The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Kembalinya Siska



Mey, duduk melamun di ruang kerjanya. Kesaksian hukuman mati pada pamannya membuatnya terus teringat walaupun sudah beberapa bulan yang lalu. Ketukan pintu pun tidak ia dengar karena pikirannya saat ini sedang berkelana. 


"Mey!" 


Teriakan Vika, membuatnya terhenyak. Dan tersadar dari lamunannya.


"Vika, kau buatku terkejut saja," 


"Siapa suruh ngelamun. Ngelamunin apaan sih?" 


"Kepo!" 


"Issh … gitu deh sama sahabat sendiri." Vika, mengerucutkan bibirnya.


"Ngapain kesini? Enggak kerja?" 


"Gak boleh ya aku kesini. Kamu tahu gak apa tujuanku datang kesini?" 


"Enggak!" 


"Mau tahu nggak?" 


"Enggak mau." 


"Ih … dasar, nyonya Giedon. Gak penasaran gitu sahabatnya datang ada kabar apa gitu. Gak lihat nih wajahku yang ceria begini."


"Memangnya ada apa?" 


"Gitu dong dari tadi kek, nanya!" ujar Vika, yang langsung duduk di hadapan Mey. Satu tangannya ia ulurkan seraya memberikan sebuah undangan. 


Mey, yang merasa heran pun langsung mengambil kertas undangan itu. "Kamu mau nikah!" Vika, pun mengangguk seraya tersenyum.


"Serius! Arkan, jadi juga ya meminangmu," goda Mey, yang membuat Vika, tersenyum bahagia. 


"Selamat ya akhirnya sahabatku married juga." Mey, mencubit gemas dagu Vika.


"Eh, ceritain gimana saat Arkan, ngelamarmu, aku jadi penasaran Arkan, kan kaku banget kaya kulkas." 


"Idih, emangnya suami kamu gak kaku! Justru tuan bos lebih kaku dan datar galak pula." 


"Tapi romantis sama istrinya."


"Ya … bucin abis." Mey, dan Vika, pun terkekeh. Sudah lama keduanya tidak tertawa lepas seperti itu, di karena, kan kesibukannya masing-masing. 


"Sekarang gilran kamu temani aku," ajak Vika, yang menarik tangan Mey.


"Kemana?" 


"Kemana lagi, facial, nyalon, luluran kan bentar lagi aku mau married," ucap Vika, dengan gaya centilnya. 


"Hm … dasar calon pengantin." 


Keduanya pun pergi bersama menghabiskan waktu berdua.


****


Kematian sudah terdengar oleh Janet, yang merasa sedih karena meninggalnya Farhan. Kini Janet, ingin menebus kesalahannya kepada Sharon, dengan cara membebaskannya. Dan berharap itu akan berhasil. 


Janet, duduk terdiam di depan teras rumahnya. Tiba-tiba seorang wanita datang dan berada di hadapannya. Lamunan Janet, pun tersadar dengan kehadiran wanita itu. 


Janet, mendongak, kan kepalanya bibirnya beku, matanya terbelalak saat melihat siapa wanita itu. Dengan segera Janet, berdiri dan mendekat ke arah wanita itu. 


"Siska!" 


Janet, langsung menarik Siska, untuk masuk ke dalam rumah sebelum ada yang mengetahuinya. Janet, masih tercengang dengan penampilan Siska, yang kembali menjadi cantik. Bahkan bintik-bintik merah di tubuhnya pun menghilang. 


"Siska, ini kau? Wajahmu … tubuhmu …." 


"Kenapa Mami, tidak percaya jika ini aku Siska, yang telah kau buang." 


"Maaf, kan Mami. Sebenarnya Mami, terpaksa melakukan itu kamu tahu sendiri anak-anak mami yang lain, mereka ingin kamu pergi, dan jika tidak mereka akan membunuhmu. Mami tidak ingin kamu kecelaka." 


"Ini semua gara-gara Vera, dia yang melakukan itu padaku." 


