The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Masuk jebakan



Sesaat sebelumnya 


Marchel, dan Sharon, sudah merencanakan sesuatu untuk menjebak Meisie. Dengan kepintaran Marchel, dalam masalah sadap menyadap, Marchel, pun menyadap nomor ponsel milik Elo, untuk mengelabui Meisie. 


Sharon, yang tahu akan masalah di kantor milik Elo, memantau semua gerakan Meisie, begitu pun dengan kejadian tadi siang kesempatan itu pun tidak di sia-sia, kan.


Messege


Maaf, sikapku tadi sudah membuatmu bersedih, maafkan aku. Sebagai permintaan maaf maukah kau menemuiku saat ini, aku ingin bicara denganmu sepertinya Miekey, merindukanmu. Aku tunggu di despacito cafe sekarang juga.


Send 


Dua sejoli, tertawa renyah setelah berhasil mengirim pesan itu. Di sebuah club yang berkelap-kelip Sharon, dan Marchel, beradu gelas wine-Nya, menciptakan sebuah suara nyaring. Suara musik yang menggelegar mampu memeka, kan telinga keduanya namun itu membuat mereka menikmatinya.


Di tempat lain, Meisie, mendapatkan sebuah pesan, wajahnya kembali berseri setelah melihat siapa nama yang mengirmnya 'My Bos' dengan segera Meisie, berlari menuju kamarnya, berdandan secantik mungkin karena akan bertemu dengan bosnya. 


Namun, tanpa di ketahui dirinya di jebak.


Meisie, kebingungan saat memasuki club malam, tempat yang tak pernah ia kunjungi. Di setiap sudut banyak sekali dua sejoli yang bercumbu tanpa adanya rasa malu.  


Di bawah kelap-kelip sebuah bola lampu


tak sedikit para wanita juga lelaki yang asyik berjoged, seperti orang mabuk. Suara musik pun menggelegar memeka, kan telinganya. 


"Ini tempat apa! Dimana Tuan bos?" tanya Meisie, pada hatinya. Tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri.


"Bosmu sudah menunggu," ucap wanita itu.


"Menunggu ku?" tanya Meisie, seraya menunjuk dirinya.


"Iya, namamu Meisie, kan!" tanya wanita itu Meisie, pun mengangguk. 


Meisie, mengikuti wanita itu berjalan melewati kerumunan orang yang sedang asyik berjoged. Meisie, pun berjalan menaiki anak tangga untuk menuju lantai dua entah mau kemana wanita itu membawanya. 


Langkahnya melewati beberapa kamar di sana, banyak sekali ruang-ruang kecil seperti sebuah kamar yang berjajar. Suara-suara menggelikan pun mulai terdengar, membuat Meisie, merinding ketakutan. 


Bruk, 


Suara dentuman pintu terdengar keras, seorang wanita yang di tendang dari dalam kamar pun Meisie, saksikan. Tempat apa ini sebenarnya? Para wanita menyemburkan asap rokoknya, membuat nafasnya terasa sesak karena menghirup asap rokok yang begitu banyak. 


Hingga akhirnya Meisie, pun tiba di depan sebuah kamar yang letaknya paling ujung di antara kamar yang lain. 


"Bosmu ada di dalam masuklah," perintah wanita itu. Meisie, merasa takut dan ragu, namun wanita itu membuka, kan pintunya memperlihatkan sebuah kamar dengan interior mewah bernuansa coklat. Terlihat gelap namun menjadi terang karena cahaya yang berasal dari sebuah lampu. 


"Ayo, masuk," titah wanita itu, Meisie, pun melangkah masuk ke dalam kamar itu seraya mengedarkan pandangannya.


Setelah Meisie, masuk wanita itu pun menutup pintu lalu menguncinya. Setelahnya wanita itu pun pergi.


"Sudah, beres. Aku sudah menguncinya sekarang mana bayaranku," ucap wanita itu seraya memberikan kuncinya pada seorang wanita yang tak lain adalah Sharon. 


Segepok uang pun dia berikan, pada wanita itu lalu melangkah pergi. Sharon, tersenyum senang rencananya kini berhasil. "Selamat menikmati Chelo, semoga dia bisa memuaskan dirimu," gumam Sharon. Yang berlalu pergi. 


**** 


Di tengah jalanan malam yang sepi, Elo, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hatinya saat ini begitu khawatir setelah mendapat telepon dari Meisie. 


Entah kenapa Elo, masih terpikirkan dengan despacito cafe, Elo, merasa heran untuk apa Meisie, pergi kesana. Elo, takut sesuatu hal terjadi pada Meisie, karena dia tahu seperti apa tempat itu. 


Sebuah tempat bisa di bilang lembah hitam, yang masuk ke tempat itu hanyalah orang-orang jahat, seperti mafia, bandar narkoba, dan laki-laki yang haus akan s3k5. 


"Arkan, temui aku di despacito cafe, sekarang," ucap Elo, pada sambungan telepon 


"Untuk apa kesana Tuan?" tanya Arkan, di ujung sana.


