
"Apa hasilnya ya! Aku jadi penasaran."
Dengan perlahan Mey, pun membuka amplop itu. Tak ada ekspresi apa pun dirinya hanya diam saat membuka hasil tes DNAnya.
Mey, menghela nafasnya panjang lalu memasukan kembali kertas putih itu ke dalam amplop. Ia melangkah pergi meninggalkan lembaga tes DNA.
****
Tangan Farhan, begitu gemetar saat membuka hasil tes DNA. Tubuhnya bergetar dalam sekejap air mata pun tumpah.
"Jadi dia anakku, anak kandungku."
Farhan, terisak menyesali perbuatannya. Andaikan saja dulu dia percaya kepada Janet, mungkin hidupnya tidak akan sehancur sekarang.
"Aku hamil." Pengungkapan Janet, membuat Farhan, terkejut.
"Apa? Kau hamil, anak siapa itu?"
"Ya jelas anakmu."
"Anakku kamu bilang. Apa kau tidak ingat kita menikah seminggu yang lalu, siapa ayah dari anak itu?"
"Kamu pikir aku hamil karena siapa?" Janet berbicara tinggi. "Hanya kamu satu-satunya lelaki yang meniduriku. Kamu ingat saat malam itu kamu memperkosaku di dalam mobil."
Farhan, tersenyum sinis.
"Hentikan, hentikan omong kosongmu itu. Setelah banyaknya laki-laki yang tidur denganmu, pada saat hamil kau menyalahkanku, lihatlah dirimu, mungkin sebelumnya kau juga pernah hamil iya, kan."
Posisi Janet, sebagai wanita malam, membuat Farhan, sulit percaya. Namun kenyataannya hanya Farhan, lah laki-laki satu-satunya yang menidurinya.
Janet, hanya pasrah saat Farhan, tak mengakui janin di dalam rahimnya adalah anaknya. Janet, pun tidak bisa menyalahkan Farhan, karena bagaimana pun juga posisinya sebagai wanita malam membuat semua orang akan menganggapnya hina.
Begitu pun dengan Edwin, saat itu. Farhan, yang menikahi seorang pelacur membuat Edwin, murka apalagi saat mengetahui kehamilan Janet, yang tiba-tiba. Bahkan, dengan kehamilannya Janet, Edwin menganggap jika Farhan, sengaja menikahi wanita hamil untuk di jadikannya istri karena satu alasan yaitu harta. Agar segera mendapatkan hak warisnya.
Namun tiba-tiba, Farhan akan menganggap anak itu dengan satu syarat jika Janet, melahirkan anak perempun.
"Lahirkan seorang anak perempuan, aku akan menggap itu adalah anakku."
Keserakahan Farhan, saat itu membuat Janet, membencinya. Hanya untuk mengakui anaknya dia harus menerima syarat dengan melahirkan anak perempuan.
"Keserakahanmu akan membawa malapetaka bagimu. Pantas saja ayahmu tidak pernah berpihak padamu, mengakui anak sendiri saja harus dengan syarat. Dasar serakah."
Janet, mengetahui jika keinginan Farhan, memiliki anak perempuan demi sebuah perjodohan, yang ayahnya buat.
****
"Karena ke-egoisanku hidupku jadi berantakan. Dan karena keserakahanku keluargaku jadi hancur. Ayah adikku mereka tiada karena aku."
"Maafkan paman, maafkan paman Mey."
Tanpa bisa berkata apa-apa, Farhan, hanya bisa menangis saat menyesali perbuatannya. Mey, ikut menangis karena keegoisan pamannya kedua orangtuanya menjadi korban.
"Penyesalan yang tak akan membuat semuanya kembali. Jangan biarkan kesalahan yang sama terulang lagi. Katakan yang sebenarnya pada Sharon, sebelum semuanya berakhir." Mey, hanya bisa tegar dan mengingatkan Farhan, untuk memperbaiki semuanya.
"Paman akan menebus semua kesalahan paman kepada ayah dan ibumu. Di akhir hidup paman nanti."
Kesalahan Farhan, tidak hanya di hukum penjara seumur hidup melainkan hukuman mati pun di jatuhkan padanya. Mey, sangat ingin membantu pamannya agar tidak di hukum mati akan tetapi kesalahannya di masalalu yang telah membuat kedua orangtuanya tiada sangat sulit bagi Mey, untuk memaafkannya.
