, dan siap untuk menabrak sasarannya Meisie, terus melangkah tanpa sadar ada sebuah motor di belakangnya dan siap menghantam tubuhnya. 


Tiba-tiba … tubuhnya di tarik seseorang, membuat tubuh Meisie, memutar dan berakhir dalam sebuah pelukan seseorang. Orang itu membenam, kan kepalanya pada dada bidangnya. 


"Tuan bos," ucap Meisie, yang masih terkesiap. Elo, masih terus mendekap tubuhnya tanpa menghiraukan ucapannya. Kedua matanya tetap fokus menatap tajam ke arah sebuah motor yang sudah melaju sangat jauh. 


"Tuan bos!" ucapan Meisie, kini menyadarkan lamunannya. Elo, pun melepaskan pelukannya. 


"Pulang bersamaku," ucap Elo, yang langsung menarik tangan Meisie. Membuat Meisie, terpaku dan hanya menatap genggaman tangan bosnya. 


Sesaat setelah Meisie, keluar dari ruangannya Elo, terus terpikirkan ucapan Jimmy, yang mengatakan bahwa Meisie, dalam bahaya dan memintanya untuk melindunginya. 


Dan benar saja, saat Elo, pergi mengejarnya sebuah motor melaju sangat kencang dan siap menghantam tubuh Meisie, di depannya. Hingga Elo, berlari dan langsung menarik tubuh Meisie, ke dalam pelukannya. 


**** 


"Ada apa? Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Elo, datar. Yang tahu dengan gerak-gerik Meisie, yang terus memperhatikannya. 


"Tidak apa-apa, aku hanya ….," ucap Meisie, tertahan mencoba mencari alasan yang masuk akal.


"Hanya … hanya ingin mampir ke pasar malam." Suara decitan mobil terdengar, mobil pun langsung berhenti tiba-tiba. 


"Apa? Pasar malam?" tanya Elo, Meisie, hanya mengangguk. 


Beruntung Meisie, melihat sebuah pasar malam yang berada tak jauh di dekat jalanan yang di lewatinya. Jadi Meisie, bisa menjadikan itu sebagai alasannya. 


"Iya Tuan, pasar malam lihatlah disana," tunjuk Meisie. Elo, hanya menghela nafasnya kasar. 


"Aku tidak meminta Tuan untuk menemaniku, Tuan bisa hentikan aku disana, nanti biar aku pulang sendiri." ucap Meisie. 


Elo, mencoba menimbang-nimbang ucapan sekretarisnya, namun itu membuat dirinya bimbang dan gelisah, karena jika dirinya membiarkan Meisie, sendirian kemungkinan akan membahaya, kannya. Hingga akhirnya Elo, terpaksa menemani Meisie, berjalan-jalan di pasar malam.


Meisie, terlihat bahagia melihat pemandangan yang ramai di pasar malam, tetapi tidak dengan Elo, yang terus memasang wajah juteknya sepanjang jalan. 


"Wah, keren." Meisie, bersorak ria saat Elo, berhasil membantunya mendapatkan sebuah permainan yang berhadiah sebuah boneka. 


"Tuan, tadi itu sangat keren, aku melakukan itu beberapa kali tapi tidak berhasil."


"Sudah jangan banyak bicara," sanggah Elo, yang merasa kesal karena ocehan Meisie. 


"Tuan lihatlah," Meisie, berlari ke sebuah penjual aksesoris, dan antusias mengambil sebuah topeng yang mengingatkannya pada masa kecilnya. Meisie, pun mengambil dua topeng untuk di berikannya pada Elo. 


"Tuan, pakailah ini." 


"Aku tidak suka,"


"Tuan," 


"Jangan paksa aku, kau ini seperti anak kecil tahu tidak," hardik Elo, namun Meisie, tidak menghiraukannya. Meisie, malah pergi membeli sebuah gulali besar Elo, hanya memutar bola matanya malas melihat tingkah sekretarisnya yang seperti anak kecil. 


"Tuan, kau mau ini," 


"Tidak,"


"Tuan, kau tahu tidak kenapa aku membeli semua ini? Aku teringat teman masa kecilku, dulu kami sering bermain ke tempat seperti ini, dia membelikanku sebuah topeng, dan kita memakainya bersama. Setelah itu dia juga membelikanku gulali ini, kita memakannya bersama di dalam kincir angin itu." 


Meisie, terus bercerita tentang masa kecilnya, membuat Elo, teringat kembali masa kecilnya dengan Mey. Perkataan Meisie, sangat mirip dan sama percis dengan kenangan masa kecilnya.


Seperti makan gulali, memakai topeng, dan naik kincir. Elo, terus menatap Meisie, yang asik memakan gulalinya, sekilas terbayang wajah Mey, yang imut yang sedang memakan gulalinya saat kecil dulu. 


Melihat Elo, menatapnya Meisie, terus menyuapi Elo, dengan gulali namun Elo, tetap diam dan bergeming. Dan saat Meisie, menarik tangannya Elo, pun tetap diam. Membiarkan tangannya di tuntun oleh gadis yang mengingatkannya pada masa kecilnya. 


Hingga, mereka berada di dalam kincir angin yang berputar memperliharkan ke indahan kota di malam hari. Elo, masih terdiam bayangan masa kecilnya kembali terlintas Elo, kecil dan Mey, yang tertawa renyah di dalam sebuah kincir yang menyerupai sangkar burung. 


Seperti dirinya saat ini, yang berada di dalam kincir angin yang temani Meisie, yang terus tertawa renyah. 


"Mey,"


"Ya!"


...----------------...


Jangan lupa untuk like, vote, koment dan favoritnya ya 🤗


Visualisasi


...Meisie Callia ( Mey )...



...Elon Giedon (Elo,)...



...Sharon...



...Marchelio...



Gambar hanya pemanis ☺ semoga suka dengan visualnya 🥰