The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Aku seorang pembantu



Perkataan Janet, tentang Siska, menggangu pikiran Bara. Hingga saat bekerja pun Bara, kehilangan konsentrasinya. Dia tidak mendengarkan persentasi yang kliennya sampaikan dalam pikirannya saat ini hanyalah Siska. 


"Aku ada urusan meeting kita tunda." 


Bara, pergi begitu saja meninggalkan kliennya yang diam mematung memperhatikan sikap Bara, yang tak biasanya.


"Ada apa dengan pak Bara?" 


"Entahlah," 


Berbagai pertanyaan muncul di benak mereka. Sebab, tidak biasanya Bara, meninggalkan meeting begitu saja.


Bara, berjalan memasuki mobilnya tanpa bantuan supir Bara, melajukan mobilnya meninggalkan perusahaannya. Bara, terus fokus menyetir panggilan yang terus menggetarkan ponselnya terus dia abaikan. 


Di sisi lain seorang wanita yang kesal begitu emosi dan marah karena panggilan teleponnya tidak di jawab oleh suaminya.


"Kemana Mas, Bara kenapa tidak menjawab teleponku," gerutu wanita itu. 


"Apa dia masih marah! Aneh sekali aku sudah bilang padanya sebelumnya bahwa aku akan menghadiri pesta temanku, biasanya dia tidak semarah ini." 


Wanita itu terus menatap ponselnya, berharap Bara, membalas pesannya atau pun memanggilnya kembali. Tapi Bara, sama sekali tidak mengkhiraukan panggilannya. 


"Makanya jadi istri jangan keluyuran. Layani suamimu, urus suamimu bukan terus mengurus karier dan kariermu," cecar seorang wanita paruh baya, dia adalah mertuanya ibu dari Bara. 


"Kenapa Mama selalu menghojokku? Apa jangan-jangan Mama, yang menyuruh Bara, pergi." 


"Ck, bukannya berpikir malah menyalahkan orang lain. Jika kalian memiliki anak mungkin Bara, akan betah di rumah." 


"Stop, Ma. Jangan ungkit-ungkit masalah itu lagi. Jika Mama ingin cucu kenapa tidak rawat saja anak jalanan. Selain kita menolong setidaknya ada yang bisa Mama banggakan yaitu cucu." 


Wanita tua itu terlihat kesal dengan perkataan menantunya. 


"Lebih baik aku pergi untuk cari Mas Bara." Wanita itu pergi tanpa permisi pada mertuanya. 


"Dasar, menantu yang tak punya sopan santun. Aku tidak habis pikir kenapa putraku mencintai wanita itu. Dasar, Gladis." 


*


*


*


Bara, sampai di depan apartemennya. Ia langsung berjalan ke arah kamarnya. Sesampainya di depan pintu Bara, pun mengetik sebuah pin untuk membukakan pintu. Sesampainya di dalam Bara, mencium aroma masakan yang menggiurkan. 


Selama hidupnya dengan Gladis, tidak pernah mencium aroma masakan selezat ini. Bara, berjalan lebih dalam hingga sampai di dapur. Bara, melihat Siska, yang sedang memasak wajah cantik, dan rambutnya yang terurai auranya semakin terpancar walau pun sedang memasak.


"Mas Bara." 


Siska, menghentikan aktifitas memasaknya saat melihat Bara, yang berdiri menatapnya. Siska, merasa gugup takut jika Bara, memarahinya. 


"Maaf, aku memakai dapurmu tanpa izin. Aku merasa lapar, aku melihat ada sedikit bahan makanan yang ada di kulkas, aku memasaknya," ucap Siska, gugup. 


"Bawa makanan itu ke atas meja." 


Siska, sedikit tercengang tapi Siska, tak banyak bertanya dia pun langsung membawa masakannya ke atas meja.


"Kenapa diam! Bukannya tadi bilang kau lapar." 


"I-iya," 


"Makanlah, aku juga akan memakannya." 


Wajah Siska, berbinar-binar. Hatinya saat ini sangatlah senang. Hari pertama suaminya memakan masakannya. Tidak pernah terbayangkan olehnya jika saat-saat ini akan datang. 


"Apa masakannya enak?" Siska, belum bisa tenang sebelum Bara, memuji masakannya. 


"Hm," Hanya itu yang Bara, katakan.


"Pasti lebih lezat masakan istrimu, terima kasih kau sudah mau mencicipi masakanku." 


"Ini masakan pertama yang aku makan setelah menikah," ucapan Bara, membuat Siska, tertegun. 


"Gladis, tidak pernah memasak untukku." lanjut Bara.


"Ini untukmu." Bara, memberikan satu black card pada Siska. 


"Pakailah untuk kebutuhanmu. Kau bebas membeli apa pun dengan kartu itu. Kau bisa memasak apa pun sesukam." Jelas Bara. 


