
Setahun sudah Mey, menjalani hidup sebagai nyonya Elgideon. Hidup berkecukupan, kebahagiaan, dan cinta yang ia terima, membuat hidupnya begitu sempurna. Namun, kebahagiaannya selama ini tidaklah cukup tanpa hadirnya malaikat kecil di keluarganya.
Mey, masih belum bisa memberikan Elo, keturunan. Walau pun Elo, tidak pernah mempermasalahkannya tetapi Mey, sebagai istri merasa gagal karena belum bisa menghadirkan malaikat kecil di tengah-tengah mereka.
Setiap hari dirinya pergi ke sebuah taman hanya untuk melihat anak-anak yang bermain disana. Kadang Mey, merasa iri saat melihat seorang wanita yang bermain dengan anak-anak mereka. Bercanda, berlari, memangku, hingga makan bersama.
"Apa kau ingin pergi berlibur?"
Ucapan seseorang mengejutkan lamunannya. Saat menoleh ke sumber suara Mey, pun tersenyum melihat Elo, ada disana. Elo, tahu jika istrinya itu selalu pergi ke taman hanya untuk melihat anak-anak disana.
"Sayang kamu ada disini." Mey, langsung memeluk Elo, begitu pun sebaliknya.
"Sepertinya istriku ini butuh liburan. Apa kamu ingin berlibur sayang? Katakan kamu ingin pergi kemana? Kita pergi sekarang."
"Aku tidak butuh liburan. Melihat mereka saja aku sudah senang." Tatap Mey, pada anak-anak disana.
"Apa kau ingin bermain dengan mereka?"
Elo, pun memanggil semua anak-anak yang ada di taman. Rata-rata semua anak berusia 5 tahun ke bawah. Elo, membagikan ice cream pada mereka, hingga membelikan sebuah boneka yang langsung meminta Arkan, untuk membelinya.
Arkan, pun membeli semua boneka yang ada di toko di temani Vika, yang menjadi kekasihnya saat ini. Vika, dan Arkan, pun mengantarkan boneka itu ke sebuah taman dimana keberadaan Elo, dan Mey, sekarang. Mey, begitu puas bisa bermain dengan anak-anak disana.
"Besok kita berangkat ke Vila," ucap Elo, pada Arkan, dan Vika.
"Kita liburan Tuan bos?" tanya Arkan.
"Kamu bisa lihatkan, istriku. Hampir setiap hari dia merenung dan mengunjungi taman ini. Aku ingin menghilangkan semua beban pikirannya, dengsn berlibur semoga itu bisa membuatnya tersenyum."
"Baik Tuan." Arkan, dan Vika, begitu semangat karena akan cuti kerja dan berlibur.
Keesokan paginya mereka pun pergi ke vila keluarga Elgiedon, yang dimana terletak di dekat puncak yang berada di sebuah pedesaan, pemandangan yang hijau nan asri membuat Mey, tersenyum karena bisa menghirup udara segar dan alami.
"Kau senang sayang?"
"Ini indah sekali, lihat sayang disini banyak anak kecil, mereka semua lucu-lucu kapan ya kita akan memiliki anak." Senyum Mey, menciut dirinya kembali sedih saat melihat banyaknya anak-anak disana.
Elo, yang melihat itu langsung memeluk Mey, hangat tidak ingin melihat Mey, terus bersedih karena hal itu.
"Kita akan memilikinya sayang. Setelah sampai di vila, kita buat anak oke sayang," bisik Elo, membuat Mey, malu karena di dalam mobil tak hanya dirinya melainkan ada Vika dan Arkan, yang berada di jok depan.
"Sayang, jangan begini. Tidak enak di lihat Arkan dan Vika."
"Kenapa? Jika mereka mau mereka juga akan berpelukan," ucap Elo, namun terdengar jelas oleh kedua orang di depannya yang kini sedang salah tingkah.
