
Hasil akhir sidang sangat mengecewakan bagi Mey. Karena tidak adanya saksi dan tidak adanya bukti, membuat Farhan, sulit untuk di jatuhi hukuman.
Kembali ke beberapa jam sebelumnya.
Sidang di mulai, pengacara Andre, pun menjelaskan tuntutan kliennya, atas kematian Jimmy, beberapa bulan lalu, Andre, pun memperlihatkan sebuah rekaman cctv, tentang kecelakaan itu, namun semua itu di bantah oleh Rizal, selaku pengacara Farhan.
"Saya keberatan hakim," ujar Rizal.
"Silahkan jelaskan alasannya," ujar hakim.
"Ini seperti tuduhan untuk klien saya. Karena rekaman itu tidak menunjukan jika klien saya membunuh atau pun menabrak mobil korban. Sudah terlihat itu mobil bukan milik klien saya, dan itu murni kecelakaan bukan kesengajaan. Dengan begitu saya sebagai pengacara sangat keberatan." jelas pengacara itu.
"Maaf hakim, izinkan saya bicara," sanggah Andre.
"Baik silahkan," ujar Hakim.
"Mobil ini memang bukan milik tersangka, tetapi tersangka sudah merencanakan kecelakaan itu, dan ini termasuk pembunuhan berencana. Tersangka meminta, membayar supir mobil truk tersebut untuk menabrak mobil yang di gunakan korban."
"Apa ada bukti? Atau saksi? Jika tidak, klien saya tidak bisa dinyatakan sebagai pembunuh," sanggah Rizal.
"Disini kalian bisa lihat." Andre, membuat vidio itu berjalan slow menjadi lebih pelan, hingga terlihat jelas jika mobil truk itu dengan sengaja melajukan arah kemudinya ke mobil Jimmy.
"Disini sangat jelas, mobil itu memang berniat untuk menabrak mobil di depannya. Mobil truk itu melaju di sisi kanan, sedangkan mobil sedan melaju di sisi kiri, sudah jelas arah mereka pun berbeda," jelas Andre
"Jalanan sangat lelang dan sepi, tidak ada pengendara lain yang melintas saat itu. Tapi kenapa mobil truk itu membanting stirnya ke arah kiri, dan ini sangat jelas mobil truk itu menabrak dari depan."
Dalam seketika suasana pun jadi hening. Ada yang membenarkan perkataan Andre, tetapi ada juga yang menganggap itu kecelakaan.
"Anda tidak bisa menuduh klien saya begitu saja," bantah Rizal.
"Pak hakim, saya keberatan atas tuduhan ini. Semua rekaman itu tidak bisa di jadikan bukti, karena belum tentu klien saya terlibat di dalamnya. Pertama, itu hanya rekaman kecelakaan lalu lintas biasa, sudah umum jika kecelakaan itu terjadi. Bisa saja supir itu mabuk hingga lepas kendali. Kedua, dengan sengaja mereka menuduh klien saya atas kecelakaan itu sedangkan, tidak ada bukti yang menguatkan klien saya bersalah. Dan ketiga, bisa saja mereka memanipulasi kejadian perkara tersebut."
Panjang kali lebar Rizal, berkata membela klienya Farhan, yang tidak bersalah. Dan malah menuduh pihak penuntut yang memanipulasi kejadian perkara. Mey, yang mendengar itu sangat geram namun Elo, selalu menenang, kannya untuk tetap tenang.
Andre kembali berkata
"Pak hakim, saya izin tolong berikan waktu untuk saya mencari bukti yang lebih akurat," ujar Andre, namun di sanggah lagi oleh Rizal.
"Bukti apa lagi tuan Andre, semua sudah jelas, bahwa klien mu hanya mengada-ngada. Dia sudah menuduh klien saya." Rizal tersenyum sinis, lalu duduk dengan bangganya.
"Saya janji, saya akan membawa saksi itu."
Para hakim pun berdiskusi untuk mempertimbangkan keinginan Andre, hingga akhirnya mereka pun setuju.
"Baiklah, kami izinkan, tapi hanya sampai sidang kedua. Apa saudara siap?" ujar hakim yang memberikan pertanyaan.
"Saya siap," jawab Andre, seraya menunduk hormat. Sedangkan Rizal, hanya tersenyum sinis.
"Baiklah sidang kami tunda." Hakim pun kembali mengetuk palunya tiga kali. Sidang pun di tutup dan akan di lanjut di sidang berikutnya.
