
Elo, menatap kedua wanita di depannya. Wanita yang dia sayangi. Arkan, pun tetegun melihatnya, keduanya memiliki bentuk tubuh yang sama pakaian yang mereka tukar sangat cocok dan pas di pakai keduanya.
"Aku sudah lakukan yang kau mau sekarang apa lagi hah!" ketus Jil, dengan mata mendelik.
Elo, pun berjalan ke arah Mey, memegang pundaknya hingga menatapnya. "Aku akan selalu menjagamu, apa pun yang aku lakukan ini demi melindungimu. Pulanglah bersama Arkan, aku akan menyusul," ucap Elo.
"Apa yang terjadi? Memangnya kau mau kemana?" Mey, masih tidak mengerti dengan semua yang Elo, ucapkan. Hingga terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan.
"Aku akan menemuimu nanti, pakailah ini." Elo, memakai, kan sebuah mantels hangat untuk Mey, lalu menutup kepala Mey, dengan sebuah selendang, agar wajahnya tertutup tidak terlalu terlihat.
"Pergilah dengan Arkan," titah Elo, namun Mey, seolah berat jika harus melangkah pergi meninnggalkan Elo. .
Mau tidak mau akhirnya Mey, pun pergi. Dengan berat hati Elo, melepaskan kepergian Mey. Elo, menitipkan Mey, pada Arkan. Setelah mereka pergi Elo, berjalan ke arah Jil, yang sejak tadi menatapnya dengan bingung.
"Sebenarnya ini ada apa sih?" tanya Jil, kesal.
"Pakai topeng ini," titah Elo, yang memberikan sebuah topeng
"Untuk apa?"
"Berpura-puralah menjadi kekasihku ayo!" ajak Elo, yang menarik tangan Jil, untuk menuntunnya keluar dari resto.
Berkali-kali Jil, ingin melepas genggaman tangannya, namun Elo, begitu kuat menggenggamnya. Bahkan sampai memeluknya.
"Hanya sebentar saja," bisik Elo, membuat Jil, akhirnya terdiam.
"Lihatlah mobil itu," bisik Elo, yang menunjuk sebuah mobil yang berada tak jauh dari mobilnya. Jil, pun melihat mobil itu lalu Jil, bertanya apa hubungannya mobil itu dengannya. Dan mobil siapa itu.
"Akan aku jelaskan nanti, sekarang kau berpura-puralah menjadi kekasihku," bisik Elo, lagi.
Elo, sengaja melakukan Jil, seperti kekasihnya hingga kedua orang yang ada di dalam mobil itu penasaran dan geregetan melihat mereka berdua. Terutama Sharon, yang terbakar api cemburu.
Di saat mata Sharon, fokus memperhatikan Elo, dan Jil, dari arah belakang lewatlah sebuah mobil yang tanpa sadar bahwa Mey, yang ada di dalam mobil itu. Setelah mobil itu pergi menjauh Elo, pun membuka topeng yang di pakai Jil, dengan perlahan dan saat wajah Jil, terlihat kedua orang yang berada di dalam mobil pun kecewa.
"Lihatlah wanita itu bukan Mey." Sharon, benar-benar kecewa karena saat wanita itu membuka topengnya ternyata dia adalah Jilya, bukan Mey. Padahal Sharon, sudah yakin jika Elo, menyembunyikan Mey, di rumahnya.
"Percuma kita ikuti mereka semuanya sia-sia," ketus Sharon, sambil memukul dasboard mobil di depannya.
"Ini tidak mungkin, jelas-jelas tadi ku lihat wanita itu Mey, bagaimana bisa jadi lain!" pikir Marchel, dalam hati. "Ini pasti ada yang tidak beres. Aku yakin Mey, masih hidup," lanjutnya dalam hati.
"Untuk apa kita berdiam disini, cepat jalankan mobilnya kita pergi dari rumah ini." Sharon, sangat marah dan kesal sehingga ingin segera pergi dari tempat itu.
Marchel, pun dengan terpaksa melajukan mobilnya pergi meninggalkan resto. Setelah mobil itu pergi sangat jauh Elo, bisa bernafas lega.
"Sekarang jelaskan padaku. Apa maksud semua ini? Aku tidak suka ada rahasia atau hal yang di sembunyikan. Kakak tau, kan! Jika kita tidak pernah menyembunyikan apa pun dan akan selalu terbuka." Jil, mulai menggertaknya.
"Baiklah, sekarang kau masuk mobil dulu kita bicarakan di mobil." Jil, pun menurut apa yang Elo, katakan Jil, melangkah masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kemudi.
Sebelum Elo, masuk ke dalam mobilnya Elo, menghubungi Arkan, terlebih dulu untuk membawa Mey, ke tempat yang sudah ia tunjukan.
"Arkan, kau bawa Mey, ke tempat yang sudah ku tunjukan. Ingat! Jaga Mey, mengerti tapi jangan terlalu dekat juga." Elo, menitipkan Mey, pada Arkan, tapi dirinya tetap saja ada rasa cemburu saat menitipkan Mey, pada pria lain walau pun itu asistennya.
"Baik Tuan. Kekasih anda aman bersamaku, aku tidak akan menyentuhnya sama sekali," ujar Arkan, dengan tenang di ujung sana.
"Bagus. Jangan meninggalkannya sebelum aku datang."
"Baik Tuan."
Elo, pun menceritakan kronoliginya dari awal mula kenapa dan mengapa Mey, tinggal bersamanya. Lalu Elo, bercerita dan menjelaskan padanya jika Mey, adalah sahabat masa kecilnya. Gadis cantik yang selama ini ia cari.
