The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Melamar



Dengan gerakan lembut bibir Elo, menciumnya hingga keduanya terhanyut. Lama-lama ciuman itu menjadi panas, dari awal mula hanya mengecap, menggigit, kini Mey, mulai membuka bibirnya perlahan hingga memudahkan Elo, untuk menelusuri setiap inci bibirnya, dan membelit kedua lidah mereka. 


Elo, terus mengecap, menghisap, melvmat bibir itu dengan lembut. Dari awal ciuman pertama kini sudah menjadi candunya. Suasana yang romantis, keadaan taman yang sepi membuat keduanya terhanyut dalam cinta tanpa memperdulikan bintang-bintang, bulan, langit gelap, bahkan dinginnya malam yang menjadi saksi cinta keduanya. 


Dengan perlahan Elo, melepaskan pangutan bibirnya. Jari tangannya mengusap lembut bibir Mey, yang basah lalu mengecup keningnya. Elo, tersenyum menatap Mey, penuh cinta. 


"Ayo, kita nikmati malam ini," ajak Elo, yang menarik tangan Mey. 


"Mau ngapain?" tanya Mey. 


"Menaiki semua wahana disini," jawab Elo, yang terus berlari seraya menuntun tangan Mey. 


Hal yang pertama mereka lakukan adalah menaiki bianglala. Keduanya masuk dan duduk di dalam biang lala atau kincir. Mey, begitu bahagia saat melihat indahnya ibu kota di malam hari. 


"Kau senang?" tanya Elo, yang duduk di hadapannya. Mey, pun hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman. 


"Kau ingat! Saat aku mengajakmu naik bianglala ini kenapa kau menolak?" tanya Mey.


"Kapan?" tanya Elo, balik. 


Mey, masih ingat saat dirinya pertama kali di antarkan Elo, sepulang bekerja. Saat itu Mey, tidak sengaja melihat sebuah pasar malam dan meminta Elo, untuk mengantarkannya kesana. 


Namun, karena Elo, tidak mengizinkan Mey, untuk pergi sendiri dengan terpaksa Elo, pun menemaninya. Dan saat menaiki bianglala awalnya Elo, menolak namun Mey, menarik paksa tangannya untuk menaiki wahana itu. Dari sanalah keduanya mulai dekat dan Elo, jadi teringat masa kecilnya. 


"Kamu lupa? Saat itu kamu mengantarku pulang untuk pertama kali. Dan kita mampir ke sebuah pasar malam membeli gulali dan menaiki bianglala."Elo, tersenyum saat mengingat itu. 


"Dulu kamu sangat kaku dan dingin," cibir Mey, dengan mata yang mendelik. 


"Alasannya karena aku selalu teringat teman masa kecilku. Selalu teringat dirimu." Mey, pun tertegun mendengar semua ucapan Elo. 


"Kesukaanmu memakan gulali, naik bianglala, membeli sebuah topeng itu mengingatkanku pada masa kecil kita. Aku tidak pernah melupakan itu, walau pun sudah bertahun-tahun lamanya," ucap Elo. 


"Kamu tahu, dulu aku sangat sedih saat kamu meninggalkanku. Aku merasa telah kehilangan seseorang yang berharga dalam hidup ku. Jika aku tahu kita akan bertemu lagi mungkin aku tidak akan menangis saat itu. Aku selalu mencarimu Elo." Bulir demi bukir air mata Mey, pun terjatuh jika mengingat masa lalu. 


"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi," ucap Elo, seraya menghapus air mata Mey, dengan lembut. 


"Aku sudah berjanji untuk menjaga dan melindungimu selamanya," lanjut Elo, yang membuat Mey, kembali menangis. 


"Kamu janji tidak akan meninggalkanku lagi?" Elo, tersenyum juga mengangguk sebagai jawaban.


"Kita akan selalu bersama selamanya?" lanjut Mey.


"Tentu, tapi dengan satu syarat." Senyum Mey, langsung menciut saat mendengar ucapan Elo, yang memberikan sebuah syarat. 


"Syarat apa?" 


"Menikahlah denganku." Mey, tercengang bola matanya terbuka lebar saat melihat sebuah kotak cincin di hadapannya. 


"Jadilah istri dan ibu dari anak-anakku. Jadilah teman hidupku untuk selamanya," Lanjut Elo. 