"Vera! Apa yang dilakukannya?" 


Siska, pun menceritakan awal mula permasalahannya. Sebelum tubuhnya menjadi cacat. Lalu, Siska, mengatakan jika dirinya terus berusaha mengobati lukanya dengan pengobatan herbal, karena Siska, tidak mengatakan yang sebenarnya tentang face brush ajaibnya. 


"Jadi Vera, yang melakukan ini. Tapi kenapa kamu kembali Siska, bukankah kamu tidak ingin menjadi wanita malam. Seharusnya kamu tinggal di luaran sana dengan bebas, jika kamu kembali kesini kamu sama saja menyerahkan tubuhmu." 


"Aku, tidak akan memaksamu lagi tetapi aku tidak yakin jika para tamu dan teman-temanmu yang lain akan melepaskanmu." 


"Aku, tidak punya tempat tinggal. Bagaimana pun aku berhutang budi pada Mami, yang sudah merawatku dan membesarkanku. Aku, akan mulai melakukannya hari ini." 


Demi membalaskan dendamnya pada Vera. Siska, berani melepaskan kehormatan yang selama ini selalu ia jaga, niatnya yang akan merebut semua lelaki yang menjadi milik Vera. Semuanya akan dia rebut. 


Namun, Janet, tidak mengizinkannya, karena tahu jika Siska, masih menjaga kesuciaan saat ini. Janet, sudah menganggap Siska, menjadi putrinya, dan Janet, tidak akan membiarkan Siska, melepas kehormatannya pada orang yang salah. 


Janet, pun memberitahukan rahasianya di masa lalu. Saat mempertahankan kesuciaannya di dalam lembah hitam itu. 


"Pakailah ini. Berikan ini pada minuman setiap lelaki yang akan tidur bersamamu. Dengan begitu kamu tidak perlu melayaninya." 


"Mami!" Siska, masih tidak percaya dengan saran yang di berikan Janet. 


"Dulu, Mami melakukan hal yang sama. Namun, karena sebuah tragedi Mami, seorang lelaki merampas kesucianku hingga aku hamil. Itulah kenapa sebabnya sekarang hidupku menjadi seperti ini, aku terlalu marah dan benci pada diriku sendiri." 


"Walau pun hidupku berada di dunia hitam, aku selalu berharap akan memberikan seluruh tubuhku pada laki-laki yang mencintaiku, dan menjadi suamiku tapi harapanku musnah saat itu. Hidupku sudah hancur." 


"Tapi aku berharap kamu bisa menjaga kehormatanmu dengan baik. Sampai nanti ada seorang lelaki datang yang akan menjadikanmu sebagai istri dan menikahimu." 


Janet, pun memberikan sebuah botol yang terdapat obat tidur di dalamnya. Siska, pun menetima botol obat itu dan berjanji akan melakukannya. 


Malam sudah larut, para penghuni club pun mulai berkeliaran, mencari sasaran tamu-tamunya yang datang. Vera, sudah kembali dari vila, masalahnya tidak ada yang tahu dan terus di tutupinya. 


Vera, adalah wanita yang paling populer dan banyak pelanggan. Tak sedikit pria yang datang menemuinya seperti saat ini Vera, sedang menyambut kedatangan tamunya. 


Namun, tiba-tiba dirinya di kejutkan dengan kedatangan Siska, yang berpenampilan seksi dan terlihat sangat cantik. Vera, mencebikkan bibirnya, menahan amarah karena kesal.


Apalagi Siska, berani merebut tamunya. 


"Hei, apa yang kau lakukan dia milikku." Ketus Vera, yang menarik tangan Siska. Dengan santai Siska, menurunkan cekalan lengan Vika.


"Oh ya! Mas … kamu pilih aku atau dia." Siska, menggoda tamunya dengan bergelayut manja. Membuat Vera kesal.


"Ya kamu dong sayang!" jawab laki-laki itu. 


