
Terik matahari mulai memancarkan cahayanya. Sinarnya pun menyilaukan gadis cantik yang tertidur lelap di atas tempat tidurnya. Walau terdapat bekas luka pada wajahnya namun luka itu tidak menutupi kecantikannya.
Perlahan mata Mey, terbuka dia terbangun seraya mengucek-ngucek matanya yang masih terasa ngantuk. Mey, turun dari ranjang lalu berjalan ke arah teras kamarnya. Mey, pun merenggang, kan otot-ototnya seraya memandangi indahnya langit biru yang cerah di pagi hari.
Karena masih merasa ngantuk Mey, pun berkali-kali menguap tanpa sadar seorang pria yang berada di bawah sedang tersenyum melihatnya. Mey, tidak menyadari kehadiran Elo, yang sedari tadi menatapnya. Karena posisi rumah yang berada di atas sedangkan jalanan berada di bawah.
Elo, terus tersenyum seketika senyumnya pudar saat melihat sosok pria bertopi dan bermasker hitam, berada tak jauh dari rumah-rumah yang berempetan disana.
Elo, terus menatap tajam pria itu yang terus memantau Mey, dari jauh hingga akhirnya pria itu pun pergi karena tidak ingin ada orang yang curiga.
Disaat Elo, menatap sosok pria misterius itu Mey, yang sedari tadi sibuk dengan olah raga paginya kini beralih menatap Elo, yang berada di bawah, dengan pakaian rapinya. Hari ini Elo, menggunakan tuxedo berwarna blue, dengan celana yang senada, melihat bosnya berpakaian cerah hari ini membuat Mey, semakin terpana akan ketampanan bos yang juga kekasihnya itu.
Mey, yang terlalu lama menatap Elo, hingga Elo, pun berbalik menatapnya membuat mata mereka saling bertemu.
'ya tuhan tampan sekali. Apalagi saat tersenyum seperti itu' batin Mey, yang terus menatap kekasihnya itu. Elo, terus tersenyum seraya melambaikan tangannya.
Akhirnya Mey, pun tersadar dari lamunannya dan membalas senyuman kekasihnya itu. Lalu turun menemui Elo.
"Sejak kapan kamu disini?" tanya Mey, saat sedang berhadapan dengan Elo.
"Sejak kau bangun tidur," jawab Elo, yang tersenyum
"Apa!" Mey, baru ingat dirinya baru saja bangun tidur dan belum memakai brush ajaibnya. Mey, pun berbalik seketika sadar bahwa Elo, melihat luka codetnya. Elo, pun merasa heran.
"Kenapa berbalik?" tanya Elo, membuat Mey, gelagapan.
"Euh, aku harus balik ke kamar," ucap Mey, akan beranjak pergi namun di tertahan karena Elo, menarik tangannya hingga membuatnya menghadap Elo.
"Untuk apa kau menutupi wajahmu?" Elo, heran kenapa Mey, menutup wajahnya. Karena Mey, tidak ingin Elo, melihat dirinya yang sekarang yang jelek akan luka bakar di wajahnya.
Perlahan Elo, pun membuka jari tangan Mey, yang menutupi wajah Mey. Elo, tersenyum lalu berkata "Untuk apa kau tutupi?" tanya Elo, demikian.
"Aku malu," lirih Mey, seraya menunduk.
"Percuma kau tutupi, aku sudah lihat lukamu itu dari dulu. Iya, kan!" Elo, menyentuh dagu Mey, lalu mendongak, kan kepalanya agar menatap kearahnya.
'Benar juga, untuk apa aku tutupi toh Elo, sudah tahu lukaku ini dari dulu' batin Mey, akan tetapi tetap saja dia malu, karena dirinya sudah terbiasa menampilkan wajah cantiknya.
"Kau sudah tahu aku tidak cantik, apa kau tidak malu punya kekasih sepertiku." Mey, kembali bertanya, karena baginya tidak mungkin pria seperti Elo, bisa menyukai dirinya.
Elo, memegang bahu Mey, erat lalu menatap Mey, penuh dengan arti seolah ingin meyakinkan Mey, atas kesungguhan dirinya. "Apa kau lupa saat kita kecil? Apa aku pernah melihat dirimu serendah itu. Kau lupa ya! Saat kecil dulu aku bertemu denganmu dan ingin berteman denganmu aku sudah mengetahui lukamu dan wajah aslimu ini." Elo, menjelas, kan dan meyakinkan.
Mey, pun tertegun mencoba untuk mengingat kembali masa-masa itu yang memang benar adanya. Elo, satu-satunya orang yang ingin berteman dengannya. Bahkan saat itu Mey, selalu menghindarinya namun Elo, tetap mengejarnya dan mendekatinya.
Flashback on
"Apa kau tidak malu dekat denganku?" tanya Mey, kecil.
"Kenapa malu."
"Aku gadis cacat, wajahku sangat jelek, semua orang memanggilku si buruk rupa, tidak ada yang ingin berteman denganku."
"Aku mau jadi temanmu," ucap Elo, yang membuat Mey, terdiam.
"Aku Elo, namamu?" tanya Elo, seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan gadis itu. Awalnya gadis itu sangat ragu, tapi lama-lama gadis itu pun menjabat tangan Elo.
"Namaku Mey," ucap Mey.
"Nama yang cantik, sekarang kita teman," ujar Elo, Mey pun mengangguk lalu tersenyum.
