
"Cinta sejati bukan hanya ada dalam dongeng tapi ada di dunia nyata." Mey, menoleh kini mata keduanya saling bertatapan.
"Kau mudah mengatakan itu semua wanita mendamba, kan mu tapi aku … siapa yang mencintaiku."
"Mey," panggil Elo, lembut tatapannya tak berpaling dari Mey.
"Hm," ucap Mey, singkat. Kini wajah keduanya saling dekat dan saling bertatapan. Membuat hati Mey, sedikit berdesir.
"Habiskan makananmu." Mata Mey, membulat sempurna, karena terhayut pada tatapan bosnya itu Mey, mengira Elo, akan mengatakan sesuatu yang membuat hatinya berdebar.
'Aku kira mau bilang apa, kenapa harus natap aku segala sih!" batin Mey, sedikit kecewa. Mey, terus mengaduk-ngaduk makanannya. Entah, kenapa hatinya terasa kecewa setelah Elo, mengatakan yang tak sesuai harapannya.
"Ada apa? Kenapa wajahmu di tekuk begitu?" tanya Elo, yang menatap heran.
"Tidak apa-apa, aku sedang tidak nafsu saja," ketus Mey, tanpa menatap Elo.
"Jangan di sia-sia, kan makanan, di luar sana masih banyak orang yang membutuh, kan makanan." Elo, memang tidak suka jika seseorang membuang-buang makanannya.
Walau pun hidupnya serba kecukupan namun Elo, selalu menghargai apa pemberian orang jika di beri makanan walaupun tak semahal dan seenak makanan di rumahnya Elo, akan tetap memakannya, dan jika makanan itu tidak terasa enak Elo, tetap memuji makanan itu karena tidak ingin menyakiti hati orang yang sudah berbaik padanya.
Itu semua tidak jauh dari kakeknya dulu yang selalu mengajarkan, hal kebaikan padanya. Untuk tidak manja dan harus bekerja keras kakeknya selalu mengajarkan semua itu. Itu sebabnya Elo, sudah menjadi pengusaha sukses di usia muda.
Keluarga Mahendra, memang terlahir dari keluarga kaya, namun Alpha Mahendra sang kakek, tidak pernah memanjakan anak dan cucunya. Jika ingin berhasil dan menjadi orang sukses di kemudian hari anak dan cucunya harus berusaha sendiri, belajar dan terus belajar.
Dari kecil Elo, tidak di manjakan dengan kemewahan, Alpha, selalu mengajarkan Elo, untuk hidup sederhana dan tidak hura-hura, apalagi membuang-buang uang untuk hal yang tidak penting. Alpha, terkenal sangat dermawan hartanya ia habiskan hanya untuk acara amal dan bakti sosial, jadi anak dan cucunya mereka hidup sukses sekarang ini berkat kegigihan dan kerja keras mereka.
"Ayo, makan apa mau aku suapi?" goda Elo, membuat Mey, semakin berdebar-debar.
"Tidak perlu, aku bisa makan sendiri." Elo, tersenyum melihat Mey, yang jadi salah tingkah seperti itu.
****
Sore hari telah tiba, sesuai janji Elo, akan mengajak Jilya, untuk jalan-jalan. Elo, sudah rapi dengan pakaian casualnya membuat Elo, sedikit berbeda dari biasanya. Yang selalu mengenakan pakaian resmi dan formal.
Tapi kini Elo, hanya mengenakan t-shirt, celana jeans, sepatu dan kaca hitam. Terlihat sederhana namun tidak membuat ketampanannya pudar. Jil, yang saat itu baru keluar terlihat heppi melihat Elo, sudah datang menjemputnya.
Jil, yang lama tinggal di amerika pun berpakaian dengan gaya orang-orang disana. Mengenakan dress mini yang panjangnya hanya selutut, mengenakan heels, rambut terurai dan sedikit bergelombang, makeu up yang sedikit tebal tak lupa kaca mata hitam dan tas selempang yang di pakainya.
Jil, lebih mirip seperti artis holywood, tidak aneh jika di pandang seperti itu, wajah Jil, memang kebarat-baratan, karena ayahnya seorang bule. Berbeda dengan Elo, yang lebih menyerupai orang asia.
"Ayo, kita jalan." Jil, langsung melingkar, kan tangannya pada tangan Elo, sikapnya seolah sudah terbiasa. Karena pergaulan disana memang seperti itu, cewek cowok sudah biasa saling rangkul. Elo, pun tidak keberatan karena itu adalah sepupunya, Elo, sudah terbiasa memanjakan Jil, dari kecil.
"Mau kemana?" tanya Elo, yang membuka, kan pintu mobilnya.
"Ke mall?" jawab Jil.