"Mas, kamu tahu dia itu penyakitan. Tubuhnya bau busuk, apa kamu tidak takut tertular," cecar Vera. 


"Bau busuk! Cantik dan wangi seperti ini kamu bilang bau busuk!" pekik laki-laki itu. 


"Kamu yang bau busuk! Ayo sayang kita bersenang-senang." Lelaki itu pun pergi bersama Siska, sedangkan Vera, masih menahan amarahnya. 


"Sial! Dukun itu telah membohongiku dia bilang ramuan itu mujarab dan tidak ada obatnya tapi nyatanya Siska, kembali dan lebih cantik." gerutu Vera. 


Sesampainya di kamar Siska, mulai menjalankan aksinya. Siska, mencoba merayu lelaki itu menggodanya dan membelai lembut wajahnya. Dengan perlahan Siska, membuka kancing kemeja lelaki itu Siska, mencob tenang meski tubuhnya gemetar karena sentuhan lelaki itu. 


"Mas, minumlah dulu biar lebih rileks." Siska, memberikan segelas jus yang sudah di berinya obat tidur. Dalam sekejap lelaki itu pun tertidur setelah meminum jusnya. 


Siska, pun bernapas lega. 


'Akhirnya dia tertidur juga' batin Siska. 


...----------------...


Makanya Vera, jadi orang jangan licik. Siska, balaskan dendammu tapi tetap dengan pendirianmu untuk menjaga kehormatanmu


Jangan lupa like, vote, coment, dan favoritnya ya beri rating 5 oke 🙏🥰


Salam author


Dini-Ra


**PENGUMUMAN NOVEL BARU**


Hai, reader selagi nunggu up Mey-Lon nya, mampir juga yuk ke novel baru othor, baru rilis masih anget-angetnya nih!.


Ini novel othor loh, bukan novel promo jadi harus mampir ya ntar di cek absen kehadirannya hehe 😁



Cuplikan Bab 1


***************


"Tari," 


"Iya bos." 


"Antarkan pesananmu." 


"Siap." Kata seorang gadis berseragam membawa beberapa box pizza, pesanan konsumen yang akan di antarnya. 


Btari Kaniya, gadis berusia 21 tahun, bekerja sebagai pengantar pizza. Dia gadis manis, pekerja keras, dan pemberani. Terlahir dari keluarga sederhana tidak membuatnya malu melainkan membuatnya lebih semangat dalam bekerja. 


Bekerja sebagai pengantar pizza ia lakoni sejak dulu, sejak masa-masa SMA agar bisa membiayai sekolahnya sendiri. Itulah Tari, gadis yang mandiri dan tak pernah mempersulit keluarganya. 


"Selesai! semua sudahku masukan," ucapnya setelah memasukan beberapa box pizza ke dalam kotak di atas motornya. 


"Saatnya mengantarkan pizza." Tari, pun manaiki motornya melajukannya dengan cepat. 


***


Di sisi lain seorang pria begitu terburu-buru keluar dari rumahnya lalu masuk ke dalam mobilnya. Satu tangannya ia fokus, kan pada bundaran stir untuk mengatur laju mobilnya. Satu tangannya lagi ia angkat ke samping telinganya untuk memasangkan earphone pada lubang telinganya agar dapat berbicara dengan seseorang yang berbicara di balik ponselnya.


"Saya segera datang, sepuluh menit lagi saya akan sampai," ucapnya seraya memutar bundaran stir di depannya, untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. 


"Bawa, saja ke ruang UGD, periksa denyut nadi juga detak jantungnya. Apa disana ada dokter Lala?" 


"Ada dok," 


"Katakan padanya untuk menangani pasien itu, sebelum saya sampai."


"Baik dok." 


Tut. Sambungan telepon pun terputus. 


Aryan Wiguna, berusia 30 tahun seorang dokter spesialis, di rumah sakit xxx. Di pagi hari saat terbangun Aryan, mendapat panggilan telepon bahwa ada pasien yang darurat, dengan segera Aryan, pun membersihkan diri lalu pergi ke rumah sakit. 


