The Magic Face Brush

The Magic Face Brush
Kematian Jimmy



Selama semalam Elo, terus memikir, kan ucapan Jimmy, tentang wanita yang harus di lindunginya, begitu pun tentang keluarga Antares. Karena rasa penasarannya Elo, pun pergi ke tempat dimana kebakaran itu terjadi. 


10 tahun sudah kejadian itu yang hanya menyisa, kan puing-puing bangunan, walau sudah lama rumah itu tetap ada dan sudah terbengkalai. Cukup sulit mengungkap misteri di balik kejadian itu banyak misteri yang belum terungkap, kan. 


Elo, menghembus, kan nafasnya perlahan seraya menatap nanar bangunan di depannya. Elo, mulai melangkah, kan kakinya memasuki rumah itu hingga menciptakan sebuah suara retakan-retakan puing-puing bangunan yang di injaknya. 


Sesampainya di dalam Elo, melihat satu sosok wanita yang berdiri membelakanginya hingga akhirnya wanita itu pun terduduk lemah. Elo, terus berjalan lebih dalam lagi ingin melihat siapakah wanita di depannya. 


Hingga akhirnya langkahnya pun terhenti tepat, di belakang wanita itu yang tubuhnya langsung tumbang. Dengan sigap dirinya langsung menahan tubuh wanita itu, hatinya seolah bergerak dan tahu apa yang akan terjadi hingga dirinya selalu menjadi penolong untuk wanita itu yang tak lain adalah Meisie. 


"Kenapa dia ada disini!" batin Elo, yang langsung menggendong tubuh Meisie, menuju mobilnya. 


Elo, terus menepuk-nepuk wajah Meisie, hingga akhirnya Meisie, pun tersadar dan terkejut saat membuka matanya wajah Elo, berada tepat di atas wajahnya. 


"Tuan apa yang Tuan lakukan?" tanya Meisie, yang langsung bangun dan menjauh dari bosnya. Seraya, memeluk kedua dadanya seperti takut bosnya akan melakukan sesuatu padanya.


"Ada apa denganmu?" tanya Elo, yang mengerut, kan keningnya. "Kamu pikir, saya mau apa? Mau memperkosamu dasar!" hardik Elo, yang langsung mendorong kening Meisie,dengan telunjuknya. 


"Abis, Tuan bos ngapain ada di atas saya," 


"Kamu berani menuduhku! Bukannya berterima kasih karena aku sudah menolongmu." Setelah mendengar ucapan Elo, Meisie, kembali mengingat apa yang terjadi sebelumnya. 


"Maaf, aku kira …," ucap Meisie, tertahan.


"Kamu kira apa hah! Atau, kamu ingin aku melakukannya! Aku bisa saja melakukannya, tempat ini juga sangat sepi," ucap Elo, yang menatap intens ke arah Meisie, membuat Meisie, menelan salivanya. 


"Maaf, Tuan aku melupakan sesuatu," ucap Meisie, yang langsung turun dari mobilnya dan berlari menuju rumah lamanya.


"Hey, mau kemana?" teriak Elo, yang tertawa renyah melihat tingkah Meisie, yang berlari ke takutan. 


"Ya Tuhan, kenapa jantungku berdebar begini," ucap Meisie, seraya menepuk-nepuk dadanya. Karena keadaan jantungnya saat ini sedang tidak stabil. 


Di saat dirinya sedang menetralkan detak jantungnya, tiba-tiba kakinya menginjak sebuah jam tangan di bawah puing-puing bangunan. Meisie, pun menunduk dan berjongkok untuk mengambil jam tangan itu namun, sebuah tangan kekar menahan tangannya. 


"Jangan menyentuh barang di tempat ini, karena bisa saja barang itu bisa di jadikan barang bukti," ucap Elo, yang langsung mengambil jam tangan itu dengan sapu tangannya. 


"Aku dengar, kebakaran rumah ini masih jadi misteri, karena unsur kesengajaan mungkin saja ada bukti-bukti lain yang bisa di temukan." Sambung Elo.


"Seandainya, ada orang sepertimu saat dulu, saat kebakaran itu terjadi. Mungkin, orang yang jahat itu sudah menerima hukumannya," ucap Meisie, yang menatap rumah lamanya. 


"Kenapa kamu ingin orang itu di hukum?" tanya Elo, 


"Karena, dia telah merenggut kedua orangtuaku. Karena dia, aku kehilangan mama dan papaku."


"Kamu gadis itu? Gadis yang selamat dalam kebakaran itu?" tanya Elo, yang menatap Meisie, dengan tatapan nanarnya. Meisie, hanya menatapnya dalam diam. 


