
Mey, sudah siap menunggu Elo, untuk menjemputnya. Gaun indah dengan motif bunga-bunga melekat di tubuhnya, dengan memberikan sedikit polesan di wajahnya. Mey, terus memandangi wajahnya pada pantulan cermin, menatap wajahnya yang mulus itu, seandainya wajahnya akan tetap seperti itu, tanpa harus tergantung pada brushnya, tapi itu tidak mungkin pikirnya.
Anggap saja ini gaunnya 🥰
Pikirannya yang sedang berkelana, tak menyadari tangan seseorang telah melingkar di perutnya. "Apa yang sedang kau lamunkan?" ucapan serang pria mengejutkannya.
Elo, yang sudah melingkarkan tangannya, memeluknya dari belakang terus memperhatikan Mey, yang sedang bergulat dengan pikirannya. "Ada apa? Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Elo, lagi.
"Tidak ada. Aku hanya sedang menunggumu saja." Elo, memutar tubuh Mey, agar berbalik menghadapnya.
"Kamu sangat cantik." Mey, hanya tersenyum mendapat pujian itu, hatinya saat ini sudah pasti berdebar-debar apalagi saat Elo, terus membelai lembut pipinya.
"Apa kita jadi pergi?" tanya Mey, tiba-tiba seolah sedang menetralkan detak jantungnya.
"Apa kau sudah tidak sabar untuk pergi bersamaku!"
"Tapi bagaimana cara kita keluar? Bagaimana kalau ada yang melihatku?"
"Tidak akan ada yang melihat kita. Pakailah ini," ucap Elo, seraya memakaikan sebuah topeng pada wajahnya. Begitu pun dengan Elo, yang juga mengenakan sebuah topeng untuk menutupi wajahnya.
"Kenapa kau memakai itu?" Mey, terlihat heran karena Elo, menutupi wajahnya dengan topeng itu.
"Untuk mengenang masa kecil, ayo!" jawab Elo, yang langsung menarik tangan Mey, lalu melangkah pergi.
Elo, dan Mey, menuruni anak tangga tanpa melepaskan genggamannya. Para pelayan yang melihat pun merasa bahagia, melihat kelembutan, keromantisan sang tuan pada putrinya, apalagi saat ini keduanya mengenakan sebuah topeng untuk menutupi wajahnya. Para pelayan pun sangat heran kenapa mereka harus menutupi wajahnya.
"Adem ya lihat tuan bos, begitu."
"Iya, aku tidak menyangka tuan bos yang dingin dan kaku bisa selembut dan seromantis itu."
"Pasti tuan bos sangat menyayangi nona."
"Selama bertahun-tahun aku kerja disini tidak pernah melihat tuan membawa seorang wanita, apalagi menggandengnya, hanya nona itu wanita pertama yang dia bawa."
"Semoga mereka selalu bahagia"
Para pelayan saling berbisik, memuji tuannya. Semenjak kehadiran Mey, di rumah itu membuat para pelayan senang. Karena tak pernah lagi melihat tuannya marah, dan sekarang yang mereka lihat hanyalah senyuman tuannya.
Elo, membuka, kan pintu mobil untuk Mey, setelah Mey, masuk, Elo, bergegas masuk ke dalam mobil lalu duduk di bagian kemudi dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan mansion mewahnya.
Namun, tanpa mereka sadari di saat mobil yang Elo, naiki keluar dari mansion itu, ada sebuah mobil yang berada di belakang mereka, mobil itu seperti memantau gerak-gerik mereka karena mobil itu terus mengikuti mobil di depannya.
Elo, terus melajukan mobilnya tanpa menoleh ke belakang, Elo, dan Mey, terlihat bahagia dan terus tersenyum.
"Kita mau kemana?" tanya Mey, yang begitu penasaran akan tempat yang di tuju.
"Sudah ku bilang, untuk mengenang masa kecil." Elo, terus tersenyum kedua tangannya masih fokus menyetir.
