
Pertemuan singkat antara Mey, dan Siska, pun berakhir. Kini Siska, sudah kembali ke apartemennya. Siska, terkejut dengan kedatangan Bara, di dalam apartemennya.
Saat Siska, masuk Bara, sudah duduk di sofa seraya memejamkan matanya. Siska, yang melihat itu seolah mengerti jika Bara, sedang ada masalah saat ini. Sehingga dirinya ingin menenangkan diri.
"Kapan kamu datang? Apa sudah lama?"
Pertanyaan Siska, membuat Bara, terbangun dan membuka matanya.
"Maaf, apa aku mengganggu tidurmu? Jika kamu ingin istirahat kenapa tidak di kamarmu saja?" lanjut Siska, yang berlalu menuju ke dapur untuk menyimpan barang belanjaannya.
Bara, masih diam dan memperhatikan Siska, belum berkata apa pun.
"Apa kau memasak sesuatu?" tanya Bara, membuat Siska, menoleh.
"Apa kau ingin makan? Aku belum memasak, aku baru saja membeli bahan-bahan masakannya. Tapi jika kamu ingin makan segera, aku bisa memesankan makanan untukmu."
"Aku sedang tidak ingin makan di luar. Aku hanya ingin memakan masakanmu," ucap Bara, yang memejamkan matanya kembali.
Tanpa sadar ucapannya itu membuat Siska, tersenyum. Bara, sudah jatuh cinta pada masakanmu Siska, perlahan-perlahan Bara, akan jatuh cinta padamu.
"Baiklah, aku akan memasaknya segera."
Hm … hanya itu sahutan dari Bara.
Siska, mulai mempersiapkan bahan-bahan masakan yang baru saja dia beli. Mengiris, memotong, menggoreng, dan mulai menumis. Aroma bau masakan mulai tercium. Aroma yang lezat mampu membangunkan laki-laki yang bersandar pada sofa.
Bara, terbangun dari tidurnya saat menghirup aroma lezat dari arah dapur. Bara, pun berjalan ke arah dapur yang dimana semua masakan sudah tersaji di meja makan.
"Kau sudah bangun aku baru saja akan membangunkanmu. Makanannya sudah siap, aku hanya memasak sedikit saja takut jika perutmu sudah sangat lapar. Ayo duduk," ajak Siska.
Bara, pun melangkah menuju meja makan. Lalu duduk di kursinya. Siska, menuangkan nasi ke atas piringnya lalu memasukan beberapa lauk dan sayuran di dalamnya.
Bara, hanya terdiam ketika mendapat perlakuan itu dari Siska. Dirinya saat ini seperti berperan sebagai suami sesungguhnya. Selama menikah dengan Gladis, jangankan menuangkan makanan untuknya, membuatkan teh atau kopi saja tidak pernah Gladis, lakukan.
Gladis, selalu meminta ART-Nya, untuk menyiapkan semuanya. Tapi hari ini Bara, melihat sisi yang lain dari seorang wanita yang menjadi istri siri-Nya. Wanita itu adalah Siska, yang saat ini sedang melayaninya.
"Mas Bara!" panggil Siska, membuyarkan lamunannya.
"Kenapa tidak di makan? Apa tidak suka dengan makanannya? Seharusnya tadi aku bertanya dulu padamu apa makanan yang kamu suka."
"Tidak, bukan begitu. Aku menyukai masakannya. Aku merasa aneh saja kamu melayaniku menuangkan nasi, lauk, dan juga makanan yang lain untukku. Padahal tidak perlu serepot itu aku bisa melakukannya sendiri."
"Kenapa merasa aneh? Aku hanya menjalankan tugasku sebagai seorang istri. Mungkin aku terlalu bersemangat karena kamu mau memakan masakanku, aku merasa seperti seorang istri yang sesungguhnya," ucap Siska, dengan nada yang sedikit di rendahkan pada kalimat terakhir.
"Aku menikahimu secara sakral yang di akui agama, walau pun pernikahan kita tidak di akui negara tapi kamu tetap istri SAH ku."
"Istri SAH adalah istri yang sesungguhnya." lanjut Bara. Siska, pun tersenyum hambar.
"Ya, istri SAH, hanya sampai saat melahirkan anakmu nanti" batin Siska, yang masih ingat dengan perjanjian itu, perjanjian awal pernikahannya.
Bara, menikahinya hanya demi satu tujuan, yaitu anak hanya demi mendapatkan seorang anak dari Siska, tidak ada bedanya dengan Siska, yang menjual rahimnya demi sebuah uang.
Makan malam pun selesai. Siska, membawa semua sisa makanan dan juga piring yang kotor. Setelah membawa dan menaruhnya di westafel Siska, pun melanjutkan pekerjaannya yaitu mencuci piring.