"Ya," jawab Meisie, singkat. Tiba-tiba suara ledakan dari sebuah pistol terdengar, peluru yang di muntahkan langsung mengenai tangan kiri Meisie, membuat cairan merah kental mengalir menciptakan sensasi rasa sakit yang luar biasa. 


Ah, ringis Meisie, yang memegang lengan kanannya. Elo, yang melihat itu langsung membawa Meisie, untuk berlindung di antara tembok-tembok bangungan yang masih kokoh. 


Darah kental semakin mengalir, Meisie, hanya bisa meringis dan bersandar pada tembok. Melihat darah yang terus mengalir di tangan sekretarisnya Elo, pun langsung menarik dasi yang di pakainya untuk mengikat luka itu agar menghentikan pendarahan yang di sebab, kan tembakan tadi. 


Di luar sana seorang pria masih memantau gerak-geriknya, seperti ingin melepaskan kembali pelurunya untuk menembak Meisie. 


Sedang, kan Elo, dia jadi panik saat melihat Meisie, yang terus meringis. Dengan pandangan matanya Elo, mencoba mencari celah agar dapat pergi menuju mobilnya tanpa di ketahui pria itu. 


Hingga akhirnya Elo, pun mendapatkan celah. Dengan perlahan Elo, memapah tubuh Meisie, untuk berjalan ke arah mobilnya, setelah sampai Elo, pun langsung mendudukan Meisie, di kursi samping kemudi, lalu Elo, pun duduk di bagian kemudi. 


Suara deruan mesin terdengar saat dirinya mulai menyala, kan mobilnya membuat pria misterius itu menoleh, dan mengejar seraya membidik, kan kembali pistolnya yang memuntah, kan puluhan peluru yang menghantam mobilnya. 


Namun, Elo, dapat menghindari serangan itu. Dengan gerakan cepat Elo, menancap, kan gasnya melajukan mobilnya lebih cepat. 


Di tempat lain, Jimmy, sedang mengendarai mobilnya sepulang dari kediaman Meisie, tiba-tiba dari arah belakang sebuah truk melaju cepat hingga menghantam mobilnya hingga terjatuh dan berguling. 


Hantaman yang kuat, tidak bisa ia hindari. Di dalam mobil yang sudah terbalik Jimmy, masih bisa bernafas dan masih sadar, kan diri darah kental mengalir di atas kepalanya bercucuran membasahi wajahnya. Hingga akhirnya, mobilnya pun meledak mencipta, kan suara dentuman keras yang menggelegar di tengah jalanan. 


**** 


Elo, terus memfokus, kan diri pada jalanan di depannya kedua tangannya sibuk mengatur arah kemudi. Manik matanya terus melirik ke arah Meisie, di sampingnya yang kini sudah tak sadar, kan diri. 


Decitan mobil terdengar nyaring, dan memeka, kan telinga di saat Elo, menginjak rem dan menghenti, kan mobilnya tepat di depan sebuah rumah sakit. Dengan gerakan cepat, Elo, langsung melepas setbelt-Nya lalu membawa Meisie, ke dalam rumah sakit untuk mengobati luka tembak yang mengenai tangannya. 


Dengan panik, Elo, terus berlari seraya membawa Meisie, dalam pangkuannya. Hingga akhirnya Meisie, pun tiba d sebuah ruangan gawat darurat. Yang langasung di tangani oleh dokter.


Di waktu yang sama Elo, pun mendapat kabar tentang kecelakaan yang menimpa Jimmy, pengacara keluarga Antares. Yang sebelumnya pernah berpesan 'Jika, aku tiada tolong jaga dan lindungi wanita itu untukku' ucapan Jimmy, saat pertemuan di malam terakhir seolah tanda sebagai sebuah firasat bahwa dirinya akan mati.


Tidak, hanya Elo, yang di kejut, kan dengan kabar meninggalnya Jimmy, Rakka, dan Sarah, pun begitu terkejut begitupun dengan Tini, yang baru bertemu dengannya. 


"Apa ini kesengajaan?" ucap Tini, yang masih terkesiap dengan kabarnya Jimmy. 


"Mey, bagaimana dengan Mey," Tini, jadi teringat Mey, yang sampai saat ini belum memberikan kabar.


...****...


Terima kasih sudah mampir di kisah Melon (Meisie dan Elon) Jangan lupa untuk selalu like, koment, vote, dan favoritnya 👌🥰. Kasih bintang 5 juga ya 🤗


...----------------...