The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Taman Hiburan



"JIL." Elo, mendadak emosi saat Jil, mengatakan 'Keperawanan' mungkin Elo, sudah mengerti apa yang Jil, ucapkan. 


Sedangkan Jil, langsung menutup mulutnya. Lagi-lagi Jil, salah bicara yang sudah mengatakan hal yang tidak-tidak. 


"Maaf," lirih Jil. Namun, Elo, tidak ingin mendengarnya dan langsung menginjak pedal gas, melajukan mobilnya dengan cepat. 


"Kakak kau marah padaku?" Jil, jadi takut saat Elo, tidak bicara padanya sama sekali. Elo, terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. 


"Kak, aku kan sudah minta maaf. Aku tidak ada maksud untuk," ucapan Jil, langsung terhenti saat tiba-tiba mobil yang di naikinya berhenti membuat tubuhnya terdorong ke depan.


"Bisa pelan tidak! Kalau aku kenapa-kenapa gimana?" pekik Jil, namun Elo, tak menghiraukannya. 


"Turun," titah Elo, dengan tegas. Raut wajahnya masih sangat marah. 


"Aku bilang turun," tegas Elo.


"Tapi dimana ini? Ini bukan rumah tante Sarah!" Jil, merasa heran kenapa Elo, menurunkannya di tempat yang salah. 


Karena Jil, tak kunjung turun terpaksa Elo, keluar dari mobil untuk membuka, kan pintu agar Jil, segera turun dari mobilnya. 


"Kakak kau begitu sangat marah padaku, setidaknya kau mengantarkanku sampai rumah," pekik Jil, yang di paksa turun oleh Elo. 


Tak lama kemudian, muncullah seorang pria dari rumah itu. Pria itu sangat mengenali Elo, namun dia tidak tahu jika Elo, ada di depan rumahnya. Hanya saja saat di dalam pria itu mendengar suara keributan di luar. 


"Elo!" ucap pria itu. 


"Edwin, aku titip sepupuku. Nanti Arkan, akan menjemputnya," teriak Elo, pada pria itu yang tak lain adalah Edwin.  Edwin, pun terbelalak mendengar ucapannya bahkan Edwin, bingung kenapa menitipkan Jil, padanya. 


"Elo, apa maksudmu? Memangnya rumahku penitipan barang." Elak Edwin.


"Aku sedang buru-buru. Kau jaga sepupuku sebentar nanti aku akan menyuruh Arkan, untuk menjemputnya." Elo, langsung kembali masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan jedua sejoli yang sama-sama bingung. 


"Elo, tunggu!" teriak Edwin, namun Elo, sudah menjauh. 


"Kau menitipkanku begitu saja. Memangnya aku barang dasar nyebelin," umpat Jil, kesal seraya menghentakan kakinya ke atas aspal. 


Kini, hanya Edwin dan Jil. Edwin, mencovs mendekat berjalan ke arah Jil, sedangkan Jil, masih diam seraya melipat kedua tangannya di bawah dada. 


"Siapa namamu tunggu saja di dalam," ujar Edwin, yang belum melihat bagaimana rupa wajah Jil.


Hingga saat Jil menoleh, keduanya sama-sama terkejut hingga membulatkan bola matanya sempurna. "Kau!" ucap mereka kompak. Yang sama-sama tercengang. 


Jil, ternyata wanita yang menabrak mobilnya saat itu. Hingga melempar uang ke wajahnya untuk ganti rugi. Perdebatan sengit antar keduanya setelah insiden tabrak menabrak itu membuat Edwin, kesal karena Jil, yang tak menyadari kesalahannya malah menbentaknya. 


'Kenapa ada laki-laki ini' batin Jil. 


'Wanita ini jadi dia sepupunya Elo' batin Edwin. 


Keduanya cukup lama terdiam dalam pikirannya masing-masing. Hingga akhirnya Edwin, pun melangkah masuk ke dalam rumahnya tanpa mengajak atau menghiraukan Jil, sama sekali.


''Ist …dia mengacuhkanku," umpat Jil, kesal. 


"Hey, Tuan kau tidak memintaku masuk, apa ini cara kau memperlakukan seorang tamu" teriak Jil. 


"Aku tidak mengundangmu datang. Bukankah kau datang sendiri," teriak Edwin, dari dalam rumahnya. Jil, semakin kesal sehingga ingin memukulnya tapi itu tidak mungkin, karena Edwin tak berada di dekatnya. 


"Laki-laki macam apa dia, meninggalkan seorang wanita di luar seperti ini." Jil, terus menggerutu seraya memainkan ponselnya untuk menghubungi Elo, lagi. Berharap Elo, akan kembali menjemputnya. 


"Apa kau akan diam saja hah!" Jil, mendelik menatap sinis pada Edwin, yang berdiri di ambang pintu. 


"Menurutmu!" ketus Jil. 


