
"Mey," panggil Sarah.
"Apa kamu mencintai Elo!"
Deg! Jantung Mey, mendadak berdetak lebih cepat, hatinya semakin berdebar, kenapa tiba-tiba Sarah, bertanya seperti itu padanya.
'Kenapa nyonya besar bertanya begitu! Apa dia tahu hubunganku dengan Elo!' batin Mey, yang takut jika Sarah, tidak merestui hubungannya. Seperti pada umumnya orang kaya selalu mencari menantu yang sederajat dengan mereka, Mey, pun menjadi takut karena dirinya bukanlah siapa-siapa.
"Tante aku … aku dan Elo," ucap Mey, tertahan.
"Jangan gugup seperti itu. Aku hanya bertanya apa kamu mencintai Elo. Sebenarnya tadi pagi Tante," ucap Sarah, tertahan karena bingung harus berkata apa karena saat pagi tadi tidak sengaja melihat Elo, dan Mey, yang sedang kikuk-kikuk.
"Tadi pagi apa tante?"
"Hmm … begini. Tante, melihat Elo, sangat bahagia bersamamu, Tante lihat Elo, sangat mencintaimu, jadi Tante ingin tahu apa kamu mencintai Elo?"
"I-iya," jawab Mey, gugup.
"Sejak kapan kalian menjalin kasih?"
"Belum lama. Tante…" Mey, begitu gugup hanya bisa menautkan jari jemarinya untuk menghilangkan kegugupannya.
Huuh, Mey, menghela nafas sejenak untuk menghilangkan kegugupannya. "Tante … aku tahu aku bukanlah orang berada, bahkan derajat kita pun sangat berbeda. Aku mengerti jika Tante, tidak merestui hubungan kami, aku paham. Dan jika Tante, keberatan aku tinggal disini aku akan pergi Tante."
"Mey, tenanglah dulu, apa Tante, terlihat mengusirmu? Jika kalian saling mencintai itu bukan masalah. Jika kamu mencintai Elo, dengan tulus itulah yang Tante, harapkan."
Mey, masih menyimak
"Mey, kamu dan Elo, sudah di takdirkan untuk bersama. Bahkan, sejak kecil kalian sudah di jodohkan." Mata Mey, terbelalak mendengar semua ucapan Sarah.
"Dulu, kakekmu dan kakeknya Elo, mereka sahabat dekat, demi persahabatannya tetap terjalin kedua kakek kalian membuat kesepakatan untuk menjodohkan putra-putrinya, hanya saja saat itu Tante sudah menikah, begitu pun dengan papamu Farel, dia juga sudah menikah."
"Karena putra-putrinya sudah menikah, kakek kalian memutuskan untuk menjodohkan cucu-cucunya, karena saat itu Tante, memiliki seorang putra dan Farel, memiliki seorang putri. Di situlah perjanjian mereka di buat. Bahkan, mereka menulisnya sebagai wasiat jika sewaktu-waktu mereka meninggal."
"Tapi, setelah kakek kalian meninggal, dan Tante pun pindah, tidak tinggal lagi di kota itu, membuat hubungan kedua keluarga terputus sementara, bahkan Tante, pun lupa dengan wasiat itu, sampai akhirnya Elo, sudah besar."
Mey, masih menyimak
"Pada satu hari, Tante menemukan sebuah surat yang tersimpan lama di dalam sebuah buku. Surat itu adalah surat wasiat yang di berikan papa sebelum meninggal. Saat ku buka, ternyata surat itu menuliskan tentang perjodohan kalian. Barulah Tante, ingat saat itu. Bayangkan saja 10 tahun lamanya, surat itu tersimpan sedangkan Tante, sudah tidak tahu dimana kalian tinggal, dan seperti apa wajahmu saat itu Tante, pun sudah lupa," ucap Sarah, yang menatap Mey.
Tante, dan suami Tante, pun mulai mencari keberadaan mu. Hingga kami mendapat kabar yang mengejutkan kalian sudah tidak lagi tinggal di rumah kalian yang dulu. Bahkan, kondisi rumah pun sudah terbengkalai.
Saat Tante mencari keberadaan kalian tiba-tiba ada seseorang yang datang. Dia mengaku keluargamu dan dia mengatakan jika anak yang di jodohkan adalah putrinya. Walau pun sempat bingung akan tetapi dalam surat tidak tertulis anak siapa hanya terlihat potongan hurup FA. Antara Farhan atau Farel.
"Farhan!" Mey, merasa tidak asing dengan nama Farhan, namun Mey, tidak ingat siapa itu Farhan.
"Farhan, adalah pamanmu kakak dari papamu," jelas Sarah. "Kamu pasti tidak terlalu dekat dan mengenal beliau karena hubungan mereka tidaklah dekat, bahkan kakekmu sendiri telah mengusirnya,"
"Kenapa? Bukankah dia anak kakek juga." Mey, masih belum mengerti tentang masalah keluarganya dulu.
