
Pagi-pagi buta Mey, langsung menuju kamar Tini. Sudah tidak sabar untuk memberikan kabar baik semalam bahwa dirinya sudah di lamar. Mey, berjalan penuh gembira menuju kamar neneknya. Saat dirinya membuka, kan pintu matanya terbelalak, Mey, di kejutkan dengan keadaan Tini, yang sudah tergeletak di bawah ranjangnya.
"Nenek!"
Mey, yang terkejut langsung menghampiri Tini. Mencoba untuk membangunkannya, namun tubuh Tini, tidak bereaksi sama sekali.
"Nenek, nenek bangun!" Mey, terus menggoyang-goyangkan tubuh Tini. Dengan harap Tini, akan bangun setidaknya memanggil namanya, tapi itu tidak merubah apa pun Tini, tidak merespon sama sekali.
Tangis Mey, semakin terisak tangannya terus menggenggam erat tangan Tini. Hanya Tini, lah satu-satunya keluarga yang dia punya, setelah kedua orang tuanya meninggal. Semenjak kecil hanya Tini, yang selalu ada untuknya bahkan menyayanginya. Entah apa yang akan terjadi jika Tini, pun pergi meninggalkannya.
"Nenek, bangun apa yang terjadi kenapa nenek seperti ini?"
"Tolong … tolong … tolong." Mey, berteriak hingga mengundang semua orang yang ada di mansion itu.
Semua pelayan yang sedang bekerja pun ikut terkejut karena mendengar suara teriakan dari Mey. Hingga mereka pun penasaran dan berlari untuk melihat apa yang terjadi.
"Ada apa? Siapa yang berteriak?"
"Tapi suaranya seperti nona Mey."
"Ya tuhan, ayo kita lihat takut terjadi sesuatu."
"Iya ayo."
Para pelayan menyimpan dan menghentikan pekerjaan mereka lalu berlari menuju arah sumber suara. Terkecuali satu pelayan wanita yang hanya diam. Dia begitu ketakutan, keringat dingin terus bercucuran di bagian keningnya, wajahnya berubah menjadi putih pucat bahkan tangannya pun gemetar. Setelah menghentikan pekerjaannya pelayan itu pun menyusul teman-temannya.
Elo, yang baru saja terbangun mendengar teriakan kekasihnya langsung berlari keluar dari kamarnya. Takut terjadinya akan bahaya pada kekasihnya itu Elo, bergegas pergi dengan cepat menuruni anak tangga. Pada saat di bawah ia berpapasan dengan Sarah, dan Rakka, awalnya Elo, terlihat bingung melihat kedua orang tuanya ada di rumahnya. Karena Elo, tidak tahu jika mereka menginap semalam.
Akan tetapi teriakan Mey, kembali mengejutkannya dan membuatnya khawatir. Elo, beserta orangtuanya pun berlari menuju kamar Tini.
Sesampainya di dalam kamar, para pelayan sudah berkumpul mereka melihat Mey, menangis sambil memeluk Tini. Mereka pun bingung harus melakukan apa karena tidak tahu apa yang sudah terjadi.
"Mey," teriak Elo.
Tak berselang lama Elo, dan kedua orangtuanya pun datang memasuki kamar. Elo, yang melihat Mey, menangis langsung menghampirinya begitu pun dengan Sarah, dan Rakka.
"Mey, apa yang terjadi? Kenapa dengan nenek?" tanya Elo.
"Aku tidak tahu, saat aku datang ke kamar nenek sudah tergeletak di lantai. Tolong bawa nenek ke rumah sakit." Mey, berbicara dengan air mata.
Elo, mencoba memeriksa Tini, begitu pun dengan Rakka. Rakka, langsung menyentuh urat nadinya untuk memeriksa masih berdenyut atau tidak. Namun, ekspresi Rakka, menunjukan bahwa Tini, sedang tidak baik-baik saja. Nadinya sudah tidak berdenyut begitu pun dengan hembusan nafasnya yang sudah tidak berhembus.
"Percuma kita bawa ke rumah sakit, nyawanya sudah tidak tertolong lagi."
Semua orang yang mendengar ucapan Rakka, sangat terkejut. Sarah, langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tubuhnya mendadak lemas. Bagaimana tidak terkejut baru saja semalam Sarah, dan Tini, saling berbicara bahkan mereka mulai dekat dan akrab. Keadaan Tini semalam sangatlah sehat, tidak ada tanda-tanda sakit atau pun lelah.
