The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Mendadak jadi putri



Sebelum lanjut silahkan baca bab sebelumnya di karena, kan kemarin malam ada yang ter-up 2 Bab yang Despacito kini sudah di revisi. 🤗 Silahkan baca kembali 🤗.


...----------------...


Elo, dan Arkan terus berlari melewati kerumunan cafe, tak sedikit para wanita yang menggodanya namun ia abaikan. Arkan, dan Elo, pun berpencar mencari Meisie, namun tidak di temukan.


Hingga akhirnya mata Elo, tertuju ke lantai dua, yang terdapat beberapa kamar yang berjajar. Elo, dan Arkan, pun berlari ke lantai atas, menyusuri setiap kamar dan mendobraknya satu persatu hingga menghasilkan suara dentuman keras. 


"Tidak ada Tuan," ucap Arkan, setelah masuk ke dalam kamar tersebut. Semua kamar sudah di lihatnya, namun tidak ada keberadaan Meisie. 


Hanya satu kamar paling ujung yang belum ia dobrak. Elo, pun menyuruh Arkan, untuk mendobraknya hingga Elo, pun turut membantu, hingga akhirnya pintu pun terbuka. Mata Elo, membulat sempurna ketika melihat siapa yang berada di dalam kamar itu, yang tak lain adalah Meisie, yang berada di bawah kungkungan seorang pria. Yang tak lain adalah Marchel.


Sebelum Marchel, mendaratkan bibirnya dengan segera Elo, menendang wajahnya hingga tubuhnya terdorong jauh. 


"Sial!" umpat Marchel.


Elo, menatap tajam ke arah Marchel, seperti mengenali wajahnya. Elo, pun ingat bahwa Marchel, adalah lelaki yang hampir saja melecehkan Meisie, saat itu. 


Dengan penuh amarah Elo, pun menghantam wajah Marchel, berkali-kali hingga terjadilah perkelahian di dalam sana. 


"Kau, bajingan!" Elo, mengerang lalu memukul Marchel, kembali. Hingga Marchel, terkulai lemah. 


Elo, berjalan ke arah Meisie, yang tergeletak di atas ranjang. Elo, langsung menutupi tubuh Meisie, dengan Jaketnya lalu menggendong tubuh Meisie, pergi dari kamar itu. 


"Arkan, bereskan orang ini." perintah Elo, pada Arkan. Arkan, pun menghampiri Marchel, dan membawanya. 


Elo, menidurkan Meisie, di kursi belakang setelahnya Elo, pun pindah ke kursi kemudi untuk membawa Meisie, pergi. Elo, terus menatap Meisie, di balik pantulan kaca depan. 


Meisie, masih belum sadarkan diri, dan Elo, melihat jelas luka di sudut bibir Meisie. "Bodoh! Apa yang dia pikirkan, apa dia tidak tahu tempat apa itu, mana mungkin aku pergi ke tempat seperti itu," umpat Elo, yang kesal pada Meisie. 


Beberapa saat Elo, pun menghentikan mobilnya di depan sebuah mansion mewah, yang tak lain adalah rumahnya. Elo, turun dari mobilnya lalu membawa Meisie, masuk ke dalam rumahnya. 


Elo, membawa Meisie, masuk kedalam kamarnya menidurkannya di atas ranjang king sizenya. Setelahnya Elo, berjalan melangkah menuju sebuah almari untuk mengambil sekotak p3k. 


Elo, membersihkan luka di bibir Meisie, dengan perlahan, entah kenapa wajah Meisie, mengingatkannya pada seseorang. Elo, mencoba mengabaikan perasaan hatinya yang berkecamuk saat ini detakan jantungnya pun begitu cepat dari biasanya, namun Elo, mencoba untuk menetralkannya.


Elo, terus menatap wajah Meisie, tanpa berpaling sedikit pun. Beruntung kekuatan sihir face brushnya baru belangsung dua jam saja hingga masih tersisa 10 jam untuk saat ini. 


"Bi, Bibi," teriak Elo, memanggil pelayannya. Tak berselang lama seorang pelayan pun menghampirinya. 


"Iya Tuan," ujar pelayan itu. 


"Ganti bajunya," titah Elo, yang langsung menjauh dari Meisie. 


"Tapi Tuan, dengan pakaian siapa?" tanya pelayannya. Elo, lupa bahwa dirinya hanya tinggal sendiri sedangkan kedua orangtuanya sudah kembali ke rumah utama. 


"Cari di kamar mama, mungkin ada pakaian yang dia tinggalkan," titah Elo, pelayan itu pun mengangguk dan pergi. Tak berselang lama kembali dengan membawa satu dres putih di tangannya. 