"Ke mall! Untuk apa? Kalau mau belanja kita ke Giedon mal saja,"
"Tidak, mau aku ingin ke tempat yang lain, gimana kalau kita nonton! Ayo lah, please kita nonton ya!" Jilya, merajuk manja pada Elo, sambil mengedipkan kedua matanya untuk membujuk kakak sepupunya itu. Mau tidak mau Elo, pun terpaksa mengikuti kemauan Jil.
****
"Gitu dong, itu baru namanya sahabat " ujar Vika, yang merangkul Mey.
"Ya udah aku mau siap-siap dulu," ucap Mey, meminta izin pada Vika.
"Siap tuan putri aku tunggu di luar ya!" Vika, pun berjalan keluar dari kamar Mey.
Mey, cukup bingung memilih pakaian yang cocok untuk malam ini, pada akhirnya Mey, pun memilih pakaian yang casual celana jeans, kaos sama jaket layaknya seperti ABG. Karena, sudah cukup lama Mey, tidak pernah hang out dengan temannya.
Setelah berpakaian dengan rapi, Mey, pun merias wajahnya dengan face brushnya, dalam seketika wajahnya menjadi cantik karena luka itu tertutup dan menjadi mulus. Mey, memberikan sedikit lipteen pada bibir ranumnya rasanya percaya diri sekali jika melihat wajah cantiknya dari cermin namun Mey, tidak tahu sampai kapan dirinya harus bergantung pada brushnya.
Mey, mengikat rambutnya, sedikit ke atas membuat wajah cantiknya lebih merona bahkan terlihat seperti masih ABG. Setelahnya Mey, pun pergi bersama Vika, menuju tempat hang outnya.
"Vik, kita mau kemana?" tanya Mey, sepanjang perjalanan.
"Tara …." Vika, menunjukan dua buah tiket bioskop yang sudah dia beli. Vika, mengajak Mey, menonton malam ini. Mey, pun sumringah melihat tiket itu karena sudah lama dirinya tidak pernah pergi ke bioskop. Terakhir kali dia pergi bersama Vika, saat sekolah SMP itu, pun tak sebebas sekarang. Karena dulu, Mey, harus menyembunyikan luka codetnya sehingga harus menggunakan masker dan topi untuk menutupi wajahnya.
"Avatar 2." Mey, langsung mengambil dua tiket itu. Karena, Mey, sangat menyukai film itu. Film holywood yang berjudul Avatar genis fiksi ilmiah bergenre petualangan dan laga. Sebelumnya Mey, sudah melihat film Avatar yang season 1, Mey, dan Vika, sangat menyukai film laga dan juga romantis. Namun, untuk film romantis mereka bedua lebih menyukai drama korea karena di sana ada oppa korea yang tampan abis.
"Ayo, kita masuk nanti filmnya keburu mulai," ajak Vika, yang turun dari taksi. Menarik Mey, untuk lebih cepat lagi dalam melangkah. Sebelum masuk Mey, dan Vika, membeli cemilan terlebih dulu seperti popcorn dan pepsi setelahnya barulah mereka masuk ke dalam bioskop.
"Asik, kita dapat paling depan," ujar Vika, yang sangat senang karena mendapat kursi yang tidak terlalu jauh dari layar. Vika, dan Mey, pun duduk tanpa sadar Mey, duduk bersebelahan dengan Elo, saat itu.
"Filmnya di mulai," ujar Vika, antusias saat filmnya mulai di putar.
Mey, begitu fokus dengan filmnya sehingga tidak menyadari laki-laki yang duduk di sampingnya. Elo, tetap fokus pada layar walaupun sebenarnya dia tidak terlalu suka dengan film.
60 menit sudah berlalu, film pun masih belum usai. Elo, merasa bosan karena ini bukanlah hobinya. Elo, pun beranjak dari duduknya dan melangkah pergi. Mey, yang saat itu sedang menahan sesuatu yang akan keluar dari dalam area sensitifnya, karena sudah tak tahan akhirnya Mey, pun keluar untuk menuju toilet.
"Mau, kemana dia padahal film akan selesai sebentar lagi," gumam Vika, yang mulutnya penuh dengan popcorn.
Mey, berlari cepat menuju toilet hanya beberapa menit saja Mey, pun keluar dari dalam toilet. Rasanya lega setelah satu jam menahan sakit perutnya yang ingin buang air kecil. Mey, berniat pergi untuk kembali nonton tiba-tiba seseorang menarik tangannya saat keluar dari dalam toilet.
...****...
Siapa ya yang narik tangan Mey!
Terima kasih semuanya yang udah baca dan setia tapi kok like dan fav nya dikit sih! 😥
Jangan lupa untuk like dan Vote plus koment juga ya, yang belum favorit jangan lupa klik favorit oke sayang 😘
See u
Dini_rtn