The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Kebakaran



Di karena, kan ekspor yang mepet, semua para pekerja di lemburkan bahkan Elo, dan Meisie, pun ikut lembur mereka kerja sampai malam.  Namun, tiba-tiba Elo, mendapatkan telepon dari seseorang entah apa yang di bicarakan orang itu padanya ekspresi wajahnya mendadak panik. Membuat Elo, harus segera pergi.


"Arkan, aku harus segera pergi," ucapnya yang berlalu pergi. 


Arkan, hanya menatap kepergiaannya dengan bingung. 


Di tempat lain Vika, kembali menjalankan perintah Sharon, untuk mengambil face brush milik Meisie. Di saat Meisie, sedang sibuk dengan pekerjaannya Vika, berjalan menuju ruangan kerjanya. 


Keberuntungan sedang berpihak padanya saat ini, karena keadaan ruangan kerja Meisie, sedang sepi saat ini. Vika, terus melenggak-lenggok, kan kepalanya untuk melihat situasi di sekitarnya. 


Setelah merasa aman Vika, pun berjalan sedikit berlari ke arah meja Meisie. Tangannya langsung bergerak untuk membuka tas milik sahabatnya itu. Setelah berhasil menemukan sebuah face brush Vika, pun berlari pergi meninggalkan ruangan itu.


Namun, saat di depan pintu Vika, tak sengaja berpapasan dengan Arkan, dan hampir saja tubuhnya bertabrakan.


"Siapa kamu?" tanya Arkan, yang baru pertama kali melihatnya.


"Ma-maaf, saya salah masuk," ucap Vika, gugup lalu pergi. 


**** 


Elo, baru saja sampai di rumahnya dengan langkah panik Elo, berjalan memasuki rumahnya. 


"Mama, apa mama baik-baik saja?" tanya Elo, panik pada Sarah. 


"Ya, Mama baik-baik saja memangnya kenapa?" tanya Sarah, yang merasa heran. 


"Tadi aku dapat telepon kalau Mama, kecelakaan." 


"Tidak, Mama baik-baik saja. Memang tadi Mama, sempat keluar tapi tidak terjadi apa pun. Memangnya siapa yang menghubungimu?" 


"Aku, tidak tahu yang jelas dia memberikan kabar buruk tentang Mama." Elo, langsung menurunkan bokongnya di atas sofa. Di raupnya wajahnya dengan kasar, di saat dirinya sedang fokus dalam bekerja bisa-bisanya ada orang yang membohonginya. 


Jika, tentang orangtuanya Elo, tidak akan segan-segan meninggalkan semua pekerjannya walau pun itu sangat penting. Tiba-tiba Elo, teringat kembali pada pekerjaannya dan akan kembali. Namun, sarah menahannya meminta Elo, untuk beristirahat sejenak. 


**** 


Vika, langsung memberikan face brush itu pada Sharon, yang langsung di ambilnya. Sharon, berniat untuk memakainya jika memang face brush itu bisa membuat Meisie, cantik apalagi dirinya pasti akan terlihat lebih cantik. 


Sharon, tersenyum lalu memasukan face brush itu ke dalam tasnya. 


"Kerja yang bagus, sekarang kamu boleh pergi," ucap Sharon, yang langsung menyuruh Vika, untuk pergi.


"Face brush ini sekarang menjadi milikku, aku pasti terlihat lebih cantik lagi dengan brush ini, dan Elo, akan tergila-gila padaku." Sharon, tersenyum licik lalu membawa mobilnya pergi. 


Setelah mobil Sharon, pergi datang sebuah mobil yang berhenti tepat di belakangnya. Keluarlah, seorang pria yang berpakaian seragam seperti seorang mekanik namun wajahnya di tutupi dengan masker dan juga topi yang menutupi kepalanya. 


Pria itu mulai berjalan memasuki area pabrik. Pria, itu terus berjalan hingga tiba di area belakang dekat sebuah dapur listrik. Dengan gerakan cepat pria itu langsung memotong beberapa kabel, entah apa yang sedang di lakukannya.


Setelahnya, pria itu pun pergi dengan langkah pelan dan kepala yang menunduk. Di tengah-tengah departemen pria itu melihat Meisie, yang duduk di sebuah kursi seraya membuka sedikit cardigarnya untuk melihat luka di bawah pundaknya. 


Pria itu menatapnya intens, lalu melangkah pergi meninggal, kan area pabrik. 


Meisie, melangkah menuju toilet untuk mengganti perban. Di tengah jalan Meisie, berpapasan dengan Vika, yang menunduk seolah tidak melihat adanya Meisie, di depannya. 


"Vika." Panggil Meisie, membuat Vika, terkejut. 


Rasa bersalah terus menghantuinya karena sudah mengambil face brush itu tanpa izin. Namun, Meisie, tetap ramah dan tersenyum pada sahabatnya itu.


"Vika, kau mau kemana?" 


"Mm … mau ke toilet," ucapnya gugup.


"Kalau begitu boleh aku minta tolong! Untuk mengganti perban lukaku." 