"Tuan, saya sudah membawa pakaiannya," 


"Ganti sekarang, aku akan keluar," 


"Baik Tuan," Elo, pun pergi keluar meninggalkan kamarnya. 


Pelayan itu pun mulai menggantikan pakaian untuk Meisie, dia menatap heran siapakah Meisie? Karena Meisie, lah satu-satunya wanita yang di bawa ke rumah Elo, apalagi membawa ke dalam kamarnya.


"Siapa ini ya! Apa pacarnya Tuan? Kasihan sekali dia terluka, Tuan perhatian sekali membawanya kemari," gumam pelayan itu yang masih sibuk menggantikan baju untuk Meisie. 


Di halaman belakang rumahnya, Elo, menggenggam erat ponsel milik Meisie. Di bacanya pesan terakhir, yang mengatas namakan dirinya. 


Elo, pun meras heran.


"Baik, Tuan." jawab Arkan, di ujung sana


"Besok pagi berikan aku kartu baru, dan bawakan baju wanita seukuran tubuhnya." 


"Maksud Tuan? Apa Tuan membawanya pulang ke rumah?" 


"Jangan banyak tanya, lakukan saja." 


"Baik Tuan." 


"Ya sudah, aku tutup teleponnya," Tut, sambungan telepon pun di tutup. Setelah menutup teleponnya Elo, langsung membuang kartu simnya. 


Karena sudah tahu ada yang menyadapnya Elo, pun tak ingin lagi memakai kartu yang sama.


**** 


Keesokan paginya, Meisie, mulai mengerjapkan mata. Di lihatnya sekeliling yang bernuansa putih, Meisie, merasa heran ada di mana dirinya. 


"Dimana aku?" ucap Meisie, yang terbangun. 


"Selamat pagi!" Meisie, di kejutkan oleh tiga pelayan yang masuk ke dalam kamarnya. Membawa menu sarapan pagi saat ini. 


"Kalian siapa?" tanya Meisie, heran 


"Saya Farida, kepala pelayan di rumah ini," ucap seorang pelayan yang sudah cukup tua.


"Dia Nela, dan dia karisma, pelayan rumah ini, mereka yang akan melayani anda." lanjut Farida. 


"Apa! Pelayan, sebenarnya aku ada dimana?" 


"Tenang saja nona, kami di sini bukan orang jahat. Kami di tugaskan oleh Tuan kami untuk menjaga anda."


"Ini sarapan anda, silahkan dinikmati," ujar seorang pelayan yang menyimpan sebuah meja berisikan sebuah menu sarapan di atasnya, mendekatkan ke arah Meisie.


Meisie, merasa aneh dirinya seperti seorang putri yang di layani banyak pelayan, apa ini dalam mimpi? 


Ah, jerit Meisie, saat mencubit pipinya mengetes ingin tahu bahwa dirinya tidak mimpi.


"Ini, bukan mimpi," ucap Meisie, yang langsung memakan sarapannya. 


Setelah kenyang Meisie, menidurkan tubuhnya sejenak, menatap kembali langit-langit kamar yang begiti mewah. Seandainya ini bukan mimpi Meisie, ingin sekali tinggal lebih lama di kamar itu. 


"Nona," seruan pelayan mengejutkannya 


"Waktunya untuk mandi, kami sudah menyiapkan air hangatnya." 


"Mandi saja dengan air hangat! Ya Tuhan kapan aku di layani seperti ini!" 


Meisie, bak seorang putri di layani, di dandani, bahkan dirias dengan cantik, pakaian mewah pun melekat pada tubuhnya membuat Meisie, semakin cantik dan indah. 


"Meisie, kamu seperti seorang putri," ucap Meisie, yang menatap dirinya pada pantulan cermin. Namun, tiba-tiba Meisie, teringat wajahnya dia ingat face brushnya yang hanya akan bekerja selama 12 jam setelah itu, wajahnya akan kembali berubah. Meisie, pun panik dan langsung berlari pergi dari rumah itu, meninggalkan sepatu yang di pakainya semalam. 


"Nona, anda mau kemana?" teriak seorang pelayan yang memanggilnya. 


"Aduh, bagaimana ini, bagaimana kalau tuan marah?" si pelayan pun ketakutan. Karena saat ini Elo, sedang melakukan olah raga paginya bersama Miekey. 


Meisie, terus berlari melewati jalanan padat di pagi hari, tanpa memakai alas kaki. Meisie, tidak mengetahui bahwa dirinya berada di rumah Elo, Tuan bosnya. 


Dengan nafas tersengal-sengal, keringat pun membasahi wajahnya, 30 menit sudah Meisie, berlari sampai akhirnya tiba di depan rumahnya, bersamaan dengan hilangnya sihir pada brush itu membuat wajahnya kembali pada semula. Yang memiliki codet di wajah kirinya.