The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Malam pertama



Setelah selesai acara sepasang pengantin pun pergi menuju hotel. Mey, begitu takjub melihat kamar nya yang penuh dengan hiasan. Mawar merah menghiasi tempat tidur mereka. 


"Apa yang kau pikirkan? hm" Elo, memeluk Mey, dari belakang seraya menggodanya. 


Mey, yang mendapat pelukan tiba-tiba dari suaminya itu merasa gugup, padahal itu bukan untuk pertama kalinya. Entah kenapa hati Mey, berdesir tak karuan. 


"Kamarnya bagus," jawab Mey, seraya tersenyum. 


"Kau tidak memikirkan apa yang akan terjadi di atas sana?" 


"Tidak!" jawab Mey, cepat seraya menggelengkan kepalanya. Itu membuat Elo, semakin ingin menggodanya. 


"Yakin! Apa kau ingin melakukannya sekarang?" Mey, semakin gugup dan berjalan mundur saat Elo, terus mendekat ke arahnya. Pipi Mey, mulai merah merona. 


"Aku, pergi ke kamar mandi dulu ya!" elak Mey, 


"Mau aku temani?" 


"Ah, tidak!" Dengan langkah cepat Mey, pun berlari menuju kamar mandi. Elo, yang melihat tingkah lucu istrinya itu semakin tergelak. 


Ya tuhan, kenapa aku jadi gugup begini. Beginikah rasanya jadi pengantin baru? Apa ini yang di namakan malam pertama, Mey, terus bergumam dalam hatinya. Memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. 


Lima menit sudah Mey, berada di dalam kamar mandi, Mey, pun sudah membersihkan tubuhnya, Mey, berjalan keluar dengan menggunakan baju piyama yang sedikit tipis, pemberian dari sahabatnya. 


"Dimana Elo!" 


Saat keluar Mey, tidak melihat Elo berada di dalam kamarnya, Mey, pun mencari Elo, ke balkon tetapi tidak melihat suaminya. 


"Kemana Elo?" gumamnya yang berdiri di depan pagar pembatas balkon. 


"Suamimu ada disini." Hembusan nafas yang dingin dan pelukan hangat mengejutkan dirinya. Tiba-tiba Elo, berada di belakangnya dan langsung memeluknya. 


"Elo, mm … suamiku," Mey, masih gugup saat ingin memanggil manja suaminya. 


"Katakan sekali lagi sayang." Kata Elo, seraya memutar tubuh istrinya untuk menghadapnya. 


Degg


Jantung Mey, kembali berdetak lebih cepat, dirinya hanya bisa menelan salivanya saat melihat Elo, tak berbalut pakaian sedikit pun, tubuh sexy, tangan berotot dan perut yang bagaikan roti sobek terlihat sangat jelas, Elo, sengaja tidak memakai bajunya dan hanya mengenakan celana hitam panjang. 


Mey, masih terdiam melihat roti sobek itu.


"Sentuh saja, kau ingin menyentuhnya, kan!" Lamunan Mey, tersadar saat tangannya menyentuh roti sobek itu. 


"Semua tubuhku adalah milikmu. Istriku apa kau sudah siap!" bisik Elo, membuat Mey, meremang. Karena Elo, tak hanya berbisik namun dengan nakalnya kedua tangannya menjelajah setiap inci tubuh istrinya, bibirnya terus bergerak menelusuri leher jenjangnya membuat Mey, mengeluarkan suara laknatnya. 


Elo, semakin bersemangat saat mendengar ******* itu, kedua tangannya langsung memangku tubuh Mey, membawanya ke dalam kamar. 


Dengan perlahan Elo, menidurkan Mey, di atas tempat tidurnya, tubuhnya mulai mengukung tubuh Mey, satu tangannya merapikan rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya, Mey, yang mendapat sentuhan lembut itu hanya terdiam pasrah. 


Elo, mulai mengecup bibir ranumnya, kecupan itu berubah jadi panas, kedua lidah saling membelit satu sama lain. Tangan Elo, mulai bergrlyia menyentuh setiap inci tubuh istrinya, dalam satu tarikan pakaian pun terlepas dari tubuh Mey, membuat Elo, semakin bergairah menatap tubuh putih mulus bagaikan porselin itu.


Dengan cepat Elo, pun membuka seluruh pakaiannya hingga tak memakai apapun. Tanpa menunggu lama aktifitas panas pun terjadi. 