"Apa susahnya sih! beritahu aku." Mey, sedikit kesal seraya mengerucutkan bibirnya. Elo, semakin gemas di buatnya sampai mencubit pipinya.
"Elo," bentak Mey, yang merasa sakit di pipinya.
"Jangan cemberut begitu, itu membuatku gemas nanti ku cubit lagi."
"Sakit tahu!"
"O ya! Sini mana yang sakit biar aku elus-elus,"
"Elo, fokuslah menyetir." Mey, semakin kesal tapi Elo, malah tergelak dan dalam keadaan kesal seperti itu Elo, berani mencuri ciumannya.
"Elo!" Mata Mey, mulai mendelik, saat satu kecupan mendarat di pipinya.
"Sudah jangan ngambek sebentar lagi kita sampai." Mey, hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Elo, seperti itu. Dirinya tak menyangka menemukan sisi lain dari sikap Elo, yang dingin dan kaku itu.
Elo, menghentikan mobilnya di sebuah resto setelah sampai keduanya di sambut ramah oleh seseorang yang menjadi pemilik resto. Lalu keduanya pun masuk ke dalam.
Mey, merasa heran dan aneh keadaan resto malam ini begitu sepi tidak ada pengunjung satu pun. Pengunjung malam ini hanyalah mereka berdua. Mey, dan Elo, pun di tuntun mengikuti langkah si pemilik resto dan akhirnya berhenti di sebuah meja bundar yang sudah di hiasi bunga dan lilin aroma therapy. Membuat suasana semakin romantis.
"Selamat datang di resto kami. Tuan ini bunga untuk nyonya." Si pemilik resto pun memberikan sebuket bunga mawar pada Elo, yang sudah di siapkan. Lalu si pemilik resto pun pergi memberikan waktu untuk mereka berdua.
Elo, langsung memberikan bunga itu kepada Mey, awalnya Mey, masih diam karena tersanjung dengan semua kejutan yang Elo, berikan. Makan malam di sebuah resto mewah, di hiasi bunga-bunga, bahkan di berikan sebuket bunga untuknya. Sungguh seperti mimpi baginya. Tapi inilah kenyataannya dirinya kini bagaikan seorang putri yang sedang berkencan dengan seorang pangeran.
Elo, menarik sebuah kursi untuk Mey, duduki. Setelah ya Elo, pun duduk berhadapan dengan Mey. Tak lama kemudian datanglah beberapa pelayan yang membawakan hidangan spesial.
"Kenapa tidak ada pelanggan lain? Apa hanya kita saja?" Mey, masih penasaran dengan keadaan resto yang begitu sepi.
"Aku sudah bilang padamu, tidak akan ada yang melihat kita. Aku tidak ingin membuatmu tidak nyaman jadi kamu tenang saja disini hanya ada kita berdua."
Elo, sudah memboking seluruh resto agar di kosongkan, tidak ada yang berkunjung selain dirinya. Selain demi kenyaman Mey, Elo, juga ingin menikmati dinner-Nya hanya berdua tanpa ada orang lain yang mengganggunya.
"Jadi kamu sewa tempat ini?"
"Sudahlah, sekarang kita nikmati makanannya tidak penting aku sewa atau tidak tempat ini. Sekarang nikmatilah makan malam kita, karena setelah ini aku akan mengajakmu ke suatu tempat."
Ucapan Elo, kembali membuat Mey, penasaran. 'Mau pergi kemana setelah ini? Kejutan apa lagi yang dia berikan' pikir Mey, dalam hati. Namun Mey, tetap menikmati hidangan itu. Mey, dan Elo, tetap memakai topengnya karena Elo, melarangnya untuk melepas topengnya.
Bukan tanpa alasan, Elo, tidak ingin ada orang yang mengenali Mey, karena keadaan yang sekarang untuk menyembunyikan identitas Mey, sendiri. Beruntung Elo, dan Mey, tidak membuka topeng mereka, karena saat ini ada seorang pelayan yang ingin mengabadikan momen mereka berdua. Kecemasan Elo, benar adanya.
