The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Candu



Cukup lama bertarung akhirnya sampailah pada titik puncaknya. Suara keduanya mengerang, ketika cairan vanila di semburkan ke dalam rahimnya. 


Siska, mendesah merdu aturan nafas yang sempat tak beraturan kini mulai kembali normal. Peluh keringat membasahi wajah dan sekujur tubuhnya. Rasa lelah karena Bara, menggepurnya dalam semalam tanpa henti hingga beberapa kali ronde. 


Bara, sudah merasa kepuasan yang begitu nikmat dari istri sirinya itu, membuat dirinya semakin candu. Akan kenikmatan surgawi. Belum cukup Bara, membuat istrinya lelah, kini dirinya kembali memainkan jarinya di atas kepemilikan istrinya, membuat Siska, kembali mengerang. 


Ahh … Mas, hentikan 


Bukannya menghentikan kenakalannya. Tangan Bara, semakin menjelajah memasuki pintu surgawi itu. Membuat Siska, tak tahan dan semakin mengerang.


Mas … ahh … mas hentikan 


Ucap Siska, yang mencengkram kuat kain seprei di atasnya. Bara, semakin melincahkan aksinya, apalagi saat mendengar suara-suara laknat yang Siska, bunyikan. Membuat Bara, semakin bergairah hingga kini tak hanya tangannya yang bermain di bawah sana, namun lidah panjangnya kini mulai ia mainkan. 


Aaah … 


Mas, Mas Bara, 


"Keluarkanlah" titah Bara, yang sudah tahu jika Siska, sudah tahan untuk mengeluarkan cairan kentalnya. Hingga akhirnya cairan kental itu pun keluar, membuat Bara, mengerang di bawah sana. 


Sepertinya itu saja tidak cukup. Bara, kembali mengukung tubuh Siska, dan mencoba memasukan kembali pedangnya. Tidak peduli wajah Siska, yang sudah terlihat pucat karena lelah melayani suaminya itu. Bara, kembali menggempurnya.


Ingat ya! Mereka suami istri jadi sah-sah aja ya. 🤭


Di sisi lain, Gladis yang sudah mabuk berat karena minum begitu banyak. Gladis terus meracau berjalan sambil sempoyongan. Tutur langkahnya pun sudah tidak beraturan tak peduli kemana langkahnya membawa. Hingga Gladis, menabrak tubuh seseorang. 


"Bara," ucap Gladis, saat seorang pria memeluk tubuhnya. 


"Akhirnya kau datang! Apa kau mau menjemputku? Oh sayang … aku mencintaimu." 


Ungkapan Gladis, semakin meracau bahkan tidak mengenal siapa pria itu, yang Gladis ingat hanyalah Bara, suaminya. Karena masalahnya saat ini hanya dengan Bara, sehingga yang ada di pikirannya hanyalah Bara-Bara.


Pria, itu pun membawanya memasukannya ke dalam mobil, lalu mobil itu pun pergi meninggalkan diskotik. 


*


*


*


Keesokan paginya, Gladis tersadar dia membuka kedua matanya. Mengedarkan pandangannya yang dia lihat hanya ruangan sepi, yang mendominasi putih begitu pun dengan sepreinya.


Gladis, terbangun hingga merasakan mual, dan langsung pergi menuju kamar mandi. Gladis hanya mengeluarkan cairan saja yang keluar dari mulutnya mungkin karena terlalu banyak minum.


Gladis, kembali ke kamar namun Gladis  tidak melihat Bara. Gladis pun mencoba menghubungi Bara, namun tidak ada jawaban dan panggilan terus di alihkan. 


"Ish, kemana Mas, Bara. Bukankah malam dia bersamaku!" gerutu Gladis. Yang kesal karena tak pernah mendapat telepon dari suaminya. Gladis pun berpikir jika semalam Bara, bersamanya.


Di tempat lain Bara, baru saja mengerjap di lihatnya sekeliling kamar tidak ada Siska, di sisinya. Setelah pertempuran semalam membuat tenaganya terkuras, sehingga dirinya kembali tertidur lelap setelah melakukan mandi sucinya. 


"Kemana dia?" gumam Bara, yang mengedarkan pandangan untuk mencari Siska. 


Deringan ponsel, membuatnya terkejut saat melihat nama yang tetera pada ponselnya, wajah Bara, langsung terlihat kesal. Sehingga membanting ponsel itu tanpa menjawab teleponnya. 


Melihat nama istri pertamanya sekarang merasa muak, Bara, sepertinya lelah dan tidak ingin lagi berurusan dengan Gladis. 


