
Pertemuan Sharon, dan Vika,
Sharon, sudah menunggunya di sebuah cafe. Raut wajahnya begitu menakut, kan tatapannya begitu tajam di saat Vika, mulai berjalan ke arahnya seakan sudah siap untuk menerkam mangsanya.
Vika, begitu gugup dan begitu takut saat melihat tatapan tajam itu. Dengan ragu Vika, pun duduk di hadapannya.
"Kamu mau macam-macam padaku!" Sharon, menatap Vika, tajam.
"Macam-macam apa?" tanya Vika, gugup
Sharon, melempar brush ajaib itu pada wajahnya membuat Vika, langsung menangkap brush itu. Vika, tidak mengerti apa maksud ucapan Sharon, dan tanpa susah payah Sharon, memberikan brushnya itu padanya.
"Kamu sudah berani membohongiku."
"Berbohong! Berbohong apa?" Vika, tidak mengerti maksud ucapan Sharon.
"Kamu bilang itu brush ajaib dan bisa membuat cantik!"
"Iya," ucap Vika, polos
"Bukannya membuatku cantik, brush itu malah membuatku jelek. Kau sudah membohongiku." Amarah Sharon, mulai memuncak.
'Tidak mungkin, jelas-jelas aku melihat Mey, menjadi cantik karena brush ini bagaimana bisa jelek' batin Vika, yang terus bergumam dalam hatinya, tanpa di sadari Sharon, sudah siap untuk menamparnya tiba-tiba
Byur
Segelas jus tumpah membasahi bajunya, lebih anehnya gelas itu terbang sendiri seperti ada yang mengendalikannya. Vika, pun merasa aneh dan berpikir ada kekuatan mistis dalam cafe ini.
"Ah, sial! Bajuku … kau sengaja menumpah, kan jus ini." Sharon, menatap Vika, tajam sorot matanya penuh dengan amarah.
"Ti-ti-tidak," ucap Vika, gugup.
"Akan ku balas, kau!"
Aaaa … Sharon, menjerit saat dirinya akan menyiram Vika, dengan jusnya tiba-tiba jus itu malah berbalik ke arahnya dan menyiram wajahnya. Kini wajahnya penuh dengan air gula dari jus strawbery.
Vika, hanya melongo melihatnya. Dirinya pun bingung dengan semua yang terjadi. Lalu tiba-tiba sebuah angin menerpa dan menyingkap, kan bawah gaun Sharon, yang memperlihat, kan paha mulusnya, dan sedikit memperlihat, kan ****** ********.
Membuat, semua para pengunjung cafe melongo melihat pemandangan indah itu apalagi para pengunjung pria. Vika, yang tidak mau menjadi bahan amukannya langsung berlari pergi meninggalkan tempat itu seraya membawa brushnya.
'Untung saja aku langsung lari, kalau tidak bisa jadi amukan aku' gumam Vika, dengan nafas yang tersengal-sengal karena habis berlari.
"Tapi aneh! Apa yang terjadi tadi ya! Tiba-tiba gelas itu melayang dan jusnya tumpah, lalu ada angin kenceng ih … serem apa cafe itu ada hantunya! Ih …." Vika, merasa merinding bahwa semua itu terjadi karena hal gaib, padahal semua itu terjadi karena keajaiban brush itu.
****
Mey, tertawa renyah saat mendengar semua cerita Vika. Baginya itu sangat lucu. Entah kenapa Mey, begitu bahagia saat ini setelah pertemuannya dengan Elo, kini dirinya kembali mendapat, kan brush itu.
"Mey, tadi kamu pergi kemana?" Vika, bertanya tentang Mey, yang pergi terburu-buru saat itu. Mey, pun menjelaskan, tentang pertemuannya dengan Elo.
"Serius! Jadi teman kecilmu itu Tuan bos! Wah … Mey, kau sungguh beruntung. Lalu bagaimana pertemuan kalian? Ayo ceritakan aku penasaran!"
"Elo, ku sangat tampan. Kau tahu dia juga romantis, dia begitu lembut dia tidak berubah tetap Elo, yang dulu."
"Apa kau menyukainya!" Mey, hanya tersenyum mendapatkan pertanyaan itu dari Vika, karena dia pun tidak tahu perasaannya sendiri namun Mey, tidak akan berbohong bahwa dirinya sudah mulai mengagumi bosnya itu sekaligus teman kecilnya.
"Kau senyum-senyum, itu tandanya kau menyukainya," goda Vika.
"Apaan sih Vik," elak Meisie.
"Sudah deh Mey, aku tahu kok apa yang kamu rasain. Cie …,"
"Vika,"
"Cie … cie …."
"Ih, Vika, apaan sih!" Wajah Mey, mulai bersemu merah.
Di tempat lain Farhan, sangat senang karena mendapat kabar bahwa keponakannya sudah meninggal. Itu tandanya, hidupnya tidak lagi terancam. Tidak akan ada yang merebut kembali perusahaannya.
Namun, kebahagiaannya tak berlangsung lama saat sebuah surat mendarat di hadapannya. Hari ini Farhan, mendapat panggilan dari kepolisian tentang kecelakaan yang menimpa Jimmy. Elo, sudah menyelidiki semuanya tentang kecelakaan itu dan Farhan, menjadi tersangka saat itu.
