
Sharon, kembali masuk ke dalam sel. Dua puluh tahun dirinya akan mendekap di tempat itu. Bayangkan saja dua puluh tahun bukanlah waktu yang singkat, melainkan waktu yang sangat lama, mungkin Sharon, akan menua di tempat itu.
Sharon, menjadi pendiam tidak seagresif sebelumnya. Sharon, hanya duduk di ujung sudut tembok, dengan kedua tangan yang mendekap kedua lututnya. Bahkan, Makanan nya saja masih ia abaikan. Hingga membuat perhatian seorang napi wanita yang satu sel dengannya.
"Hei," seru napi itu yang menatap Sharon.
"Apa kau tidak lapar hah! Kau mau aku menghabiskan makananmu?" Sharon, masih diam dan mengacuhkan pertanyaan wanita itu. Wanita pun berangsrut untuk maju mendekati Sharon.
"Percuma saja kau menyesali perbuatanmu, itu tidak akan membuatmu keluar dari sini. Kenapa kau di penjara hah! Hei, aku bertanya padamu," pekik wanita itu yang kesal karena di acuhkan.
"Membunuh," jawab Sharon, singkat.
Wanita itu pun tergelak.
"Hei, nona siapa yang kau bunuh? Apa ini pertama kalinya? Baru saja sehari wajahmu sudah pucat dan lesu, bagaimana jika dua puluh tahun berada disini, mungkin kau akan mati."
"Aku tidak akan mati disini Aku akan segera bebas."
"Harapmu."
Di saat mereka sedang berbincang salah satu petugas polisi membuka pintu yang terbuat dari jeruji besi itu. Petugas itu pun memanggil Sharon, memberitahukan jika ada yang ingin bertemu dengannya.
"Sharon, ikut saya ada yang menjengukmu." Sharon, pun mengerutkan keningnya, seolah bertanya siapa yang ingin bertemu dengannya.
Sharon, pun di bawa oleh petugas polisi ke ruangan khusus. Di ruangan itu hanya ada satu meja dan dua kursi untuk para tamu yang ingin bertemu para napi. Sharon, menatap tak suka saat melihat Mey, duduk di kursi yang sudah di sediakan. Mey, hanya menatap Sharon, saat duduk di hadapannya.
"Mau apa kau kesini?" tanya Sharon, tanpa basa-basi. "Apa belum puas!"
"Aku harap kamu jera, dan tidak mengulangi kesalahanmu lagi."
"Kamu pikir aku akan berubah! Sudahku bilang hidupmu tidak akan bisa tenang setelahku bebas."
"Terserah, apa katamu. Aku hanya ingin memberitahumu jika papamu sudah di jatuhi hukuman, kalian anak dan ayah yang sama-sama kompak merencanakan pembunuhan. Walau pun dirimu bukan putri kandungnya."
Sharon, terbelalak mendengar perkataan Mey.
"Apa maksudmu?"
"Pamanku bukan ayah kandungmu. Aku sungguh kasihan denganmu, yang harus di besarkan dan didik oleh pamanku. Sehingga menjadi orang yang serakah dan pembunuh."
"Jika kau datang hanya untuk bicara omong kosong seperti itu lebih baik kau pergi."
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Paman merupakan anak yang serakah, dia menikahi ibumu yang saat itu tengah mengandung dirimu, hanya demi mendapatkan harta."
Kembali ke dua puluh tahun lalu
Edwin, sang Ayah, yang menentang pernikahan Farhan, dengan wanita yang di anggapnya bukan wanita baik. Namun, Farhan, tetap menikahinya.
Saat itu Farhan, bersikeras untuk mendapatkan 50% harta dari ayahnya dengan alasan sudah menikah. Saat itu Farhan, bertemu dengan seorang wanita yang di kenalnya lewat bisnis haramnya. Wanita itu menyetujui saat Farhan, meminta untuk menikah dengannya.
Farhan, dan istrinya sama-sama pecandu narkoba, sering mabuk-mabukan, juga penjual barang haram itu. Mereka menggunakan uang itu untuk bisnis haramnya. Hingga akhirnya mereka pun tertipu oleh temannya sendiri hingga uang yang mereka punya habis tak tersisa.
Kehamilan istrinya semakin membesar, awalnya Farhan, sangat murka saat mengetahui istrinya hamil sebelum menikah dengannya, dan akan membuang anak itu juga meninggalkan istrinya.