Flashback off
"Mey," tegur Elo, yang mengejutkan lamunannya. Mey, tidak sadar bahwa dirinya sedang melamun.
"Sedang melamunkan apa? Ayo cepat mandi, aku akan mengajakmu ke suatu tempat."
"Kemana?" tanya Mey, penasaran.
"Nanti juga kau akan tahu ayo cepat," titah Elo.
"Baiklah, aku akan segera kembali," ucap Mey, yang langsung berlari lalu kembali berbalik
"Hhm, apa kau tidak ingin tunggu di dalam." Mey, merasa tidak sopan jika menyuruh Elo, untuk tinggal di luar. Namun, Elo, menggeleng sebagai jawaban bahwa dirinya akan tetap menunggu di luar.
'Apa karena rumahku kumuh jadi tidak mau masuk' batin Mey, yang berjalan memasuki rumahnya. Mey, mengira Elo, tidak ingin masuk karena keadaan rumahnya namun sebenarnya Elo, ingin melindungi Mey. Karena sekarang dirinya sedang memperhatikan pria misterius yang sejak tadi memantau rumah Mey.
"Siapa dia! Apa dia punya tujuan jahat" batin Elo, yang masih menatap ke pada pria itu.
Di dalam kamarnya Mey, mendadak gelisah karena bingung mau memakai pakaian yang mana, semua pakaian sudah dia coba. Namun, Mey, lupa bahwa dirinya sudah menjadi sekretaris, jadi tidak ada pakaian formal yang dia punya. Selain kaos dan celana jeans yang selalu di pakainya.
Namun, ada satu pakaian yang menurutnya bagus dan cukup formal. Bisa di bilang sangat cocok untuk dia pakai sebagai seorang sekretaris. Mey, pun mengambil pakaian itu di dalam lemarinya yang terletak di ujung sudut.
Baju itu terlihat sederhana namun elegant. Akan tetapi warna baju itu sudah luntur dan tak pantas lagi untuk di pakai. Mey, pun bingung juga merasa sedih padahal dia ingin sekali memakai pakaian itu.
Mey, menekuk wajahnya malas. Manik matanya melirik ke arah face brush yang ada di atas meja riasnya. Seketika ide pun muncul. Mey, mendadak sumringah senyumnya pun mengembang. Mey, berjalan ke arah meja riasnya lalu mengambil face brush itu.
'Ini face brush ajaib, apa bisa membuat pakaian ku jadi cantik? Tidak salah jika aku coba' batin Mey, yang mengira-ngira. Face brush itu bisa membuat wajahnya cantik apalagi pakaiannya. Mey, pun berinisiatif untuk menyapu, kan face brush itu pada pakaian lamanya.
"Face brush ajaib, jadikanlah pakaian ini jadi cantik," ucap Mey, yang langsung menyapukan face brush itu.
Seketika percikan cahaya pun muncul di balik face brush itu. Setelah selesai menyapukannya tak berselang lama pakaian itu pun terlihat seperti baru. Sebuah pakaian kantoran yang berwarna biru telur asin, warna yang kalem membuat yang melihat adem apalagi saat Mey, kenakan.
Mata Mey, membulat sempurna seolah tak percaya dengan kenyataan yang dia lihat. Face brushnya benar-benar sangat ajaib selain merubah wajah brush ini pun bisa membuat pakaian menjadi canrtik.
"Oh My God" Sungguh sangat menakjubkan, Mey, benar-benar terkesan saat memakainya. Dirinya menjadi terlihat lebih cantik Mey, pun lebih semangat untuk pergi.
Karena tidak mau menunggu lama, akhirnya Mey, pun bergegas meninggalkan kamarnya untuk menemui Elo.
"Maaf, sudah menunggu lama," ucap Mey, saat sudah sampai di depan Elo. Elo, pun menatap takjub pada Mey, karena kecantikannya tanpa berkedip sama sekali.
Ehem, Mey, berdehem barulah Elo, sadar.
"Apa kita jadi pergi?" tanya Mey, gugup.
"Iya ayo," ajak Elo, yang langsung menggandeng tangan Mey.
"Kamu sangat cantik." Pipi Mey, merah merona saat di puji seperti itu. Jantungnya saat ini berdetak lebih cepat apalagi hatinya pasti berdebar-debar tak karuan. Mungkin, saat ini Mey, ingin sekali berteriak bahkan menjerit tapi rasanya sangat malu harus melakukan itu. Mey, hanya bisa mengekspresikan dengan senyuman.
Mey, dan Elo, berjalan menyusuri gang sempit untuk sampai ke jalan raya. Karena tempat tinggal Mey, berada di pemukiman kumuh. Namun, Elo, tetap menjemput Mey, walau harus berjalan sepanjang 20 km.
Sepanjang jalan Elo, berada di belakang Mey, seolah sedang melindunginya. Elo, merasa ada orang yang mengikuti mereka. Dan saat matanya melirik sekilas ke belakang. Ternyata pria misterius itu yang mengikutinya.
...----------------...
Oalah siapa lagi itu pria misterius!
Maafin othor ya, hari ini updatenya kemalaman. Pokoknya dukung terus kisah Mey dan Elo ya, jangan lupa like, favorit, dan votenya sayang 🥰 Komentarnya juga ya jangan lupa biar rame gak sepi-sepi amat 😥.
Othor lupa belum kasih visual Jilya, nih othor kasih biar mata kalian melek lihat yang cakep hehe ...
Gimana? Melek gak matanya hehe,