Dengan santai Farhan, menghadapi anggota polisi yang sedang mengintrogasinya. Farhan, tidak mengakui perbuatannya itu dan malah mengelak. Namun dengan begitu Farhan, tetap di tahan sementara waktu di balik jeruji besi.
"Sial! Siapa yang berani melapor, kanku," umpat Farhan. Namun, bukan Farhan namanya yang tidak memiliki banyak akal. Farhan, meminta informannya datang, dia membisikan sesuatu pada pria informan itu entah apa yang akan dia lakukan.
"Lakukan saat ini bila perlu bunuh dia," ucap Farhan, pada informannya.
"Baik, bos akan aku lakukan," jawab informan itu.
Beberapa anggota polisi mencari seorang pria yang pernah terlibat dalam kecelakaan Jimmy. Dia adalah orang yang saat itu mengendarai mobil truk yang sengaja menabrak Jimmy. Namun, saat polisi tiba di rumahnya pria itu sudah dalam keadaan meninggal.
Kabar itu pun sudah sampai di telinga Elo, dan Arkan, membuat keduanya kesal karena saksi satu-satunya meninggal. Hanya orang itulah yang bisa membuat Farhan, lebih lama lagi diam di dalam jeruji besi.
Farhan, tersenyum senang karena dia bebas dari dalam penjara. Namun, kebebasannya tidak membuatnya bahagia karena informannya kembali bilang bahwa keponakan nya Meisie, masih hidup dan selamat dari kebakaran itu.
"Apa kau yakin?" tanya Farhan, pada informannya.
"Iya bos, saya yakin. Dia masih hidup."
"Sial," umpat Farhan.
"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan!" Tatap Farhan, pada informannya. Pria itu hanya mengangguk mengerti.
****
Hari ini Mey, kembali bekerja karena perusahaan ElGideon sudah di perbaiki. Hari ini Mey, membuatkan sarapan dan juga makan siang untuk bosnya, pekerjaannya hari ini berbeda dengan biasanya karena sekarang Mey, sudah tahu bahwa Elo, adalah teman kecilnya.
"Nek, Mey, pergi dulu ya"
"Hati-hati,"
"Iya Nek." Meisie, pergi dengan langkah bahagia dan hari ini Mey, juga pergi bersama Vika, tidak sendiri lagi.
Beberapa saat mereka pun sampai setelah menempuh perjalanan 30 menit, karena jarak rumah Mey, begitu jauh ke tempat kerjanya. Sepanjang perjalanan Mey, terus tersenyum seraya menatapi rantang makanan yang dia bawa.
"Mey, apa yang kau bawa?" tanya Vika,
"Sarapan,"
"Pasti untuk Elo, kan! Seneng ya bisa ketemu setiap hari. Bahkan mulai membawakan makanan sekarang." Vika, terus menggoda Mey, tanpa terasa langkah mereka sudah sampai di departemen tempat Vika, bekerja membuat keduanya harus berpisah.
Mey, pun langsung menuju ruangan kerjanya. Dirinya begitu semangat tidak sabar ingin segera memberikan makanan untuk Elo, saking bahagianya Mey, tidak mengetuk pintu terlebih dulu saat masuk ke dalam ruangan Elo, hingga pemandangan tak terduga pun terlihat.
Brukk,
Mey, menjatuhkan rantangnya di saat dirinya melihat Elo, di peluk seseorang. Elo, dan wanita itu pun terkejut saat Mey, menjatuh, kan rantangnya.
"Mey," ucap Elo, yang menoleh ke arah Mey, yang masih berdiri di ambang pintu. Wanita itu pun langsung melepaskan pelukannya.
"M-ma-maaf," ucap Mey, gugup yang langsung mengambil kembali rantang itu. Lalu, bergegas pergi meninggalkan ruangan bosnya dengan perasaan yang tak menentu.
"Siapa dia?" tanya wanita itu santai. Namun Elo, tidak menjawabnya dan malah akan pergi menemui Mey, namun tangannya di cekal oleh wanita itu.
"Mau kemana?" rengek wanita itu manja.
"Lepaskan, Jil,"
"Tidak, pokoknya kakak tidak boleh pergi. Tega sekali tinggalin aku. Aku baru saja datang sudah di tinggal," gerutu wanita itu yang usianya tak jauh beda dengan Meisie.
"Kau, tunggu saja disini. Aku masih banyak pekerjaan, atau kau mau aku antar pulang?"
"Tidak, tapi janji kakak akan ajak aku jalan-jalan sore ini,"
Hm, hanya itu yang Elo, ucapkan.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pulang. Antarkan aku,"
"Kamu ini sudah besar tapi manja, Arkan, yang akan mengantarkanmu." Jil, hanya mengerucut, kan bibirnya ketika Elo, mengatakan itu.
Jilya, dia adalah sepupu Elo, yang baru saja datang dari amerika, setelah menjalan, kan studinya. Hubungan Jil, dan Elo, memang begitu dekat apalagi Jil, yang selalu bermanja pada kakak sepupunya itu. Mungkin bagi yang tidak mengenali mereka akan menganggap mereka seperti sepasang kekasih. Karena Jil, tak sungkan-sungkan memeluk kakak sepupunya itu.