Tapi kenyataannya pagi ini Tini, sudah menghembuskan nafas terakhirnya dan pergi untuk selama-lamanya. Sedangkan Mey, dirinya langsung terduduk lemas, rasanya tidak ada lagi tenaga dan semangat untuk hidupnya. Tatapan matanya begitu kosong yang hanya bisa di lakukannya hanyalah diam dengan harap semua ini hanya mimpi, mimpi tidurnya.
"Nenek, tidak mungkin nenek pergi. Nenek!" Mey, kembali berteriak hingga menggoncang-goncangkan tubuh neneknya. Elo, yang melihat itu langsung memeluknya tetapi Mey, tidak menghentikan jerit tangisannya.
Di pagi ini kesedihan, suara tangisan memenuhi mansion itu. Mey, yang masih terisak terus di peluk Elo, yang mendekapnya hangat seraya mengelus lembut punggungnya berharap itu akan membuat semakin tenang.
Di balik diamnya, dalam hati Elo, merasa curiga dengan kematian Tini, yang tiba-tiba, padahal kesehatannya sudah membaik. Tak hanya Elo, yang curiga akan kejanggalan kematian Tini. Rakka, dan Sarah, pun memikirkan hal yang sama. Sebab semalam mereka masih berbicara bahkan bercerita dan sempat membicarakan perjodohan Mey, dan Elo.
Di balik kesedihan ini, ada satu pelayan yang mulai terlihat tegang bahkan dia mundur perlahan dan pergi dari kamar itu. Dia begitu ketakutan entah apa yang sudah dia lakukan.
Flashback on
Semalam setelah dirinya pergi untuk menghubungi seseorang, pelayan itu kembali mendapatkan sebuah telepon dari orang yang sama. Yang dia panggil dengan sebutan 'Bos' pelayan itu terlihat tegang dan bersembunyi di balik dinding yang sepi seraya mendengarkan suara seseorang di balik sambungan telepon.
"Aku punya tugas untukmu," ucap seorang wanita pada sambugan telepon.
"Tugas apa bos?" jawabnya sedikit berbisik karena takut jika ada orang yang mendengarnya.
"Lakukan apa yang aku perintahkan," ujar wanita di ujung sana.
"Tapi …." pelayan itu terlihat ketakutan.
"Jika kau tidak melakukan apa yang aku perintahkan, aku akan bilang pada bosmu jika kamu yang telah membuang kucing nya."
Pelayan itu pun terpaksa melakukan apa yang di perintahkan bosnya. Karna takut dengan ancamannya yang memang dulu pernah membuang Miekey, hingga hilang beberapa waktu lalu. Namun itu pun juga karena sebuah perintah dari bosnya yang sama.
"Baiklah aku akan lakukan apa yang kau perintahkan."
"Bagus, lakukan sekarang!" ucap wanita itu yang langsung menutup teleponnya. Pelayan itu pun tidak bisa melakukan apapun selain menyetujuinya.
Pada malam hari di saat semua orang tertidur pelayan itu pelan-pelan berjalan ke arah dapur lalu membuatkan segelas minuman yang di berikan serbuk putih entah serbuk apa itu yang dia ambil di saku bajunya.
Setelah menyatukan serbuk itu ke dalam minumannya pelayan itu pun mengaduknya sampai larut. Setelahnya membawa minuman itu menuju kamar Tini.
Setelah mengetuk pintu pelayan itu pun membuka pintu lalu masuk. Kebetulan Saat itu Tini, belum tertidur dia baru saja merebahkan tubuhnya di atas kasurnya. Pelayan itu pun memmbawa nampan yang berisi segelas air teh yang ia simpan di atas nakas. Lalu meminta Tini, untuk meminumnya.
"Nyonya saya sudah membuat, kan teh minumlah."
"Saya tidak memesan teh," jawab Tini, yang tidak merasa memanggil pelayan untuk mengantarkan teh.
"Saya di perintah, kan oleh nona Mey, untuk mengantarkan teh herbal ini, katanya sangat bagus untuk kesehatan nyonya. Dan saya di perintahkan untuk menunggu sampai nyonya menghabis, kan teh ini."
"Mey, Mey, kamu tidak pernah berubah. Selalu memperhatikan nenek." Tini, pun meminum tehnya, karena jika itu perintah Mey, Tini, tidak pernah menolak..
"Terima kasih," ucap Tini, yang menaruh gelas itu di atas nakasnya.
"Sama-sama nyonya, semoga tidurnya nyenyak. Saya permisi." Pelayan itu pun melangkah keluar dengan membawa nampannya lagi namun dia melupakan sesuatu sebuah gelas yang di simpan di atas nakas yang lupa di bawanya.
Flashback off.