"Kau bisa jalan sendiri, kan! Jika kau ingin masuk masuklah. Jika tidak ya sudah! Aku akan menutup kembali pintu rumahku, kau tunggu saja di sana sampai ada yang menjemputmu."


"Kalau aku tunggu disini, bisa pegel kakiku terus berdiri. Tapi jika masuk … malu banget, masa iya aku harus masuk ke rumah pria itu." Jil, masih menimbang-nimbang antara masuk atau tidak, namun akhirnya Jil, pun masuk karena takut jika harus berdiri di jalanan yang sepi apalagi di malam hari. 


"Eh, tunggu aku akan masuk." Jil, berteriak seraya berlari saat Edwin, akan menutup pintunya. 


****


Elo, sudah sampai di sebuah taman hiburan. Sebuah taman hiburan yang besar yang sengaja ia sewa karena ingin mengajak Mey, untuk mengenang masa kecilnya. 


Di depan sana terlihat Arkan, sedang menunggu kedatangannya. Arkan, pun menyambutnya saat Elo, berjalan ke arahnya. 


"Dimana Mey?" tanya Elo, saat sudah mendekat. 


"Ada di dalam Tuan," jawab Arkan, sopan.


"Terima kasih Arkan, kamu sudah membawa Mey, ke tempat ini dengan selamat. Oh ya, setelah ini kau jemput Jil, di rumahnya Edwin." Arkan, terlihat heran, kenapa Jil, ada di rumah Edwin. 


"Jangan bertanya kenapa kau jemput saja dia."


"Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi." Arkan, pun pamit pergi. 


Mey, terlihat sedang menunggu di tengah taman yang cukup sepi karena taman hiburan itu tidak ada satu pengunjung pun. Mey, hanya melihat-lihat aneka macam wahana permainan yang cukup mengerikan karena keadaan yang sepi. 


"Elo, dimana sih! Kenapa harus bertemu di tempat yang sepi begini sih! Aku jadi takutkan, aduh merinding lagi." Keadaan taman hiburan yang sepi membuat dirinya takut karena keadaan taman tanpa penghuni. 


Di saat dirinya ketakutan tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya membuat pikirannya berkelana ke arah mistis dan membuatnya takut hingga menjerit dan hampir terjatuh. Beruntung Elo, menahan tubuhnya dengan tangan kekarnya, sehingga Mey, jatuh ke dalam pelukannya. 


"Elo," 


"Ada apa? Kenapa kau berteriak?" 


"Abis kamu mengagetkanku saja. Aku pikir kamu hantu." Elo, tergelak mendengar ucapan Mey, baginya ucapan Mey, sangat lucu. 


"Kenapa ketawa tidak lucu tahu!" pekik Mey, yang langsung melepaskan pelukannya. 


"Maaf, jika aku menakutimu." 


"Lagian kenapa sih, kamu mengajak ku ke tempat sepi begini." 


"Sudahku bilang, untuk mengenang masa kecil. Kamu masih ingat pasar malam yang selalu kita kunjungi? Kita naik kincir angin, ayunan, dan semua wahana yang ada disini itu mengingatkan kita akan masa kecil." 


"Tapi kenapa harus saat tutup seperti ini." 


"Karena aku hanya ingin ada kita berdua tanpa ada orang lain yang mengganggu kita." Mey, kembali melayang dengan ucapan Elo, yang romantis seperti itu. 


"Hanya kita berdua!" 


Jantung Mey, mulai berdegup kencang saat Elo, mulai menarik tubuhnya mendekapnya dengan hangat, hingga wajah keduanya begitu dekat bahkan hembusan nafas pun begitu terasa  


Mey, mulai menelan salivanya di saat wajah Elo, mulai mendekat bahkan bibir mereka pun sudah sangat dekat. Debaran jantung semakin kuat, tangan Mey, semakin erat mencengkram kuat punggung Elo, yang sedang di peluknya. 


Perlahan-lahan Mey, pun mulai menutup matanya seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Seperkian detik sentuhan hangat dan dingin, dari sebuah benda kenyal mendarat pada bibir ranumnya. Tangannya semakin mencengkram kuat pegangannya. 


Dengan gerakan lembut bibir Elo, menciumnya hingga keduanya terhanyut. Lama-lama ciuman itu menjadi panas, dari awal mula hanya mengecap, menggigit, kini Mey, mulai membuka bibirnya perlahan hingga memudahkan Elo, untuk menelusuri setiap inci bibirnya, dan membelit kedua lidah mereka. 


Elo, terus mengecap, menghisap, melvmat bibir itu dengan lembut. Dari awal ciuman pertama kini sudah menjadi candunya. Suasana yang romantis, keadaan taman yang sepi membuat keduanya terhanyut dalam cinta tanpa memperdulikan bintang-bintang, bulan, langit gelap, bahkan dinginnya malam yang menjadi saksi cinta keduanya. 


...----------------...


Uhhh ... Elo, buat aku baper 😘