The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Kecurigaan Meisie



Di sebuah ruangan VIP di sebuah resto, Sharon dan Elo, duduk saling berhadapan di antara meja bundar. Sharon, terlihat bahagia karena malam ini Elo, menemaninya makan malam.


Ekspresi Elo, terlihat datar dan biasa-biasa saja. Kalau, bukan karena sang papa Elo, tidak ingin menemui Sharon. Setelah pergi makan malam Elo, dan Sharon, melanjutkan perjalanan. Elo, menemani Sharon, ke butik, untuk melihat gaun yang akan di pakainya di hari tunangannya nanti.


Sharon, begitu antusias memilih beberapa gaun yang akan di pakainya nanti, hingga memesan gaun yang paling mahal di butik itu.


"Sayang, apa ini cocok untukku? Apa menurutmu ini bagus?" Bukannya menjawab Elo, malah memutar bola matanya malas, lalu kembali fokus pada ponselnya itu membuat Sharon, kesal dan mendapat ejekan dari para pelayan butik yang menertawakannya.


"Ngapain kalian ketawa-ketawa, cepat ambilkan gaunku." titah Sharon dengan ketus. Si pelayan butik melangkah pergi sambil berbisik.


"Itu, calon suaminya atau bukan sih! Masa, cuek banget sama calon istri gak ada romantis-romantisnya." Bisik para pelayan butik.


"Elo, kamu sudah mempermalukan ku, lihat saja nanti kamu akan tergila-gila padaku." batin Sharon.


****


Di tempat lain Meisie, baru saja pulang bekerja tiba-tiba di penghujung jalan Marchelio, datang menemuinya. Entah, dari mana Marchelio, tahu alamat rumahnya. Meisie, pun menyambutnya dengan senang hati.


"Elo,"


"Hay, Mey?" sapa Marchelio.


"Sedang apa kau disini?" tanya Meisie.


"Menunggumu," ucap Marchelio.


"Kau tahu rumahku dari mana?"


"Aku, jelas tahulah, dari kecil, kan kita sering bertemu, aku juga sering berkunjung ke rumahmu, kan!" ucap Marchelio membuat Meisie, bingung.


"Kenapa Elo, berbicara seperti itu? Bukankah selama ini kita hanya bertemu di taman saja, Elo, tidak tahu dimana rumahku, dan dulu rumahku bukan disini. Ini sangat aneh." batin Meisie.


"Ayo, aku antar kau pulang," ajak Marchelio.


"Elo, kenapa saat itu kau meninggalkanku?" tanya Meisie, sambil berjalan melewati gang-gang sempit menuju rumahnya.


"Waktu itu, aku harus pergi." jawab Marchelio yang asal bicara.


"Kau, pergi dengan ayahmu?"


"Ya, aku pergi dengan ayahku, karena ayahku harus bertugas di luar kota, maaf ya saat itu aku tidak bilang padamu," ujar Marchelio, yang semakin mengarang cerita, tapi cukup masuk akal bagi Meisie, karena Elo, memang pergi dengan ayahnya.


"Sudah sampai," ucap Mesisie, saat tiba di depan rumahnya. "Terima kasih sudah mengantarku," lanjut Meisie.


"Mey, apa besok ada waktu?" Tanya Marchelio, yang tangannya mulai menjelajahi tubuh Meisie, dengan berani menyentuh kedua pundaknya, membuat Mey, merasa risih.


"Ada apa?" tanya Mey, seraya menurunkan tangan Marchelio dari pundaknya.


"Aku, ingin mengajakmu jalan bagaimana apa kau mau? Aku akan menjemputmu nanti."


"Ehm … aku harus minta izin dulu pada nenek,"


"Ayolah, sekali ini saja. sudah lama kita tidak bertemu, anggap saja ini perayaan pertemuan kita setelah sekian lama."


"Baiklah," jawab Meisie, walau sebenarnya hatinya ragu. Marchelio, mulai mendekat, kan wajahnya agar lebih dekat dengan wajah Mey, tangannya mulai bermain nakal, menyentuh lembut tangannya, ke atas bahunya, lehernya dan juga wajahnya.


Meisie, sempat terbawa suasana, tapi akhirnya Meisie, pun tersadar saat Marchelio, mulai mendekat, kan bibirnya ke bibir ranumnya, beruntung Meisie, langsung mendorong tubuh Marchelio, sebelum ciuman itu mendarat di bibirnya.


"Elo, jangan seperti ini. Aku tidak nyaman. Maaf, aku harus masuk sekarang." Ucap Meisie, yang langsung berlari ke dalam rumahnya.