"Memangnya kamu terluka kenapa?" Vika, terlihat khawatir.


"Nanti, aku jelaskan." Meisie, dan Vika, pun pergi ke toilet bersamaan.


Sesampainya di toilet, Vika, membantu menggantikan perban luka yang terdapat di bawah bahunya. Vika, sangat terkejut melihat luka itu apalagi saat Meisie, menceritakan tentang penembakan itu. 


"Sama-sama," 


"Mey, apa rasanya sakit?" tanya Vika


"Begitulah, jika kita teriris pisau rasanya sakit, kan! Apa lagi ini," jawab Meisie.


'Apa aku keterlaluan, ya sudah jahat padanya. Tapi … aku terpaksa maaf, kan aku Mey, semoga kamu selalu di lindungi Tuhan, dan di jauhkan dari marabahaya," batin Vika, yang merasa menyesal. 


"Vik, aku mau buang air dulu sebentar." 


"Iya, Mey, aku tunggu disini," ujar Vika, setelah Mey, memasuki sebuah ruangan kecil yang terdapat di toilet.


Vika, masih setia menunggu Mey, tanpa tahu keadaan di luar saat ini. Para karyawan saling berlomba berlari untuk menyelamat, kan diri. Di saat suara sirine berbunyi, menandakan terjadinya bahaya beberapa orang berteriak 


Kebakaran … kebakaran … 


Sontak, semua para pekerja pun langsung berlarian keluar dari area pabrik. Dalam seketika suasana jadi riuh, kebakaran yang berasal dari sebuah listrik yang ada di belakang pabrik menciptakan, sebuah dentuman dan menghasilkan sebuah api yang berkobar semakin besar membakar beberapa matrial yang ada disana. 


"Pak, pak Arkan, cepat lari," teriak seorang staff yang menyuruh Arkan, untuk pergi. 


Namun, bukannya pergi Arkan, terus menghubungi Elo, dengan ponselnya. Dalam keadaan panik Arkan, pun akhirnya berlari untuk menyelamat, kan diri. 


Api, semakin membesar Mey, dan Vika, masih berada di dalam toilet. Hingga akhirnya asap tebal pun mulai memasuki toilet dan menyesa, kan nafas mereka. 


"Apa ini?" ucap Meisie, yang terbatuk-batuk. 


"Kenapa ada asap disini. Mey, ayo kita keluar," ajak Vika, yang menarik tangan Mey. 


Di dengarnya teriakan semua orang yang berteriak kebakaran-kebakaran, Vika, dan Meisie, pun jadi panik dan langsung berlari. Tapi tidak dengan Meisie, yang malah diam saat melihat api.


Kebakaran ini mengingat, kannya kembali pada masa lalunya. Bayangan masa lalu pun kembali terlintas. Kobaran api yang besar semakin membuatnya takut. Meisie, hanya terduduk di sudut dinding seraya memeluk tubuhnya.


Mama … papa … 


Hanya itu yang Meisie, ucapkan. Kebakaran yang merenggut kedua orangtuanya kembali Meisie, alami. 


Ah, jerit Meisie, saat beberapa puing bangunan jatuh di depannya dan hampir menghantam tubuhnya. Dirinya semakin ketakutan dan hanya bisa memeluk tubuhnya. 


Di luar sana semua orang panik dan berlarian menjauhi area pabrik. Vika, yang sudah sampai di luar dan baru menyadari bahwa Meisie, tidak bersamanya. 


Elo, yang baru saja sampai di kejut, kan dengan keadaan pabriknya yang sudah di lahap si jago merah, tidak akan terhitung berapa kerugian yang akan dia terima. 


"Mey, Mey," teriak Vika, yang mencari Meisie. Karena panik Vika, pun meminta pertolongan pada temannya dan juga kepada Arkan, dan Elo, yang sedang diam seraya menatap perusahaannya yang sudah hancur. 


"Tuan, Tuan tolong teman saya dia ada di dalam," teriak Vika, yang mencemas, kan Meisie. 


"Temanmu di dalam? Siapa?" tanya Arkan, 


"Meisie, sekertaris anda Tuan," ucap Vika, yang menatap Elo. 


Mendengar kata sekretarisnya Elo, langsung berlari memasuki area pabrik tanpa menghirau, kan api yang membara. 


"Tuan, Tuan jangan gegabah," teriak Arkan, saat Elo, berlari menembus kobaran api yang menyala. 


"Mey," gumam Vika, lirih yang berderai air mata. 


"Tuan bos, kenapa begitu gegabah," gumam Arkan. 


Kini Arkan, dan Vika, sama-sama mencemas, kan sahabatnya. Rasa khawatir terlihat di raut wajah mereka. Arkan, mencoba menenangkan Vika, yang terus menangis. 


"Tenang, semua akan baik-baik saja. Temanmu pasti selamat," ucapnya demikian. 


Arkan, mencoba menenangkan Vika, dengan memeluknya. Sedang, kan Vika, terus menangis dalam dekapannya.


...----------------...


Apakah Mey dan Elo akan selamat?