
Mey, berlari cepat menuju toilet hanya beberapa menit saja Mey, pun keluar dari dalam toilet. Rasanya lega setelah satu jam menahan sakit perutnya yang ingin buang air kecil. Mey, berniat pergi untuk kembali nonton tiba-tiba seseorang menarik tangannya saat keluar dari dalam toilet.
Orang itu langsung membekapnya, Mey, yang masih sadar pun berontak, dengan sigap Mey, menggigit tangan kekar pria itu hingga melepas, kan bekapannya. Mey, pun berlari namun pria itu langsung mengejarnya.
Mey, tidak tahu bahwa ada yang mengikutinya saat dirinya keluar dari rumah. Seorang pria terus memantau pergerakan Mey, dia mengikuti Mey, pelan-pelan. Saat Mey, masuk ke dalam bioskop pun pria itu mengikutinya dan duduk di belakang Mey, saat Mey, keluar pria itu ikut keluar mengikuti Mey, sampai depan toilet.
Setelah menunggu lama, pria itu pun langsung menarik tangan Mey, saat keadaan toilet begitu sepi.
Mey, begitu ketakutan karena pria itu terus mengikutinya, namun Mey, salah langkah dia malah melangkah menuju basement, yang keadaannya begitu sepi hanya ada mobil-mobil yang berjajaran.
Mey, bersembunyi di balik mobil-mobil yang sedang terparkir, dirinya berjongkok dan terus berjalan mengendap sebisa mungkin menghindari pria itu. Pria itu mengedar, kan pandangannya ke setiap sudut, dengan sedikit melangkah, kan kakinya.
Mey, begitu gemetar dan takut entah siapa pria itu, yang tiba-tiba menarik tangannya. Mey, masih berdiam diri di belakang sebuah mobil LAMBORGHINI yang terparkir paling ujung. Dengan bersandar pada mobil Mey, menutup kedua matanya untuk menenang, kan dirinya. Langkah pria itu semakin mendekat bahkan posisinya kini berada di depan mobil itu.
Mey, semakin ketakutan saat pria itu terus melangkah karena Mey, melihat langkah kakinya dari bawah mobil. Mey, terus mundur dan berpindah ke sisi kiri karena sebelumnya Mey, berada di sisi kanan. Saat dirinya sampai di depan pintu mobil seseorang menariknya masuk ke dalam mobil itu, membuat Mey, terkesiap dan akan berteriak.
Namun orang yang menariknya itu langsung menutup mulutnya, hingga akhirnya Mey, pun diam.
"Jangan berisik, kau aman disini," ucap orang itu yang tak lain seorang pria.
"Siapa kau?" tanya Mey, dengan nada bergetar. Takut jika pria itu akan melakukan hal jahat padanya. Tiba-tiba pria itu mendorong tubuhnya hingga menindih tubuh Mey, kini tubuh keduanya saling berdekatan hanya jarak beberapa centi saja.
Mey, semakin ketakutan jika pria itu akan memperdayanya, menggaulinya, hingga Mey, pun berteriak seraya memukul dada bidang milik pria itu, teriakan Mey, terdengar hingga ke luar membuat pria jahat itu menoleh ke arah mobil di sampingnya.
"Kamu mau apa, tolong … tolong,"
"Mey, ini aku. Jangan berisik orang itu nanti mendengar,"
"Siapa kamu, lepaskan tolong …" Karena Mey, tidak berhenti berteriak terpaksa pria itu membungkam mulutnya. Mey, pun terdiam saat bibirnya terasa dingin, bahkan sampai menjalar ke seluruh tubuhnya. Pria itu mendarat, kan bibirnya pada bibir Mey, membuat Mey, diam dan suara itu pun menghilang.
Di luar sana pria jahat itu pun menjauh dari mobil merasa tidak mendengar suara Mey, lagi pria jahat itu pun akhirnya pergi.
Di dalam mobil suasana jadi hening, tidak ada lagi teriakan dari Mey. Beruntung kaca mobilnya gelap jadi pria jahat itu tak melihat Mey, ada di dalam mobil itu.
Setelah merasa aman dan pria itu pun sudah pergi, pria yang bersama Mey, pun melepas, kan tautan bibirnya walau sebenarnya masih ingin lebih lama lagi menaut, kan bibir itu.
Plak,
Satu tamparan mendarat di pipi pria itu, Mey, merasa sudah di leceh, kan karena pria itu sudah berani menciumnya. Mey, tidak tahu bahwa pria itu adalah Elo, karena keadaan di dalam mobil sangat gelap Elo, sengaja mematikan lampunya agar tidak terlihat dari luar.