'Apa Elo, melamarku?Benarkah ini, apa aku tidak mimpi?' Mey, terus bergulat dalam hatinya. Dia masih tak percaya dengan apa yang Elo, ucapkan. 


"Apa kamu merasakannya?" tanya Elo, setelah melepas kecupannya. Mey, pun mengangguk pelan. 


"Itu artinya ini bukan mimpi," ucap Elo. 


"Mey, maukah kau menikah denganku?" Elo, kembali mengulangi perkataannya. Kali ini Mey, pun mengangguk pelan. Elo, tersenyum dan langsung menyematkan cincin itu di jari manisnya. 


Isakan tangis pun tidak bisa di tahan lagi, Mey, begitu bahagia juga terharu. Mey, sudah mengetahui jika mereka di jodohkan sejak kecil, tapi … Mey, tidak menyangka jika Elo, akan melamarnya secepat ini. 


Sedangkan Elo, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia hanya akan menikahi wanita yang selama ini sudah menjadi teman di masa kecilnya.


Mey, terus menatap cincin di jari manisnya. Cincin yang sangat indah dan cantik yang terdapat mutiara indah yang menghiasi cincin itu. 


"Jangan di tatap terus, cincin itu tidak akan hilang," cibir Elo, yang tersenyum melihat tingkah Mey, yang seperti baru pertama kali melihat cincin. 


"Ini kamu yang membelinya? Ini sangat pas sekali di jariku. Elo, apa kamu sengaja mengajakku dinner untuk ini? Apa kamu sudah merencanakannya sebelumnya?" Mey, terus bertanya tanpa jeda membuat Elo, bingung harus menjawab yang mana. 


Elo, menghentikan langkahnya begitu pun dengan Mey. Di tatapnya dalam-dalam mata Mey, seraya menyentuh bahunya dengan lembut. "Aku sudah merencanakannya sejak dulu, sejak kita kecil dulu," ucap Elo, kemudian. 


"Aku hanya akan menikahi wanita yang pernah menjadi teman masa kecilku." 


"Benarkah? Apa selama ini kamu tidak pernah berkencan atau tertarik pada wanita lain? Apa kamu tidak pernah jatuh cinta?" tanya Mey. 


"Apa kamu tidak percaya?" 


Cup, 


"Aku percaya." 


Mata Elo, membulat sempurna sekujur tubuhnya mendadak meremang, seperti ada sengatan-sengatan listrik yang menjalar di tubuhnya. Sedangkan Mey, dia langsung berlari setelah mengecup pipinya. 


"Kamu sudah berani sekarang, tunggu aku." Elo, mengejar Mey, yang berlari semakin jauh kini keduanya saling mengejar, bercanda, di area taman. 


Sedangkan di tempat lain, Jil masih menunggu di kediaman Edwin. Jil, duduk santai di sofa yang ada di sebuah ruangan seraya mengayun-ngayunkan kedua kakinya. 


"Apa tidak ada minuman? Apa disini tidak ada air?" teriak Jil, yang kesal karena Edwin, mengacuhkannya bahkan menyuguhkan minuman pun tidak. 


Edwin, yang tersinggung pun berkata "Jija kau ingin minum ambil saja sendiri." Kata Edwin, yang sibuk membaca buku laporan tentang pasiennya. 


"Ish, dasar. Tidak bisakah melakukan tamu dengan baik," gerutu Jil. Yang langsung berjalan untuk mengambil minumnya. 


Jil, berjalan tak tentu arah, niatnya ingin pergi ke dapur malah masuk ke sebuah ruangan yang di penuhi dengan macam-macam jenis hewan. 


Jil, pun melihat sebuah piagam yang terpampang di dinding dengan nama Edwin Albramanta. Jil, pun bisa menduga jika Edwin, seorang medik veteriner atau dokter hewan, karena melihat rumahnya di penuhi dengan hewan. 


"Jadi dia dokter hewan! Pantas saja banyak binatang disini." pikir Jil, yang terus melangkah menelusuri kandang hewan yang ada di sana untuk melihat-lihat. Ada berbagai macam kucing, anjing, dan ada juga sebuah burung. 


Jil, terus melihat-lihat dan mendekati satu persatu kandang itu, karena Jil, sangat menyukai binatang terutama kucing namun Jil, juga takut dengan binatang anjing. Tanpa Jil, sadari sebuah pintu kandang terbuka. 


Seekor anjing yang besar keluar dari kandang itu.