Aryan, seorang dokter yang sangat peduli pada pasien, kapan pun dimana pun jika mendapat telepon darurat Aryan, akan langsung pergi menuju rumah sakit. Kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai seorang dokter benar-benar ia lakukan. 


****


"Permisi … pizza!" seru Tari, tak lama kemudian seorang permpuan membuka, kan pintu rumahnya, memberikan uang lalu mengambil box pizzanya. 


"Terima kasih!" ucap Tari, dengan ramah setelah menerima uang pembayarannya. 


Tari, pun melangkah kembali menuju motornya. Saat akan melajukannya tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan. 


Saat Tari, menjawabnya suara bariton terdengar keras di ujung sana. Seorang pelanggan yang marah karena menunggu pesanannya yang tak kunjung datang.


Tari, pun segera menutup teleponnya karena kesal. "Huh! gak sabaran banget, sih! Kelaparan banget kali ya ni orang.'' Tari, pun segera melajukan motornya menuju pelanggan selanjutnya walau pun mulutnya terus bersungut-sungut. 


Dengan ngebut Tari, melajukan motornya, membelah jalanan yang padat dan melewati beberapa kendaraan yang lalulalang. Ketidak sabaran pelanggan membuat Tari, ingin segera sampai. 


Di sisi lain Aryan, yang sedang panik karena di tunggu seorang pasien pun tak tanggung-tanggung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Setiap kendaraan yang menghalanginya ia selip, pedal gas pun terus ia injak sekuat-kuatnya, tatapan matanya tetap fokus menuju jalanan di depannya. 


Begitu pun dengan Tari, dia menekan stang gas nya dengan keras. Hingga motornya pun melaju sangat cepat. Kedua orang yang berbeda sedang di kejar-kejar dengan waktu, saat tiba di sebuah belokan, mereka pun bertemu


Aaaa …. 


Tari, tidak bisa menghindari mobil yang melaju ke arahnya, begitu pun sebaliknya. Di saat sudah dekat Aryan, pun membanting stirnya untuk menghindari kecelakaan, Begitu dengan Tari, sehingga motornya berbelok ke sisi yang salah hingga menabrak trotoar jalan dan akhirnya 


Bruk, 


Tari, pun terguling dengan motornya. 


'Aaa … aduh!" ringis Tari, saat tertindih motornya. 


Aryan, yang melihat kekacauan di belakangnya pun langsung menghentikan mobilnya. "Ya Tuhan!" Dengan panik Aryan, langsung turun bergegas pergi untuk melihat keadaan Tari. 


Beruntung Tari, gadis yang kuat disaat sedang merasa kesakitan Tari, mampu berdiri dan mengangkat kembali motornya. Aryan, yang melihat itu langsung membantunya. 


"Kau tidak apa-apa?" 


"Aku terguling, kau masih bisa bertanya apa aku tidak apa-apa?" skak Tari. 


"Aku minta maaf tapi aku sedang terburu-buru. Maafkan aku." Aryan, pun berlari menuju mobilnya..


"Hei, kau harus tanggung jawab!" teriak Tari, namun Aryan, sudah terlanjur pergi. 


"Ah sial! Dia malah pergi begitu saja," rutuk Tari.


"Ya Tuhan, pizzanya!" Tari, segera melihat pizza di dalam kotak  di atas motornya. Wajahnya langsung lemas saat melihat pizza nya yang hancur berantakan. 


"Bagaimana ini, pizzanya … hancur!" 


"Semua gara-gara pizza, aku jadi terluka dan uangku, gajiku akan di potong karena pizza ini!" Keluh Tari, seraya mengerucutkan bibirnya. 


...****************...


Jangan lupa mampir ya othor tunggu loh! Kehadirannya wk wk wk .


Jangan lupa masukin favorit ya biar dapat notif setiap partnya, mohon dukungannya 🙏🥰