"Maafkan aku Gladis, aku hanya ingin menenangkan diri dulu. Aku tidak ingin bertemu denganmu untuk sementara waktu." 


Berat rasanya mengabaikan istri pertamanya. Namun, hatinya kini sudah terluka, sangat-sangat terluka sehingga luka itu sulit kembali di obati. Hanya, ketenanganlah yang di butuhkan saat ini. 


Bara, kembali mengingat Siska, hingga dirinya pun keluar dari kamar, dan melihat Siska, yang sedang memasak di dapur. 


"Apa yang kamu masak?" tanya Bara, yang langsung duduk di meja makannya.


"Kamu sudah bangun? Aku hanya memasak nasi goreng pagi ini apa kamu menyukainya?" 


"Aku tidak pernah memilih-milih makanan asalkan itu enak." 


Siska, tersenyum lalu berjalan ke arah meja makan untuk menaruh dua piring yang berisi nasi goreng di dalamnya. 


Bara, pun mulai memakan nasi gorengnya. Bibirnya membeku, matanya membulat sempurna masakan Siska, membuat dirinya terhipnotis karena magic cooknya. 


"Bagaimana apakah enak?" 


"Hm … ya lumayan." Selalu itu yang Bara, katakan. Namun, Siska tetap tersenyum. Walau pun Bara, berkata begitu dia tetap memakan nasi goreng buatannya tanpa henti dan habis tak tersisa. 


"Kenapa senyum?" Bara, menyadari jika Siska, terus senyum. 


"Tidak apa-apa, sepertinya sulit sekali untukmu memuji orang lain" 


"Apa maksud perkataanmu?" 


"Kamu bilang masakanku lumayan enak tapi, kau menghabiskannya lebih dulu." Siska terkekeh 


"Aku sedang lapar." Ketus Bara. 


Siska, terus terkekeh hingga tawanya hilang seketika. Matanya membulat sempurna ketika melihat bintik-bintik merah yang muncul pada tangannya. Begitu pun dengan wajahnya yang muncul sedikit mulai sedikit. 


'Ya Tuhan, tubuhku … Bara, tidak boleh melihat ini." 


Dengan langkah cepat Siska, berlari menuju kamarnya. Membuat Bara, terhenyak. "Ada apa dengannya?" lirih Bara. 


Siska, langsung mengunci kamar itu dengan rapat, kini dirinya mulai mencari brushnya yang tak tahu dimana. Karena Siska, serinng lupa jika menyimpan barangnya. 


"Aduh dimana brushku." 


Siska, terus menggeledah, mencari di semua tempat. Namun brush itu tidak di temukan. Sedangkan Bara, merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada Siska. Hingga tak henti-hentinya Bara, berulang kali mengetuk pintu.


"Siska, ada apa? Apa yang terjadi? Buka pintunya." 


Karena tak ada jawaban Bara, pun berniat untuk mendobrak pintunya. Bahan perlahan mudur dari pintu sedikit menjauh, sebelum akhirnya berlari dan  ….


Bugh, 


Saat dirinya akan mendobrak pintunya tiba-tiba Siska, membuka pintu itu alhasil, tubuh keduanya jatuh. Dan lagi-lagi Siska, selalu berada di bawahnya. 


Keduanya masih diam. Saling menatap mata indah keduanya hingga akhirnya terhipnotis. Dalam sekejap Bara, langsung mendaratkan bibirnya pada bibir Siska, yang kini sudah menjadi candunya.


...----------------...


Lagi-lagi gak enak body jadi jarang up nih. Jangan lupa like dan komentar biar tambah semangat. 🥰.


...----------------...


Hai, kakakku tercinta jangan lupa mampir ya ke cerita temannya othor. Ceritanya seru loh, kali aja penasaran nih aku kasih blurbnya.


Judul: Penjara Cinta Untuk Stella


Penulis: Rini Sya


Stella ditalak sang suami, usai melakukan malam pertama. Sebab ia tidak mengeluarkan darah keperawanan di malam itu.


Keadaan ini membuat orang tua Stella tidak terima dan mengusir wanita cantik itu dari rumah.


Bukan hanya diusir, Stella juga dihajar hingga hampir kehilangan nyawa.


Beruntung, takdir baik masih berpihak padanya.


Dalam keadaan antara hidup dan mati itu, Stella dipertemukan dengan seorang pemuda baik hati yang diam-diam menaruh hati padanya.


Mungkinkah Stella mau menerima cinta pemuda tersebut? Ataukah dia masih mengharapkan cinta pertamanya🥰🥰


Gimana penasaran, kan! Cus mampir sekarang juga, jangan lupa tinggalkan jejak.