"Jadi dia gadis yang selalu kau ceritakan padaku. Lalu kapan kalian bertemu? Kau tidak pernah bercerita." Jil, menatap Elo, tajam, seperti sedang mengintrogasinya.
Bukan dia tak setuju, akan hubungan Mey, dan Elo, hanya saja Jil, kecewa karena Elo, tidak pernah bilang atau bercerita jika dirinya sudah memiliki kekasih. Karena sejak kecil mereka tidak pernah saling merahasiakan apa pun. Walau jarak mereka sangat jauh Jil, selalu menghubungi kakak sepupunya di saat waktu senggang atau di luar jam kuliahnya.
Bahkan, Jil, selalu bercerita tentang kehidupannya di amerika sana, tentang temannya, hingga pria yang dekat dengannya. Tetapi saat mendengar Elo, akan menikah dan punya kekasih Jil, sangat marah dan kecewa. Hingga saat menemui Elo, dan Mey, Jil, harus mengatakan hal yang menyakiti hati mereka.
"Jawab aku, kapan kalian bertemu?" Jil, kembali bertanya.
"Kami bertemu sudah sangat lama, dia bekerja di perusahaanku, dari mulai menjadi OB, kami mulai sering bertemu dan kau tahu Miekey? Dia bahkan sangat dekat dengannya, ikatan batin keduanya sangat kuat bahkan Miekey, selalu tahu akan adanya bahaya pada Mey."
"Karena Miekey, juga kita sering bertemu sampai akhirnya kami dekat. Dan setiap momen pertemuan kami selalu mengingatkanku akan teman masalaluku. Lalu Mey, menjadi sekretarisku hingga saat terjadinya sebuah tragedi meyakinkanku jika dia adalah teman masa kecilku, hingga akhirnya kami pun bertemu kembali dengan membawa kenangan masa kecil dulu."
"Oke, ceritanya cukup menarik. Tapi yang aku tanyakan sekarang kapan kalian jadian?" Jil, sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban dari Elo, yang setahunya Elo, tidak pernah tertarik pada wanita.
"Aku sangat mengenalmu, dan kau tidak mudah menyukai wanita, kau itu CEO kaku, dingin, datar. Wajahmu sangat datar tersenyum saja kau tidak pernah kecuali padaku. Bagaimana caranya ksu bisa mengatakan cinta padanya." Jil, terus berpikir seraya menyimpan kedua jarinya di bawah dagunya.
"Pasti dia yang mengatakan cinta padamu duluan iya, kan! Secara kamu adalah CEO tampan, tajir, wanita mana sih yang tak jatuh cinta. Dan kamu terpaksa menerimanya iya, kan! Karena dia adalah teman masa kecilmu."
Elo, hanya tersenyum mendengar celotehan Jil. Padahal dirinya lah yang pertama kali meminta Mey, untuk menjadi kekasihnya bahkan mencuri ciuman pertamanya. Elo, terus tersenyum jika mengingat kejadian yang tak terduga di dalam mobilnya saat itu.
"Sepertinya aku harus berterima kasih pada penjahat itu," gumam Elo, yang tersenyum. Namun, ucapannya terdengar oleh Jil.
"Apa maksudmu? Penjahat, penjahat siapa?" Pertanyaan Mey, membuat Elo, tersadar dari lamunannya.
"Kenapa senyum-senyum seperti itu ayo katakan!" gertak Jil.
Elo, pun menceritakan kronologinya. Dari mulai saat dirinya keluar dari bioskop, bertemu Mey, yang sedang di kejar-kejar seseorang yang tidak dia kenal. Hingga Elo, menariknya ke dalam mobil dan terjadilah sebuah ciuman yang awalnya karena terpaksa untuk melindungi Mey, sehingga Mey, marah karena ciuman pertamanya telah dia curi.
Dan akhirnya ciuman itu menjadi awal hubungan mereka, menyatukan cinta mereka hingga kini.
"Wow, ternyata kakakku agresif juga ya! Aku tidak menyangka kau melakukan itu kau berani menciumnya." Jil, cukup tercengang mendengar kisah Elo, yang sudah berani mencuri ciuman seorang wanita.
"Berarti saat di bioskop itu kakak pergi sangat lama karena itu! Kakak membuatku menunggu hingga kakiku sangat pegal sedangkan kakak, malah enak-enak di dalam mobil." cibir Jil, membuat Elo, terbelalak.
"Jil, apa maksudmu enak-enak?"
"Lah itu! Ciuman kalau bukan enak-enak apa dong! Jangan bilang kau juga mencuri mahkotanya," cibir Jil, yang berniat ingin menyinggung Elo, tapi nyatanya Elo, tidak mengerti dengan ucapannya.
"Mahkota!"
"O my god, kakakku ini polos atau bodoh sih! Masa tidak tahu apa yang aku ucapkan." Jil, mengumpat. Lalu menghembuskan nafas dan kembali berkata.
"Mahkota itu kesuciannya. Maksudku keperawanannya."
"JIL." Elo, mendadak emosi saat Jil, mengatakan 'Keperawanan' mungkin Elo, sudah mengerti apa yang Jil, ucapkan.
...----------------...
Aduh Jil, bicara itu di jaga dong 🤦♀️
Jangan lupa dukungannya ,🤗
LIKE , KOMEN, VOTE, FAVORIT kasih bintang ⭐ juga ya 👌