"Lakukan saja apa yang aku perintahkan." tukas Elo, yang langsung menutup teleponnya. Elo, kembali melajukan mobilnya dengan cepat hingga beberapa saat Elo, pun sampai di depan cafe tersebut.


Bersamaan dengan Elo, Arkan, pun datang. Arkan, pun merasa heran ada apa Tuannya datang kemari, apa untuk mencari wanita tapi untuk apa? Begitu banyak yang ingin Arkan, tanyakan. 


"Kita cari sekretarisku cepat!" ujar Elo, yang langsung melangkah masuk ke dalam.


"Meisie, ada di sini sedang apa?" tanya Arkan, lalu melangkah masuk.


**** 


Meisie, melangkah pelan menyusuri kamar itu, dengan memanggil-manggil nama bosnya. "Tuan, Tuan bos." 


"Aku di sini," ucap Marchel, yang berdiri di belakangnya. 


"Kau!" Meisie, begitu terkejut. 


"Halo, Mey, ini aku Elo, mu," ucap Marchel, yang tertawa menyeringai. 


"Pembohong, dimana bosku cepat katakan!" 


"Untuk, apa mencarinya ada aku di sini," ucap Marchel, yang mencoba menyentuh Meisie, namun di tepisnya. 


Meisie, berlari menuju pintu, sayang pintunya sudah terkunci rapat. Meisie, terus mencoba namun tetap saja gagal. 


Aaa … jerit Meisie, saat Marchel, memangku tubuhnya melemparnya ke atas ranjang. 


"Kamu tidak bisa pergi kemana pun malam ini kamu milikku," ucap Marchel, yang tertawa.


Bugh, ah …. sial! 


Marchel, mengerang saat Meisie, menendang kejantanannya. Meisie, kembali bangun dan akan melangkah pergi akan tetapi tangannya langsung di tarik oleh Marchel. Membuatnya kembali terjatuh di atas ranjang. 


"Ah, lepaakan … lepaskan aku" teriak Meisie, yang meronta-ronta, melepas dekapan Marchel. 


"Diam kau Mey," bentak Marchel, yang membuat Meisie, terdiam. 


"Apa yang membuat wajahmu cantik? Dimana luka bakarmu itu?" 


"Siapa kau?" tanya Meisie, Marchel, hanya tergelak. 


"Kau ingat aku, anak laki-laki yang selalu menyiksamu?" 


"Chelo!" ucap Meisie, yang mengingat teman kecilnya dulu yang selalu mengganggunya. 


Chelo, dia selalu membuat Meisie, menangis. Dia menyiram Mey, dengan air. Menabraknya dengan sepeda, mendorongnya sampai terjatuh, menjambak rambutnya hingga Mey, meringis kesakitan. 


"Kau Chelo, untuk apa kau menggangguku!" 


"Ya, aku Chelo, aku ingin bermain denganmu Mey, sudah lama kita tidak bermain," ucap Marchel, yang tersenyum licik. 


"Apa lagi yang akan kamu lakukan! Aku bukan Mey, yang dulu yang bisa kau siksa semaumu," bentak Meisie, membuat Marchel, marah dan menjambak rambutnya.


Ah … ringis Meisie.


"Tenang saja aku tidak akan menyiksamu, aku hanya ingin menikmati tubuhmu, kita nikmati malam ini sayang, argh …." Marchelio, menjerit untuk kedua kalinya kejantanannya di tendang. 


Meisie, bangun dan berlari namun Marchel, berhasil menariknya kembali hingga berada di bawah kungkungannya, Meisie, terus meronta dan berteriak meminta pertolongan namun tangan kekar Marchel, begitu kuat. 


"Lepaskan, tolong … tolong …." teriak Meisie, membuat Marchel, bosan mendengarnya. Hingga Marchel, menampar wajah Meisie, sekeras mungkin membuat ujung bibirnya robek hingga mengeluarkan cairan kental merah di sudut bibirnya. 


Menciptakan rasa sakit yang luar biasa, Meisie, pun meringis dan akhirnya diam tidak mampu lagi melawan. Dalam sepersekian detik kesadarannya pun hilang. 


Marchel, tidak menyia-nyiakan kesempatannya, dengan gerakan cepat tangannya mencoba membuka resleting hoodie yang di pakai Meisie, membukanya lalu membuangnya. 


Karena Meisie, menggunakan t-shirt membuat Marchel, sulit membukanya hingga terpaksa merobek t-shirt itu yang hanya memperlihatkan tubuh Meisie, yang tertutup lingerianya, membuat Marchel, semakin bergairah saat melihat leher jenjang Meisie, yang terlihat jelas. 


"Aku, tidak menyangka tubuhmu sangat mulus!" ucap Marchelio, sebelum akhirnya mendekat, kan bibirnya untuk melumati leher jenjang itu sebelum akhirnya gagal karena tendangan sebuah kaki, yang menendang wajahnya hingga tersungkur. 


"Sial! Kau selalu saja menggangguku," umpat Marchel, yang melihat Elo, berdiri di hadapannya.