Para hakim, pun bubar juga semua orang yang ikut melihat persidangan itu.
Farhan, kembali di bawa ke sel, namun sebelum pergi Farhan, berpapasan dengan Mey, saat di luar. Mereka pun berbincang sebentar.
"Kamu tidak akan menemukan bukti apa pun. Percuma saja kamu memasukanku ke dalam penjara," ucap Farhan, dengan bangga.
"Jangan senang dulu paman, keadilan akan datang. Mungkin tidak saat ini, tapi lihat nanti. Paman, tidak akan mudah di bebaskan, lebih baik persiapkan diri paman untuk kasus selanjutnya."
Farhan, mengerutkan keningnya, dia tidak tahu apa yang di maksud dengan ucapan Mey. Karena yang Farhan, tahu hanya inilah kasus satu-satunya tidak ada yang lain.
"Kasus apa?" tanya Farhan, dengan sedikit tegas.
"Apa paman lupa, semua kejahatan yang paman lakukan! Coba ingat paman berapa banyak nyawa yang telah kau bunuh," ujar Mey, membuat Farhan, semakin dibuat bingung.
"Istirahatlah, paman. Karena nanti paman tidak akan bisa tenang," ujar Mey, lalu melangkah pergi.
****
Semua orang kembali berkumpul di ruang sidang, sidang yang pertama untuk kedua kalinya. Pintu utama pun terbuka lebar. Terlihat seorang tahanan wanita yang berdiri di ambang pintu dengan borgol yang melingkar di pergelangan tangannya.
Dengan wajah yang pucat dan rambut yang kusut, itulah Sharon, keadaannya sangat kacau, dengan wajah yang penuh luka lebam, karena seringnya berkelahi dengan para napi lainnya.
Dengan langkah lambat, Sharon memasuki ruangan sidang. Langkahnya pun terhenti saat melihat wajah Mey, di samping kirinya. Mey, yang melihat keadaan Sharon, pun cukup terkejut, wajah yang penuh dengan luka membuat dirinya merasa iba, tapi jika mengingat kembali kematian Tini, membuat rasa iba itu menjadi benci. Mey, pun hanya bisa memalingkan wajahnya tak sanggup jika terus menatapnya.
"Kenapa? Kau jijik melihatku hah!" tanya Sharon, saat melihat Mey, memalingkan wajahnya.
"Menurutmu!" jawab Mey, saat menoleh menatap Sharon. Sharon, tersenyum sinis.
Mey, hanya membalas dengan senyuman
"Kenapa apa yang akan kau lakukan jika bebas? Kau akan meracuniku? Seperti kau meracuni nenekku? Aku tidak takut dengan ancamanmu," tegas Mey. "Asal kau tahu, kau belum tentu di bebaskan. Apa kau tahu, hukuman bagi seorang pembunuh itu hukuman mati," bisik Mey, tepat di telinga Sharon.
"Jadi, jangan terlalu berharap," lanjut Mey.
"Sebelum itu terjadi, aku akan bebas dari tempat ini," balas Sharon.
"Berdoa saja," ucap Mey, membuat Sharon geram dan ingin memukulnya. Tapi, keadaan tangan yang di borgol tidak mampu untuk bergerak.
"Ku ingatkan, jangan sering berkelahi, nanti wajahnya jadi buruk rupa," cibir membuat Sharon, semakin kesal. Namun, Sharon, tidak bisa melakukan apapun selain menatapnya tajam.
Sharon, pun di bawa ke depan hakim untuk di introgasi. Setelah Sharon, duduk di kursi panasnya hakim pun segera memulai sidangnya.
****
Di tempat lain Farhan, tidak bisa tenang setelah mendengar perkataan Mey. Dirinya masih memikirkan perkataan itu.
"Jangan senang dulu paman, keadilan akan datang. Mungkin tidak saat ini, tapi lihat nanti. Paman, tidak akan mudah di bebaskan, lebih baik persiapkan diri paman untuk kasus selanjutnya"
Perkataan itu sungguh mengganggunya. Farhan, sangat penasaran dengan kasus apa yang mengancam hidupnya. Farhan, pun takut jika supir yang dia perintahkan saat itu membuka mulut dan menjadi saksi di sidang kedua.
Farhan, tidak akan membiarkan itu terjadi, dirinya pun menghubungi seseorang lewat telepon yang di sediakan di kantor polisi. Namun, beberapa kali Farhan, menekan tombol angka tidak kunjung ada jawaban. Farhan, pun semakin tidak tenang dan ketakutan.
