
Vera dan Gladis terus memikirkan cara bagaimana bisa mendapatkan brush itu. Hingga mereka berdua memutuskan untuk datang ke apartemen yang Siska tinggali.
Mula-mula mereka menyemprotkan air pada pinjer pin yang terdapat pada pintu. Lalu sebuah tisu mereka tempelkan hingga saat di lepas ada jejak yang tertinggal pada tissu itu. Jejak tombol pinjer yang selalu di tekan.
"667389."
Klek. Pintu pun berhasil terbuka, dalam keadaan sepi Gladis dan Vera pun masuk ke dalam dan menutup kembali pintu itu. Tujuan mereka hanya satu menemukan brush itu.
"Gladis, kita cari brush itu," ajak Vera. Gladis pun mengangguk.
Gladis pergi ke sebuah kamar yang biasa Siska dan Bara tinggali. Mengubrak-abrik semua tempat, lemari, laci, tas, semua mereka buka. Namun tidak menemukan brush itu.
Tanpa mereka ketahui brush itu sudah di ambil Bara, saat siang tadi. Namun, Gladis tidak menyerah dan terus mencari hingga Gladis, menemukan sebuah tespack dan sebuah foto USG.
"USG? Apa wanita itu hamil!"
"Ah sial! Kalau begini aku akan sulit mendapatkan Bara, kembali."
Gladis mencengkram kuat foto hasil USG itu. Dirinya benar-benar kesal karena Siska, berhasil memberikan keturunan untuk Bara. Hal yang selama ini Bara, inginkan Siska, wujudkan.
"Hei, ngapain kamu bengong? Apa sudah ketemu?" Pertanyaan Vera, tak membuat Gladis bergeming dan terus mencengkram foto itu.
"Apa ini?" Vera, mengambil paksa foto USG itu dari tangan Gladis, membuat Gladis, terkejut. Tapi tidak dengan Vera, dia tersenyum sinis.
"Wow, dia berhasil memberikan anak untuk suamimu. Ini akan mempersulit dirimu untuk mendapatkan Bara kembali. Apa kamu bisa memberikannya anak?" Vera, terus memanas-manasi hingga Gladis, tersulut emosi.
"Aku tidak akan biarkan anak ini lahir," ucap Gladis, yang merebut foto itu.
"Aku harus menggugurkan kehamilannya." Lirih Gladis.
"Caranya! Kamu harus menemukan brush itu, menunjukan wajah asli Siska, pada Bara. Aku yakin Bara, akan merasa jijik dan meninggalkan Siska." Vera, terus menanas-manasi
*
*
*
Saat pulang Siska, terkejut melihat keadaan kamar yang berantakan. Begitu pun dengan Bara.
"Ada apa ini, kenapa kamar kita seperti ini? Apa ada penyusup masuk!" ujar Bara, yang terkejut.
"Mas, lihat ini."
Siska, mengambil foto hasil USG yang sudah di robek, menunjukan nya pada Bara. Membuat Bara, yakin jika Gladis, pelakunya yang selalu membuat onar di apartemennya.
Namun tidak dengan Siska, yang merasa jika ada seseorang yang masuk ke kamarnya bukan untuk mencari foto USG itu melainkan karena brushnya. Apalagi saat kejadian di perusahaan tadi membuat Siska, yakin mereka adalah orang yang sama.
"Kamu tunggu disini. Aku akan kebawah sebentar."
"Mau kemana Mas?"
"Aku akan mengadukan ini pada pihak manajemen sekalian ingin melihat rekaman cctv siapa yang telah berani masuk ke apartemen kita."
"Kamu istirahat saja, dulu biarkan ini nanti aku yang bereskan. Kamu sedang hamil tidak boleh terlalu lelah."
"Jangan lama-lama Mas." Siska, terlihat takut.
"Tidak lama hanya sebentar." Setelah mengecup kening Siska, Bara, pun pergi.
Siska, masih diam di dalam kamar mengunci pintu sangat rapat. Tuduhannya tidaklah salah jika Vera, yang melakukan semua ini karena menginginkan brushnya.
"Aku harus melakukan sesuatu," batin Siska.
Siska, terlihat berpikir lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang yang dia kenal. Siska, mendekatkan benda pipih itu ke dinding telinganya.
"Halo, Madam!" ucap Siska, saat sambungan telepon terhubung.
Siska, sengaja menghubungi Janet orang yang selama ini merawatnya. Tujuan Siska, menghubunginya karena ingin menanyakan tentang Vera, dan juga untuk meminta pertolongan.
"Siska!" Terdengar suara seorang wanita di ujung sana.
"Iya Madam ini aku."
"Bagaimana kabarmu?" tanya Janet.
"Benarkah! Tapi … bukankah kalian menikah hanya sementara?"
"Ya, itu dulu saat kita berjanji dan menulis di atas kertas. Tapi sekarang perjanjian itu sudah tidak ada, Mas Bara, menginginkan pernikahan ini untuk selamanya, bahkan dia sudah menceraikan istri pertamanya."