Meisie, berlari masuk ke dalam kamarnya dengan nafas yang tersengal-sengal. Meisie, duduk di atas ranjangnya seraya menetralkan detak jantungnya.


"Kenapa aku merasa tidak nyaman dengan tingkah Elo, dulu Elo, tidak seperti itu." tanya Meisie, dalam hati.


Meong, meong,


Tiba-tiba Pusy, mendekat ke arah Meisie, Pusy, bermain manja di bawah pangkuannya. "Pusy, kau belum tidur? Apa, kau lapar? Sebentar, aku punya makanan untukmu," ucap Meisie, yang mengambil sesuatu dari dalam tasnya, namun Meisie, malah menjatuhkan face brushnya.


Meisie, mengambil face brush itu lalu ia teringat wajahnya yang dulu, wajahnya yang buruk karena luka codet di wajahnya. Meisie, kembali mengingat pertemuannya dengan Elo, kenapa Elo, percaya saja padanya saat Meisie, bilang kalau dia sahabat kecilnya, sedangkan Elo, yang dulu mengenalinya karena luka codetnya bukan karena wajahnya yang sekarang yang sudah menjadi cantik.


"Kenapa Elo, tidak terkejut saat melihat wajahku, bukankah dia tahu wajahku yang dulu." gumam Meisie.


"Ini sangat aneh. Aku harus mencari tahu, apa dia Elo, ku atau bukan."


****


Meisie, menunggu Marchelio, di depan pabrik tempatnya bekerja. Meisie, masih ragu dengan Marchelio, dan ingin bertanya tentang masa lalunya. Setelah lama menunggu akhirnya Marchelio, pun datang dia turun dari mobil sportnya, berjalan menghampiri Meisie.


"Mey, sudah lama menunggu? Ayo kita jalan sekarang." ajak Marchelio.


"Elo, aku ingin menanyakan sesuatu,"


"Nanti, saja dalam mobil ayo." Ajak Marchelio, sambil menarik tangan Meisie, untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Kenapa dia berpenampilan seperti ini? Bisa malu aku di hadapan anak-anak," batin Marchel, yang melihat pakaian Meisie, dari atas sampai bawah karena Meisie, hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans-Nya. Marchel pun berniat untuk membawa Meisie, kesebuah butik dan salon untuk mendandaninya.


"Mey, maaf aku tidak memberitahumu bahwa kita akan pergi ke perayaan party temanku, jadi … menurutku pakaianmu ini tidak cocok." ucap Marchelio, yang melirik ke arah Meisie.


"Kalau begitu, aku tidak ikut saja tidak apa-apa," sanggah Meisie.


"Tidak, kita lanjut saja. Soal pakaian aku akan membelikannya,"


"Tidak perlu," tolak Meisie.


"Tidak apa-apa," ujar Marchelio, yang langsung melajukan mobilnya. Meisie, semakin tidak nyaman Marchelio, seolah memaksa dirinya.


Tak berselang lama mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah butik, Marchel, langsung mengajak Meisie, turun dan masuk ke dalam sebuah butik. Setelah beberapa saat Meisie, dan Marchel, pun keluar dari butik itu. Meisie, merasa tak nyaman dengan gaun yang di pakainya, Meisie, terus menarik bagian bawah gaun yang hanya menutupi atas lututnya, dan Meisie, juga terus menarik lengan gaunnya, yang menurutnya sedikit pendek. Karena Meisie, tidak biasa dengan pakaian seperti ini.


"Elo, aku tidak nyaman dengan pakaian ini." Ucap Meisie yang terus menarik bawah gaunnya.


"Kamu terlihat sangat cantik, ayo."


"Apa dulu aku juga cantik?"


"Ya, tentu. Kamu sangat cantik wajahmu seperti bidadari, dari kecil aku sudah jatuh cinta padamu."


"Aku cantik! Saat kecil, wajahku sangat jelek, bahkan semua orang menjauhiku."


"Bagiku kamu itu sangat cantik, kapan kamu jelek, dari dulu wajahmu sangat mulus." ucap Marchel, membuat Meisie, yakin bahwa laki-laki di depannya ini bukanlah Elo, melainkan orang lain.


"Ayo, kita pergi sekarang," ajak Marchel, yang merangkul Meisie, namun Meisie, melepaskan rangkulan tangannya.


"Lepaskan," ketus Meisie. "Kau, bukan Elo, kau bukan teman kecilku,"


"Apa yang kamu bilang aku temanmu, teman kecilmu,"


"Jangan sentuh aku," bentak Meisie, setelah mendorong tubuh Marchel, membuat Marchel, marah dan menatapnya tajam.