"Maaf, aku terpaksa melakukan itu agar kau diam. Kau tahu orang itu hampir saja mendekat dan mengetahui keberadaan mu." Elo, memegang pipinya yang memerah karena tamparan Mey, yang terasa perih. Elo, mundur perlahan lalu duduk di bagian kemudi, setelahnya Elo, pun menyalakan lampu mobilnya.
"Apa kau akan tetap seperti itu!" Elo, melihat Mey, masih diam dan terlentang. Mey, masih terkejut mendapat serangan mendadak dari bosnya itu.
"Elo, itu kau." Mey, terkesiap saat melihat wajah Elo, Mey, jadi tidak enak hati setelah menamparnya. Mey, pun bangun dan duduk di samping Elo.
Sebelumnya, Elo, merasa bosan dan keluar dari dalam bioskop. Dirinya berjalan seraya menghirup udara segar. Mungkin jika pria lain akan menghisap rokoknya untuk menghilangkan ke bosanannya namun tidak dengan Elo, karena Elo, bukan tipe pria yang suka merokok.
Elo, berniat untuk menunggu Jil, di dalam mobilnya. Elo, pun berjalan menuju basement, di tengah perjalanan Elo, melihat Mey, berlari seperti sedang, ketakutan.
"Mey," ucapnya demikian.
Elo, berniat untuk menghampiri Mey, namun saat akan melangkah dirinya melihat seorang pria bermasker dan bertopi langkahnya begitu cepat seperti sedang mengejar Mey. Kecurigaannya pun benar hingga Elo, mengejar mereka sampai basement.
Elo, melihat Mey, berada di belakang mobilnya, dengan santai Elo, pun berjalan menuju mobilnya melewati pria misterius itu, setelah sampai Elo, pun masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobil Elo, terus memantau Mey, dalam kaca spion-Nya, sebelumnya Elo, sudah mematikan lampu mobilnya terlebih dulu agar wajahnya tak terlihat dan keadaan di dalam menjadi gelap.
Saat Mey, mulai melangkah mundur, dan berhenti tepat di depan pintu mobilnya dengan sigap Elo, langsung menarik tubuh Mey, ke dalam mobil. Elo, tidak tahu bahwa Mey, saat itu sedang ketakutan.
"Apa wajahmu sakit, maaf aku tidak tahu." Mey, menelisik setiap inci pipi bosnya karena merasa bersalah telah menamparnya.
"Tanganmu itu sangat tajam," cibir Elo, yang masih merasa, kan betapa sakitnya tamparan itu.
"Abis, kamu menyerangku secara mendadak, aku pikir kamu orang jahat yang akan memperkosaku. Tingkahmu itu sangat menakut, kan." Elo, melirik tajam, serendah itukah dirinya hingga di anggap seperti orang jahat, tapi memang itu salahnya karena menarik Mey, tiba-tiba dan menciumnya secara mendadak.
"Kau mencuri ciuman pertamaku," lirih Mey, yang menunduk.
Elo, sedikit terkejut tidak percaya jika itu ciuman pertamanya, tapi sama saja Elo, juga baru melakukan hal itu karena selama ini Elo, tidak pernah punya kekasih apalagi berciuman. Dan rasanya sungguh berbeda, Elo, merasakan hal yang luar biasa. anehnya darimana dirinya punya keberanian untuk melakukannya.
"Jadi itu ciuman pertamamu! Beruntung aku yang pertama mendapatkannya," ucap Elo, dengan lirikan menggoda.
"Elo!" Pekik Mey.
"Maaf, aku sudah mencuri ciuman pertamamu, tapi aku tidak sengaja, aku melakukannya untuk menolongmu,"
"Menolong sih menolong tapi jangan gitu juga." Mey, mengurecut, kan bibirnya kesal membuat Elo, gemas.
"Kau, marah!" Tatap Elo, penuh arti.
"Tau ah!" ketus Mey, yang cemberut.
"Aku, baru tahu Mey,ku bisa ngambek." Elo, menggodanya seraya mencubit dagunya.
"Elo," pekik Mey, yang menepiskan tangan Elo, membuat Elo, terkekeh.
"Lalu bagaimana dong! kan sudah terlanjur, apa aku harus tanggung jawab." Elo, semakin menggoda Mey, membuat pipi Mey, bersemu merah. Namun tidak dengan Elo, yang menganggapnya dengan candaan.
...----------------...
Maaf ya belum bisa crazy up, tapi setiap hari up, kok walau hanya satu bab. Up setiap jam 16. 15 jangan lupa dukungannya ya 🤗