Lagi-lagi Bara, di buat tertegun Siska, dengan rela dan tanpa di minta mencuci piring kotor itu sendiri. Sedangkan Gladis, jangankan mencuci piring menyentuh piring kotor saja tidak pernah.
Dia selalu takut jika kuku indahnya rusak. Dan tangannya jadi kasar hanya karena mencuci dan menyentuh sabun diterjen. Tapi, Siska, tanpa ragu dia melakukan semua pekerjaan itu.
"Aku menikahimu untuk melahirkan anakku bukan menjadi pembantuku."
Suara dingin Bara, membuat Siska, menoleh.
"Maksudmu?" tanya Siska polos
"Kamu memasak aku tidak masalah, tapi kamu mencuci piring dan mengerjakan pekerjaan rumah, semua kamu kerjakan. Biarkan saja piring kotor itu biar si Mbo yang kerjakan, besok pagi dia akan datang."
"Apa masalahnya? Tidak mungkin juga aku harus menunggu si Mbo, dan membiarkan piring kotor ini sampai pagi."
Bara, berjalan lebih dekat ke arah Siska.
Siska, terdiam sejenak mencoba memahami perkataan Bara.
"Kamu salah mengartikan. Aku hanya menjalankan peran sebagai seorang istri. Ya … walau pun itu hanya sementara."
"Kenapa harus di permasalahkan? Apa kamu tidak pernah melihat istrimu melakukan semua pekerjaan ini? Ah … aku lupa jika kehidupan kalian sangatlah bercukupan. Dan kamu tidak akan membiarkan istrimu mengerjakan pekerjaan ini."
"Peran seorang suami adalah mencari nafkah untuk istrinya dan peran seorang istri ya … ini membantu suaminya dalam mengerjakan hal-hal kecil. Kamu tidak perlu khawatir tanganku tidak akan terluka hanya karena mencuci piring."
Bara, tidak bisa berkata apa-pun. Namun dirinya semakin bingung dan aneh melihat sikap Siska, yang dimana seorang istri akan merajuk dan meminta suaminya untuk mencarikan ART, untuk mengurus rumahnya. Tetapi Siska, dia berbeda dari yang lain apalagi dari Gladis.
...****...
Bara, itu namanya seorang istri bukan cuma mempercantik diri. Kamu makin bingung sama Siska, semakin bingung kamu akan semakin penasaran loh Bara hehe …
...****...
Hai reader, sambil nunggu lanjutan Siska dan Bara. Mampir dulu yuk ke novel bestie aku. Ceritanya seru banget loh, Nih othor kasih cuplikan babnya👇👇
Judul : MAKMUM PILIHAN MICHAEL EMERSON
Penulis :SkySal
Cuplikan
"Sayang, kok kamu cantik banget sih kalau pakai daster begini?" Micheal berkata sembari bergelenyut manja di punggung Zenwa yang saat ini sedang membuat roti panggang.
Zenwa memang hanya memakai daster saat ini, rambutnya di cepol asal dan ia tidak memakai apapun di balik daster itu di karenakan tadi ia terburu-buru, perutnya sudah keroncongan dan cacingnya itu sudah demo minta makan.
"Cantiknya buat kamu," ucap Zenwa yang sedikit kesulitan bergerak karena Micheal yang terus menempel seperti anak ayam yang baru menetes. "Sayang, kamu tunggu di meja makan ya, aku mau buat susu dulu," tukas Zenwa kemudian.
"Tapi masih kangen, masih mau hirup aroma kamu," rengek Micheal manja dan ia pun mencium tengkuk Zenwa, seluruh tubuh Zenwa meremang, dan ia menggeliat geli.
"Kangen bagaimana? Kita selalu bersama," kata Zenwa dan ia mengambil dua gelas untuk membuat susu.
"Ya kangen, tadi pas aku bangun tidur, kamu tidak ada, kita sudah berpisah tadi karena kamu sibuk di dapur." Zenwa terkekeh mendengar aduan suaminya itu.
"Kamu nyenyak sekali tidurnya, aku tidak tega yang mau bangunin, Sayang."
"Tapi kan bisa pamit dulu, cium dulu gitu, sebelum pergi ke dapur."
"Sudah, tadi aku sudah cium kamu."
"Bohong! Nggak kerasa."
"Ya kan kamu tidur, gimana mau terasa?"
"Seharusnya terasa kalau kamu ciumnya di bibir, tadi kamu ciumnya dimana?"
"Di tangan."
"Yah, di tangan itu kalau aku mau berangkat kerja.
"Okey okey. Sekarang, ayo kita makan, setelah ini aku cium di bibir."
"Janji?"
"Iya."
"Mau bikin bayi lagi?"
"Pabriknya masih capek, Sayang."
Tbc....
Gimana penasaran, kan! Langsung aja yuk ke lapaknya