Tetapi Mey, bukanlah wanita keras yang memiliki hati batu. Dengan lapang dada Mey, memaafkan Farhan. Namun, hukuman mati yang dijatuhkan padanya tidak bisa diganggu gugat.
Farhan, tetap menjalani hukuman matinya.
Dengan intruksi dari seorang petugas Farhan, pun mengikat, kan tali itu pada leher jenjangnya. Dengan mata tertutup Farhan, pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ahh …
Suara jeritan, yang terdengar begitu riuh dari para napi yang melihatnya. Mereka terlihat sedih, dan juga tegang, saat sebuah papan yang di injak Farhan, terbuka lebar, sehingga kakinya tak mampu lagi berpijak pada papan itu yang harus membuat dirinya bergelantung dalam sekejap tali di lehernya pun membelit sangat kencang. Hingga Farhan, pun tak mampu lagi bernafas.
Mey, yang menyaksikan hukuman mati itu langsung memalingkan wajahnya, punggungnya bergetar karena tak mampu menahan lagi isakan tangisnya.
Egoiskah Mey, salahkan Mey, jahatkah Mey, sehingga harus melihat pamannya mengakhiri hidup seperti itu. Elo, sang suami yang selalu berada di sampingnya hanya bisa memeluk dan menenangkannya.
****
Di sisi lain, Sharon, duduk bersandar di ujung sudut, kedua tangannya memegang selembar kertas putih, manik matanya tetap fokus pada tinta hitam yang tertulis di atas kertas putih itu.
Sharon, maafkan aku karena aku bukanlah ayah yang baik untukmu. Hidupmu selama ini cukup menderita karena aku. Janet, adalah ibu kandungmu dan kamu sudah mengetahui itu. Jangan lagi bertanya atau pun mencari siapa ayah kandungmu, karena aku adalah ayahmu … ayah kandungmu. Farhan.
Surat tes DNA ini membuktikan jika darah kita sangat cocok dan kamu adalah darah dagingku. Ibumu tidak salah tapi akulah yang salah, karena dulu aku tidak mengakui mu sebagai anakku.
Maafkan aku, maafkan aku
Aku tidak peduli jika kamu marah dan benci padaku, tapi setidaknya kamu mengetahui siapa ayahmu sebenarnya.
Kesalahanku tidak bisa di maafkan, dan aku berjanji akan menebus semua kesalahanku.
Jika saat kamu sedang membaca surat ini, saat itu juga aku sudah menebus kesalahanku. Aku Farhan Antares, bersedia menerima hukuman atas kesalahanku dengan hukuman mati.
Tubuhnya mendadak lemas, kertas putih itu di biarkan jatuh begitu saja.
'Apa ini permainan? Apa semua orang mempermainkanku? Dia yang bilang aku bukanlah anak kandungnya tapi apa ini dia berkata lain jika dirinya ayahku jika aku adalah anak kandungnya. Drama apa ini, kenapa semua orang mempermainkanku' batin Sharon.
Sharon, beranjak dari duduknya berlari menuju pintu besi, yang selama ini mengurungnya. Sharon, berteriak sekuat tenaga memanggil-manggil seorang petugas lapas.
Tak lama kemudian petugas lapas itu pun datang. Lalu bertanya padanya.
"Ada apa kau berteriak-teriak."
"Bu, buka pintunya aku ingin menemui ayahku."
"Tidak bisa, kamu tidak bisa keluar dari sini"
"Ayahku Farhan, dia tahanan lapas xxx. Aku hanya ingin bertemu dengannya sebentar saja."
"Apa kamu tidak tahu hari ini adalah jatuhnya hukuman mati untuknya, kamu tidak bisa menemuinya."
"Tolong bu, tolong … apa hukuman matinya sudah berlangsung?"
"Percuma saja kamu pergi dan menemuinya. Dia sudah tiada, lima menit yang lalu dia di hukum mati dengan cara di gantung. Dan sekarang dia sudah mati."
Tubuh Sharon, kembali melemas pernyataan seorang petugas membuat dirinya lemah tak berdaya.
Setelah melakukan hukuman gantung, jasad Farhan, pun di bawa oleh petugas. Para napi yang menyaksikan, kembali bubar.
...----------------...
Setiap perbuatan akan ada balasannya
Setiap penyesalan akan di sadari setelah semuanya berakhir.