The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Terpesona



Cukup canggung mungkin yang di rasakan Mey, dan Elo, saat ini. Setelah 10 tahun berpisah akhirnya mereka kembali bertemu. Kini keduanya duduk santai di tengah taman, setelah berpelukan hanya ada keheningan di antara mereka. 


Mungkin masih tak percaya rasanya, jika Tuan bosnya adalah Elo, teman kecilnya. Tuhan sudah mempertemukan mereka berdua, namun keduanya belum menyadari saat itu. Rencana Tuhan, begitu baik, keduanya selalu di pertemukan, hingga menjadi dekat dan akhirnya kebenaran pun terungkap. 


"Bagaimana kabarmu selama ini?" tanya Elo, yang memecah keheningan.


"Baik, kenapa kamu pergi saat itu? Aku memanggilmu, berlari mengejarmu tapi mobilmu terus saja melaju." Mey, masih ingat betul kapan terakhir kali mereka bertemu.


 Di taman ini Mey, kecil yang terus memanggil Elo, yang di tarik paksa oleh ayahnya memasuki sebuah mobil yang lalu melaju pergi meninggalkannya. Tanpa menghirau, kan panggilannya yang memanggil namanya seraya berlari. 


"Maaf, saat itu aku tidak bisa berbuat apa-apa. Papa memintaku pergi." Elo, menunduk merasa menyesal. "Aku tidak menyangka kamu adalah Mey, seharusnya aku menyadarinya saat itu." Elo, tersenyum hambar. 


"Mungkin ini rencana Tuhan. Aku tidak menyangka sekarang kau menjadi orang sukses, bahkan sekarang kau adalah bosku. Tapi kau begitu dingin, dan menakutkan." 


"Aku menakut, kan!" Elo, mengerut, kan keningnya.


"Ya! Kau begitu galak apa kau tidak ingat pertama aku bekerja, kau memarahiku, menyuruhku untuk berlari sepanjang 15 meter, kau sangat keterlaluan." Mey, memonyong, kan bibirnya membuat Elo, tertawa renyah. 


"Jika aku tahu itu kau aku tidak akan menurut. Kau tidak tahu seberapa lelahnya aku, kakiku begitu pegal bayang, kan saja 15 meter itu jarak yang begitu jauh kau menyiksaku saat itu." Mey, menggerutu seraya mengerucut, kan bibirnya. Elo, semakin tertawa.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Kau akan membalasku?" tanya Elo, sedikit menggoda. Mey, pun menatapnya penuh ancaman.


"Baiklah, sebagai gantinya kau harus menggendongku sepanjang 15 meter." Mata Elo, terbuka lebar. Bayangkan saja dia menggendong Mey, sepanjang 15 meter. 


"Apa tidak ada permintaan lain?" 


"Tidak ada," ketus Mey.


"Mungkin kau ingin jalan-jalan aku akan membawamu jalan-jalan, atau belanja kau ingin belanja apapun aku akan membelikannya." Elo, terus menawarkan beberapa tawaran yang mungkin semua gadis akan menyetujuinya namun tidak dengan Mey, yang tetap dengan keinginannya. Terpaksa Elo, pun menyetujuinya. 


Seorang Elon Giedon Rakka Mahendra, pemilik El Gideon Industri, yang terkenal dingin, cuek, dan galak. Namun, kali ini seorang Elo, takut dengan ancaman seorang gadis yang membuatnya harus menuruti keinginan gadis itu yang harus menggendongnya. 


Sepanjang jalan, Mey, tersenyum renyah yang saat ini sedang berada dalam gendongan seorang CEO ternama dan paling di takuti. Elo, hanya memasang wajah kesalnya sepanjang jalan. 


"Kenapa berhenti ini baru 5 meter," pekik Mey, yang merasakan langkah Elo, terhenti. 


"Tubuhmu sangat berat, sampai sini saja," 


"Tidak mau, masih ada 10 meter lagi." Elo, hanya menghela nafas, baru kali ini ada orang yang melawan keinginannya. 


"Baiklah, tapi turun dulu sebentar," 


"Untuk apa?" 


"Sebentar saja nanti ku gendong lagi." Mey, pun terpaksa turun. 


Elo, membuka jas nya yang selalu membuatnya terlihat gagah. Membuat penglihatan Mey, sedikit terbuka karena melihat ketampanan Elo, yang tiada tara. Setelah membuka jasnya Elo, melonggarkan sedikit dasinya untuk membuka satu kancing kemejanya membuat Mey, menelan salivanya karena terkagum-kagum dengan tubuh se×y sang bos. 


Tak hanya sampai disitu, mata Mey, kembali di manjakan dengan tangan kokoh dan berotot milik bosnya, saat Elo, melipat, kan lengan kemejanya. Sungguh mempesona auranya begitu kuat, peluh keringat yang bercucuran, rambut yang sengaja di buat berantakan membuat Mey, semakin terpesona melihatnya.


'Ya tuhan, tampan sekali' batin Mey, yang masih melongo melihat ketampanan Elo, entah bagaimana kabar jantungnya saat ini.


"Ah." Mey, terkejut saat tubuhnya tiba-tiba tertarik. Mey, kembali menelan salivanya saat Elo, mengikat, kan jas miliknya pada pinggang rampingnya. 


Elo, terlihat santai dan biasa saja tapi tidak dengan jantung Mey, yang saat ini berdetak begitu cepat apalagi saat wajahnya begitu dekat dengan wajah bosnya hembusan nafas, pun begitu terasa. 