"Kenapa? Hanya satu alasannya serakah. Pamanmu itu sangat serakah, yang dia pikirkan hanyalah harta dan harta, apa pun akan dia lakukan demi mendapatkan keinginannya. Walaupun harus membunuh keluarganya sendiri."
"Apa! Membunuh? Maksud Tante pamanku membunuh siapa?"
"Ayahnya sendiri."
"Tidak hanya ayahnya dia juga membunuh keluarga adiknya sendiri. Kamu tahu Mey, kebakaran di masalalu yang menimpa dirimu dia adalah pamanmu."
Hati Mey, semakin sesak apalagi jika mengingat tentang kebakaran itu. Rasa trauma masih ada dalam dirinya, ketakutan, kesedihan akan hilangnya kedua orang yang dia sayangi. Tidak pernah dia lupakan.
"Beruntung, seseorang datang meningatkan Tante, akan hal itu. Jika, tidak mungkin pernikahan Elo, dan Sharon, akan berlangsung. Setelah mendengar kejahatan Farhan, kami meragukan perjodohan itu, hingga pada keesokan harinya Tante, menemukan robekan kertas yang terputus dari wasiat itu. Saat di satukan dengan kertas yang utuh dan tulisan yang sempat terpotong akhirnya Tante tahu anak siapa yang di jodohkan oleh mereka."
"Di saat Tante, bingung siapa inisal huruf FA yang ternyata itu nama FAREL. Dan sekarang Tante, senang bisa bertemu dengan putrinya. Mey, selama ini Tante mencarimu."
'Jadi aku dan Elo, sudah di jodohkan sejak kecil' ucap Mey, dalam hati.
Kisah lama yang memilukan, juga membahagiakan. Dirinya tak menyangka jika Elo, dengannya sudah di jodohkan sejak dulu. Mungkin inilah takdir, di setiap momen selalu ada pertemuan dan perpisahan namun akhirnya mereka kembali bertemu, mungkin itulah rencana Tuhan.
Tapi di balik kisah lama itu ada yang membuat hatinya kembali sesak. Yaitu kematian orang tuanya. Jika kebakaran itu hanya sebuah kecelakaan mungkin Mey, masih bisa ikhlas. Tapi ini dengan kesengajaan, rasanya ikhlas saja tidak cukup, karena tanpa sengaja orang itu telah membunuh orangtuanya.
"Aku tidak menyangka jika paman melakukan itu demi kepuasannya sendiri" lirih Mey.
"Sharon! Jadi dia sepupuku. Pantas saja dia tidak suka melihatku bahagia." Kisah lama membuatnya tahu jika Sharon, adalah sepupunya, dan Farhan, adalah pamannya. Hingga ada keinginan dalam hatinya untuk merebut kembali semua miliknya.
"Antares grup, aku akan merebutnya kembali."
Kini Mey, tahu kenapa pak Jimmy, Nek Tini, dan juga Elo, yang menyembunyikan dirinya demi keselamatan nyawanya, dan memintanya untuk masuk ke dalam Antares grup, karena itu adalah perusahaan papanya. Dan Mey, lah pewaris yang sesungguhnya.
"Mey," teriakan Vika, mengejutkan lamunannya. Mey, pun terkejut juga bahagia saat Vika, berada di rumah Elo, yang sekarang menemuinya.
"Mey,"
"Vika,"
kini keduanya pun saling berpelukan. Vika, yang bahagia karena Mey, masih hidup begitu pun Mey, yang bahagia karena bertemu dengan sahabatnya itu.
"Mey, kau tidak terluka, kan! Apa ada luka bakar dimana? Tangan, wajah, tubuhmu."
"Vika, aku baik-baik saja."
"Ya, kau baik-baik saja setidaknya kau memberitahuku keadaanmu. Kau tidak tahu apa, aku menangis histeris karena melihat berita tentang kematianmu."
"Iya, maaf. Tapi dengan siapa kau kemari?" Mey, merasa heran dari maba Vika, tahu keberadaan dirinya.
"Tuh! Dia yang mengantarku," tunjuk Vika, pada Arkan, yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.
"Kayanya ada yang lagi deket nih!" goda Mey,
"Deket apanya!"
"Gak usah pura-pura polos. Menurutku asisten Arkan, tampan dia juga baik apa kau tidak tertarik!" Mey, menaik turunkan alisnya seraya menggoda Vika.
"Ish, kau ini. Aku sedang khawatir padamu kau malah menggodaku." Mey, hanya tertawa saat melihat Vika, ke geeran seperti itu hingga hidungnya kembang kempis.
...----------------...
Vika suka malu-malu deh. Mey, jodohin aja Vika dan Arkan, toh sama-sama jomblo hehe.
Jangan lupa dukungannya ya! 🙏