*
*
*
Di tempat lain Madam J berdiam diri dan terlihat melamun. Merasa bersalah karena telah mengusir Siska. Di tengah lamunannya ada seorang pria yang masuk ke dalam kamarnya. Pria itu membisikan sesuatu kepadanya jika ada seseorang yang mencarinya.
"Siapa?"
"Seorang pria."
Madam J pun menemui orang itu, dia seorang pemuda tubuh tinggi dan tampan.
"Siapa kamu? Ada apa mencariku?" tanya Madam, tanpa basa basi. Pemuda itu pun menoleh.
"Saya Marchel," ucap pemuda itu.
"Marchel! Maaf aku tidak mengenalmu," sanggahnya yang langsung berbalik melangkah masuk ke dalam.
"Tante Janet," Madam J pun berhenti saat mendengar Marchel, memanggilnya Janet.
"Siapa kamu? Darimana kamu tahu namaku."
"Sharon, dia yang memberitahuku."
Sehari sebelumnya Sharon, meminta Marchel, untuk mencari ibunya. Saat Marchel, mengunjunginya di lapas Sharon, pun mengatakan jika dirinya memiliki seorang ibu, Sharon, pun menjelaskan semuanya. Tentang siapa ibu kandungnya lalu memberi tahukan namanya Janet.
"Aku tidak butuh bantuanmu untuk keluar dari penjara ini. Tapi aku ingin kamu membantuku mencari seorang wanita yang bernama Janet."
"Janet! Untuk apa? Siapa wanita itu? Apa pentingnya untukmu?"
"Dia ibu kandungku." Marchel, pun terlihat kaget. "Aku ingin tahu dimana dan seperti apa wajah ibuku yang telah meninggalkanku, aku ingin kamu mencarinya." lanjut Sharon.
"Untuk apa kamu cari? Dia sudah meninggalkanmu, dari pada kau mencarinya lebih baik aku bebaskan dirimu,"
"Aku tidak ingin bebas, kecuali dia datang membebaskanku. Aku ingin tahu apa dia masih mengingatku, dan masih menganggapku sebagai putrinya atau tidak."
"Oke, jika itu keinginanmu aku akan menemukannya."
"Aku tunggu."
Janet tertegun mendengar ucapan demi ucapan yang di katakan Marchel. Sharon, dia masih ingat nama putrinya walau pun dia meninggalkannya, tetap saja dia masih mengingat putrinya.
"Dimana dia sekarang?"
"Lapas xxx,"
"Lapas?" Janet terkejut saat mengetahui putrinya ada di sebuah lapas. Bagaimana bisa putrinya di penjara lalu dimana Farhan, yang selama ini membesarkan putrinya.
"Jika kau peduli dan merindukan putrimu datanglah ke lapas xxx, dia menunggumu," ucap Marchel, lalu pergi.
*
*
Sesampainya di vila Mey, beristirahat sejenak. Setelahnya Mey, mengajak Vika, untuk mengelilingi desa. Mey, terpesona dengan keindahan desa yang indah nan asri, sehingga ingin menikmatinya.
Di tengah perjalanan Mey, melihat sekelompok anak kecil yang berlari ketakutan, saat melihat di belakang anak itu ada seorang wanita yang berjalan seraya menutupi wajahnya. Wanita itu terlihat mengunjungi sebuah warung namun, si pemilik warung malah mengusirnya. Padahal wanita itu ingin membeli makanan bukan meminta.
"Permisi," sapa Mey, pada si pemilik warung
"Wajahnya rusak, sepertinya dia penyakitan takut menular."
"Neng mau beli?" tanya pemilik warung Mey, pun membeli beberapa makanan. Setelahnya Mey, pun mengikuti wanita itu.
"Mey, mau kemana?" tanya Vika.
"Tunggu sebentar aku ingin menemui wanita itu."
"Untuk apa?"
"Untuk mengantarkan makanan ini sepertinya dia kelaparan." Mey, terus melangkah hingga akhirnya sampai di dekat wanita itu.