"Aku senang mendengarnya. Semoga kamu selalu bahagia Siska, mendapatkan suami yang baik yang tulus mencintaimu."
"Madam, aku ingin bertanya tentang Vera."
"Untuk apa menanyakan tentang anak itu. Dia sudah membuatku malu dan pergi entah kemana."
"Vera pergi?"
"Ya, dia pergi setelah membawa uangku, dan uang semua anak-anak disini. Aku sudah mencarinya tapi tidak ketemu."
"Vera, ada disini, ada di kotaku."
"Apa kau melihatnya?"
"Aku tidak hanya melihatnya, namun juga bertemu. Itulah kenapa aku menghubungi Madam karena aku ingin meminta bantuan."
"Meminta bantuan untuk apa?"
"Begini Madam … sekarang hidupku sedang tidak tenang. Vera, datang dan mengacaukan semuanya."
Siska, pun menjelaskan tentang perlakuan Vera, saat membuat kekacauan saat konferesnsi pers itu. Dan Siska, mengatakan tentang perlakuan Vera, yang sangat brutal berharap Janet bisa membantunya dan membawa Vera pergi dari kotanya sebelum rumah tangganya hancur.
"Aku mohon Madam aku butuh bantuan Madam."
"Tenang Siska, aku akan datang kesana dan membawa Vera, kembali. Dimana alamatmu?"
"Kota xxx jalan xxx apartemen xxx." Siska, memberitahukan alamat tempat tinggalnya.
"Terima kasih Siska, kamu sudah memberikan kabar tentang Vera. Besok aku dan para body guard akan datang mencarinya. Aku tidak akan memberikan ampun padanya."
"Terima kasih Madam."
Sambungan telepon pun di tutup. Siska, merasa lega karena telah menghubungi Janet, yang siap membantunya. Berharap Vera, akan segera di tangkap sebelum mencuri brushnya.
Sedangkan Bara, masih fokus melihat rekaman cctv yang terlihat dua wanita yang masuk ke apartemennya. Dan Bara, mengenali satu wanita itu yang tak lain adalah Gladis. Yang berjalan keluar dari pintu apartemennya tanpa menutup kedua wajahnya dengan apa pun sehingga sangat terlihat jelas wajahnya.
Bara, yang kesal meminta pihak dari apartemen untuk mengusut kasus itu. Karena mereka telah membuat resah dan membuat kekacauan.
"Aku ingin kalian bertanggung jawab atas hal ini. Temukan kedua wanita itu, bila perlu laporkan pada polisi."
"Baik Tuan, kami akan bertanggung jawab atas ketidaknyamanan anda dan istri anda. Ke depannya tidak akan terjadi hal seperti ini lagi." Seorang pria dan wanita yang bertugas sebagai penanggung jawab meminta maaf dan menunduk hormat.
Setelah masalahnya selesai Bara, kembali ke apartemennya.
"Mas!" panggil Siska, saat Bara masuk ke kamarnya, merebahkan tubuhnya pada dinding sofa.
"Masalahnya sudah selesai. Gladis yang melakukan semua ini. Dan aku yakin saat di konferensi pers tadi dialah yang melakukannya."
"Aku mengenali siapa wanita yang menyiram wajahku," ucap Siska, membuat Bara, menoleh.
"Kamu mengenalinya?" Siska, pun mengangguk sebagai jawaban.
"Dia temanku saat di Club MJ, namanya Vera, dia salah satu temanku yang sangat iri padaku dan dia sangat berharap jika kamu akan memilihnya tapi dugaannya salah, kamu memilihku dan itu membuatnya semakin benci padaku."
"Dia, pasti ingin mempermalukanku saat konferensi pers itu. Dia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang dia mau. Aku tidak takut jika aku yang dia celakai tapi yang ku takutkan saat ini aku tengah mengandung dan aku takut terjadi hal buruk pada bayiku."
"Kamu jangan khawatir, aku sudah mengurus semuanya mereka akan di tangkap. Begitu pun dengan Gladis, aku sudah menyarankan mereka untuk melaporkan kasus ini pada polisi."
"Tato butterfly," ucap Siska.
"Apa itu?"
"Sebuah tato berbentuk kupu-kupu di pergelangan tangannya, beri tahu polisi untuk mempermudah menemukannya. Dan ini, adalah wajahnya aku masih menyimpan fotonya, yang ku ambil dari Club MJ. Semoga ini bisa membantu."
"Baiklah, aku akan memberikan semua bukti, ini pada Haikal, biar besok dia berikan pada polisi. Sekarang kamu tenanglah semua akan baik-baik saja." Bara, memeluk Siska dengan hangat.
"Mas, jika aku punya kekurangan apa kamu akan tetap mencintaiku?" tanya Siska, tiba-tiba membuat Bara, tertegun.