'Tidak mungkin dia datang. Aku sudah mengirimnya pergi. Dan tidak mungkin dia di temukan' batin Farhan, yang masih berdiri di depan telepon.
...----------------...
Kira-kira bagaimana ya sidangnya Sharon! Duh jadi ikut deg-degan.
...----------------...
Hai readers, othor punya novel rekomended lagi nih, kali aja lagi nungguin othor up dari pada bosan mending baca novelnys temen thor yuk! Insya Allah, banyak sekali pelajaran yang di dapat di dalamnya. Othor kasih cuplikannya deh
Cuplikan di Bab: SEBUAH KEAJAIBAN.
Sesuai kesepakatan keesokan harinya, Dhanu dan Salwa pun menikah walaupun pada awalnya sangat sulit mengajarkan Dhanu untuk berijab qobul, dan selalu salah karena keterbatasannya. Namun kyai Zainal dengan sabarnya tetap membimbing Dhanu hingga pada akhirnya mereka di nyatakan sah!, oleh para saksi.
"Sekarang Wawa udah jadi istri Adan yaa.?" tanya Dhanu saat Salwa membawa Dhanu ke kamarnya, setelah tadi mereka menyaksikan kepergian Dharma yang tadi sempat menitipkan Dhanu pada Salwa dan Kyai Zainal.
"Iya mas Ardhan, sekarang Wawa, udah jadi istrinya Mas Ardhan." jawab Salwa lembut.
"Horree..horree..Adan sekarang punya istri.." sorak Dhanu sambil berjingkrak-jingkrak kesenangan, bak anak kecil yang baru mendapatkan hadiah.
Salwa tersenyum lucu melihat tingkah suaminya yang seperti anak-anak itu. " jangan loncat-loncat Mas nanti kamu jatuh." ujar Salwa dengan lembut.
"Iya Wawa, Adan nggak loncat lagi kok, tapi nanti kita main mobil-mobilan ya?" balas Dhanu dengan wajah polosnya.
"Iya Mas, nanti kita main mobil-mobilan ya." balas Salwa dengan senyum manisnya. " Tapi sekarang mas Ardhan bobo dulu ya," lanjutnya dengan nada lembutnya.
"Baiklah Wawa, Adan sekarang mau bobo, tapi Wawa jangan pergi ya?"
"Iya Mas, Wawa nggak kemana-mana kok."
"Asyiiik, ya udah deh Adan sekarang bobo, ya Wawa." kata Dhanu yang kemudian ia pun mulai memejamkan matanya
"Iya Mas, " balas Salwa masih lembut, namun baru saja Dhanu memejamkan matanya, ia sudah kembali membuka matanya lagi
"Wawa, Adan nggak bisa bobo, kalau nggak di giniin kepalanya Adan, kalau di rumah Bi Ijah giniin kepala Adan Wawa," kata Dhanu dengan wajah polosnya, sambil ia mengusap rambutnya sendiri dari kata giniin.
"Oh baiklah, sekarang Wawa usap-usap kepala Mas Adhan ya."
"Hu'um" balas Dhanu, yang kemudian ia kembali memejamkan matanya setelah Salwa membelai-belai lembut rambut Dhanu, sambil dia bersholawat, membuat Dhanu senang mendengarnya.
Begitulah keseharian mereka setiap harinya, walaupun Dhanu tahu kalau Salwa adalah istrinya. Namun ia memperlakukan Salwa hanya seperti teman bermain baginya, begitu juga dengan Salwa, yang dengan sabarnya ia mengurus dan menemani Dhanu bak seorang ibu yang mendidik anaknya. Hingga pernikahan mereka berusia dua minggu, sebuah keajaiban pun datang pada Dhanu.
Di dalam tidurnya Dhanu ia bermimpi bertemu seorang kakek-kakek, berjubah putih, serta memakai sorban putih, lalu sang kakek meletakkan tangannya di dahi Dhanu yang terlihat bingung melihat sang kakek, namun itu hanya sesaat karena tiba-tiba Dhanu melihat masa lalunya, dan ia juga melihat kejahatan sang tante yang menyebabkan kematian orang tuanya serta saudaranya, membuat hatinya menjadi sedih, bercampur dengan kemarahan.
"Sekarang kamu sudah sembuh nak, lakukanlah yang terbaik, untuk keluarga mu, juga selamatkanlah harta kamu, dan bawalah kejalan kebaikan."
Dari pada penasaran langsung aja yuk kunjungi novelnya 👇👇