Matahari pagi mulai memancarkan cahayanya. Kilauan cahaya tak mampu membangunkan sepasang pengantin baru yang masih terlelap di atas ranjangnya. Kegiatan panas semalam mampu menguras tenaga. 


Elo, terus menatap wajah cantik wanita di sampingnya. Mey, tertidur begitu lelap, Mey, yang sudah berbalut kemeja putih dan Elo, hanya memakai kaos putih. Karena semalam setelah kegiatan panas itu mereka melakukan ritual mandinya, namun karena piyama yang Mey, kenakan robek, dengan terpaksa Mey, memakai kemeja milik Elo, suaminya.


Wajah segar di pagi hari, membuat Elo, tak bosan-bosan menatap wajah cantik istrinya, hingga saat Mey, berbalik memunggungi dirinya, dengan cepat tangannya menarik kembali tubuh Mey, agar menghadapnya. Elo, memeluk Mey, erat seraya membenamkan kapalanya di bawah dadanya. 


Pernikahan Mey, dan Elo, membuat semua orang bahagia terutama Vika, sahabatnya. Yang saat ini sedang bersiap-siap Sedang menunggu seseorang untuk menjemputnya. 


Sebuah mobil berhenti tepat di pekarangan rumahnya, tak lama kemudian seorang pria turun dari dalam mobil itu. Vika, tersenyum melihat Arkan, menjemputnya hari ini. Arkan, pun melambaikan tangannya. 


"Pagi," 


"Pagi," 


Arkan, Vika, masih sama-sama kaku dan canggung. Berawal dari sebuah bunga yang mereka tangkap sama-sama, kini keduanya menjalin pertemanan dan lebih dekat. 


"Ayo, masuk!" 


"Ah, iya." Vika, pun masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kemudi. 


Ini adalah hari pertama kali mereka berdua jalan bersama, keduanya masih terlihat gugup, dan malu-malu. 


"Kita mau pergi kemana?" tanya Arkan kaku.


"Terserah kau saja, aku ikut denganmu," jawab Vika.


Semalam keduanya saling berbicara lewat telepon, Arkan, yang memberanikan diri untuk mengajak Vika, jalan tanpa dugaan Vika, pun mengiya, kannya. Namun mereka tidak tahu dan tidak menentukan kemana mereka akan pergi saat itu. Alhasil sekarang mereka bingung akan pergi kemana. 


Arkan, yang tidak tahu menahu tentang bagaimana cara mengajak seorang wanita kencan, dan tempat seperti apakah yang harus mereka kunjungi. 


Arkan, yang kebingungan pun menghentikan mobilnya di depan sebuah toko bunga. Arkan, turun memasuki toko bunga itu lalu keluar dengan membawa sebuket bunga di tangannya. 


Semoga dia suka, biasanya wanita akan menyukai saat di kasih bunga, batin Arkan, seraya menatap bunga itu.


"Ambillah," ucap Arkan, seraya memberikan bunga itu pada Vika. 


"Untukku?" Vika, menatap Arkan,yang menjawab dengan gumaman.


"Terima kasih." Vika, pun mengambil bunga itu. Arkan, pun kembali melajukan mobilnya membelah keramaian ibu kota.


Di sebuah kamar hotel, suara laknat kembali terdengar, ranjang tidur pun kembali bergoyang. Satu ronde rasanya tak cukup bagi sepasang pengantin baru ini, hingga di siang hari ini melakukan ronde ke dua, ketiga, hingga ke lima. 


Hembusan nafas begitu memburu, peluh keringat membasahi wajah mereka berdua. Hingga tibalah pelepasan terakhir membuat suara indah terdengar. 


Aah, 


Satu kecupan mendarat di bibir seorang wanita, yang terlihat begitu lelah, dan berkeringat. "Terima kasih," ucap Elo, setelah mengecup Mey, berkali-kali. Hingga akhirnya tidur terlentang di samping Mey. 


"Kau lelah?" Mey, hanya menjawab dengan gelengan kepala. 


Lelah, sudah pasti Mey, rasakan saat harus melayani suaminya. Namun, rasa lelah itu berbuah kenikmatan yang tak bisa di ungkapkan dengan perasaan apa pun. 


"Aku mencintaimu, sayang," ucap Elo, yang kembali mengecup kening Mey, yang kini sudah tertidur lelap. 


"Kau semakin cantik, saat tertidur" Elo, terus tersenyum, tak bosan-bosan menatap wajah istrinya itu. 


...----------------...


Namanya juga pengantin baru, 🤭 tanam bibit terus Elo