"Tunggu, apa kau belum makan ini untukmu." Wanita itu pun menoleh saat Mey, memberikan sebuah roti padanya.
Mey, sangat terkejut melihat wajah wanita itu. Penuh dengan bintik merah seperti mengidap penyakit menular. Namun, Mey, pun merasa iba karena dirinya pernah mengalami hal yang sama saat semua orang menjauhinya karena wajah buruk rupanya.
"Apa kamu takut melihat wajahku?" ucap wanita itu.
"Kenapa dengan wajahmu apa kau sakit?"
"Seseorang telah sengaja membuat wajahku seperti ini dan juga tubuhku."
"Siapa namamu?"
"Siska,"
"Siska, apa boleh kita bicara? Aku Mey, aku dari jakarta aku kesini sedang berlibur."
Siska dan Mey, pun duduk di sebuah kursi bambu yang terdapat di sisi jalan itu. Mereka berdua cukup lama mengobrol, Siska menceritakan kisah hidupnya hingga sampai seperti sekarang. Mey, yang mendengar kisah hidupnya merasa kasihan.
Kehidupan Siska, tidak jauh dengan kehidupannya.
"Makanlah kamu lapar," ucap Mey, yang memberikan sepotong roti, Siska pun menerimanya.
"Apa kau sudah pergi ke dokter? Atau ke rumah sakit?"
"Tidak ada yang bisa mengobatiku."
'Seandainya brush itu masih ada mungkin aku akan memberikannya pada Siska' batin Mey.
"Siska, ini kartu namaku jika kau membutuhkanku bisa hubungi aku." Mey, memberikan kartu namanya.
"Terima kasih, akan aku simpan ini."
"Aku harus kembali ke vila, kau mau ikut denganku?"
"Tidak! Aku disini saja."
"Baiklah, ini makanan mu ambil saja, untuk bekal mu di hari esok."
"Kamu sangat baik, aku berhutang budi padamu."
"Aku tidak mengharapkan balas imbalmu. Aku pergi dulu." Mey, pun pergi kembali ke vila meninggalkan Siska, sendirian disana.
Siska melanjutkan perjalanannya menyusuri desa, di tengah perjalanan Siska bertemu seorang anak kecil, dia meminta karena kelaparan. Siska yang kebetulan mendapatkan makananmu memberikannya pada anak itu, anak itu pun memberikan sesuatu.
"Ini untuk kakak," ucap anak itu yang memberikan sebuah kantung plastik.
"Apa ini?"
"Ini sebagai tanda terima kasihku karena kakak memberikanku roti. Ambil ini kak, untuk mengobati kulit kakak."
Siska yang mendengar itu pun tertegun. Namun, saat ingin bertanya apa maksud ucapannya anak itu pun sudah pergi jauh.
"Obat kulit! Memangnya ini apa?"
Siska, pun membuka kantung plastik itu yang saat di buka, Siska merasa heran saat melihat barang itu.
"Face brush!"
"Untuk apa brush ini? Apa untuk membersihkan wajahku? Sudahlah aku bawa saja mungkin aku membutuhkannya."
Bersambung
*
*
Sambil nunggu othor up kalian bisa mampir dulu ke novelnya , Rini Sya
Cekidot 👇👇👇
Judul: Penjara Cinta Untuk Stella
Penulis: Rini Sya
Stella ditalak sang suami, usai dia melakukan malam pertama.
Keadaan ini membuat orang tua Stella tidak terima dan mengusir wanita cantik itu dari rumah.
Bukan hanya diusir, Stella juga dihajar hingga hampir kehilangan nyawa.
Beruntung, takdir baik masih berpihak padanya.
Dalam keadaan antara hidup dan mati itu, Stella dipertemukan dengan seorang pemuda baik hati yang diam-diam menaruh hati padanya.
Mungkinkah Stella mau menerima cinta pemuda tersebut? Ataukah dia masih mengharapkan cinta pertamanya🥰🥰
Dari pada penasaran langsung cuss 👇👇