"Aku ingin minta maaf, atas kelancangan Jil, waktu itu." Elo, meminta maaf atas sikap sepupunya Jilya, saat datang ke mansionnya pagi tadi.
"Untuk apa?" skak Mey.
"Aku tahu kamu mendengar semua ucapannya. Aku juga tidak menyangka Jil, akan berkata seperti itu. Jil, adalah sepupuku aku dengannya memang sangat dekat, mungkin saat itu dia marah karena aku tidak bercerita tentangmu padanya. Tapi kamu jangan khawatir Jil, anak baik aku akan bicara padanya nanti."
"Tidak apa-apa, aku mengerti karena bagaimana pun juga ucapan Jil ada benarnya. Semua orang pasti berpikir buruk tentangku dan tentang kita," ucap Mey, yang langsung menunduk.
"Jangan pernah menganggap ucapannya, dia gadis yang bar-bar. Aku yakin cepat lambat dia akan menyukaimu." Mey, hanya tersenyum getir mendengar yang Elo, ucapkan. Karena bagaimana pun ucapan Jil, menyinggung juga menyakiti hatinya.
"Ayo!" Elo, tiba-tiba menarik tangannya, membuatnya terkejut. Elo, tahu jika hati Mey, sedang tidak baik-baik saja. Dengan sengaja Elo, menarik tangannya untuk bangun dari duduknya karena ingin menghiburnya.
Mey, yang terkejut karena di tarik tiba-tiba hanya mengikutinya hingga Elo, membawanya ke tengah untuk mengajaknya berdansa. Mey, yang tak pandai berdansa pun langsung mengelak, namun Elo, tak pernah melepaskan genggaman tangannya hingga Mey, tidak bisa pergi.
Perlahan Elo, mengeratkan pelukannya, menarik tubuh Mey, ke hadapannya hingga mendekati dada bidang miliknya. Bahkan, wajah keduanya pun sangat dekat hembusan nafas pun terdengar antar keduanya.
Elo, menuntun tangan Mey, untuk melingkar di leher jenjangnya, dengan perlahan dirinya menuntun langkah Mey, untuk mengiringi lantunan musik romantis yang mengiringi dansanya.
...----------------...
Hai, readers othor mau kasih rekomended novel berbau mistis nih 😱, sekali-kali buat kalian merinding hihi ... cekidot 👇
Judul: perjalanan mistis si kembar
penulis: Meidina
Eps14 (mengenali bau).
dari sebrang jalan rumah mereka, ada mahluk yang menyeringai karena panggilan dari Faraz.
sosoknya yang begitu seram dengan wajah penuh berbelatung, dan begitu banyak borok di lengan, tubuh dan wajahnya.
bahkan rambut hitam panjang yang acak-acakan, panjangnya sampai menyentuh tanah.
pay*d*r* yang menggelantung sampai sepaha, mahluk itu adalah Wewe gombel yang sering menculik anak-anak.
"errg..." suara mahluk itu yang tak bisa mendekat.
sedang dari dalam rumah, Arkan berdiri di depan pintu dan bisa melihat sosok seram itu sedang melihatnya.
Aryan meminta semua mengambil air wudhu untuk sholat dan Arkan akan berjaga terlebih dahulu.
"idih... Nini Wewe, ngapain di situ masih Magrib woi, mending minggir we," kata pocong yang selalu mengikuti Raka.
"diam..." suara Geraman itu terdengar menakutkan.
"jadi hantu jangan goblok ya, kamu gak akan bisa masuk, orang itu ada pagar ghaib, dan di dalam rumah itu bukan anak yang bisa kamu ganggu, jika tak ingin mati konyol, ha-ha-ha-ha," ledek pocong gosong itu.
"kamu saja yang pergi, aku ingin membawa mereka," kata Wewe gombel itu dengan marah.
tapi baru juga menabrak pagar gaib tangan mahluk itu terbakar, pocong itu pun tertawa melihat tingkah wewe gombel bodoh itu.
Yang penasaran langsung baca aja yuk 👇