Tetapi, Farhan, mendengar perkataan ayah dan sahabatnya, jika mereka akan menjodohkan cucu mereka. Farhan, yang mendengar itu langsung merencanakan niat jahatnya.
"Kau harus melahirkan anak perempuan, jika tidak aku tidak akan menganggap anak ini dan kalian harus pergi dari rumahku."
Karena Farhan, mengetahui jika anak dari sahabat ayahnya itu melahirkan bayi laki-laki, dan Farhan, ingin istrinya melahirkan bayi perempuan. Farhan, tertawa lebar saat mengetahui bayi nya perempuan dia akan menjodohkan anak itu dengan anaknya. Akan tetapi kebahagiaannya sirna saat mengetahui jika adik iparnya juga melahirkan bayi perempuan, karena jarak kelahiran mereka tak begitu jauh.
Farhan, mulai ketakutan jika nanti Farel, lah yang akan menggantikan posisinya.
Ketakutan Farhan, pun terjadi. Seiringnya waktu putri-putri mereka pun sudah besar, dan Farhan, kembali mendengar jika anak dari Farel, yang akan di jodohkan. Farhan, pun merasa kesal hingga dia berbicara kepada Edwin, tentang keberatan atas perjodohan itu.
"Kau tidak adil. Kenapa hanya Farel, yang selalu kau pikirkan. Bukankah aku yang pertama yang memberikanmu seorang cucu perempuan."
"Aku akan menganggqap cucu, jika itu darah dagingmu."
Edwin, sudah mengetahui jika Sharon, bukanlah cucu kandungnya. Walau pun dia seorang putri tetap saja dia bukan darah daging keluarga Antares. Namun, Farhan, tidak menerimanya dia pun kembali merencanakan niat jahatnya.
Di saat kesehatan Edwin, memburuk karena ulahnya yang membuat perusahaan hancur, di saat itu pula Farhan, tega membunuh ayahnya sendiri dengan memberikan suntikan mati.
"Dengan begini tidak akan ada yang menghalangi jalanku."
Setelah, membuat Edwin, tiada Farhan, pun merencanakan kembali niatnya untuk menyingkirkan Farel, juga putrinya. Agar tidak ada yang menghalangi jalannya untuk menikahkan Sharon, dengan putra dari keluarga Mahendra. Sehingga, dia tega membakar rumah adiknya Farel, dengan merenggut nyawanya.
Farhan, begitu lega dan tenang rencananya berjalan lancar. Namun, tiba-tiba istrinya pergi meninggalkan putrinya, membuat Farhan, semakin geram. Namun, tidak ada yang bisa di lakukannya selain merawat Sharon, sendiri. Yang sudah berusia 10 tahun, dan begitulah sikap dan sifat Sharon, saat ini karena didikan dari ayahnya.
Sharon, begitu terkejut jika ternyata Farhan, bukanlah ayah kandungnya tapi dimana ibunya? Setelah lima menit mereka bertemu, Mey, pun meninggalkan Sharon, yang di bawa kembali ke ruang tahanan.
Sharon, masih memikirkan perkataan Mey, hingga akhirnya Sharon, memutuskan untuk menemui Farhan, tapi tidak di izinkan karena sel mereka pun berbeda.
Farhan, yang di jatuhi hukuman seumur hidup, karena melanggar pasal 340 KUHP.
Kini Farhan, hanya pasrah saat akhir sidang di tentukan.
Kembali kepada sidang Farhan, sehari sebelumnya.
Elo, dan Arkan, berhasil menemukan supir truk itu, dia menjadi saksi dan memberikan pernyataan jika Farhan, yang memerintahkannya untuk menabrak mobil Jimmy, dengan jaminan imbalan uang 500 juta. Farhan pun tidak bisa mengelak, semua yang di ucapkan supir itu benar. Supir itu pun di tangkap dan di penjara.
Namun, tidak hanya kasus itu yang membuat Farhan, di jatuhi hukuman. Kasus sepuluh tahun yang lalu di buka kembali, saat dirinya membakar rumah adiknya, dengan saksi rekaman pembicaraan Tini, saat masih hidup yang menceritakan kesaksian nya pada malam itu. Tak hanya itu Farhan, pun di jatuhi hukuman seumur hidup karena membunuh Edwin, sepuluh tahun lalu.
Akhirnya keadilan pun Mey, dapatkan. Mey, merasa tenang setelah melihat kedua orang yang pernah merenggut nyawa orang yang dia sayangi kini telah mendapat hukumannya.
...***...
Kira-kira siapa ibunya Sharon? Dimana ibunya?