Dengan ragu Siska, pun mengambil black card itu. "Terima kasih akan aku gunakan sebaik mungkin," ucapnya demikian. 


"Kenapa kau menangis?" Pertanyaan Bara, membuat Siska, tercengang 


"Aku melihat kau menangis semalam. Apa kau menyesal aku pergauli? Apa kau menyesal aku telah merenggut kesucianmu." Siska, tertegun. 


Kamu berhak atas semua yang ku punya. Akan tetapi … semalam aku merasa kamu melakukannya karena nafsu bukan karena hati, itu yang membuatku menangis." 


Bara, tertegun dia tidak mempungkiri jika semalam dirinya emosi dan berada di bawah minuman alkohol. 


"Maaf, semalam aku tidak bisa mengontrol emosiku." 


"Aku sudah memaafkanmu," balas Siska. Kini keduanya hanya saling diam, hingga sebuah ketukan pintu mengejutkan lamunan keduanya. 


"Biar aku buka," ucap Siska, yang beranjak pergi menuju pintu utama. 


Seorang wanita yang berdiri di depan pintu menatap tajam Siska. Tanpa permisi wanita itu berlalu masuk menerobos begitu saja. 


"Kenapa tidak menjawab teleponku?" 


Bara, langsung terhenyak ternyata Gladis yang datang ke apartemennya. 


"Kenapa kau diam? Sejak kapan kau makan di rumah siapa yang memasak makanan ini? Apa wanita itu?" Gladis, melirik tajam pada Siska, yang masih terdiam di depan pintu. 


"Untuk apa kau datang? Bukankah kau sibuk berpesta," cibir Bara. 


"Jangan mengalihkan pembicaraanku siapa wanita ini? Apa dia …." 


"Saya asisten rumah tangga yang baru. Saya baru bekerja hari ini." Sanggah Siska, membuat Bara, terhenyak.


Siska, sadar diri jika dirinya hanyalah istri sirih. Dan Bara, menikahinya hanya untuk mendapatkan seorang anak tidak lebih. Jadi saat Gladis, bertanya siapa dirinya dengan terpaksa Siska, menjawab mengakui bahwa dirinya hanya seorang pembantu. 


Namun, Bara, terlihat tidak suka saat Siska, mengucapkan hal itu. 


"Permisi, saya akan membersihkan  kembali meja makannya." Siska, pun membersihkan sisa makanan dan piring-piring yang ada di meja makan lalu di bawanya ke dapur. 


Kini tinggal Gladis dan Bara yang masih sama-sama terdiam.


"Mas, kamu belum menjawab pertanyaanku." teriak Gladis, yang di tinggal Bara, pergi begitu saja. Gladis, pun mengikuti Bara, meninggalkan apartemen. 


*


*


Bara, melajukan mobilnya sangat ngebut. Dia merasa bersalah dan merasa perih hatinya saat Siska, mengakui sebagai pembantunya. Siska, adalah istrinya walau hanya istri siri nya.


Argh … 


Bara, sangat marah pada dirinya sendiri. Sehingga terus memukul bundaran stir di di hadapannya. 


"Kenapa aku diam, seharusnya aku mengatakan bahwa dia adalah istriku." Bara, terus mengutuki dirinya sendiri. 


Di belakang sana Gladis, terus melajukan mobilnya seraya menyembunyikan klaksonnya agar Bara, menghentikan mobilnya. 


Di sisi lain Siska, duduk termenung meratapi nasibnya yang hanya menjadi istri siri sehingga terpaksa mengatakan jika dirinya hanyalah seorang pembantu. 


...----------------...


Jangan lupa dukungannya ya 🙏


Like, Vote, coment, favorit dan rate bintang 5


Salam author


Follow IG dini_rtn


...----------------...


Hai reader sambil nunggu up author mampir juga yuk ke karya teman thor, kak Erenn_na


Judul: Miana


Karya: Erenn-na



Blurb:


Sebuah perjalanan pencarian jati diri di tengah sulitnya hidup dan kekurangan kasih sayang membuat Miana menjadi pribadi yang mandiri dan kuat.


Ketika seorang diri tengah berada dalam pilihan sulit, maka jalan yang harus di pilih adalah mengikhlaskan. Sebuah kata yang amat singkat. Namum, butuh perjuangan besar untuk menjalaninya.


Di balik tawa seorang Miana terselip rasa sakit meminta keadilan. Ia berharap kebahagiaan dapat bersamanya, atas doa yang selalu ia langitkan. Akankah doa itu dapat kembali kepada pemiliknya? Bagaimanakah takdir cinta Miana di gariskan?


Dari penasaran sama langsung mampir aja yuk! Di kisah Miana,