'Mey, kendali, kan dirimu oh tuhan ... ada apa dengan jantungku.' Mey terus bergumam dalam hatinya. Kedua pipinya terlihat mengembung, sesekali menghumbaskan nafasnya. Jika di tanya apa kabar jantungnya saat ini mungkin detakan jantungnya lebih cepat dari lari maraton. 


"Ayo, naiklah!" Suara Elo, membuyar, kan lamunannya. Kini netranya beralih menatap Elo, yang sudah berjongkok di bawahnya seolah sudah siap untuk memikul berat badannya. 


Mey, masih terdiam membuat Elo, menoleh ke arahnya. "Kenapa diam? Katanya mau di gendong," ucapnya demikian.


"Ah, tidak jadi." Mey, berjalan mendahului nya langkahnya begitu tergesa-gesa. Elo, hanya menatap kepergian Mey, dengan heran.


"Ada apa dengannya tadi minta di gendong sekarang malah jalan," gumam Elo, seraya beranjak dari jongkoknya, mengkuti Mey, dari belakang. 


Mey, terus berjalan tanpa henti. Jangan di tanya hatinya saat ini langkahnya sudah menjadi bukti bahwa hatinya sedang tidak baik-baik saja. Mey, menghentikan langkahnya di bawah pohon beringin untuk berteduh seraya menetralkan detak jantungnya. 


Saat dirinya sedang duduk seraya menetralkan detak jantungnya tiba-tiba Elo, datang mengejutkannya. Tubuhnya berjongkok seraya menunduk hingga wajahnya berhadapan langsung dengan wajah Mey, membuat pipi Mey, merah merona.


"Mm … ini, mungkin karena kepanasan jadi memerah," jawab Mey, seraya menyapu peluh keringat di wajahnya dengan punggung tangannya. 


Elo, tersenyum melihat Mey, menyapu peluh keringatnya seperti sedang kelelahan. Dengan gerakan lembut Elo, membantu Mey, mengusap keringat dengan tangannya. 'Oh tuhan … ujian apa lagi ini, bisa tidak jangan dekat-dekat' gumam Mey, dalam hati. 


Tiba-tiba Elo, mendapat sebuah telepon mengharus, kannya untuk menjawab panggilan itu. Elo, pun menjauh untuk mengangkat teleponnya membuat Mey, menjadi lega. Setidaknya hatinya saat ini bisa lebih tenang tak berdebar seperti sebelumnya. 


Cukup lama Elo, berbicara pada sambungan telepon hingga akhirnya selesai. Elo, menutup teleponnya lalu kembali pada Mey. 


"Dari siapa?" tanya Mey, 


"Arkan," jawab Elo. 


"Ada apa? Apa ada masalah?" 


"Kebakaran kemarin malam itu murni kesengajaan. Dan, kamu tahu siapa dalang dari semua ini? Marchel, pria yang hampir memperkosamu." 


"Laki-laki itu? Untuk apa dia melakukan itu?" 


"Entahlah," 


"Lalu bagaimana dengan perusahaan?" 


"Lumayan rugi besar, dan aku harus membangun ulang kembali perusahaanku. Tapi, tidak masalah aku bisa mengatasinya." 


"Mengingat kebakaran aku jadi teringat kebakaran masa laluku, yang juga karena di sengaja." 


"Kamu tidak ingin mencari tahu siapa dalang dari semuanya? Dan perlu kamu tahu kematian pak Jimmy, juga bukan murni kecelakaan." 


"Maksudnya? Ada seseorang yang ingin membunuhnya?" Mey, menatap Elo, seolah mencari jawaban. Elo, hanya mengangguk. 


"Kemungkinan orang itu sama dengan orang yang telah membakar rumahmu saat itu," sambung Elo.


Mey, jadi teringat mimpinya yang bertemu papanya yang saat itu mengatakan dan berpesan untuk selalu berhati-hati padanya karena banyak orang yang ingin mencelakainya. 


**** 


Mey, begitu lelah dan langsung merebah, kan tubuhnya di atas kasur empuknya. Namun, rasa lelahnya bertabur bahagia karena telah bertemu dengan teman kecilnya yang ternyata Bosnya sendiri.


Mey, terus melamun seraya tersenyum-senyum membayang, kan kembali wajah tampan bosnya membuatnya terpesona. Tiba-tiba Vika, datang mengejutkannya membuat Mey, tersadar dari lamunannya.


"Mey," seru Vika, seraya menekan tempat tidurnya membuat tubuh Mey, goyah. 


"Vika, kau mengaget, kan ku saja." Mey, bangun dari tidurnya.


"Mey, kamu tahu apa yang aku bawa?" ucap Vika, dengan tatapan mendelisik.


"Apa?" tanya Mey, datar.


"Tara …." Vika, mengayunkan sebuah brush di tangannya, membuat mata Mey, membulat sempurna.


Saking bahagianya Mey, langsung mengambil brush itu dengan memeluknya.


"Ini brushku, kan! Kau mendapat, kannya?" Mey, begitu bahagia.


"Tentu," jawab Vika, yang langsung duduk di samping Mey.


"Semudah itu kau mendapat, kannya?" Mey, merasa heran. Namun Vika, hanya tersenyum licik.


****


Apa yang Vika, lakukan? 


Bagaimana pertemuan Vika, dan Sharon, tadi? 


Jangan lupa untuk like, komen, vote, favorit dan rate ⭐5 ya sayang 💖